Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 199. Membela diri.


__ADS_3

Pria bertopeng itu menggenggam lengan Andini ke ranjang ukuran big size, satu satunya yang ada di kamar hotel tempat Arsena menginap, pria itu duduk terlebih dahulu di tepi ranjang, menepuk pahanya berulang kali, memerintahkan Andini agar duduk di pangkuannya.


'Tidak, aku tidak bisa aku harus melepaskan diri dari pria ini, aku harus bisa. Kenapa dia masih baik baik saja setelah satu botol alkohol itu tandas di perutnya.


"Sayangku, manisku, ayolah mendekat sini." Pria itu mengulurkan kedua tangannya berharap Andini akan segera menghambur kepelukannya.


"Ayolah sayang, kemarilah !" Perintahnya lagi.


"Andini, jangan biarkan aku mengulangi kata kataku hingga tiga kali." Pria yang sudah dipengaruhi oleh alkohol itu menjadi bengis karena keinginannya tak mendapat respon yang baik dari Andini. Jalan satu satunya hanyalah memaksa ketika Andini berjalan menjauh.


"Sayang, ayolah kita bersenang-senang."Pria itu terus mendekati Andini. Namun sekarang yang terlihat justru aura mengerikan.


Andini semakin jijik ingin rasanya dia melawan, tangan Andini meraba ke samping, menarik laci 5anpa melihatnya, berharap menemukan benda yang bisa digunakan untuk melindungi diri."Tidak, aku tidak mau, bahkan menyentuhku seujung kuku saja kamu tak berhak, kau gila! Jangan mendekat! "


"Gila? Ya aku sudah gila, kalau tak gila tak mungkin aku ada disini sekarang membahayakan diriku seperti ini, Nona Andini, istri Presdir dari PT Wilmart yang cantik mempesona haha."


"Pergi kau, menjauh dariku, aku muak," Andini mendorong tubuh dempalnya.


Pria itu sangat marah. Dia menampar pipi Andini dengan keras, Andini memekik kesakitan, Dia memegang pipinya yang merah karena memar.


" Sudah kubilang jangan melawanku, turuti saja apa mauku, dan kau akan bahagia bersamaku."


"Tidak akan! Sampai matipun aku takkan pernah menuruti ide bejatmu itu. Meskipun kau membunuhku sekalipun!"


Woww ... Beruntung sekali Arsena pria arogant itu. Ada saja wanita yang gila padanya, kurang apa adikku yang sudah mencintainya, bertahun tahun bersamanya. Namun apa yang ia dapat?"


"Adik?"


Andini teringat seseorang yang sudah menjadi kekasih Arsena hingga bertahun-tahun. Kalau benar yang dimaksud itu adalah Lily, berarti pria yang ada di depannya kini adalah Dev. Dev si pria berdarah dingin, yang tak segan menyakiti lawan demi keberhasilan misinya.


"Dev, apa kau Dev?" Tanya Andini dengan suara gemetar.

__ADS_1


"Dev? Siapa Dev? Bukankah Dev sudah berada di penjara bawah tanah? Bukankah Dev sudah membusuk disana?


"Iya kau pasti Dev?"


" Pergi kau Dev? Jika Arsena tahu kau ada disini, dia pasti akan tak segan untuk mengantarkan mu ke jeruji besi.


"Apa? Andini ... Andini ... Asrena entah bisa kembali atau tidak, kau tahu seorang ajudan setianya sudah mengantarkannya ke sebuah tempat yang terlarang untuk di sentuh manusia. Perangkap sudah aku pasang di sepanjang jalan yang akan membuat tubuhnya hancur berkeping keping. Pasti akan menakjubkan sekali. Sayangnya aku dan kamu tak bisa menyaksikan semuanya.


"Kau memang bukan manusia, binatang seperti dirimu seharusnya yang pantas untuk mati, Arsena ku tak pernah menyakiti siapapun dia tak boleh mati." Andini merasakan lututnya lemah, dia tak mampu untuk berdiri lagi, bulir bulir bening lolos tanpa terkendali dari sudut matanya. Tubuhnya merosot kelantai, nakas kecil ia gunakan untuk sandaran.


" Arsena tidak bersalah, Arsena harus hidup." Lirih Andini yang merasakan dirinya sedang terpuruk.


Saat Andini sedang bersedih meratapi nasib, telepon genggam Dev berdering. Pria itu melupakan Andini sesaat lalu mengangkat ponselnya. Dia berbicara dengan seseorang dan terlihat amat serius.


Andini menggunakan kesempatan ini untuk mencoba melarikan diri, namun tak semudah itu lolos dari Dev. Melihat Andini menuju arah pintu, Dev segera mengejarnya, menggendong Andini kembali masuk dan memberi titah kepada pengawal. Andini terus meronta.


"Pengawal, tutup pintunya, cepat ! Jangan biarkan dia lolos."


Pria itu menarik Andini lagi dengan kasar, mendorongnya hingga keningnya membentur meja, Andini kesakitan, sekarang bukan hanya pipi yang memar merah kebiruan tapi keningnya juga.


Dev merobek gaun yang dipakai Andini dengan brutal, Andini berusaha menarik gaun dari tangan Dev dan menggunakan untuk menutupi bagian tubuhnya yang hampir terekpose.


Pria itu dengan senyum smirk melepaskan celana panjangnya, hingga tinggal menyisakan celana kolor dan singlet putih.


"Jangan! Jangan! lakukan." Andini kembali berdiri, berusaha merembet dari meja rias, nakas hingga ranjang. Rambutnya sudah acak acakan, aura ketakutan begitu mendominsi tubuhnya bergetar hebat.


Dev berusaha mencium Andini dengan brutal, Andini reflek mengambil sesuatu dari dalam nakas dan menusukkan ke perut Dev dengan cepat.


"Aaaaaa." Pekik Dev, mengerang kesakitan. Dia melihat di perutnya menancap sebuah gunting hitam. Darah merembes dari sela-sela gunting. Berharap darah yang keluar berkurang, Dev meremas lukanya. Menggigit bibirnya sambil meringis kesakitan.


"Andini! Kurang ajar kamu! Berani sekali kau melawan Dev. Aku tak akan melepaskan mu sampai kapanpun," geram Dev yang mulai kehabisan banyak darah.

__ADS_1


Andini tak putus harapan, dia tetap menyerang bahaya, keluar dengan baju robek di beberapa bagian. Sambil berteriak histeris meminta tolong.


"Pengawal cepat tangkap! Jangan biarkan dia lolos," perintah Dev pada dua pria yang menunggu di luar ruangan. Pria berseragam serba hitam itu segera menghadangnya, mencekal lengan Andini kanan dan kiri.


"Lepaskan!" Andini menggigit lengan pengawal tanpa kira kira, hingga reflek dia memukul pipi Andini untuk pelampiasan rasa sakitnya.


Dev, semakin lemah karena kehilangan banyak darah. Matanya berkunang-kunang, akhirnya Dev ambruk dengan tubuh tetap bersandar di sisi ranjang. Dengan segenap sisa-sisa tenaganya Dev menghubungi seseorang dengan kepala masih terlindungi dengan topeng.


Sebelum lawan datang semakin banyak Andini kembali meronta sekuat tenaga.


"Arggggg," Dev menekan perutnya, gunting juga masih menempel disana. Membuat pengawal menjadi bimbang, memilih menyelamatkan majikannya atau tetap mempertahankan Andini.


"Tolong! bawa aku ke rumah sakit sebelum terlambat." Dev makin lemah. Pengawal akhirnya melepaskan Andini dan membawa tuannya ke rumah sakit melalui pintu lift khusus untuk tamu VVIP.


"Andini kamu baik baik saja?" Vanes tiba tiba datang dari arah lain.


"Tidak Vanes, tidak. Dia ingin menodai ku, aku membunuhnya, aku telah membuat seseorang mati, Vanes. Bagaimana kalau dia benar benar mati?"


"Apa! kau membunuhnya!?" Pekik Vanes terkejut membuat Andini semakin ketakutan.


"Andini kamu akan dipenjara!" ucapan Vanes membuat Andini semakin gusar.


"Tidak Vanes, polisi tidak akan membawaku ke kantor polisi, aku hanya ingin membela diriku. Mana mungkin aku dipenjara, bagaimana anak anakku nanti."


Andini makin shock setelah mengingat kedua putranya yang sedang dia tinggalkan bersama mertuanya, dia akhirnya memeluk tubuh Vanes. Berharap beban fikiran yang ia alami sedikit mendapatkan obat.


Vanes menepuk punggung Andini layaknya seorang kakak pada adiknya. "Tenanglah, kamu pasti akan aman. Ada aku Andini. bukankah kau dan aku sudah berjanji akan menjadi sahabat."


"terima kasih, Nes."


'Maafkan aku Nes, aku merasa kedatanganmu di antara kami, ada maksud tersembunyi. Aku akan mengungkap kebenarannya, dan kau tak akan bisa mengusik kebahagiaan kami lagi.'

__ADS_1


__ADS_2