
Lili melihat Andini dengan senyum jahatnya. "Andini sebentar lagi kakakku akan memberi kejutan untukmu. Kejutan yang tak pernah akan kau lupakan seumur hidup."
Andini aku puas melihatmu seperti ini, ini pantas untuk membalas perselingkuhan Arsena.
Lili memegang dagu Andini. "Kau sangat bahagia kan, Arsena yang tampan, kaya raya itu juga mencintaimu?"
"Plak! Lili menampar pipi Andini membuat wajahnya menoleh kesamping. Melihat Andini hanya diam layaknya mayat. Lili semakin keras menyiksa Andini. Semakin banyak memar di tubuh Andini, lili menjadi puas sakit hatinya terasa sedikit terbalaskan.
Tiga pengawal yang melihat kelakuan Lili, ia saling melempar pandangan pada sesama temannya, melihat Nona sadisnya begitu gemar menyiksa. Andini yang sudah tak berdaya, masih saja di sakiti dengan berbagai cara.
Lili mencoba mencekik Andini. "Aku ingin kamu mati sekarang, siapapun penghalang hubunganku dengan Arsena dia harus mati!"
"Nona, dia bisa benar-benar mati jika Anda seperti ini." Cegah si gondrong. Terlihat Lili menolak peringatan si gondrong.
"Bukankah Anda ingin menyiksanya dulu, jika anda mencekiknya, maka dia akan mendapati kematiannya dengan sangat mudah." Bujuk gondrong lagi.
"Benar Nona.' Si Pria bertato dan Si Kepala pelontos ikut mengingatkan.
"Benar juga, ini juga tak begitu menarik." Lili kini turun dari ranjang, raut kecewa kembali terlihat diwajahnya. Menyiksa Andini dalam kondisi seperti sekarang, memang terkesan membosankan, ia tidak mendengar jeritan dan teriakan wanita yang paling di benci nomor satu di dunia ini.
Lili mengisyaratkan kepada para pria bayaran untuk keluar, Mengawasi keadaan luar, di khawatirkan akan ada serangan mendadak dari pihak Andini. Ia juga meminta salah satu tinggal di dalam, supaya membantunya dalam memasang kamera digital.
Rencana baru saja akan dimulai. Lili membuka baju Andini hingga menyisakan baju dalam saja. B*a berwarna hitam dan bawahan berwarna senada itu terlihat jelas, warna yang kontras dengan tubuh Andini yang putih dan mulus
Lili kumohon jangan lakukan hal buruk itu, aku tak mau Arsena membenciku.
Andini berkata dalam hatinya, bibirnya masih sulit di gerakkan, racun itu sudah bereaksi pada tubuh sepenuhnya. Jika Andini ingin pulih seperti semula masih membutuhkan waktu beberapa jam lagi.
Andini tak sanggup jika kejadian na'as itu terulang. Andini berusaha sekuat tenaganya untuk bergerak, namun kondisi tubuhnya sedang tak sejalan dengan pikirannya. Andini tak lebih seperti boneka, diam tak bergerak. Ia hanya bisa menerima perlakuan keji dan memalukan ini.
"Andini menutup kedua bola matanya, ketika lili selesai memasang kamera pada setiap sudut kamarnya. Andini sudah bisa menerka rencana selanjutnya yang akan dilakukan oleh Devan
Jika gambar itu terkirim pada Arsena, Lili yakin Arsena pasti tak akan menyentuh Andini lagi.
Devan kini masuk ke dalam kamar yang di tempati Andini. Lili menunjukkan jempolnya tanda semua sudah siap.
Devan mengangguk. Rencananya menikmati tubuh Andini kini bukan sebatas hayalan semu saja.
Devan dan Lili sudah yakin seratus persen, rencananya pasti akan berhasil.
"Selamat bersenang senang, Andini. Kini kakakku yang akan memberimu kenikmatan." Lili membungkukkan badannya, membisikkan kata di telinga Andini. Sebelum ia pergi memberi kesempatan Devan dan Andini berdua saja dalam kamar bekas raja pemilik kastil.
Andini meneteskan air mata pilu, bagaimana bisa ada manusia sejahat Lili. Yang tega menyakiti sesama wanita dengan cara yang sadis.
Devan kini mengunci pintu, hingga tak ada orang yang akan mengganggunya, sesampai di dalam kamar Devan segera melucuti semua pakaiannya hingga menyisakan cel*na dalamnya saja.
Tubuh padat dan putih Andini sangat menggoda pria di depannya, pria yang sudah sejak lama mengaguminya, bahkan tak jarang Devan suka berfantasi membayangkan Andini adalah miliknya.
Andini mengutuk perbuatan Devan dan Lili. Menyesal kemaren Andini telah menyelamatkan Devan dari peluru beracun yang dilesatkan oleh Doni di bahunya.
Tahu jika hari ini akan terjadi, ia pasti akan membiarkan saja pria itu sekarat dan mati.
******
Arsena sudah sampai di rumah tua tempat Andini pertama kali di sekap. Arsena melihat ada beberapa puntung rokok berceceran dan beberapa gelas bekas kopi.
__ADS_1
"Andini! Andini!" Arsena memanggil manggil dan mencari cari di sekitar dalam ruangan. Arsena menemukan tali yang digunakan untuk mengikat Andini. "Andini, kau pasti sangat menderita," gumamnya
Miko juga memeriksa kondisi luar rumah tua, Miko menemukan sobekan baju. Miko segera memanggil Arsena.
"Hey, kemarilah! Apakah ini baju Andini?" Miko secara tidak langsung memanggil Arsena. Dan menunjukan sobekan kecil yang kemungkinan itu baju bagian lengan Andini.
Arsena segera mendekat walaupun panggilan Adiknya tidak benar, untuk seorang kakak." Benar,ini sobekan baju Andini. Aku mengenalinya karena dia memakainya pagi tadi."
Arsena segera menyentuh darah yang menetes di sekitar robekan baju, darah yang mulai kering oleh terpaan angin, Mencari petunjuk selanjutnya. "Andini berusaha lolos, tapi kondisinya terluka." kata Arsena
"Kita ikuti kemana tetesan darah, aku yakin ini darah Andini." Kata Miko sudah tak sabar.
Mereka bertiga berjalan menyusuri tengah hutan mengikuti petunjuk yang baru saja ditemukan, hari mulai sore, Mereka berharap sudah menemukan Andini sebelum gelap.
"Andini maafkan aku." Arsena terus saja panik sepanjang menyusuri tetesan darah Andini menuju bukit.
Mereka menemukan Jas Dokter yang dikenakan Andini, jas yang masih terikat dengan kayu.
"Andini tertangkap lagi disini." Kata Miko menemukan dan menunjukkan alat suntik bekas yang dipercayai digunakan untuk menyakiti Andini.
"Aden, aku pernah kesini sekali dan didekat sini ada kastil yang kerap digunakan orang orang untuk menyiksa lawannya, aku yakin Nona telah dibawa disana."
"Jika benar Andini disiksa oleh mereka, aku akan membunuhnya dalam keadaan yang semakin menyakitkan," geram Arsena.
Mereka segera kembali pada helicopter yang ia tumpangi. Memerintahkan pilot agar kembali melakukan perjalanan selanjutnya menuju kastil tua.
Para musuh yang melihat ada helicopter mendekati kastil, ia segera waspada.
Arsena dan Miko beserta Doni turun dari halicopter. Arsena dengan langkah tegapnya, dan masih memakai seragam kerja lengkap segera menghajar si gondrong yang lebih dulu menyongsong kedatangannya.
Duel satu persatu diantara mereka berlangsung sengit tanpa senjata, mereka sama-sama mempunyai keahlian dalam bidang bertarung.
Doni berhasil melumpuhkan si pria bertato lebih dulu, Doni dengan keahliannya dalam gerak mengait berhasil merobohkan lawan dengan mudah.
Setelah berhasil melumpuhkan lawannya kini Doni membantu tuannya, ia mengambil Alih lawan Arsena. Hingga Arsena bisa menyelinap masuk ke dalam kastil lebih dulu.
Lili melihat Arsena datang ia segera memeluk dengan erat, ia menggoda Arsena dengan sentuhan pada dada leher dan tengkuk Arsena. "Ars, kau datang untuk menyelamatkan tuan putri? Tapi sayangnya dia sudah tak ada disini." bohong Lili.
"Minggir!" Arsena mendorong Lili hingga tubuhnya terpental menyentuh dinding kastil.
"Sedikit saja Andini terluka, aku akan membunuhmu dan kakakmu." Arsena menunjukkan telunjuknya dan mengarahkan ke wajah Lili
"Ars, aku mencintaimu sampai kapanpun aku tak rela kau dimiliki orang lain." Lili mengejar Arsena yang hendak masuk. Ia sengaja melakukan untuk mengulur waktu. Lili tak mau rencananya gagal.
"Ars!" Lengan Lili melingkar di pinggang Arsena, ia menempelkan tubuhnya lekat tak menyisakan jarak. Lili merasakan tubuh harum berbaur keringat khas pria yang lama ia damba.
"Lepaskan atau aku akan lebih menyakitimu!" Arsena melapaskan tangan Lili, ia mendorong tubuh Lili hingga terjatuh menyentuh lantai.
Arsena segera berlari masuk, menelusuri setiap kamar, banyak pintu-pintu yang mulai rusak.
" Andini !"
" Andini !"
Dimana kau!"
__ADS_1
Arsena memanggil manggil nama Andini, sepanjang kakinya melangkah berlari menyusuri sepanjang kastil.
Arsena kecewa ia tak mendengar teriakan balasan dari Andini. Arsena hampir saja frustasi.
" Andini !"
"Andini !"
" Aku mencarimu sayang! Katakan sesuatu Andini!"
Arsena melihat satu kamar yang terkunci rapat, ia mencurigai Andini ada di dalam kamar itu. Arsena segera menendang pintu dengan tendangan kakinya sekuat tenaga.
Brak ...!
"Andini!" Begitu melihat Andini terbaring lemah dengan baju yang sudah tak lengkap, Arsena diliputi amarah yang tiada tara, tubuh Arsena seakan mampu membakar seluruh isi ruangan.
Arsena segera meraih lengan Devan, memukul perutnya bertubi tubi hingga jatuh tersungkur, menjambak rambutnya hingga ia mengerang kesakitan.
Dengan susah payah Devan meraih bajunya yang tergeletak, saat hendak memakai bajunya, Arsena sudah kembali menendang kepalanya hingga terbentur lantai marmer dengan keras.
Darah segar keluar dari mulut dan telinga Devan. "Berani kau melecehkan istriku." Geram Arsena.
Rasanya membunuh pria itu sekarang juga, tak sepadan dengan apa yang akan diperbuat kepada istrinya.
"Kau pantas mati! Kau harus mati ! Hanya kematianmu yang mampu membuatku tenang. sebelum kematian itu menjemputmu kau harus merasakan sakit seperti apa yang kau lakukan pada istriku" Arsena masih terus menghujani Devan dengan pukulan keras. Hingga Devan terkapar tak sadarkan diri.
"Andini!"
"Sayang, maafkan aku terlambat menyelamatkanmu." Arsena mencium tangan Andini, membelai rambutnya. " Bibir Andini sedikit bergerak, airmata kembali lolos dari kedua sudut matanya.
Arsena segera memakaikan baju Andini yang teronggok di sudut ranjang. Mengobrak abrik semua kemera yang terpasang di dinding, menghancurkan dan mengeluarkan flasdish.
*****
Miko yang selesai melumpuhkan Lawan segera mengejar Arsena.
"Andini apa kau baik baik saja." Khawatir Miko.
"Andini katakan apa kau baik saja." Miko hendak menepuk pipi Andini. Namun, ia melihat banyak luka lebam dan biru membuat ia urung melakukannya.
Miko melihat Devan yang terkapar ia segera merintahkan orang orang bayaran Devan yang sudah ditaklukkan itu ke sebuah penjara bawah tanah. Devan kini menjadi tawanan Miko. Hukuman polisi akan terlalu ringan baginya.
Arsena segera melepas ikatan di tangan dan kaki Andini. Padahal Andini sedang dalam pengaruh obat berbahaya, seharusnya tanpa diikat dia juga tak bisa lari walau selangkah, menggeser tubuhnya saja tak mampu. hanya saja ia bisa melihat semua kejadian yang terjadi.
Arsena membopong Andini penuh kasih, hatinya menjerit menangisi kebodohannya. Jika ia tak membiarkan Andini pergi sendiri semua ini tak akan menimpanya.
Miko mengekor di belakang Arsena, tiba-tiba Lili menghadang jalan mereka.
" Berhenti!" Lili menodongkan pistol tepat satu garis lurus dengan dada Arsena.
Jika lili serius dengan ancamannya peluru itu pasti akan mengenai tubuh Andini.
"Ars, kau hanya punya dua pilihan, ceraikan dia dan menikahlah denganku, atau dia akan mati."
Arsena terperanjat, Lili yang pernah menjadi kesayangannya, manja dan kekanak kanakan, sejak kapan ia mulai bisa bermain-main dengan benda berbahaya seperti itu.
__ADS_1