
Andini mengendarai motornya sedikit lebih kencang dari biasanya. Ia tak menyangka Arsena akan marah hanya dengan pulang terlambat.
Andini menerjang jalanan yang diguyur hujan lebat, tanpa memikirkan kondisinya yang lupa bawa pelindung.
Harapannya hanya ingin sampai di rumah dengan cepat. Dan tak membuat singa yang ada di rumah mengamuk.
Petir sore ini, menyambar menggelegar seakan di atas kepala, Miko tak tega Andini mengemudi motor sendirian.
Pria itu diam-diam membuntuti Andini dari belakang.
Hujan semakin lebat, Andini tak tau ada kubangan lumayan besar di tengah jalan, lubang itu tertutup air hingga tak sengaja ban motor Andini bagian depan masuk kedalam kubangan. Andini yang kaget membuat motornya oleng dan terjatuh.
Miko yang ada di belakangnya segera menghentikan mobilnya tepat di belakang Andini.
Pria itu segera turun dari mobil dan menghampiri Andini dengan panik.
"Andini apa kamu baik baik saja?"
Andini mencoba berdiri dibantu Miko, berjalan menuju trotoar, memeriksa keadaan Andini tangan dan kaki tak luput dari pemeriksaan Miko. "Tidak Mik, aku tak apa apa, cuma kaget aja," kata Andini dengan bibir bergetar kedinginan.
Gadis itu menatap Miko sesaat. Pria dengan segenap ketulusan itu sedikit menghadirkan getaran di jiwanya.
"Miko, sekali lagi terima kasih." Kata Andini dengan wajah memerah. Andini menangis terharu. Miko yang begitu baik dan selalu ada disaat ia sedang membutuhkan orang lain untuk didekatnya.
"Miko, aku harus pulang sekarang." Andini kembali menyalakan motornya. Si Kulkas pasti sedang marah. Walau ia tak tahu penyebab pastinya, tapi dari nada bicaranya saja sudah dapat dibaca. Ia harus pulang sekarang juga.
Miko melepaskan kepergian Andini, pria itu mencoba mengendalikan diri dengan perasaannya sendiri. Ia masih sadar siapa Andini sekarang ini. Walaupun rumah tangga tak ada cinta tapi hubungan dengan kakak nya masih sah.
Andini baru saja menginjakkan kakinya di teras. "Andini ini jam berapa? Harusnya dua jam yang lalu kamu sudah sampai rumah dan menyediakan semua keperluanku." Kata Arsena dengan tatapan membunuhnya.
"Maaf Ars, aku tadi makan dengan teman kampus dulu."
"Makan-makan? Emang dalam rangka apa, Benar cuma dengan teman kampus saja? Jawab jujur Andini," Bentak Arsena. Andini yang basah kuyub terlihat semakin kedinginan.
"Iya." Jawab Andini singkat.
"Kamu yakin hanya dengan twman kampus?" Arsena masih belum puas dengan jawaban Andini.
"Miko tiba-tiba datang." Kata Andini pelan. Jujur baginya tak akan mengakibatkan kebohongan berikutnya.
"Aku tidak suka kamu dekat dengan dia Andini!!" Arsena mengeratkan giginya, ketika marah pria itu terlihat menakutkan.
"Dia baik, dan aku suka berteman dengan siapapun yang menganggapku ada. Dia menganggapku manusia, dan tak ada alasan aku harus menjauhinya."
"Akhh ... Itu pasti cuma alasan kamu saja, Bilang saja, suka kan sama dia? ngaku aja!? Arsena menaikkan suaranya satu oktaf.
"Emang apa masalahnya? Apa ada yang salah jika aku menyukai Miko atau Miko menyukai aku?" Andini memberanikan diri
"Salah, bagiku itu salah, aku tak suka kau dengan Miko," tandasnya lagi.
"Lalu kau mau aku dengan siapa? Dan kenapa kau mengatur hidupku?"
"Jika kamu sudah memiliki Lili yang selalu kau banggakan, kenapa aku tak boleh memiliki yang lain?"
Braaak .... !
Arsena memukul pintu membuat Andini berhenti berbicara, ia juga terjengkit kaget.
"Cukup, kau sudah berani membuat aku menunggu untuk menikmati masakanku, dan kau malah sekarang memilih berdebat denganku?"
Andini menggelengkan kepala "Aku akan menyiapkan sekarang. Dan aku minta maaf jika telah membuatmu menunggu aku akan segera membuatnya."
Andini segera masuk kedalam kamarnya menaruh buku bukunya. Serta mandi sekalian dan ganti baju,
__ADS_1
Arsena kini berada di ruang tamu sendirian. Pria aneh yang bisa berubah dalam sehari itu masih terlihat kesal. Ia duduk di sofa sambil memijat keningnya.
Andini menyiapkan masakan yang diyakini akan disukai setelah selesai segera membawanya ke meja makan. Ketika membuka tudung saji Andini melihat ternyata bibi sudah memasak banyak sekali untuknya.
Andini berfikir mungkin ia sedang lelah, atau sedang banyak masalah dengan pekerjaan. hingga hanya dengan marah semua menjadi lega.
Andini kembali menuju ruang tamu dan melihat Arsena masih menyandarkan kepalanya di sofa seperti saat pertama kali duduk tadi.
"Ars, aku sudah siapin masakan buat kamu, dan bibi juga sudah masak banyak tadi, kamu mau mandi atau makan dulu."
"Mandi."
Tadi minta makan, giliran semua sudah siap, sekarang minta mandi dulu. Apa dia ini pria masih waras.
"Baiklah aku siapin air hangatnya dulu." Andini beranjak pergi lagi.
'Tunggu, lepaskan bajuku."
Suara Arsena menghentikan langkah Andini, tak ada pilihan ia harus balik lagi mendekati Arsena.
Andini melangkah pelan ke arahnya, ia sadar diri sudah membuat kesalahan dengan pulang terlambat. Ia menerima hukumannya sekarang.
Andini menyentuh dasi warna hitam di leher Arsena, lalu membuka ikatannya berlahan, kemudian ia membuka kancing hem putih, kini tinggal tersisa kaos t-shirt dan celananya.
Tubuh kekar berlapis kaos itu terpampang nyata di depan Andini.
Ya Tuhan, kenapa tubuhnya bisa seindah ini. Tidak sia-sia, selama ini dia rajin olahraga.
"Apa kau suka dengan yang kau lihat?" tanya Arsena. menyadari Andini memperhatikan dirinya lebih lama.
"Emm , aku bawa semua ke belakang dulu." Andini segera tersadar dari lamunannya.
Andini membawa semuanya ke tempat mencuci dan menaruh di keranjang. Lalu beralih ke kamar mandi menyalakan air dengan suhu hangat, sebelum keluar lagi sekalian ia mengambilkan baju ganti di lemari.
Arsena yang melihat Andini melayaninya dengan patuh ia tersenyum penuh kemenangan.
"Lang, aku sepertinya ingin pulang cepat, tolong handle pekerjaanku di jam terakhir ini." Kata Arsena pada Galang.
"Oke Ars, emang ada yang penting."
"Aku pengen pulang cepat aja."
"Tumben banget, pasti mau jalan jalan sama Lili ya."
"Lang, sejak kapan kamu mau tau urusanku, dan apa keuntungan yang aku dapatkan jika harus laporan kegiatanku dengan kamu?"
"Hah dasar, manusia kulkas." Gerutu Galang.
Arsena keluar meninggalkan ruangannya, Vira yang melihat juga heran. Tumben ia pulang lebih awal, padahal pekerjaannya lumayan numpuk.
Vira sudah tau kalau Arsena sudah memiliki wanita lain selain Lili. Karena kemaren Ada wanita yang ia sembunyikan di dalam ruangannya seharian. Dan Arsena hanya meninggalkan ketika meeting dengan Devan saja.
"Pak Arsena mau kemana? Tanya Vira Asistennya.
"Aku ada urusan sebentar." Arsena segera turun dari lift menuju parkiran. Arsena ingin mengajak Andini makan di tempat favoritnya, restaurant terkenal yang menunya serba seafoot.
Arsena segera menuju kampus, ia berharap Andini belum pulang. Arsena menunggu andini di depan kampus lumayan lama.
Ia melihat mahasiswi sejak tadi sudah berhamburan keluar. Namun, sosok Andini belum juga ditemukan.
Arsena mengamati setiap gadis yang lewat di depannya hampir satu persatu, Andini memang sudah tak ada diantara mereka.
Hingga Arsena menanyai salah satu mahasiswi wanita yang berjalan beriringan, sepertinya dua gadis itulah yang pulang paling akhir.
__ADS_1
"Mbak mau tanya boleh?"
"Eh, tanya apa ya Mas? " Terlihat si gadis senyum ramah sambil menghentikan langkahnya?
"Apa semua mahasiswi jurusan IPA di dalam sudah pulang?"
"Oh, mas lagi nunggu pacarnya ya?"
"Iya." Jawab Arsena sambil menyugar rambutnya, biar kelihatan lebih kerenan dikit di depan cewek-cewek.
"Sayang banget udah punya cewek,"bisik gadis itu pada temannya. Lalu ia menjawab pertanyaan Arsena. " Sepertinya sudah nggak ada lagi Mas, soalnya aku dan temanku ini sudah paling terakhir.
"Oh, gitu ya?" Arsena mengangguk kecewa.
"Kalau ceweknya gak ada, jalan sama kita juga boleh. Kok, Mas!"
Sial gue malah di godain sama cewek cewek ini. Maklumlah resikonya cowok keren.
"Em iya makasih, tapi gue lagi gak butuh wanita penghibur, Mbak."
Arsena segera masuk mobil sport miliknya dengan wajah muram, rencana makan siang hari ini harus kandas.
Dengan sejuta kecewa, Arsena akhirnya memilih pulang, acara makan siang yang direncanakan harus gagal, karena tak menemukan Andini di kampus.
Ketika lewat di depan restauran MD, Arsena melihat ada motor baru Andini sedang bertengger di parkiran. Arsena segera menepikan mobilnya. Setelah mobil terparkir sempurna, Dia segera turun dan masuk hingga pintu restaurant.
Arsena sudah senang melihat Andini dan temannya duduk berduaan, ia segera masuk ke dalam. Namun, langkahnya terhenti di beberapa langkah karena Arsena melihat Miko datang dengan salah satu karyawan MD dengan membawa nampan.
Miko terlihat begitu senang bersama Andini, bahkan Andini bisa tertawa lepas di dekat pria yang menjadi musuh bebuyutannya itu.
Arsena kembali mundur beberapa langkah hingga ia membalikkan tubuhnya keluar ketika sudah sampai di pintu.
Sampai di parkiran Arsena segera menancap gas menuju rumah makan yang lainnya. Hingga Arsena memutuskan makan di restauran tanpa ditemani oleh siapa-siapa.
Saat makan tadi Arsena sambil melakukan Video call dengan Lili, wanita itu ternyata belum balik. Karena masih sibuk dengan pekerjaannya menjadi modeling di salah satu stasiun TV yang kebetulan live di luar negeri.
"Hai sayang?" Sapa Lili sambil melambaikan tangan kelayar, ia rupanya sedang ganti kostum. Terlihat ada dua orang yang memakaikan baju dengan sedikit buru buru. Dan ada lagi satu wanita jadi jadian sedang memakaikan makeup.
Arsena hanya tersenyum, entah kenapa hari ini ia tak begitu menanggapi Lili yang sedang berbicara panjang lebar di telepon.
"Sayaaaaaang, gimana kostum yang aku pakai suka nggak?"
"Jelek, apa nggak ada yang lebih tertutup?" Arsena kurang suka melihat pakaian kurang bahan yang dipakai Lili.
"Gimana sih sayang, ini bagus, lho."
"Sayang aku akan lama disini, sekitar satu bulan, kamu jaga diri ya disana?"
"Kamu meragukan aku?"
"Nggak sih, aku cuma khawatir aja, ya udah sayang. Sebentar lagi aku mulai pemotretan, jangan lupa lihat aku di TV ya."
"Iya," kata Arsena malas.
Selesai makan Arsena segera pulang, sampai di rumah ternyata Andini juga belum pulang, jika hanya makan saja Andini harusnya lebih dulu sampai di rumah, tapi Arsena melihat kenyataan kalau Andini belum pulang.
Arsena mulai naik pitam dan meminta nomor telepon Andini kepada Pak Karman, Arsena tau seharusnya ia marah dengan apa yang dilihat baru saja. Sedangkan ia sendiri yang memberi kebebasan kepada Andini untuk tak terikat dengan pernikahan ini.
"Kenapa aku seperti orang cemburu, melihat mereka selalu berdua."
"Apa yang terjadi denganku." Gumamnya sambil menghempaskan pantatnya di sofa.
#jangan lupa kasih like
__ADS_1
#komen
# Vote nya jangan lupa ya ☺️☺️