
Arsena tak ambil pusing dengan perubahan sikap David, yang terpenting untuknya sekarang adalah hari ini dia sudah benar-benar akan bebas, Andini sudah mengizinkan pasukannya kembali membuka gerbang istana.
"Davit pagi ini istriku membawakan aku banyak sekali bekal. Dia sangat senang sekali memasak, karena aku sangat senang memakan masakannya. Dan hari ini aku ingin ajak kamu makan siang bersama. Jadi kamu tahu alasannya kenapa aku memanggilmu ke sini, tapi kenapa aku lihat wajahmu seperti kepiting rebus begitu, Kau pikir aku akan menjadikanmu santapan siang?" Arsena berbicara panjang lebar, sambil tertawa terkekeh, lalu ia duduk di sebuah kursi. Meja di depannya bertengger sebuah rantang berisi masakan Andini.
Arsena memanggil seorang pelayan, tak lama pelayan pun datang menyiapkan piring dan semua alat yang dibutuhkan untuk Sang Dirut, setelah selesai dia memundurkan tubuhnya dan menunduk sopan.
Arsena memberi isyarat pada pelayan agar segera pergi, memberi waktu untuk mereka berdua saja.
"Davit, aku ingin mengajakmu makan siang, tapi kenapa kau tak asyik begini? Apa aku sekarang telah berubah menakutkan," Arsena mengamati dirinya srndiri. "mungkin kau benar, aku menakutkan karena aku sudah lama sekali berpuasa." Arsena meraba janggutnya yang kasar. Kumisnya sudah tumbuh agak panjang.
"Tidak, Tuan Muda. Kau tetap tampan, kau bahkan terlihat sangat tampan dari biasanya."
"Tau aja kamu, aku memang lagi bahagia. Dan orang bahagia itu memang akan lebih tampan," ucapnya dengan percaya diri.
"Silahkan dimakan, itu masakan Istriku, aku nggak mau kamu menyia nyiakan jerih payah orang yang aku cintai."
"Tidak mungkin terjadi, Tuan. aku pasti akan menghabiskan semuanya."
Davit mulai menyendok menu dipiringnya. Rasanya memang luar biasa, Kehebatan Andini saat memasak memang perlu diacungi jempol. Namun sayangnya fikiran Davit bercabang, sama sekali tak fokus pada acara makan siang ini, dia hanya fokus pada bagaimana caranya mengungkapkan hubungan cinta dengan adik kandung semata wayangnya itu.
"Vit ....!"
"Tuan ..."
"Kok bisa bareng, baiklah kamu saja yang bicara duluan." Arsena persilahkan David berbicara dulu.
"Tidak Tuan, anda harus berbicara dulu, yang ingin saya katakan tidak penting."
Baiklah, Davit apakah benar yang kamu katakan tadi? aku masih tampan."
" Iya, tuan."
"Kau tau Vit hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagiku, aku seperti pria yang baru saja menikah, aku seperti pengantin baru, sekarang aku ingin minta tolong agar kamu menyusun sebuah acara yang istimewa."
__ADS_1
"Maksud tuan?"
" Aku ingin sebuah resepsi yang mewah dan itu harus disiapkan mulai sekarang juga. Kerahkan semua dekorator di kota ini, dan pastikan jam empat gedung yang akan aku gunakan untuk resepsi nanti sudah selesai."
" Tuan akan menikah lagi?" Davit tak mengerti, dia bertanya seperti orang bodoh.
"Iya, aku akan menikah, aku akan menikahi seorang wanita yang sangat istimewa di hatiku, dia adalah bidadari surga."
Lelaki macam apa anda ini, tadi baru saja memuji masakan istri, sekarang malah ingin menikah lagi, ini ... Ini yang aku takutkan jika menikah dengan orang kaya, dia akan menikah berkali-kali di sisa umurnya seenak udelnya.
Vit, mikir apa lagi kamu? Cepat kerjakan sekarang, waktumu tak banyak. Nanti ajak sekalian Galang Miko dan Mert untuk Membantu dan aku akan pergi untuk mempertampan diri.
" Tuan jika boleh tau apa alasan anda menikah lagi?"
"Ah, pernikahan saya yang dulu tak asyik, aku ingin pesta pernikahan yang lebih bagus."
"Ya Tuhan , hanya ingin pesta yang lebih bagus, dia harus menikah lagi." Davit masih terus salah paham.
Cepat Vit! Masih mikirin apa lagi kamu."
Karena keinginan Arsena di sebuah gedung dekat dengan hotel bintang lima, maka David tak terlalu sulit untuk mempersiapkan semua. Yang lebih penting adalah undangan dadakan untuk seluruh lapisan karyawan dan dan relasi juga akan segera dibagikan..
Sepanjang melakukan pekerjaan Davit selalu menggerutu dan tak setuju kalau Arsena akan menikah lagi, yang ia fikir akan menikahi wanita lain.
'Dasar, hidung belang. Mempermalukan nama pria setia saja, sudah menikah masih ingin menikah, sudah punya istri cantik yang bisa memberikan keturunan bayi bayi tampan masih saja serakah.'
Sedangkan Arsena sudah pergi menuju tempat SPA khusus pria ditemani oleh Galang., disana dia meminta dilayani oleh pelayan seorang laki laki saja. Satu orang pelayan segera memijit tubuh kekarnya biar ototnya lebih rileks, dan satu pria memberi perawatan khusus untuk wajahnya biar terlihat berbeda di depan istrinya nanti.
"Mas, tolong saya buat setampan dan sewangi mungkin untuk hari ini."
"Tentu tuan, Tuan Arsena akan menjadi pria paling dikagumi oleh wanita di pesta nanti," ujar pelayan dengan yakin.
Karena Arsena memanglah pria yang tampan dan daya tarik yang kuat, walaupun tanpa perawatan seperti sekarang ini, sesungguhnya dia tetap akan terlihat menarik dimata kaum hawa.
__ADS_1
"Tuan anda jangan melupakan satu hal, anda harus meminum jamu kuat juga."
"Apa itu? Tidak aku tidak mau obat begituan." Arsena keberatan.
"Tuan jangan khawatir, ini jamu alami yang bahannya langsung dari alam, tak ada obat kimia berbahaya di dalamnya. Isinya cuma telur susu madu dan jahe. Tapi khasiatnya luar biasa. Dijamin tuan akan perkasa sepanjang malam dan istri anda pasti akan sangat senang. Wanita itu tak suka pria lemah dan tak tahan lama." bisik pelayan di kalimat terakhirnya.
Arsena mengangguk-anggukkan kepala.
"Benar juga kamu, aku ingin menjadi pria kuat dan perkasa malam ini, hingga Andini akan selalu mengingat hari ini sebagai hari paling special di hidupnya."
Arsena tersenyum membayangkan nikmatnya malam yang akan dilalui nanti.
"Baiklah, buatkan aku jamu itu, kalau aku tak kuat seperti yang kamu katakan, jangan harap kamu masih bisa bekerja di tempat ini besok," ancam Arsena sok berkuasa.
"Saya berani jamin tuan, besok anda pasti akan berterimakasih dengan saya," ucap pelayan dengan mantap, disetujui oleh satu kawannya.
Satu jam lebih Arsena mendapat perlakuan seorang sultan, sekarang dia sudah berada di sebuah butik Mama mita. Sayangnya mama tirinya itu tak ada di tempat, Arsena cukup dilayani oleh pelayannya saja. Arsena segera memilih baju baju paling mahal sekalian memilihkan baju untuk Andini. Yang rencananya akan diberikan saat Andini sampai di gedung nanti.
Andini, Oma, Mama Rena, mama mita, Dara dan Zara semuanya sedang ber shoping-shoping ria, membelikan baju baju bagus untuk Excel dan Cello sedangkan Zara dan Dara belanja baju hamil dan semua makanan bernutrisi tinggi yang baik dikonsumsi ibu hamil.
Ratih dan Ratna sangat geram melihat para wanita istri pengusaha itu sedang berbelanja aneka barang branded. Bagaimana tidak, dia hanya kebagian mendorong kereta Cello dan Excel. Membawa baju ganti, perlengkapan bayi dan susu eklusif di dalam botol susu. Sungguh nasib buruk yang ia alami.
"Ma ... Lihatlah mereka begitu bahagia dengan banyak harta, tapi kita? Apa yang kita dapat? Kita cuma jadi jongos di rumah mereka. Mereka juga nggak kasian sama kita. Dah tau kita masih keluarga gaji itu dikasih lima kali lipat kek, jadi kita bisa shoping shoping seperti mereka."
" Diem Ratna, kita sabar dulu. Kita masih mending setiap hari bisa makan enak, daripada jualan dipinggir jalan panas-panas begitu, malu kalau ketemu teman sosialita mama. Kamu juga malu kan kalau ketemu sama temen sekolah kamu," ujar Ratna lirih.
"Gue sebel sama dara Ma, kalau nggak ada Dara sialan itu, pasti aku bahagia bisa poroton Andini. Kenapa sih dulu mama nggak jual Ratna saja ke mamie, jadi yang ketemu cowok tajir itu Ratna bukan mereka mereka."
"Ma, bagaimana kalau sekarang aja mama jual Ratna ke mamie, siapa tahu Ratna bisa ketemu CEO seperti mbak Andini dan hidup Ratna jadi bahagia."
"Gila kamu!" Ratih memelototi Ratna yang bodohnya minta ampun. "iya kalau ketemu CEO, kalau ketemu pria kena penyakit menular, gimana? Mikir itu pake otak jangan pake dengkul."
"Habis, hidup ini nggak adil banget." Ratna mengerucutkan bibirnya sambil mendorong Cello dengan kesal. sedangkan Cello hanya senyam-senyum di dalam kereta bayinya.
__ADS_1
"Senyum aja Lo? ngeledikin kita ya?"