Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 265. Perjanjian


__ADS_3

"Amert!" Anita terkejut saat pria yang datang adalah sosok yang selama ini dia hindari.


"Hai, masih ingat denganku?" Amert berusaha tersenyum


"Ya, aku ingat." Anita membuka sedikit pintu apartemennya. Dia tak membiarkan Amert masuk atau menawarkan sesuatu. Minuman hangat misalnya. Tapi Anita cenderung memperlihatkan sisi tak suka pada pria itu.


"Amert ada perlu apa kau kesini?"


"Apa aku boleh masuk?"


" Aku sedang kurang enak badan, jangan lama-lama." Anita berbicara dengan ketus, membenarkan pemikirannya kalau tindakannya benar, tak meminta pertanggung jawaban dari pria miskin seperti Amert. Walaupun wajah pria keturunan turki itu sangat tampan. Bagi Anita kalau tak bergelimang harta maka semua tak ada gunanya.


Amert menatap Anita iba." Kamu sakit? kok pucat banget."


"Nggak, nggak apa-apa bukan urusan kamu."


"Kalau sakit aku bisa antarin kamu ke dokter." Tawar Amert yang merasa hati nuraninya terketuk untuk sebuah rasa kemanusiaan.


"Nggak perlu, aku bilang! sekarang nggak perlu lakukan apa apa buat aku." Anita terlihat jengah melihat Amert dan penampilannya. "Terus tujuan kamu kesini tadi untuk apa?"


"Boleh kita bicara sebentar sambil duduk, masa tamu nggak diizinkan duduk." Amert berusaha bersikap ramah dan sebaik mungkin demi sebuah tujuan yang besar seperti kata Miko.


"Ya masuklah!" Anita memiringkan tubuhnya lalu mempersilahkan Amert duduk. Anita masuk ke dalam membuat teh. "Aku akan buatkan teh."


"Nggak perlu repot repot, aku cuma ingin bertanya satu hal pada kamu, dan karena kita nggak pernah akrab, aku tak mau terlihat sok akrab, dan mungkin aku tak akan_"


Anita segera memotong kata-kata Amert. "Masalah apa yang membuat kamu datang kesini. Sepertinya tak ada masalah diantara kita." Anita berkata dengan gayanya yang arogan.


"Aku mau tau apakah setalah kejadian tak sengaja waktu itu membuat kamu hamil?"


"Hamil? Anita pura pura sok polos.


"Enggak, kalaupun hamil pasti dengan pria yang aku cintai, kenapa harus sama kamu." Anita menatap Amert dengan maksut merendahkan, bibirnya menampilkan segaris senyum mengejek. Pakaian lusuh yang ia pakai tak membuat Anita tertarik sama sekali.


"Lagian apa yang bisa di andalkan dari kamu, pekerjaan aja cuma sebagai staf rendahan yang setiap hari mondar mandir ruangan memeriksa hasil produksi. Terus datang kesini mau meminta anak itu dan bilang itu darah daging kamu dan mau nikahin aku gitu?" Anita berbicara dengan sombongnya.


"Nggak aku sudah memiliki istri, dan tak mungkin aku menikah lagi, aku cuma ingin bertanya dan jawab dengan jujur. Apakah yang kita lakukan di malam itu membuat kamu hamil?"


" Tidak." Anita menolak keras untuk mengaku.

__ADS_1


"Ya baiklah jika dia bukan anakku aku bersyukur, aku tak punya tanggung jawab apapun untuk anak itu dimasa yang akan datang."


" Ya pergilah, lagian apa yang bisa diberikan oleh pria miskin seperti dirimu. Sebagai seorang Mama buat Mesha aku harus memberi masa depan yang baik untuk bayiku.


"Oke kalau begitu apa aku boleh lihat bayimu?" Mert hendak berdiri tapi Zara mencekal 6anganmya.


" Tidak boleh. Dia sedang tidur." Anita menghalangi Mert untuk masuk ke kamar yang berada paling dekat dengan ruang tamu.


Saat usaha Anita begitu kuat menghalangi Amert, justru Amert yakin kalau anak itu adalah darah dagingnya.


"Anita izinkan aku melihat dia. Biar aku yakin dia bukan putriku." Mert memohon.


"Tidak, kau tahu aku bukan hanya tidur denganmu. Jadi tak ada kemungkinan anak itu putrimu," Anita masih kekeh menahan lengan Mert agar tak masuk.


"Kamu pasti berbohong." Amert menyingkirkan Anita lalu menerobos masuk.


"Amert jangan masuk!" Anita mengejar, tapi Amert tak terkejar oleh Anita.


Dia melihat bayi kecil yang sangat cantik tertidur pulas di dalam bok bayi. Amert merasa wajah bayi itu begitu familiar, setelah ia perhatikan dengan jelas dia memang mirip dirinya. Cantik, imut, terlihat polos tanpa dosa.


Anita yakin pasti Mert langsung percaya dia anaknya. "Jangan sentuh dia, kamu tidak berhak seujung kuku pun atas dia."


"Anita aku berhak dengan dia, kau tau dia mirip denganku. Dia pasti anakku."


"Yakin kau akan merawatnya? Kok aku ragu ya?" Mert mendekati Anita berjalan mengelilingi wanita yang sedang terlihat gelisah itu, wanita itu takut Amert akan membawa paksa dan melenyapkan mimpinya selama ini.


"Miko bilang, kau akan menjualnya pada seseorang. Apa kamu nggak takut kalau suatu saat kau akan menyesalinya. Aku nggak percaya ada seorang ibu akan menjual anaknya sendiri."


"Lalu apa yang bisa aku lakukan? Aku benci anak itu, karena anak itu langkahku terhenti untuk mendapat orang yang aku sayangi, bahkan harapan itu sekarang tak ada lagi, Arsena semakin tak bisa ku gapai lagi. Lalu aku! Hidupku! Semua hancur Amert."


"Anita kamu cinta buta, Arsena sangat bahagia dengan hidupnya, aku yakin wanita seperti apapun yang merayunya cintanya hanya untuk Andini." Terang Amert yang melihat keseharian Arsena dan Andini yang tak terpisahkan.


"Arsena tak kudapatkan, bahkan aku melakukan kesalahan dengan hamil anakmu, anak itu pembawa sial bagiku Amert, setiap melihat dia aku semakin hancur." Anita menitikkan air mata, entah kenapa dia bisa menangis, mungkin dia menyesal dengan kelakuannya sendiri.


" Siapa yang salah?" Sanggah Amert.


"Kau yang salah, kenapa kau datang menggantikan Arsena." Anita nampak pias.


Mert tersenyum. "Bahkan kau tak bisa melihat kesalahanmu sendiri, Aku tahu Arsena sahabatmu sejak kecil, tapi baginya kamu cuma sahabat, sahabat dan cinta itu berbeda jauh Anita." Mert berbicara sambil menatap Anita yang terlihat rapuh. "Apalagi dihati Arsena kau telah meninggalkan catatan buruk."

__ADS_1


"Tetap saja kau salah. Kau tak tau malu datang pada undangan yang bukan untukmu."


"Karena aku bekerja untuk dia, aku karyawan, aku tunduk dengan perintahnya di kantor. Paham!" Mert benar benar hilang kesabaran berbicara dengan Anita.


"Lalu apa yang kau inginkan agar aku bisa bersama darah dagingku itu, walaupun kesalahan besar yang aku lakukan. Tapi hadirnya dia tak bisa aku bilang suatu kesalahan, aku yakin semua sudah kehendaknya." Mert kemudian menggendong putri kecilnya, saat Anita sudah tak melarangnya lagi. Entah kenapa dia ingin menciumnya, ia tempelkan pipinya dengan pipi Mesha


Kamu nggak akan bisa mengabulkan keinginanku, Mesha akan diadopsi oleh pengusaha kaya, dan dia bersedia memberiku harga yang pantas untuk perjuanganku selama ini.


"Jual saja dia padaku, aku akan membelinya." Amert masih menatap putri kecilnya, dia yakin Zara tak keberatan jika dia membawa Mesha pulang. Karena Amert tau Zara hanya tak ingin berbagi cinta saja. Soal anak karena kesalahan satu malam itu Amert yakin Zara bisa menerima. Mert bernafas lega, Anita tak menuntut ingin menikah dengan dirinya.


"Sebut saja angkanya. Aku akan usahakan." ujar Mert saat ruangan hening


Kamu yakin bisa dapatkan uang sebanyak yang kuinginkan? Aku ingin tinggal di Penthouse, aku butuh uang lima milyar untuk bisa memiliki dan hidup bahagia disana.


Mert terkejut, wanita di depannya ini benar benar gila uang. "Lima milyar ya? Aku akan berikan uang nya." Mert mengeluarkan sebuah cek dari tas kecil yang ia simpan di dalam jaketnya, pantas saja perutnya terlihat mengembung, di dalam jaketnya ada tas berisi bermacam macam dokumen rahasia. "ini cek berisi enam milyar."


Anita segera berdiri dan mengusap lelehan airmata nya, tak percaya Amert bisa memberi uang dengan nilai sebesar itu. Tangannya terulur. "Yakin ini asli."


Anita kembali menatap Mert dari atas hingga bawah, tak yakin Amert yang hanya menjadi karyawan biasa di kantor bisa memiliki uang sebanyak itu. "Pasti kamu ngutang ya? Atau jual properti, maaf kamu kan nggak punya properti." Tanya Anita. Setahu Anita Mert numpang di rumah Arsena seperti parasit karena tak mampu bertahan di negeri asing.


"Darimanapun asalnya yang penting itu uang. Bukankah yang kau butuhkan hanya uang." ucap Mert lagi tanpa menoleh ke arah Anita. Pria itu sudah jatuh cinta pada bayi kecil yang merupakan foto kopi dirinya.


Mert yakin keputusannya sudah benar, dia akan membawa Mesha ke Turki bersama Zara, statusnya nanti akan menjadi putri dari Zara dan saudara kembar Furqon, Mert tidak bisa mengikut sertakan nama Anita di dalam kartu keluarganya karena mereka tidak terikat dalam sebuah pernikahan.


Anita terdiam sambil memegangi cek yang tertuliskan angka enam milyar di dalamnya. Membolak balikkan, tak percaya kalau pria yang selalu dia anggap rendah ternyata memiliki uang sebanyak yang ia minta.


"Anita aku tahu harga penthouse di kota Surabaya paling mahal lima milyar, sengaja aku lebihkan satu milyar untuk modal usaha kamu, semoga dengan uang yang kamu miliki saat ini bisa membuatmu berubah lebih baik lagi, dan aku berharap kamu menemukan pria yang tulus mencintaimu. Dan jika kamu rindu Meysa kamu bisa menghubungi asistenku di Turki nanti."


"Iya. Terima kasih Mert. Aku juga lega Meysa diadopsi oleh papa kandungnya sendiri."


"Yakin tak ada syarat lain? Oh iya, biarkan Meysa menjadikan Zara ibu kandungnya. Kau hanya boleh mengakui sebagai saudara kami, kau tahu itu akan berat bagi seorang ibu, jadi harus kuat. Kalau kau rindu, aku sesekali akan mengajaknya kesini."


Anita mencium Meysa yang ada di gendongan Amert. Setelah bayi itu benar benar akan pergi darinya, tiba-tiba muncul perasaan berat melepasnya.


Anita menitikkan air mata di pipi bayinya. Mert membelai rambut Anita untuk menghiburnya. "Aku ayah kandungnya, aku akan menyayangi putri kita, percayalah."


Anita mengangguk, "cepat bawa pergi dia dariku, sebelum aku berubah pikiran." Airmata menetes semakin deras dari pipi Anita. Mert memberinya saputangan. Anita menerima saputangan dari tangan Amert untuk menyeka bulir kristal yang terus menetes.


-

__ADS_1


Setelah Anita menandatangani sebuah surat perjanjian yang intinya mereka berdua sudah sama-sama setuju dengan syarat adopsi Meysa. Untuk berjaga-jaga suatu saat tidak ada lagi gugatan dari salah satu pihak karena merasa dirugikan. Mert pamit untuk pulang. "Jaga dirimu baik baik, Anita. Aku berterima kasih telah memberiku putri yang cantik.


Anita mengangguk, berusaha untuk tersenyum. Anita memberikan sebuah kalung yang hanya ada inisial namanya saja kepada Amert. Dia berharap suatu saat Mesha akan memakainya.


__ADS_2