Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 95. Miliki aku.


__ADS_3

Warning!! 21+


Miko kembali menatap mata bulat dan pipi cabi milik sang istri.


Kemana saja aku selama ini, aku baru tahu ternyata istriku cantik juga.


"Kakak lihatin apa?"


Dara semakin nervous ketika Miko mulai melihat sedikit kebawah. Dua buah gundukan yang berukuran sedang itu bergerak naik turun oleh nafas Dara yang berhembus kencang, detak jantungnya tak beraturan lagi, susah payah Dara berupaya agar Miko menjauh, namun pria itu sepertinya semakin lengket saja.


Miko melihat bentuk mungil dan masih sangat kencang dengan ukuran tak terlalu besar. Berbeda dengan para wanita yang sudah sering tidur dengannya, mereka rata-rata memiliki ukuran yang besar.


"Dara diamlah, apa kau sengaja menggodaku dengan terus meronta di depanku?"


"Kak, aku berubah pikiran, bagaimana jika kau membebaskanku dari hukuman kedua. Aku akan membuatkan kakak makanan apapun yang kau sukai."


"Apa? Kamu sedang bercanda? Mengganti hukuman dengan makanan, itu bukan tawaran yang sebanding. Diamlah dan pejamkan matamu. terlihat Miko beringsut dan kembali lagi di posisi semula.


Dara menuruti Miko ia sama sekali tak bergerak.


Setelah sekian detik berlalu, Miko meminta Dara kembali membuka matanya.


"Kak apa ini?"


"Ini cincin untuk kamu." Miko mulai membuka isi dari benda kotak berwarna gold itu. Mengambil isinya dan mengulurkan pada Dara yang sudah berubah posisi setengah duduk.


Dara membelap mulutnya sendiri yang tanpa sadar membentuk huruf O dengan kedua telapak tangannya, terkejut dan takjub. Cincin itu berwarna putih, bentuknya elegan dengan mata putih begitu berkilau, seumur hidup Dara baru pernah melihat cincin seindah itu, Dara yakin mata cincin itu pasti berasal dari berlian.


"Tidak kak, Dara tak pantas memakai benda ini, pasti mahal sekali." Dara menggelenglan kepalanya.


"Bener nggak mau?" Miko terlihat menutup benda itu kembali, dan menaruh di nakas.


"Pengen banget Kak, coba kakak paksa Dara dikit aja, Dara pasti mau. Jika kakak memang tulus membelikan untuk Dara."


"Dara sebenarnya aku beli cincin itu beberapa hari yang lalu, aku ingin kamu memakainya, tapi apalah dayaku ternyata kamu menolaknya."


Miko memasang wajah kecewa, menaruh kembali cincin yang telah dipesan langsung oleh empunya dua hari lalu., dan Miko memastikan hanya dia yang memiliki pasangan cincin itu.


Di bagian dalam cincin itu sudah diukir Nama Andara untuk milik Miko. Dan Namanya sendiri untuk cincin yang dipakai Dara.


Miko merasa tak adil buat Dara, dia telah menikahi anak orang tanpa membelikan sesuatu dengan uangnya sendiri. Karena pernikahannya satu bulan yang lalu, dia hanyalah patung yang bisa bergerak tanpa bisa berfikir jernih. Ingatannya hanya tertuju pada Andini.


Mandilah, kata Miko bangkit dari tidurnya. Lalu ia melepas hem yang melekat ditubuhnya sejak pagi tadi.


"Dara yang mandi kenapa kakak yang lepas baju?" Dara bingung.

__ADS_1


"Kita akan mandi bersama, sambil melakukan pemanasan. Dan ini hukuman kedua yang kau nanti-nanti, bukan?" Jelas Miko dengan ekspresi yang dibuat sedatar mungkin.


Apa? Kakak ini hukuman tak masuk akal, kakak bisa menghukum ku dengan berjemur di bawah matahari terik, atau menjewer telinga sambil berdiri dengan satu kaki. Kenapa harus mandi bersama?" Bantah Dara menolak mentah mentah.


"Itu hukuman seorang murid SD. Ini hukuman untuk istri jelas beda." Miko terkekeh.


Memikirkan mandi bersama dengan Miko sudah membuat wajah Dara bak kepiting rebus, bagaimana tidak? Selama ini dia telah menjaga tubuhnya hingga tak ada satu laki-laki bisa melihat titik-titik sensitif yang ada di tubuhnya. Kini pria itu minta mandi bersama.


Namun bukan Dara kalau tak selalu punya akal Dara masuk ke kamar mandi lebih dulu dia menceburkan diri di bathup dengan baju masih lengkap celana tiga perempat dan Hem masih melekat ditubuhnya.


Dara bisa mandi bersama dengan Miko dengan memakai semua bajunya.


Ceklek!


Miko menyusul pria itu masuk dengan memakai handuk kecil saja di pinggangnya. Sampai di dalam kamar mandi Miko segera melepas handuknya kini tinggal CD saja yang melekat.


Sejak Miko masuk, Dara sama sekali sudah tak memandang kedatangan Miko.


Melihat Dara masuk di bathup dengan baju lengkap Miko hanya tersenyum. Dia sudah menduga istrinya akan melakukan hal konyol itu.


Miko dan Dara sudah berada di bathup yang sama. Air bathup itu meluber karena dua tubuh sudah masuk bersama di dalamnya.


Miko menambahkan aroma therapi pada air yang tersisa di bathup. Membuat sensasi harum bak mandi bunga.


"Tidak kak, sungguh aku tidak ingin melihat, aku ingin mandi dengan memejamkan mata saja." Dara menutup matanya rapat, dengan kepalanya di gelengkan kencang.


"Dara buka matamu, kita suami istri, melihat tubuh suaminya bukanlah sebuah Dosa," kata Miko sambil mengelus rambut Dara yang sudah basah. "Ayo buka."


Dara akhirnya berlahan membuka matanya. Ia bisa melihat tubuh Miko di air yang jernih.


Miko kini menyerahkan sabun padat pada Dara. Entah nasib sial atau nasib mujur bagi Miko, dia harus mengajari istrinya hal memalukan seperti sekarang, bagi Miko wanita berpengalaman mungkin tak akan menghabiskan durasi waktu terlalu lama tinggal buka langsung tancap, tapi Ini Dara, dia bisa shock berat jika dia tak hati-hati.


Dara menatap wajah Miko penuh keraguan, Miko menganggukkan kepala seolah ia mengizinkan Dara menyentuh tubuhnya dengan membalur setiap inci pahatan indah itu dengan sabun.


Miko harus banyak bersabar, Dara berbeda, dia bukan wanita masa dulunya yang berpengalaman. Dia gadis Desa yang lugu, sebelumnya hanya berfikir bekerja dan bekerja agar mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhanya. Semua ini karena ayah yang tega.


Dara mulai membalurkan sabun dari leher hingga Dada, Miko merasakan sentuhan Dara membawa magnet yang luar biasa. Sentuhan itu mampu membangkitkan yang dibawah menjadi menegang, hingga kepalanya menyembul keluar dari sarangnya. Untung air bathup sudah berubah memutih.


Sentuhan tangan Dara kini berubah menjadi siksaan. Miko yang sudah tersiksa selama ini, kini semakin tersiksa. Tangan halus itu bergerak menyusuri tubuh Miko bagian atas. Miko memejamkan matanya merasakan sentuhan lembut tangan Dara.


Dara maafkan aku, aku tak mungkin bisa menahan semua ini lebih lama jangankan menunggu hingga kamu sampai semester dua atau tiga, seharipun aku sudah tak bisa.


Miko meminta Dara menyabunkan area perut, awalnya Dara ragu, Namun Miko sedikit memaksa dengan menurunkan tangan Dara.


Dara reflek menjatuhkan sabunnya ketika tanpa sengaja tangannya menyenggol benda lunak namun kini sudah mengeras itu.

__ADS_1


"Kak!!" Pekik Dara.


"Ssttt." Miko menempelkan telunjuknya di bibir Dara.


Dara nengatupkan bibirnya rapat. Darahnya gerdesir sangat kencang, jantungnya dag Dig dug ingin meloncat dari sarangnya, kenapa benda keras itu harus tersentuh olehnya.


Jari-jari panjang Miko mencari sabun yang telah terjatuh, tak lama ia menemukan kembali. Miko mulai membalur sabun pada leher putih dara dengan satu tangan.


"Dara pejamkan mata." Pinta Miko dengan suara seraknya.


Dara patuh, ia memejamkan mata sesuai keinginan Miko.


Dara tak mau gagal dengan hukuman kedua, jika sampai gagal, Miko pasti akan menjebaknya dengan hukuman ke tiga, Dara tak bisa membayangkan bagaimana hukuman ketiga itu seperti apa. Jika hukuman kedua saja sudah membuatnya senam jantung seperti ini.


Sentuhan Miko membuat Dara bagai di awang-awang, antara sebuah rasa kelembutan dan takut.


Miko mulai meraba kancing baju Dara paling atas. Satu kancing, dua kancing berhasil lepas dari lubangnya. Miko dengan hati-hati melepas kancing ketiga, ia berhasil memanipulasi dengan gerakan tangan yang satunya. Tangan kanan Miko masih setia memberi sabun pada leher dan sekitarnya hingga Miko berhasil membuka kelima kancing baju yang dipakai Dara.


Lekuk tubuh Dara mulai terlihat, walaupun diusianya menginjak sembilan belas, Dara sudah berhasil menyuguhkan pemandangan terindah buat Miko. Pria itu tak menyesal sedikitpun menikahi Dara, selain pinter masak, dia juga cantik natural memiliki lekuk tubuh indah dan sintal. Wanita pilihan papa mungkin sudah jodoh terindah yang disiapkan Tuhan untuknya.


Kaca mata warna pink itu sudah terlihat di depan mata, Miko sudah berhasil melihat pembungkus dua gundukan kembar yang beberapa hari ini tak bisa membuat dirinya tidur nyenyak.


Miko kini membayangkan bagaimana rasanya jadi yang pertama menyentuh semua yang sudah ada di depan mata?


Sedangkan selama ini ia hanya jadi yang kesekian untuk wanitanya. Pengalaman dengan Lili dulu juga bukan yang pertama. Buktinya Lili tak lagi menorehkan warna merah pada seprei yang ia pakai untuk pergumulan panas saat pertama kali waktu itu.


Sentuhan Miko terasa semakin kebawah, mata Dara seketika menajam, merasakan Miko mulai menyentuh dua bukitnya. Darah Dara berdesir kencang, tubuhnya bergetar sangat hebat.


"Kaaaak! Jangan!"


"Emph," Miko segera melahap bibir merah dengan sejuta pesona dan kelembutannya. Membuat bibir Dara tak mampu lagi mengeluarkan kata-kata.


Miko memeluk Dara dengan erat tangannya melingkar ke punggung. Sekali lagi Miko telah berhasil membuka pengait kaca mata dan melepaskan dengan kemahiran yang di miliki. Miko berpengalaman dalam hal ini.


Miko menarik tubuh Dara, kini posisi Dara sudah ada di pangkuannya. Bibir Miko masih setia bermain di ruang hangat Milik Dara, ada sensasi tersendiri bagi Miko ketika mencium tanpa mendapat balasan, Dara bukan saja amatir tapi dia belum sekalipun merasakan apa yang sedang Miko berikan saat ini.


"Kak, aku ingin bernafas." Dara mendorong dada Miko. Membuat pria itu melepaskan pagutannya.


"Setelah mahir kita bisa melakukannya sambil bernafas, Little." kata Miko dengan tatapan sayu karena diselimuti gairah.


Miko kini memeluk istrinya, memberi beberapa tanda merah pada leher dan kembali menggapai bibir yang semakin merah merekah dengan indah, menyesap, meneguk manisnya hingga terasa kering. Satu tangan mencoba menelusup di balik b*a dan satu tangannya melingkar ketat di punggung Dara.


Dara yang sudah terkunci tak bisa bergerak sedikitpun. Sepertinya dia harus merelakan tangan Miko menelusuri setiap inci tubuhnya. Tak bisa dipungkiri lagi otaknya berusaha menolak, Namun, tubuh mulai merasakan sebuah rasa yang sulit diungkapkan dengan kata.


*Happy reading.

__ADS_1


__ADS_2