Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 99. Gaun dari Mama.


__ADS_3

"Pengalaman banget ngerayunya." Pipi Andini merona mendengar pengakuan cinta Arsena.


"Ini bukan rayuan, tak perlu dirayu kamunya juga udah nggak mau jauh gini." Arsena tersenyum menggoda. Senyum yang sangat manis khas seorang sultan. Arsena mendekatkan kursinya semakin dekat. Sengaja agar bisa memandang lekat wanita yang begitu bangga bisa memiliki raganya itu. Yah, Andini sangat mengagumi suaminya bahkan dia sangat senang dengan aroma keringatnya yang lelaki banget.


"Andini aku suka kamu manja seperti ini, aku merasa sangat dibutuhkan sebagai suami. Tapi tolong ... Makanlah jika tak ada aku, Zara akan menemanimu. Jika aku kerja dan lembur apa seharian kau juga tak akan makan?"


"Entahlah Ars, makan sepiring denganmu nikmat banget." Celoteh Andini dengan polos.


"Bisa aja." Arsena mencuci tangannya. Mengambil tisu dan mengelap setiap sudut bibir Andini. Pria itu masih bisa melihat dengan jelas, kalau Andini kini amat senang.


Bi Um dan Zara dibuat meleleh oleh sikap majikan mudanya. Dibalik sikap dingin Arsena yang sering terlihat terutama pada semua bawahan, tersimpan juga kelembutan yang luar biasa.


Jauh berbeda dengan orang tuanya yang tak pernah menunjukkan sikap romantisnya dimanapun, bahkan dikamar sekalipun mereka masih saja berisik, tak pernah bosan berdebat.


"Suamiku pasti lelah, habis meeting. Bahkan hari Minggu saja masih tetap harus memikirkan kerja."


"Meeting nggak jadi, Miko nggak datang. Benar keterlaluan tu anak." Kesal Arsena.


Andini tersenyum, wajah kesal suaminya justru membuatnya terlihat sangat lucu.


"Ndin bahagia sekali." Arsena melebarkan pupil nya. Suka banget sih lihat suami menderita," gerutu Arsena.


"Nggak, cuma suka aja ngelihat wajahnya kalau sedang kesal jadi makin cakep."


Arsena gemas mendengar jawaban istrinya, bibir merah bergerak di depannya itu yang menjadi sasarannya.


"Cup." satu kecupan mendarat.


"Ars, bisa nggak sih? Mau cium itu bilang dulu, biar aku siap. Kebiasaan." Andini mencebikkan bibirnya.


Melihat Bibir mengerucut itu, Arsena justru memiliki ide lain


Arsena memakan beberapa buah pencuci mulut, memberi beberapa potong untuk pada Andini. Ternyata cara ini membuat Arsena kurang tertarik.


"Sayang aku akan menyuapi kamu makan buah dengan cara lain. Kau pasti suka cara ini.


Arsena menggigit buah mangga potong lalu mendekati bibir Andini.


Arsena memindahkan buah dari mulutnya dengan caranya yang unik. Membuat wanita di depannya kembali dibuat tersipu oleh perlakuan suami.


"Ars, ini ruang keluarga." Andini segera menyadarkan Arsena yang melampui batas. Rasa tak nyaman mulai merajai hati Andini. Namun, ada hal indah yang tak bisa dipungkiri, tehnik berciuman yang selalu berbeda itu selalu ia dapatkan dari suaminya.


"Benar mari kita ke atas," Arsena mengambil sepiring buah dan meminta Andini untuk menggenggam. dan satu tangannya terulur membantu Andini berdiri.


Dengan mesra Arsena menggendong tubuh Istri. Mereka akhirnya menuju ruang kerja Arsena. Membaringkan tubuh Andini di sofa yang ada didekatnya. Arsena berharap sambil bekerja ia tetap bisa mengamati sosok makhluk penguasa hatinya itu.

__ADS_1


Andini memiringkan tubuhnya dan Arsena jongkok diatasnya. Rupanya dikepala pria itu sudah timbul niat lain selain bekerja.


"Kau sudah kenyang, tapi masih ingin memakanku."


Andini mendorong dada bidang yang ada diatasnya. membuat Arsena semakin tertantang untuk segera bermain main dengan sang istri.


"Perut memang kenyang, tapi ada bagian tubuh lain yang masih lapar."


"Ars, kau tadi ingin bekerja bukan?"


Siapa bilang, aku kesini ingin meminta hakku, dengan gaya yang berbeda. Bermain di ranjang memang sungguh nikmat, tapi aku juga ingin merasakan bermain di sofa.


"Ars, kau ini." Andini tersipu. Ia hanya menarik nafas panjang. Pasrah.


Arsena membuka kancing baju Andini. Dan mulai menelusup kan tangannya di balik kaca mata. Membari sentuhan sentuhan memabukkan. Meski tak lagi yang pertama kali namun sentuhan Arsena selalu mampu memberikan rasa yang tak bisa diungkapkan sekedar dengan kata. Satu tangannya menelusup ke bawah punggung Andini melapaskan pengait dengan mudah.


"Sudah pintar," puji Andini. Karena Arsena bisa melepas dengan sangat mudah.


Arsena mulai membuka hem sendiri dengan satu tangan, tangan yang lain disibukkan oleh pekerjaan lain.


Seperti biasa, Andini selalu terpana dengan tubuh ideal suaminya.


Pengagum pahatan kotak-kotak milik sang suami itu tak berhenti menggerakkan jemarinya menelusuri setiap lekukan indah yang setiap ia mau, bisa ia sentuh.


"Ars, aku beruntung memilikimu, diluar sana pasti banyak sosok pengagummu, yang lebih segalanya dariku. Mendambamu, igin bisa memilikimu seutuhnya seperti ini. Tapi aku ingin tahu, walaupun aku bukan cinta pertama? Apakah aku yang pertama kau sentuh?"


Arsena mulai memasuki tubuh Andini. Suara desisan mirip suara ular itu kini sudah terdengar.


Arsena sangat suka dengan suara-suara itu. Semakin membuat dirinya lebih semangat memaju mundurkan tubuhnya, sesekali dengan tempo sangat cepat, sesekali mengurangi kecepatannya ketika Andini Telah menggelinjang dan mengerang tak tahan.


Mereka akhirnya melakukan olahraga siang di ruang kerja. Anggap saja itu pemanasan sebelum bekerja.


Ruangan seketika menjadi panas, AC di ruangan itu tak mampu menghapus peluh yang terus menetes diantara mereka berdua.


Arsena memeluk Andini kuat-kuat ketika merasakan ada peluru yang siap meluncur menuju sasaran utama.


 


"Dimana Andini? Zara apa kau lihat kemana istri putraku itu?"


"Maaf mereka berdua sedang berada di dalam ruang kerja Tuan Muda, Nona."


"Berdua? apa wanita juga ikut bekerja dalam hal perusahaan? Panggil Nona, Zara."


"Zara tak berani, Nyonya. Tuan muda bilang dia sedang tak ingin diganggu."

__ADS_1


"Baiklah aku akan panggil sendiri, jadi asisten kok selalu ngelawan Nyonya," gerutu Rena.


"Silahkan Nyonya. Jika Nyonya punya keberanian." Zara menjawab santai. Zara dan Rena sering kali bersitegang ketika sedang selisih pendapat.


Wanita berusia setengah abad itu segera menuju ruang kerja Arsena, mengetuk pintu berulang kali.


Andini segera membuka pintu dengan hanya memakai handuk kimono. Andini kaget, pengetuk pintu yang dikira Zara itu ternyata mama mertua.


"Mama, apa ada yang penting? Arsena masih mandi" jelas Andini, tak mengurangi kesopanannya.


Rena tersenyum, setelah mendengar penjelasan Andini. "Kukira tadi benar-benar bekerja, ternyata tempat kerja juga bisa jadi tempat multi guna," sindir Rena.


Andini menundukkan wajahnya malu.


"Ada apa ini?" Arsena segera menghampiri dua wanita yang sama sama penting dihatinya. Sama sama disayangi itu.


"Ars, mama ada sesuatu buat kamu dan Andini."


"Sesuatu, apa? Jangan bilang mama sedang merencanakan sesuatu. yang baru lagi."


Tidak, Ars. Mana mungkin. Mama tadi saat di mall, menemukan baju bagus,dan ini warna kesukaanmu. Tadi Anita yang kasih tau Mama."


"Oh, terima kasih sudah repot belikan baju. Aku sedang tak kekurangan stok baju." Arsena enggan menerima baju pemberian Mama. Mungkin ia berfikir kenapa hanya dirinya saja. Sedangkan Andini juga menantunya.


"Mas itu mama yang beli, diterima kenapa?"


"Mama juga ada hadiah buat kamu, Ndin. Ini baju untuk kamu,"


"Mama ingin nanti malam kalian pakai baju ini. Karena ada Oma dan Mert akan terbang ke Indonesia. dan menginap di rumah ini dalam waktu yang lama.


"Oma dan Mert akan datang? Arsena tersenyum bahagia. Arsena menoleh ke arah Andini. "Ndin, Oma akan berkunjung. Kamu pasti senang bertemu Oma. Dan Mert, dia sepupuku."


Andini hanya bisa mengangguk senang. " Makasi sudah belikan baju untuk Andini Ma."


"Iya, sayang. Nanti dipake ya. Biar kamu makin cantik. Mama pilihkan yang senada dengan Arsena."


Andini menerima dua paper bag sekaligus. Satu untuk Arsena dan satu untuk dirinya. beberapa hari ini Rena terlihat banyak berubah. Dia mulai menunjukkan perhatiannya untuk Andini. Andini berusaha menerima sikap baik mama tanpa ada curiga sedikitpun.


 


Malam telah tiba, Arsena sudah siap dengan kemeja merah bata pemberian Mama. Sedangkan Andini masih duduk di sudut ranjang. Ia sedang bingung. Antara memakai atau tidak baju yang di belikan oleh Mama.


"Ndin, Oma sudah sampai bandara, kenapa belum ganti baju."


Arsena mendekati istrinya yang terlihat murung. "Why Andini? Why are you sad?"

__ADS_1


__ADS_2