Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 53. "Istriku, apa kau sedang cemburu?"


__ADS_3

Andini dan Arsena mulai lelah bermain kejar-kejaran. Kini ia bersantai di bibir pantai. Posisi Andini duduk dengan kaki berselonjoran, baju mereka berdua basah kuyup. Arsena memilih rebahan dengan kepala berada di pangkuan Andini.


Pria itu terus menatap lekat wanitanya, semakin lekat memandang, semakin membuatnya jatuh cinta.


"Kenapa akhir-akhir ini senyummu tidak mahal lagi, Tuan?" Celetuk Andini saat mengetahui Arsena terus memandanginya dalam-dalam.


"Kalau buat kamu nggak ada yang mahal, bukan hanya senyumku, tubuhku sekarang juga free jika untukmu," ujar Arsena penuh rayu.


Arsena mengulurkan tangan kanannya ke atas. Membelai rambut Andini dan menarik tengkuknya. Andini semakin membungkuk hingga Arsena mudah untuk menjangkau bibirnya. Selesai mengecup bibir Andini, Arsena mengusap usap dengan ibu jarinya.


"Rasanya manis, aku sepertinya mulai kecanduan dengan bibir ini." Kata Arsena


Andini kembali tersipu. Sepertinya bukan Arsena saja yang mulai merasakan manisnya, Andini juga mulai merindukan sentuhan bibir Arsena yang hangat dan lembut, Arsena adalah pria pertama yang mengajarinya cara berciuman yang benar.


Arsena bangun. Sudah terlalu lama rebahan, khawatir paha Andini akan lelah menahan tubuhnya. Ia memilih duduk dan menarik tubuh wanitanya ke pangkuan. Andini sekarang berada di pangkuan Arsena. mereka berdua menatap ke arah yang sama, yaitu pemandangan laut lepas dengan kapal-kapal nelayan di kejauhan.


Arsena ingin mengulangi mengecup bibir Andini lagi. Namun Andini menolak. "Sudah Ars, aku malu. Kamu tak kasihan sama mereka."


Arsena urung melakukannya, ia menoleh pada Koki dan violinist yang sejak tadi berdiri mematung layaknya pelayan tauladan.


Arsena mengisyaratkan untuk segera pergi karena surprize untuk Andini hari ini dirasa sudah cukup.


Mereka berdua akhirnya bersiap-siap untuk pergi. Asisten Doni sudah menyiapkan uang saku untuk kerjanya hari ini.


Arsena yang sudah mempersiapkan segalanya, ia menyerahkan baju ganti untuk Andini. Andini segera ganti baju di tempat ganti yang kebetulan ada di dekatnya.


"Baiklah kita pulang. Aku akan telepon Doni dulu biar menyelesaikan semuanya.


Sambil menunggu Andini ganti baju, Arsena segera menghubungi Doni. Pria yang sudah membantunya menutup pintu masuk pantai, hanya dalam beberapa menit saja dia sudah datang.


Yeah, Doni sudah bekerja keras menutup pintu masuk supaya tak ada pengunjung pantai yang mengganggu tuannya. Membuat spanduk besar di pintu masuk dengan sebuah peringatan keras. Membuat beberapa pengunjung yang hendak ke pantai kembali dengan kecewa.


Andini keluar dari kamar ganti. Baju yang di belikan Arsena sangat bagus. Hanya bagian atasnya sedikit terbuka. Andini sedikit malu mengenakan gaun cantik itu di depannya. Namun. Pria itu terlihat sangat menyukainya.


Arsena tak mau, jika Doni melihat tubuh seksi Istrinya, Arsena segera melepas jaketnya dan menutupi tubuh istrinya bagian atas.


Andini melangkah malu-malu masuk pintu belakang. Arsena berulang kali menelan salivanya. Andini yang menyadari prianya terus menatapnya ia berusaha menutup tubuhnya dengan jaket hitam milik Arsena.


Hanya Arsena dan Andini yang duduk dibelakang. Doni tau diri ia tak ingin memandang pemandangan yang sama dengan tuannya, menggeser kaca spion agar menghadap ke arah luar. Ia kini hanya menyalakan mesin dan menggerakkan mobil sesuai perintah.


"Kita kemana?" Tanya Arsena. Pria itu menyelipkan tangannya di belakang punggung Andini. Lalu mendekapnya erat.


"Antar aku ke kontrakan."


"Kenapa ke tempat itu lagi. Bukannya kau sudah berjanji akan ikut pulang denganku."

__ADS_1


"Siapa yang berjanji? Aku belum mengatakan apapun." Andini berkilah.


"Andini, tempat itu tak aman, kamu berbahaya disana sendirian." Arsena keberatan.


"Beri aku waktu semalam lagi, aku akan siapkan semua barang-barang ku. Dan esok kamu bisa menjemputku," terang Andini.


"Baiklah nanti malam aku akan ikut tidur di kontrakan saja." Arsena mengecup kening istrinya.


Andini merasakan kehangatan. Ia mejamkan mata setiap kali Arsena melakukan hal intim itu padanya.


"Pak Doni, tolong langsung pulang ke rumah saja, dan jika orang rumah ada yang menanyakan katakan aku tak pulang hari ini. Aku ingin menemani istriku di kontrakan."


"Baiklah, Den."


Arsena dan Andini sudah sampai di kontrakan. Andini turun disusul oleh Ars, mereka lewat pintu mobil yang sama. Setelah kedua majikannya turun Doni masih menunggunya sebentar, khawatir Arsena akan berubah pikiran.


Arsena sebenarnya tak suka tinggal di kontrakan Andini meski cuma sehari. Kontrakan pengap bahkan ukurannya lebih besar dari kamarnya. Tak ada AC. Hanya kipas kecil yang baru di beli Andini beberapa hari lalu.


"Ars, pulanglah. Aku tau kamu sangat sibuk. Kamu harus menjalankan pekerjaanmu dengan baik, banyak nasip manusia yang tergantung dengan perusahaan yang kau jalankan, bukan sekedar mengurusku seperti ini."


"Baiklah, Sayang. Tapi khusus hari ini aku hanya ingin bersamamu. Kamu tak keberatan kan." Arsena keras kepala.


Arsena langsung masuk dan merebahkan dirinya di kasur. Menarik tubuh Andini yang tadinya mengekor di belakangnya.


Arsena terlentang dibawah dan Andini menindih tubuh Arsena.


Andini gemas dengan tingkah suaminya, ia mencubit pinggangnya. "Dasar pria mesum."


"Awww, sakit sayang ...." Pekik Arsena.


Andini bangkit, ia berjalan menuju lemari kecil yang ada di sudut kamar. Andini mulai mengeluarkan baju-bajunya. Baju Andini banyak yang sudah ketinggalan trend, baju yang ia bawa dari kampung saat dirinya masih hidup susah dulu.


Arsena meraih satu baju dari tangan Andini. "Baju apa ini? Sayang kamu nggak boleh pakai baju seperti ini lagi."


"Kenapa Ars? Ini baju kesukaanku." Andini meraih kembali baju yang menurut Arsena jelek. Namun bagi Andini tetap bagus walau murah. Baju itu kenang kenangan yang dibelikan oleh temannya waktu liburan ke Malioboro"


"Sudah tinggalkan saja baju-baju ini, nanti aku akan membelikan satu truk yang baru dan lebih bagus."


Andini menaruh semua bajunya. Ia kini duduk tak bergeming. Diam, bibirnya maju lima mili.


Arsena tau kalau Andini lagi ngambek, ia baru tahu kalau wanita ternyata susah untuk di taklukkan.


"Baiklah, kalau kamu suka baju ini, kamu bawa semua saja."


Andini tersenyum melihat pria dinginnya kini lebih mengalah padanya, ia ingin Arsena menghargai haknya, ia tak mau selalu ditindas walau Arsena kaya raya sekalipun.

__ADS_1


 


Bip bip bip


"Ars handpone kamu berbunyi ...!"


Ars yang lagi di kamar mandi segera membalas teriakan Andini.


"Dari siapa? Coba dilihat."


Andini mendekati handpone Arsena yang tergeletak diatas bantal. Andini meraih handpone berlapis emas dengan gambar apel dibelakangnya. "Lili?"


"Bukankah Arsena bilang kalau hubungan dengan Lili sudah berakhir, kenapa dia masih menghubunginya," gumam Andini.


Andini yang tadi sudah bahagia, ia percaya kalau Arsena serius dengan hubungannya. Kepercayaan itu seketika kembali luluh lantak.


Andini menaruh handpone Arsena kembali. Tanpa ada keinginan untuk menggeser layarnya.


Andini meninggalkan handpone yang terus berbunyi, hingga lima panggilan telah berlangsung. Mungkin Lili mulai lelah menelepon, kini ia mulai mengirim pesan lewat aplikasi hijau.


Andini bersedih, ia memasukkan kembali baju-bajunya ke lemari. Andini membutuhkan penjelasan dari Arsena. Sebelum Lili benar benar hilang dari hidupnya Andini tak akan pernah ikut pulang.


Andini menyentuh cincin pemberian Arsena. Ia mulai meragukan dengan semua yang ia lakukan pagi tadi.


"Sayang, siapa yang telepon?" Arsena sudah keluar dari kamar mandi ia memakai handuk kecil yang dililitkan di pinggang. Rambutnya basah. Pria itu setiap mandi selalu keramas sekalian.


"Sayang siapa yang telepon baru saja?" Arsena mengulangi kata katanya.


Arsena masuk ke kamar untuk ganti baju. Menutup kembali pintu kamar. Menghampiri Andini yang di wajahnya tiba-tiba ada mendung, melamun mengamati keluar jendela. Koper yang sudah terisi baju tiba-tiba kosong lagi.


Firasat Arsena mulai tidak enak. Ini pasti ulah si penelepon tadi. Arsena menghampiri handphonenya.


Arsena tersenyum, lalu menelepon si penelepon yang sejak tadi di abaikan.


"Temui aku di tempat biasa." Selesai berucap demikian, Arsena kembali menutup handphonenya dan menaruh di atas bantal seperti tadi.


Arsena kini memakai baju santai, kaos t-shirt dan celana jeans. Baju ganti yang sudah ia bawa dari rumah sejak pagi tadi.


"Ars, kamu sekarang ingin pergi setelah dia menelepon. Kamu masih sama, memanfaatkan diriku, atau aku memang terlalu bodoh, selalu percaya dengan bualanmu."


Sayang, aku keluar dulu, aku harus menyelesaikan semuanya sekarang juga. Kamu baik baik di rumah. Aku akan kembali satu jam lagi.


Arsena mendekati Andini dan mengecup puncak kepalanya, mengacak acak rambutnya gemas.


Andini diam seribu bahasa. Tak menjawab walau hanya sepatah kata.

__ADS_1


"Pergilah, Ars. Temui kekasihmu." Andini melihat kepergian Arsena. Setelah bayangan Arsena hilang, airmata Andini yang ia tahan sejak tadi akhirnya lolos juga.


*Happy reading.


__ADS_2