
Saatnya para pria tampan meninggalkan rumah untuk mencari sebongkah berlian demi keluarga kecilnya masing-masing.
Miko keluar menuju motor besarnya bertengger, setelah sembuh total, pria itu tak lagi mengendarai mobil. Mert juga sama, dia lebih suka naik motor daripada naik mobil yang sering terjebak macet.
Sangat berbeda dengan pola pikir tuan tampan pertama itu. Dia memiliki kebiasaan yang berbeda dengan saudaranya, menurutnya berangkat kerja memakai motor, bahaya terkena polusi dan iritasi kulit, belum lagi panas matahari yang menyengat dan hujan yang suka datang tiba tiba. Semua itu akan mempengaruhi penampilannya saat bertemu kolega nanti.
Rumah kembali sepi, Miko dan Mert sudah berangkat ke kantor, sedangkan Arsena dan Andini membawa Rara menuju tahanan, yang rencananya mereka akan mengirim ke tahanan polisi saja setelah berbagai bukti kejahatan sudah ada di tangan.
"Hubby, kamu yakin Lili tak akan marah jika anaknya bersama kita?" Tanya Andini ketika sudah berada dalam mobil.
"Marah kenapa? Bukannya dia tidak sayang anaknya, kamu lihat sendiri kan? Dia terluka karena Lili suka menyakiti dia."
Andini menatap bayi mungil yang ada di gendongannya. sesekali menciumi pipinya yang harum. "Rara tenang ya, tante akan melindungi Rara."
Arsena tersenyum, melihat Andini yang memiliki hati selembut kapas putih.
Sayang, padahal Lili sudah jahat sama kamu lho. Dia sudah menyakiti hati kamu, dia sudah membuat kamu celaka. Kenapa kamu masih bisa sayang sama anaknya.
"Ars anak ini lucu, dia tak boleh mendapat kebencian dari siapapun. Kamu tahu kan Lili seperti itu karena dia ingin memiliki kamu seutuhnya." Andini menatap Arsena sebentar lalu menempelkan kepalanya di bahunya." Tapi pria itu sudah menjadi milikku, aku tak akan biarkan milikku diambil orang lain."
Arsena tersenyum. " Tenang milikmu nggak akan kemana mana. Hanya akan jadi milikmu selamanya."
"Oekk oekk." Qiara mengeliat sambil menyusu ibu jarinya.
"Rara kamu haus ya sayang? Cup cup." Andini menenangkan Qiara.
Andini segera membuatkan susu untuk Rara, saat berangkat tadi bi Susi sudah menyiapkan keperluan bayi dan menaruh di kursi belakang. Air hangat di dalam termos juga tak terlupakan.
"Hubby, aku ingin kita belikan baju yang bagus buat Rara, biar saat bertemu dengan ayahnya nanti dia akan terlihat lebih cantik."
"Okeh, siap Nona." Arsena mencubit pipi Andini gemas.
" Genit banget sih." Andini menepis tangan Arsena. " Dilihatin sama Rara, ya kan Sayang." Rara ikut tersenyum melihat Andini yang terlihat melucu.
Arsena menepikan mobilnya ketika dia telah sampai disebuah toko fashion untuk anak anak.
"Sayang aku ikut masuk ke dalam ya?" Arsena segera turun lalu mengunci mobilnya dengan remote.
Andini yang menggendong Rara segera berjalan masuk lebih dulu menuju toko ke fashion khusus anak itu.
"Sayang kita belikan Excel da Cello juga ya."
"Iya dong, Hubby, ini bajunya bagus bagus buat anak ceweknya. Tapi Kita belikan untuk Rara yang paling banyak, soalnya dia belum punya baju. Sedangkan Excel dan Cello bajunya masih banyak yang belum sempat dipake," celoteh Andini sambil memilih baju yang semua bagus.
"Rara pilih baju yang mana ini?" Andini menunjukkan dua baju warna pink pada Rara yang satu dilengkapi tas boneka babi dan yang satu ada boneka jerapah menempel di dadanya.
Rara memeluk kedua baju yang di depannya saat Andini sengaja mendekatkan.
"Hubby, ini Rara mau dua duanya. Nih lihat dia peluk baju keduanya kuat kuat."
Arsena menoleh sesaat." Beli aja dua duanya sayang,"
" Horeee Rara!! Tuan muda belikan baju ke pesta dua sekaligus, sekarang kita cari baju santai untuk dirumah ya."
Rara nampak tersenyum menatap Andini. Mungkin bayi itu juga senang. wanita yang gendong hari ini terlihat lemah lembut dan sering mengajaknya tersenyum. Tak seperti biasa yang selalu marah marah. didukung Andini sering mengajaknya komunikasi.
" Sayang aku sudah belikan satu lusin baju santai untuk Rara dan beberapa untuk si kembar. Biar aku bayar dulu. Kamu tinggal di mobil ya."
"Oke Hubby."
"Makaci ya om udah baik banget sama Yaya." Andini mewakili Rara yang mendapat banyak hadiah. Rupanya Arsena tak hanya membelikan Rara banyak baju bagus. Arsena juga membelikan banyak mainan dan juga boneka.
"Berapa mbak semuanya?" ucap Arsena saat sudah berdiri di depan Kasir siap untuk transaksi.
"Emm, totalnya tiga puluh lima juta, itu sudah sekalian dengan mainan dan bonekanya, Tuan."
"Oke," Arsena menyerahkan black cardnya. Setelah selesai melakukan transaksi Kasir segera mengembalikan card milik Arsena.
"Terima kasih Tuan atas kunjungannya," ujar kasir sambil tersenyum sangat manis.
__ADS_1
" Ya, jika saya puas dengan produk yang anda miliki, tentu akan sering kesini.
Arsena segera pergi keluar, dia abaikan tatapan para wanita yang mengaguminya. Menyesal dia tadi menyuruh Andini masuk mobil dulu. Andai tahu akan seperti ini, orang orang akan mengerti kalau dia sudah beristri. Tapi dilihat dari belanjaannya harusnya mereka tahu kalau dia sudah memiliki anak. Tapi entahlah, mungkin pesona Arsena memang begitu kuat Dimata orang asing.
Pria pemilik postur tubuh tegap dengan dada bidang itu sudah keluar. Andini menyambut kedatangan Arsena dengan senyum kecil menghiasai wajahnya.
Arsena segera duduk di depan kemudi kembali mengemudikan mobilnya, meluncur ke markas. Sampai disana Botak dan Gondrong segera mendekat dan menyalami tuannya dengan hormat.
" Gon apakah bukti semua sudah siap?"
"Sudah tuan, semua sudah siap dengan rapi Lili dan kejahatannya sudah ada di dalam berkas ini.
"Bagus!' Arsena menerima berkas dari Gondrong lalu membukanya beberapa halaman saja dan menutupnya kembali.
Usai memeriksa berkas dari Gondrong. Arsena mengalikan lagi padanya. dia sudah tak sabar ingin menyapa para pengkhianat untuk kedua kalinya.
Sampai di ruang tahanan, Ken segera berdiri begitu melihat pintu terbuka. menyambut kedatangan Andini meski dengan tangan yang di borgol.
"Nona apa dia putriku?"
" Ya benar dia adalah putrimu, Ken."
"Dia terlihat lebih cantik dari beberapa hari lalu."
" Benarkah?"
"Iya wajahnya terlihat bahagia, dia lebih sering tersenyum." Ken sangat bahagia.
"Kau bisa menggendongnya, Ken." Andini melonggarkan gendongannya.
"Baiklah aku akan menggendongnya." Ken menengadahkan tangannya ke arah Andini. Andini melepaskan kain yang membelit tubuh Rara.
"Rara ..." Ken memeluk putrinya, menempelkan bibirnya di pipi Qiara sangat lama.
" Ini papa sayang. Papa kangen sama kamu." Ken menitikkan air mata di pipi putrinya."
Hati Andini ikut meleleh, melihat kasih sayang Ken pada putrinya.
Lili yang sejak tadi diam seperti patung. mendengar ada banyak orang datang , dia bangun lalu mengerjabkan matanya berulang kali. Seolah dia sedang mengingat ingat sesuatu. " Hei ngapain kamu kesini wanita murahan? Dasar perebut kekasih orang tak punya malu. Lili bangun dari duduknya sambil mendorong dorong tubuh Andini dengan emosi yang membuncah.
"Lili apa yang kamu lakukan?" Andini kesal Lili terus saja memukul dan mendorong Andini. Andini membalas mendorong tubuh Lili yang tak tahu malu itu dengan satu tangannya. begitu saja Lili sudah terjengkang ke belakang.
"Andini, berani kau melawan aku!"
"Plakkk!"
Lili menampar pipi Andini dengan keras.
"Lili!" Bentak Arsena yang menatap perempuan itu dengan sorot mata tajam.
" Ars sayang, kamu jangan dekati dia. Aku marah sama dia karena ambil kamu dari aku Lili merebahkan kepalanya di dada Arsena.
"Lili apa apaan ini?" Arsena memundurkan tubuhnya dua langkah membuat Lili sempoyongan.
" Sayang jangan pergi lagi hiks hiks hiks. Aku ingin kita menikah, aku mencintaimu aku sayang kamu. kamu sayang aku kan?" Lili terus saja berbicara ngelantur.
"Ars, kamu kenapa bawa anak itu kemari. Dia bukan anakku, anak itu sudah jahat, kamu tahu kan aku masih belum punya anak, aku hanya ingin menikah denganmu dan kita nanti akan memiliki banyak putra."
Andini menatap Lili yang terlihat aneh. Dari gaya bicaranya Andini tahu kalau Lili terkena gangguan mental.
"Ars, kenapa wanita ini masih selalu ada disini? Kamu jangan dekat-dekat dia, aku takut dia mengambil kamu dari aku." Lili menatap Andini dengan sebal. Sesekali ingin menyakiti Andini dengan mengepalkan tangannya. Namun, Arsena berhasil menghalanginya.
" Hubby, sepertinya Lili terkena gangguan mental. Makanya dia berbicara ngawur.
" Apa kamu bilang hah? Kamu pikir aku gila. Kamu yang gila. Kamu nggak punya malu." jawab Lili yang mendengar obrolan Arsena dan Andini.
Ken masih setia memeluk putrinya erat, kerinduannya belum terobati sama sekali. Dia menjauh dari Lili karena Lili ingin mengambil Qiara darinya. Ken sudah curiga beberapa hari ini jiwa Lili mulai terganggu karena usahanya selalu menuai kegagalan.
"Botak! Gondrong! Panggil Arsena.
__ADS_1
"Iya, Tuan." Gondrong dan botak segera berdiri merapat di depan Arsena.
"Apa yang telah terjadi? kenapa perempuan itu bisa berubah nggak waras seperti itu?" Tanya Arsena
" Kemaren dia masih baik-baik saja, Tuan. Sepertinya baru hari ini dia berubah seperti itu." Gondrong menjelaskan.
" Apa kamu yakin, Gon?" Arsena menatap Lili yang senyum senyum sambil memelintir rambutnya.
" Iya, Tuan?"
Andini kamu pulanglah dulu dengan Rara, biar Davit yang menjemputmu. Aku harus amankan Lili.
" Baik Ars." Andini menurut dia kembali mengambil Rara dari pelukan Ken."
"Nona aku masih rindu dengan Rara." ujar Ken dengan wajah memelas.
"Sabar Ken, Rara akan baik baik saja bersamaku, aku akan menjaganya sampai kau mendapat maaf dari tuanmu." ucap Andini lirih.
"Iya Nona, aku salah. Aku sudah terbuai dengan kecantikan Lili. Aku pikir kalau aku mencintai dengan setulus hati dia akan berubah, tapi aku salah. Lili tak sepolos yang aku kira."
Aku tahu posisimu Ken. Tapi kau juga harus tahu bagaimana keras kepala tuanmu. Dia sulit untuk memaafkan orang yang sudah berbuat salah.
Biarlah aku akan menjalani hukumanku, Nona. Aku sudah siap."
"Maaf Nona, anda diperintahkan untuk pulang sekarang." Gondrong menghampiri Andini sesuai perintah Arsena.
"Iya Om Gon, saya akan pulang."
Andini dan Davit pulang lebih dulu, Andini tak ingin tahu apa yang akan dilakukan Arsena di sini, yang ia tahu Arsena akan marah saat keinginannya tak dituruti.
"Ars, terima kasih kau sudah menyingkirkan wanita itu dariku. Dia yang akan merebut kamu dariku." Lili terus saja memegang lengan Arsena dengan wajahnya yang ketakutan. Seakan Arsena sosok malaikat yang bisa menjadi pelindung dirinya. Dan Andini adalah sosok yang menakutkan.
" Tenang Lili, kamu akan aman, tak ada orang yang akan menyakitimu. Ken juga ada disini, dia akan menjagamu." Arsena menatap Ken yang juga menatapnya. Pandangan mereka bertemu sesaat. Arsenal memalingkan wajahnya, Ken segera menunduk.
' Aku tahu kamu masih marah Tuan, oleh sebab itu aku akan terus diam seperti ini sampai kau tahu aku sudah menyesali perbuatanku.'
"Ars, sini ikut aku, aku ada sesuatu buat kamu. Lili memperlihatkan cincin mainan kepada Ken. Entah darimana dia menemukan barang itu. Pakaikan cincin ini, kita tunangan sekarang, Ars. Oh iya kami kenapa tidak memanggil aku sayang lagi."
"Hentikan omong kosong ini Lili, kamu pasti sedang pura pura gila?"
" Gila, siapa yang gila? aku tidak gila." Lili merajuk.
' Apa ini sebuah permainannya yang baru? Atau dia memang benar-benar gila.'
' Jika dia hanya pura-pura berarti aku harus lebih hati-hati, tapi dia terlihat sedang tak berakting."
Dert! dert!
Ponsel disaku hem Arsena bergetar. Arsena segera menggeser kursor hijau untuk nomor yang sudah ia kenal itu.
" Hallo tuan Ars," suara dari seberang terdengar sangat familiar ditelinga Arsena.
"Iya hallo Briptu."
" Kami akan segera menjemput saudari Ken dan Liliana sekarang, Tuan. Jika anda izinkan."
" Oke Briptu, laksanakan tugas anda."
" Terimakasih tuan atas kerja samanya."
" Ya sama sama."
Usai berbicara dengan Briptu Zidan. Arsena segera menoleh kepada dua makluk yang terlihat memprihatinkan. Ken nampak murung, ceria di wajahnya hanya terlintas sesaat tadi, ketika putrinya masih ada disini bersama Andini.
Arsena menoleh ke arah Lili, heran wanita itu tak lagi banyak bicara. Arsena mendekatinya, menggoyang goyang tubuhnya. Lili hanya diam, jika tidur rasanya tak mungkin secepat itu, Arsena hanya meninggalkan Lili telepon dengan Briptu Zidan saja.
"Ken! Gondrong! Coba kamu periksa perempuan ini."
"Bangun! hei! bangun! Jangan pura pura tidur." Aku tahu kau sedang pura pura, Nona."
__ADS_1
"