
Andini mengikuti langkah Arsena yang dikuasai amarah, meninggalkan meja makan tanpa menyentuh makanan sedikitpun, sepertinya kata-kata Rena membuat Arsena kembali marah, ia sama saja dengan kembali menyulutkan api pada jerami yang telah mengering.
"Ars, kenapa kau menyalahkan Mama dengan alasan aku belum hamil?" Tanya Andini.
"Apa ada yang dilakukan Mama lebih buruk lagi selain mendorongku di kamar mandi itu."
Arsena bingung, bagaimana menjelaskan pada Andini? Bagaimana ia bisa sampai keceplosan berbicara tadi.
Andini sudah mendekati Arsena, ia memegang kedua lengan suaminya dan kepalanya mendongak ke atas." Ars, jika kamu sayang sama aku, aku minta jelaskan. Apa sebenarnya yang terjadi denganku?"
"Ars, kamu tak percaya kalau aku mampu mendengar kenyataan seburuk apapun?"
"Yeah aku percaya sayang." Arsena mendekap istrinya. Berulang kali mengecup keningnya yang masih harum, aroma sabun dan sampo masih menempel lekat di tubuhnya.
"Aku sudah mengusahakan kesembuhan dirimu sayang, dan kau akan kembali sembuh. Dokter mengvonis ada masalah di rahimmu dan itu akibat dari obat yang diberikan Mama."
"Apa? Sejahat itukah? Tidak Ars. Aku tak percaya" Bulir kristal meluncur deras dari netra Andini. Ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Mundur beberapa langkah, hingga langkahnya terhenti ketika menyentuh dinding kamar.
"Sudah ku bilang, aku sudah mengusahakan pengobatan terbaik untuk dirimu, sayang." Arsena mengejar tubuh Andini, memeluk Andini semakin erat, wanita itu hingga merasakan dadanya sesak saat bernafas. Arsena juga sedih dengan kondisi ini. Ia sudah bertekad untuk merahasiakan semuanya. Namun, desakan Andini membuatnya harus jujur.
Dua hari kemudian
Di sebuah kamar besar, dua insan saling mencintai begitu sulit untuk memulai tidurnya, cahaya temaram lampu tidur seakan menjadi simbol hati Andini yang sedang kecewa. Dirinya seorang dokter ahli bedah yang hebat, tak sedikit pasien yang berhasil mendapat kesembuhan lewat tangan indahnya, pasien senang jika dokter cantik ini yang akan menangani penyakitnya. Tak jarang Andini mendapatkan hadiah berupa bucket bunga dan cake dari para pasien yang berhasil disembuhkan. Tapi kenapa ia sangat bodoh untuk tau keadaan dirinya sendiri.
Andini tidur dengan posisi memiringkan tubuhnya, pundaknya terlihat bergetar, suara isakan terdengar oleh telinga Arsena, merasakan betapa malang nasib pernikahannya. Berawal dari suami yang membencinya, kini mertua yang dzolim terhadapnya.
Tak terasa bantal empuk itu telah mencetak sebuah bulatan basah sebesar telur mata sapi.
Arsena diam melihat istrinya bersedih, ia bingung apa yang harus dilakukan, jika dengan disentuh pundaknya saja Andini menangis semakin menjadi.
" Cukup Andini ...."
"Benarkah aku tak bisa hamil? Dan kau pasti akan menikah lagi." jawab Andini masih terisak. Namun isakan itu hilang ketika suaminya mulai memiringkan tubuh membelai rambut dengan penuh cinta.
Cup!
Arsena mengecup rambut Andini, beberapa hari ini Andini tidur dengan memunggunginya.
"Bagaimana bisa hamil kalau tidur kita saja berjauhan seperti ini." Arsena mulai modus. Tangannya merayap di pinggang Andini.
" Yang terbentur dinding apa masih sakit?" Arsena memindahkan tangannya kini menyentuh bekas jahitan di kening istrinya.
"Dokter bilang tak ada yang perlu dikhawatirkan." Jawab Andini ikut menyentuh kening membuat tangan mereka bertemu. "Karena makan bergizi dan minum obat teratur, luka ini cepat sembuh. Makasi Ars, sudah menjagaku dengan baik," ucap Andini sambil merubah posisi tidurnya.
__ADS_1
Andini kini terlentang, Arsena yang memiringkan tubuhnya semakin leluasa memandangi rembulan nya. Hidung kecil runcing itu membuat Arsena makin gemas ingin terus mencubitnya.
"Bagus kalau begitu, itu artinya luka dikepala ini bukan sebuah halangan, Aku sudah bisa meminta hakku lagi mulai hari ini." Arsena mulai genit. Tangan jahilnya beraksi kembali menurunkan resleting depan baju Andini.
"Ars ... Aku lagi libur. Tanggal merah."
"Apa?" Terkejut, wajahnya seketika berubah kecewa. Harapannya menikmati surga dunia harus kembali kandas berujung penantian
"Nggak pasti bohong, kalau libur kenapa nggak pakai roti kering." Protes Arsena, ketika tangannya meraba satu-satunya titik paling sensitif pada wanita.
"Mulai pinter sekarang." Andini mencubit perut suaminya. mengangkat tangan suaminya yang bergerak nakal.
"Arsena nggak akan mudah ditipu, apalagi sama pembohong amatir seperti istriku. Sadarilah Istriku kamu tak ada bakat berbohong." kata Arsena mengejek.
Arsena memeluk gemas hingga tubuh kecil Andini meringkuk di dekapan dan kepalanya tepat di dadanya. Jemari Andini mulai menyentuh roti sobek yang tercetak di dalam kaos putihnya.
"Kau sangat suka dengan roti sobek itu rupanya" Arsena baru menyadari kalau ternyata istrinya selain menyukai aroma tubuhnya, ia juga menyukai bentuk perut sixpack miliknya.
"Semua milikmu, kau boleh memeluk dan menyentuhnya, akan sangat suka jika pemilik tubuh ini memanjakannya." Arsena makin memamerkan tubuh indahnya pada Andini.
Andini hanya tersenyum, seraya menatap manik mata pemilik bibir manis itu.
Tak bisa di pungkiri, Andini juga sedang menahan rindu, semua terbukti dia lebih agresif dibandingkan biasanya. Jemari Andini menggelitik perut sixpack hingga dadanya bidang suaminya, tak lupa ia juga meraba dagu kasar tempat tumbuhnya kumis yang rajin ia cukur.
Menyentuh dagu kasat itu memiliki sensasi tersendiri bagi Andini.
"Beritahu aku jika kau ingin aku menghentikan,"
"Iya." Andini mengangguk, suaranya mulai terdengar parau.
Arsena menarik sebuah tali kelambu yang menggantung di atasnya, seketika sebuah kelambu bermotif bunga dengan warna gold itu, turun berlahan dengan cantik menutupi ranjang, menambah nuansa romantis bagi mereka berdua yang hendak memadu kasih.
Sebelum mereka memulai aktifitas halalnya, suara sayup tawa dan canda masih terdengar dari dalam kelambu, lama kelamaan suara itu menghilang, yang ada hanya kesunyian. Mungkinkah mereka sedang tertidur pulas, atau sengaja diam saling menatap dan membisu. hingga hanya bahasa perasaan satu sama lain yang berbicara.
Arsena memulai langkahnya step demi step tuk menggapai surga dunia. Mulai dari membuka resleting gaun yang di kenakan Andini hingga kaca mata kuda.
Arsena tersenyum menatap istrinya yang hanya diam menyerahkan diri. Ia mendekatkan bibirnya di telinga Andini seraya berbisik. " Enjoy this love, baby."
"He'em."Dibalas anggukan kepala Andini dan bibir yang tersenyum lebar.
Arsena pelan-pelan memindahkan tubuhnya dari posisinya semula. Kini dirinya sudah begitu dekat dengan sang istri, mengungkung tubuh kecil itu dengan tubuh kekar miliknya. Namun, Arsena berusaha menjaga bobot tubuhnya agar tak menindih Andini yang masih terbilang masa pemulihan.
Mata Andini malam ini begitu berbinar, menatap hanya satu titik yaitu wajah sang suami. Tatapan yang begitu tulus, Arsena sangat suka dengan tatapan ini. Tatapan penuh pengharapan kasih sayang dari seorang istri. jantung Arsena semakin terpacu untuk segera melaksanakan kewajibannya.
Tangan besar itu mulai bergerak pelan, menyusuri setiap pahatan indah dan memberi sensasi pada setiap titik sensitif, tubuh wanita normal pasti akan segera merespon dan hanyut dalam permainan yang sedang mereka mainkan.
__ADS_1
Kamar yang semula sunyi, kini mulai terdengar sayup sayup suara erangan dan lenguhan panjang. Rupanya olahraga malam itu sudah dimulai. Dinding-dinding kamar bekerja keras untuk meredam suara, mereka adalah saksi mati perjuangan cinta Andini.
Yeah, Andini dulu sangat dibenci, kini telah menjadi yang terkasih. Dia yakin cinta yang tulus akan mengalahkan cinta penuh ambisi. Godaan besar berwujud malaikat tak bersayap berhasil dia lewati, semoga godaan yang lainnya akan bisa di lalui.
"Jangan ada yang ditahan, aku suka ******* mu, suaramu sangat indah, Sayang." Arsena berucap dengan suara bergetar. Sebentar lagi saatnya melepaskan prajurit menuju gerbang melawan seluruh halang rintang yang ada.
Dalam hati berdua, terus memanjatkan do'a, mereka yakin tak ada yang bisa mengalahkan kuasaNya. Ia yakin Dokter dan ahli medis terhebat sekalipun tak bisa memvonis seorang dengan mengandalkan kemampuan sebuah alat.
"Akhhhh .... " Andini kembali melenguh panjang ketika ada sesuatu yang hangat terasa memasuki tubuhnya. Arsena kembali menanam bibit-bibit unggul, pada rahim sang istri.
Senyum terukir dibibir keduanya. Seakan ia telah berhasil menyelesaikan sebuah misi panjang penuh tantangan.
Arsena mengecup kening Andini sebelum ia merebahkan tubuhnya kembali di sebelahnya. Malam ini satu kali saja sudah cukup, Arsena tak ingin membuat sang istri terlampau lelah.
Arsena segera menarik satu selimut berbahan wol dengan warna gold menutupi tubuh berdua. "Tidurlah sayang, biarkan aku memelukmu seperti ini."
Andini tak berkata apapun ia mengizinkan Arsena memeluknya dengan menaruh satu lengannya diatas tangan yang sudah melingkar di pinggangnya.
Mereka terlelap setelah menuju puncak nirwana. Hingga alarm yang berbunyi pukul lima pagi tak mengusik tidurnya.
Tok tok !
Arsena menggeliat malas. Netra melihat ke arah jam dinding membuat ia tahu siapa yang telah membangunkan tidurnya.
Segera ia memakai kaos dan celana pendeknya. Tak lupa merapikan selimut yang menjadi pelindung tubuh sang istri.
Arsena membuka pintu, berlahan, bayangan Zara sudah ada di depan pintu.
"Tuan, maaf mengganggu, hanya ingin mengantarkan sarapan Nona Andini, dan obat terakhir yang harus diminum."
"Sttt, kecilkan suaramu. Nona Andini masih tidur, jangan usik dia dengan kedatangan mu, Zara. Karena aku baru melihat hari ini ia sangat lelap." kata Arsena seraya menempelkan telunjuknya di bibir.
"Maaf tuan, Nona Andini akan kecewa jika ia melewatkan ibadahnya. Jadi izinkan saya membangunkan, karena waktu subuh akan terlewat, Tuan."
"Baiklah, kalau itu yang terbaik buat Andini." Arsena mengizinkan Zara menarik otomatis kelambu dan membangunkan Andini yang mulai menggeliat.
"Zara." Andini menyapa Zara yang ada di depannya.
"Selamat pagi Nona." ucap Zara, senyum terukir di bibir gadis remaja itu.
"Pagi juga." Andini meraba tubuhnya yang masih polos, hanya selimut sebagai penutupnya. ia segera memeriksa ulang dirinya, takut Zara memergoki kalau ia masih belum memakai baju.
"Zara terima kasih sudah membangunkan ku. sekarang kamu bisa tinggalkan kita berdua."
"Baik Nona." Zara kembali keluar.
__ADS_1
Arsena segera mengunci kembali pintu kamarnya dan mereka berdua beranjak ke kamar mandi.