Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 156. Hukum karma masih berlaku.


__ADS_3

"Ars aku hari ini ingin pulang ke rumah ibuk. Setelah melahirkan aku pasti akan makin lama berdiam diri di mansion. Kapan lagi aku bisa kesana"


"Apa sudah nggak sakit perutnya?" Arsena mengelus perut istrinya.


"Enggak, kontraksinya cuma sebentar. Aku langsung baikan pas dengar suara kamu dari luar tadi." Kata Andini.


"Benarkah? Sayang kamu nakal ya? Papa kan harus kerja." Arsena berbicara Dengan bayi yang ada di perut Andini seakan dia sudah bisa mendengarnya.


" Ars dia anak pintar, ingat! Ucapan orang tua itu do'a lho."


"Iya, maaf Sayangnua Papa. Biar kita selalu bersama, kalau begitu papa ajak Mama kerja aja ya? Setuju nggak?" Kata Arsena, mengelus perut Andini. Seolah dia sedang mengajarkan bahasa cinta.


"Tuan, kalau begitu kita ke mansion atau ke kediaman orang tua Nona Andini?"


"Sebaiknya kita turuti permintaan istriku saja, kita kerumah orang tua istriku."


"Siap Tuan." Davit akhirnya memutar kemudi menuju perumahan Citra land, perumahan elit yang ada di Surabaya.


Berkat kerja kerasnya mengelola Resto dan bantuan bulanan dari Arsena Kini ibu sudah bisa membeli perumahan yang bisa dibilang hunian untuk kaum elit.


"Ars aku ingin berhenti di depan," pinta Andini.


"Sayang, kita belum sampai." Arsena heran. Namun setelah dekat dia bisa membaca tulisan lumayan besar yang ada di pintu gapura yang bertuliskan panti asuhan rindu bunda. Arsena segera mengerti itikat baik istrinya.


"Sayang, aku akan temani."


Arsena segera turun dan berlari memutari mobil hanya untuk membantu Andini membukakan pintu. Sebenarnya Davit juga ingin melakukannya, tapi sudah didahului oleh Arsena. Pria itu selalu terdepan jika menyangkut soal istrinya.


Andini segera turun dari mobil Arsena menggandengnya. tiba-tiba ibu panti sudah menjemputnya masuk. Sepertinya sebelumnya mereka memang sudah janjian.


"Buk, saya tadi terpaksa menelepon dulu, karena saya buru-buru. Tolong diterima ini untuk kebutuhan anak anak, walaupun jumlahnya cuma sedikit semoga ada manfaatnya." Andini menyodorkan amplop berwarna coklat kepada pengurus panti.


" Nona Andini, Tuan Arsena, kalian ini sudah banyak sekali membantu, semoga kalian semua akan diberi umur yang panjang dan selamat dari bahaya."


"Amin, Buk. Maaf tak bisa mampir lama. Karena ingin ke rumah ibuk saya." Andini sedikit menganggukkan kepalanya mohon izin.

__ADS_1


"Kami permisi dulu, Buk." Arsena berpamitan sekalian. Diraihnya tangan sang istri lalu menggandengnya ke mobil.


"Sayang berat nggak sih bawa bayi dua sekaligus, aku lihatnya kok jadi kasian."


"Emang mau ganti'in? Canda Andini.


"Andaikan bisa, Sayang."


"Nggak lah suamiku, biasa saja. Yang lihat akan berfikir ini pasti berat. Tapi aku nggak ngerasain itu semua."


"Syukurlah, aku kira memang berat." Arsena merangkul pundak Andini dan membimbing masuk. Andini menggeser tubuhnya memberi tempat untuk Arsena.


"Vit, kita jalan lagi ya. Berhenti di toko cake."


"Iya Tuan"


Mobil Arsena kembali membelah jalanan. Arsena duduk dibelakang bersama Andini. Sepanjang perjalanan Andini selalu menempelkan kepalanya di pundak suaminya.


Dan Davit hanya fokus pada jalanan tanpa ingin tahu apa yang sedang dilakukan majikannya.


"Ars, aku ingin es buah yang tadi, pasti segar."


"Vit!"


"Siap tuan." Davit menepikan mobilnya.


Mereka bertiga akhirnya turun. Ingin mencicipi es buah dipinggir jalan itu. Netra Andini tiba-tiba membeliak tajam. ketika dia melihat sepasang penjual es buah itu adalah mama tiri dan papanya. Sedangkan kedua adiknya membantu memotong buah di ruang belakang yang hanya tertutup oleh kaca yang sudah usang.


"Mau dibungkus apa diminum disini?" Tanya Antoni belum sempat melihat ke arah Andini, dia masih sibuk menghitung uang receh yang didapat dan segera memasukkan ke dalam toples aluminium bekas biskuit.


Tria bertubuh lebih kurus daripada dulu itu tak kalah terkejutnya, melihat pelanggannya yang baru datang adalah Andini putri yang ia tinggalkan disaat sedang butuh kasih sayang.


"Andini!" Sapanya. Antoni tersenyum ia segera menyalami Andini dan anak menantunya.


Ratih juga tak kalah terkejut melihat kehadiran seorang anak yang dulu sangat ia benci, karena Antoni kerap membandingkan Andini selalu lebih baik dari Ratna.

__ADS_1


Wanita yang ia benci itu kini tengah hamil besar.


"Duduk Nak, Papa buatkan minum dulu."pria paruh baya itu membalikkan tubuhnya mengambil tiga mangkuk, untuk diisi dengan potongan es.


"Pa," Andini meraih lengan Antoni. Antoni menaruh kembali mangkuk. Kini beralih menatap Andini dengan sendu.


"Pa, kenapa papa jualan es buah? Lalu usaha papa furniture?" Andini menatap Ratih sekilas, kembali lagi menatap wajah papanya.


"Usaha Bapak bangkrut, Nduk. sekarang Bapak mencoba jualan es buah. Semoga saja usaha yang kecil ini bisa untuk menutupi hutang-hutang Bapak. Kedua Adek kamu juga nggak bisa kuliah."


Antoni terlihat banyak berubah, baik dari segi pakaian dan penampilan. Badannya kurus rambutnya sudah banyak uban, papa Andini yang dulu tak kurang apapun kenapa sekarang jatuh miskin dan bangkrut. Sungguh memprihatinkan bahkan untuk kuliah anak anaknya saja tak mampu.


"Andini, ayo kita pergi dari sini saja." Arsena yang sedari tadi diam kini angkat bicara. Sedangkan Davit yang tak tahu menahu hanya diam seribu bahasa, dengan wajahnya yang terlihat heran.


"Pa. Ceritakan pada Andini kenapa usaha papa bisa bangkrut."


Johan tak menjawab dia memilih diam dengan wajahnya tetap sendu dan memelas. Sesekali tatapannya tertuju pada Ratih.


"Andini, kau sudah hamil, Nak." Sapa ratih.


Ratih yang sejak tadi hanya diam, kini mendekati Andini, ia menangis terisak isak Ratih juga terlihat lembut, dandanannya tak seglamour dulu.


Tentu tak seglamour dulu, jika papanya saja baru bilang kalau dia memiliki banyak hutang. Dan dia baru saja memanggil 'Nak' seumur hidup baru kali ini dia memanggil semanis itu. Bahkan kedengarannya menjadi begitu aneh di telinga Andini.


"Andini, kita minum ditempat lain saja, aku tahu di tengah kota nanti ada penjual es buah, tempatnya lebih mewah pengunjungnya ramai."


Arsena menarik pelan lengan Andini, Arsena tak mau Andini yang hatinya cepat meleleh itu terpengaruh oleh Mama tirinya, lagian wanita itu dulu sudah menjualnya pada mucikari. Kalau bukan keberuntungan berpihak pada Andini waktu itu pasti nasib malang yang kini tengah menimpa istri tercintanya. Melayani banyak pria dalam semalaman. Membayangkan saja Arsena bergidik ngeri.


Ia peluk istrinya dan mencium keningnya di depan orang banyak tanpa sungkan. "Kita pergi. Kalau bisa kita tak pernah injak tempat ini lagi."


"Papa!" Andini sudah merogoh sakunya. Buru buru Arsena menarik lengannya. Baru kali ini Arsena melarang Andini berbuat baik.


"Ars, dia papa aku." Andini kasihan melihat papanya yang hanya diam meskipun Arsena sudah mengoloknya tadi.


"Sayang, aku tahu itu. Tapi ingat papa kamu sudah menerlantarkan kamu sejak kecil dan mama tiri kamu itu, bahkan sebutan mama tiri saja itu lebih baik dari pada perlakuannya sama kamu selama ini." Arsena berkata lirih, tapi setiap kata kata penuh dengan penekanan saat mengucapnya.

__ADS_1


"Sebaiknya kita pergi dari sini, akan aku tunjukkan tempat yang lebih higienis dan lebih enak daripada disini."


__ADS_2