Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 158. Semoga mimpi indah.


__ADS_3

Mungkin yang dikatakan Arsena benar.ibu mertuanya sedang hamil muda, selain pak Doni perkasa, ibu juga wanita yang sehat. Kemungkinan untuk bisa hamil itu sangat besar.


Doni yang tak sengaja mendengar obrolan anak dan menantu itu. Dia segera keluar mengendarai motor besarnya menuju apotik. Tentu Doni juga sangat senang diusianya yang tak muda lagi masih diberi anugrah berupa keturunan. Walaupun Doni juga sangat menyayangi Andini dan Dara. Memiliki anak kandung akan lebih menghangatkan hubungannya dengan Ana.


Wajah Ana kembali memucat. Ana segera ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


"Hoek Hoek .... "


Aroma kamar mandi semakin membuat perut Ana bergejolak. Andini menghampiri Ana. Dia segera memijit tengkuk ibunya pelan-pelan.


Andini semakin yakin kalau ibunya hamil. Awalnya Andini keberatan karena hamil diusia tua sangat beresiko, Namun itu hanya perkiraan seorang Dokter. Dikembalikan lagi, semua sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.


Tak lama Pak Doni sudah kembali memarkirkan motor besarnya dengan membawa kantong plastik ukuran kecil berwarna putih.


Pak Doni segera memberikan kantong plastik kepada Ana. "Bun cobalah di test dulu pakai alat ini."


"Baiklah Aa, akan Ana coba, semoga hasilnya sesuai keinginan." Kata Ana saat menerima kantong tersebut dari tangan suaminya. Ana segera membawa kantong tersebut ke kamar mandi.


Dag Dig Dug, suara degup jantung Ana. Sebelumwncoba alat untuk test kehamilan Ana berdo'a terlebih dahulu.


Ana terlonjak kaget, netranya membulat hampir sempurna beberapa alat yang sudah dicoba ternyata semuanya menunjukkan garis dua yang Artinya dia sekarang positif.


Ana keluar masih dengan wajah malu malu. Selain malu pada Andini, Ana juga malu pada menantunya.


Pak Doni sudah menunggu dengan tak sabar. Disebelahnya ada Arsena dan Andini yang ikut penasaran dengan hasilnya juga. "Bagaimana Bun? Apa hasilnya positif?"


"Iya, Aa." Kata Ana dibibirnya terukir seulas senyum, matanya berbinar binar.


"Alhamdulilah Bun." Doni langsung mendekap tubuh Ana. Mengayun ayun tubuh kecil istrinya. Doni sangat bahagia. Saking bahagianya Doni langsung menggendong Ana dan menurunkan di sofa.


"Aa, kebiasaan deh, nggak malu sama anak dan menantu apa?" Keluh Ana kerika Doni sudah menurunkan tubuhnya.


Aku sangat senang, Bun. Ternyata kau benar benar hamil. Aku bahagia Bun. Ibu dan bapakku harus segera tahu soal ini."


"Aa, buru buru aja, kita kasih tau kapan kapan saja, setelah dapat kepastian dari Dokter. Alat kan bisa saja keliru, Aa."


"Syukurlah, Sayang. Kamu mau punya Adek lagi." Arsena merengkuh pundak istrinya. Lalu bersama-sama mendekati ibu yang masih duduk di sofa.


Andini segera menghubungi Dara, memberitahukan kabar gembira ini kepada adik kandung satu-satunya. Andini tak bisa menghentikan hasratnya hingga besok pagi.


"Yang bener Kak?"


"Iya, bener, kamu buruan kesini, kita rayakan kebahagiaan ini Dara."


" Oke, Dara akan segera kesana. Tapi kak Miko belum pulang."


Begitu mendengar ibunya hamil lagi Dara tak kalah bahagianya. Dara segera meminta Miko untuk mengantar ke rumah ibu.


"Kak, aku ingin ke rumah ibuk, mbak Andini dan Kak Arsena juga ada disana."


"Aku baru pulang kerja Dara, aku capek. Besok aja ya."


" Kak, kenapa sih Dara kalau ingin apa apa pasti ditunda, entar, besok, entar, besok. Aku lagi pengen kesana sekarang."


"Litlle, Kakak baru pulang. Ini juga belum mandi. Kalau bisa ditunda besok, kakak sekalian ambil cuti sehari, biar bisa lebih puas jalan- jalannya."


Dara merajuk, dia pergi keluar kamar sendiri. Duduk di koridar yang mulai sepi.


Miko hanya bisa menghela nafas, jika istrinya merajuk, semalaman pasti akan diam dan tak perduli dengan apapun.


Miko hanya bisa menghela nafas panjang, dia memilih membiarkan Dara merajuk. Miko membersihkan diri dan meminta Bi'Um untuk mbuatkan kopi latte kesukaannya. Dari pada minta ke Dara ujungnya nggak di kasih gula.


"Nona marah lagi ya, Tuan," tanya Bi Um pada Miko. Yang sudah hafal. Kalau Dara sedang marah pasti minta kopinya pada Bibi.


"Iya, Dia ngambek minta diatar ke rumah ibuk, padahal aku capek, dikantor kerjaan numpuk banget Bik. Entar malam masih harus lanjutin lagi," curhat Miko.


"Yang sabar, Tuan. Non Dara akan cepat luluh kalau Den Miko membujuknya dari hati," kata Bibi sambol menyerahkan kopi latte kesukaannya.


Bibi berjalan ke dapur dia mengambilkan potongan buah segar, ada melon, mangga dan semangka. Ditata dalam satu piring dengan rapi.


"Bujuk Non Dara, Den, Suapin dengan buah segar ini, Non Dara pasti akan meleleh."


"Cuma pake buah ini? Bibi, yakin." Miko tak percaya.


Iya, nggak selalu untuk meluluhkan hati wanita itu pakai kemewahan, coba aja kalau nggak percaya.


Miko menuruti ucapan Bibi. Dia membawa sepiring buah segar yang sudah selesai dikupas bersih dan dicuci. Dan tak lupa dimasukkan pada pendingin beberapa jam.


Miko segera mencari keberadaan Dara. Dia mencari di kamar dan tempat yang mungkin di datangi oleh Dara.

__ADS_1


Miko akhirnya menemukan Dara. Dia melihat Dara duduk di kursi panjang yang ada di koridor sendirian. Dia sibuk memandang matahari sore yang bersinar kadang terang, kadang tertutup oleh mendung yang berarak oleh embusan angin.


Begitu Miko datang dari pintu samping, Dara langsung melengos ke arah lain. Pura pura tak melihat kehadiran Miko yang membawa nampan berisi kopi dan buah.


"Litlle, sendiri aja, lagi lihatin apa?"


Dara tak menjawab. Masih diam seribu bahasa bagaikan ratu gagu.


"Litlle malam ini tumben jelek banget. Belum mandi ya?" Canda Miko berharap Dara akan marah atau tersenyum dengan leluconnya.


Miko masih belum berhasil. Miko harus berusaha keras lagi rupanya.


"Aku punya buah segar banget lho, kata bibi ini bagus untuk orang yang sedang ngambek, siapa tahu habis makan ini nggak ngambekan lagi?"


Miko melirik ke arah Dara, terlihat Dara tak bergeming dari duduknya sedikitpun.


.


"Mau? Coba? Enak banget lho." Miko mengulurkan satu tusuk buah ke mulut Dara.


Miko akhirnya menyerah. Dara semakin sulit untuk ditaklukkan.


Drrrt drrrt drrtt


Cara terakhir ini pasti berhasil. Kata Miko dalam hati. Ia tersenyum smirk ketika ponsel disakunua bergetar. Setelah dilihat Gilang sedang menelepon.


Drtt drtt drtt


Miko meletakkan piring berisi buah di depan Zara. Miko berdiri menjauhi Dara dengan membawa ponselnya. Tetapi dipastikan Dara masih bisa mendengar suaranya saat ngobrol dengan si penelepon.


"Bos, besok ada pertemuan dengan clien jam delapan." Kata Gilang begitu panggilannya sudah diterima oleh Miko.


"Hallo sayang ada apa?" Tanya Miko.


"Lho gila ya? Panggil sayang sayang." Gerutu Gilang, pria diseberang sana tak mengerti kemauan Miko.


"Apa sayang ketemuan? Sore begini? Iya aku juga kangen"


Hei, Boss gila, gue masih waras. Emang gue gay apa. Gue jelasin sekali lagi, besok ada meeting dengan clien jam delapan..


"Apa harus sore ini sayang? Apa nggak bisa besok. Aku belum beli hadiah buat kamu sayang."


"Mendengar obrolan Miko di telepon tadi, Dara yakin kalau Miko sedang berbicara dengan kekasih gelapnya.


"Oke sayang, aku kesana sekarang, dandan yang cantik ya, jangan lupa pakai lingeri yang aku belikan kemaren. Biar tambah seksi."


"Makin nggak jelas, apa Lo baru saja salah minum obat. Gue waras Mik, kalo mau sinting, sinting aja sendiri." Gilang di seberang mengendikkan bahunya geli dengan kata-kata Miko barusan. Tanpa salam dia langsung mematikan ponselnya.


Gilang langsung saja menceritakan semuanya pada Giska istrinya. Giska yang menjadi pendengar setia Gilang langsung tertawa terpingkal pingkal.


Sedangkan Dara yang mendengar semuanya segera mendekati Miko dengan Dada bergemuruh. Dada mengira Miko telah selingkuh beneran.


"Kakak selingkuh?" Tanya Dara dengan mata melotot


"Benarkan!! yang tadi telepon itu selingkuhan Kakak. Ayo ngaku kak!!"


Miko pura pura diam tak menjawab. Dia juga memasang mimik ketakutan


"Kakak jahat tau nggak, Dara benci sama Kakak. Dara nggak akan maafin kakak lagi, hu hu hu. " Dara menangis meraung raung.


Dara Berusaha merebut ponsel Miko dengan bringas. Sedangkan Miko berusaha menjauhkan ponselnya dari Dara. Akhirnya terjadi aksi perebutan ponsel. Setelah berjuang susah payah akhirnya Dara berhasil merebut ponsel dari tangan Miko.


"Sambil menangis dara segera membuka ponsel Miko yang sandi kuncinya sudah ia hafal diluar kepala itu."


Sambil menangis tersedu, Dara segera membuka di menu panggilan. Menggeser layar dengan jarinya, naik turun berulang kali tetapi tak ada panggilan wanita, yang ada hanya namanya sendiri dan karyawan pria yang se kantor yang sudah ia kenal.


Sedangkan panggilan terakhir bernama Gilang. Apa Gilang yang diteleponnya, mencocokkan dengan waktu panggilan, ternyata benar hanya Gilang saja yang menelponnya sore ini.


"Gimana sudah ditemukan nama wanita itu?" Tanya Miko sambil mendekati Dara, dengan menelusupkan kedua telapak tangannya ke dalam sakunya.


"Sudah dapat apa belom nomor ceweknya. "Kata Miko sambil mengeratkan lengannya dipinggang Dara dari belakang. Hidungnya mengendus endus tengkuk istrinya berharap Dara akan segera luluh.


"Kak Miko pasti sudah menghapusnya."


"Emang tadi lihat aku menghapus sesuatu? Baru dimatiin saja, ponsel langsung pindah ke tanganmu.


"Jadi kakak ngerjain Dara?"


"Siapa suruh tadi ngambek?"

__ADS_1


"Sudah kubilang, jangan ngambekan lagi. Nurut suami nanti yang enak pasti istri." Kata Miko sok dewasa.


"Maaf Kak." Dara menyesal. Dara mengembalikan ponselnya pada Miko.


"Tolong kita saling mengerti Dara, tinggalkan sifat kekanak Kanakan itu. Kamu sudah menjadi seorang istri Miko Atmaja "


"Dara sudah minta maaf, Kak. Dara sekarang minta maaf lagi." Ujar Dara merasa bersalah. Miko melakukan semua karena Dara bandel. Setiap marah pasti akan diam seribu bahasa.


"Besok, besok jangan diulangi lagi?" Tutur Miko


"Enggak Dara janji."


"Baiklah, sebagai hukuman sekarang suapin aku makan buah ini."


"Baiklah." Dara mengambil piring berisi buah. Dan membawanya di dekat Miko.


Dara memilih kembali duduk di kursi panjang dengan menghadap ke arah Miko yang duduk disebelahnya.


Dara menyuapi satu persatu potongan buah ke mulut Miko.


"Dara, aku ingin kamu juga mencicipinya buah ini" tawar Miko.


"Buat kakak saja. Dara sudah kenyang." Elak Dara.


"Ayolah dara satu potong saja. Cepat buka mulutnya.


" Nyam nyam ." Akhirnya Dara. Menerima satu suapan dari Miko.


"Gimana? Enak nggak?" Tanya Miko.


"Hu'um manis."


"Mau nggak aku ajarin makan buah, biar rasanya berkali kali lebih nikmat?" Tanya Miko.


"Emang makan buah ada caranya?"


"Ada dong, mendekatkan sini biar aku ajarin, Little."


Miko menarik tubuh Dara, Kini posisi Dara di pangkuan Miko tepat dengan posisi saling berhadapan.


Miko memasukkan buah ke dalam mulutnya sendiri. secepat kilat dia menyambar bibir Dara. Miko memindahkan buah ke mulut Dara. sara terkejut Miko melakukan itu. dara dengan ragu akhirnya memakan buah dari mulut Miko dan menelannya.


Miko kembali mengecup bibir Dara. kali ini Miko memberikan potongan buah ke mulut Dara.


"lakukan seperti yang telah aku lakukan tadi little," bisik Miko.


"ta-ta-pi aku tak bisa." kata Dara.


Miko kini mengecup bibir Dara dan mengulangi lagi seperti tadi. Dara dengan sudah payah berusaha mengingat bagaimana Miko mengajarinya.


Dara akhirnya bisa. Dara tertawa riang berhasil memasukkan buah dengan bibirnya ke bibir Miko.


"Istriku, rupanya kau sangat pandai. ilmu yang aku berikan bisa kau kuasai dengan sangat sempurna." puji Miko.


sore ini akhirnya suami istri menghabiskan waktu dengan bercengkrama hingga malam tiba. mereka kembali akur setelah satu sama lain saling mengerti dan mengalah.


*****


Malam telah tiba.


Arsena dan Andini hari ini sengaja menginap di rumah ibunya. Andini ingin menghabiskan hari harinya sebelum melahirkan bersama ibu.


Tiba-tiba dimalam hari Andini terbangun dari tidurnya, merasakan punggungnya terasa pegal dan nyeri.


"Sayang, kok belum tidur?" tanya Arsena yang terganggu oleh gerakan tubuh Andini.


" Perutku rasanya nyeri, aku ingin minum, air putih."


" Baiklah aku ambilkan dulu." Dengan mata terkantuk-kantuk. Arsena mengambilkan Andini air putih.


" ini minumlah." Arsena menyodorkan satu gelas besar berisi air yang diminta Andini.


"Terima kasih. Ars." Andini meneguk semuanya hingga tandas.


"Apa sudah mendingan"


" Iya sekarang lebih baik."


"Baiklah tidurlah lagi." Arsena membantu Andini tidur. Menyelimuti tubuhnya. tak lupa Dia juga mengucapkan selamat malam untuk sang buah hari. mengecup perut Andini sebentar lalu mengecup ibunya.

__ADS_1


"Semoga mimpi indah."


__ADS_2