
Andini segera memencet tombol darurat di sebelah pasien. Tak lama Vanya datang bersama dokter ahli lainnya yang di datangkan keluarga dari luar negeri.
"Emosi pasien meningkat, ini akan bagus untuk kerja jantungnya, kita bantu dengan alat kejut jantung. Dokter Vanya cepat siapkan alatnya." para Dokter bekerja dengan serius dan berkolaborasi.
"Oke Mr.Mark." Vanya kembali bekerja dengan cekatan.
"Andini kita keluar, biarkan dokter bekerja." Ucap Miko yang merasa kehadirannya sangat mengganggu.
"Tidak Miko aku pengen mendampingi Arsena, dia pasti ingin aku selalu ada disisinya."
"Andini, biarkan dokter bekerja."
"Kamu aja yang keluar Miko, aku akan diam disini, aku juga nggak akan mengganggu kerja Dokter, aku akan menemani arsena disini." Andini keras kepala.
Vanya memberi isyarat, supaya membiarkan Andini di dalam saja dan melihat dari kejauhan.
Miko mengerti, akhirnya dia tak memaksa Andini keluar, padahal dia ingin sekali mengajaknya mencari udara segar, dan memberitahukan pada keluarga kalau keadaan Andini sudah tak perlu dikhawatirkan lagi.
"Dokter Vanya, periksa tensi pasien?" Dokter Mark melihat nafas Arsena mulai teratur, jantungnya berdetak normal. Hanya saja dia belum membuka matanya. Masa kritis sudah terlewati. Para Dokter mengusap keringatnya karena panik, kini dia harus mengucap syukur dalam hati masing-masing.
Andini menangkupkan telapak tangan di wajahnya, bahunya terlihat naik turun, Andini menangis terisak, dia harus bersyukur karena Arsena kembali, dia tetap memohon pada Tuhan agar Arsena tidak mengalami Amnesia.
Dokter terlihat menarik nafas panjang, ilmu dan tenaga yang dimiliki sudah dikeluarkan mati-matian hari ini. Setidaknya dia berharga bisa menyelamatkan pemilik rumah sakit dan pengusaha hebat yang hidupnya berharga untuk banyak orang.
Vanya membungkukkan tubuhnya mensejajarkan diri dengan Andini, dan memeluknya. "Ndin, Arsena kembali. Dia kembali untuk bisa selalu bersamamu."
"Makasih, Dokter Vanya. Dokter Mark, makasih banyak." Andini menangkupkan kedua tangannya pada para dokter sahabatnya.
Mark terlihat mengangguk dan tersenyum sebelum keluar, rupanya sejak tadi dia mengalami spot jantung. Was was kalau Tuan Muda benar benar akan pergi selamanya di usianya yang masih sangat muda. jika hal itu terjadi dia pasti akan merasa bersalah seumur hidupnya.
"Sudahlah Ndin, kita sama-sama dokter, nggak usah berlebihan gitu. Sudah tugas kita kali."
"Kamu nggak tau gimana hancurnya hati ini saat melihat Arsena seperti tadi Van, sekarang aku sedikit tenang, setidaknya harapan Arsena untuk bisa bersama anak anak masih ada. Arsena masih bisa menyentuh calon bayinya." Andini kembali mengelus perutnya.
Vanya memeluknya lebih erat daripada tadi. Vanya belum siap bicara langsung kalau bayi dalam kandungan Andini sudah tidak ada, tak lama lagi Andini pasti akan tau sendiri.
_____
Mama masuk mengunjungi Andini dan Arsena setelah dokter mengizinkan.
"Ma!"
__ADS_1
"Iya, mama sudah tau, mama minta maaf, mama bersalah Andini, mama nggak ada di sampingmu waktu kamu butuh kita." Mama membuat heboh dengan bicara sambil diulang ulang.
"Arsen, kamu bangun Arsen, kamu nggak lihat apa kita semua disini khawatir, Andini nggak berhenti menangis, kamu katanya sayang Andini, cinta, tapi kenapa kamu bikin dia sedih."
"Ndin, apa benar kata Miko kamu hamil lagi, kamu kok nggak kabarin mama sih?" Kini Mama beralih membombardir Andini dengan pertanyaan.
" Iya Ma, Andini rencananya mau kasih surprize untuk Mama dan Papa. Waktu baru pulang liburan , sekarang mama malah tau dari orang lain. Dasar miko kadang mulutnya minta di jahit, biar nggak ghibah aja."
"Ndin, makasi ya dah mau kasih cucu lagi, semoga kehadirannya akan membuat Arsena makin semangat dalam menjalani hidupnya." Mama mengecup lembut kening Andini.
"Iya Ma." Andini mengangguk senang. Sedangkan Vanya hanya terlihat makin gelisah.
Mama mendorong kursi roda Andini pelan pelan, menghampiri Arsena yang tengah tidur karena pengaruh suntikan anestesi.
Tak lama Miko dan Dara masuk, disusul Pak Doni dan Ibu Ana, ruangan besar itu seketika langsung menjadi penuh dengan keluarga dan kerabat Atmaja.
Andini memeluk tubuh Arsena menempelkan kepalanya di pinggang suami. Andini merasakan tangan Arsen bergerak ingin menyentuh wajahnya. Andini segera membantu Arsena dengan menempelkan telapak tangan Arsena di pipinya.
" Hubby, ini aku, aku menunggu hubby disini." Andini mengusapkan pipinya dengan telapak Arsena, sesekali mengecupnya.
Gerakan tangan Arsena lambat laun menjadi kuat, dia mulai bisa meraba pipi Andini sendiri, mengelusnya lembut. Arsena mulai meraba rambut Andini dengan sayang.
Semua orang yang ada di ruangan saling pandang dan tersenyum. Andini langsung berdiri dan merangkul tubuh Arsena, tak ada kata yang keluar. Hanya perasaan haru saja.
"Miko."
" Hubby mencari Miko?" Bisik Andini di telinganya.
"Iya" Arsena mengangguk pelan.
Miko segera menampakkan diri maju ke depan, dia sangat senang rupanya Arsena memanggil namanya ketika baru sadar, Miko merasa dia sangat berharga.
"Aku disini Kak, syukurlah kakak sudah siuman."
"Miko, mendekatlah," pinta Arsena dengan suaranya lirih.
Miko membungkukkan tubuhnya di dekat Arsena, berharap kakaknya akan bisa melihat wajah tampannya dari dekat dengan jelas.
Arsena meraba pipi Miko, menyentuhnya dengan lembut.
"Kak, aku juga ada disini, aku panik melihat kau tak mau membuka mata. Tapi hati ini yakin kalau kau pasti akan kuat." Miko bahagia.
__ADS_1
Arsena mengangguk. " Iya, makasi."
Plaaak!
Plaaak!
Arsena menampar pipi Miko, pria itu sontak langsung menoleh ke kanan dan kekiri saking kuatnya pukulan dari Arsena, Miko memegangi pipinya yang memar. Andini dan yang lainnya menutup mulutnya terkejut.
"Auhh." Miko mengaduh kesakitan.
Suasana menjadi hening. Semua orang terkejut dan membuka mulutnya. Setelah menggelengkan kepala, Mama Rena dan Mita saling pandang dan tersenyum.
"Kak, kenapa menamparku, sakit banget lagi." Miko mengelus pipinya, mendesah kesakitan. "Sakit aja tenaganya kaya unta."
"Apa kau mau lagi hah? Merasakan pukulanku yang lebih keras lagi, Adik bren*sek!" Kata Arsena terlihat menahan amarah.
"No hubby, you think wrong. Miko melakukan semuanya bukan untuk kepentingan sendiri, dia melakukannya untuk membuat kamu bangun."
" Apapun alasannya, aku tidak suka dia berbicara seperti itu." ujar Arsena terlihat menahan amarah, kembali mengelus rambut istrinya dengan lembut.
Andini menoleh ke arah Miko sambil tersenyum. "Miko, maafkan Ars."
"Iya." Dibalas anggukan oleh Miko
"Miko, kenapa kamu nggak pikirkan resikonya. Terimalah resiko atas perbuatan yang kamu lakukan." Papa memeluk putranya sambil tertawa.
"Lihatlah Pa, putra pertamamu dalam kondisi sakit saja dia masih menyakitiku, tapi kau terus memanjakan dia."
Seisi ruangan langsung saja tertawa dengan celoteh Miko yang kekanakan.
Sedangkan Arsena harus melakukan serangkaian test selanjutnya, pemeriksaan untuk keseluruhan tubuh dan otak Arsena, seperti CT Scan, MRI dan EEG.
Keluarga bernafas lega mereka kembali ke ruang tunggu, hanya Miko yang terlihat kesal sekaligus malu.
"Kak, sakit ya?" Dara mengusap pipi Miko yang memerah. "Emangnya kakak ngomong apa sih ke kak Arsen waktu koma.
"Aku nggak salah Kok, aku cuma bantu supaya dia cepet sadar aja, dasar dia aja yang tak pernah menghargai usaha kerasku."
"Aku tau kakak pasti sedih karena selalu salah di mata Kak Arsen. Tapi aku akan selalu melihat kebenaranmu di mata Kakak. Kau suami terbaik yang pernah ada."
"Makasi Little." Miko mengecup puncak kepala Dara. Dan mengambil Mida dari gendongan ibunya.
__ADS_1
Mida putri kecil Miko sangat cantik, wajahnya sangat mirip dengan Sang Papa. bocah kecil itu tersenyum pada papa tampannya.
*Happy reading. Bagi vote nya buat emak juga ya.