
Davit segera mengambil celananya, yang masih nyangkut dengan besi pembatas di lantai dua. Setelah berhasil ia segera membawanya ke mobil.
Mereka berdua kini duduk berdampingan, karena hari mulai panas, Davit segera menyalakan mobilnya.
"Kak!"
"Hum!"
"Pakai dulu celananya, nanti lupa lagi."
"Iya."
"Semoga setelah ini nggak ada yang namanya rintangan, semoga Arini akan resmi jadi istri Kakak."
"Ya, kita berdoa Sayang, semoga tak ada kejadian seperti hari ini, aku mau kita segera halal dan ...."
"Apa?" Melotot.
"Jangan berprasangka buruk, maksutku dan kita akan menuapun bersama ditemani banyak anak-anak dan cucu kita. Dan malam pertama segera dimulai." Setelah mengakhiri kalimatnya Davit tertawa.
"Pasti ada hubungannya dengan malam pertama._
"Emang ada yang salah? Bukankah malam pertama memang yang paling dinanti oleh pengantin perempuan."
"Kenapa harus perempuan, pengantin laki laki kali, yang otaknya sudah mesum aja."
"Kalau pria yang menanti malam pertama itu tak mungkin sayang."
"Itu menurut kakak, tapi nggak berlaku untuk kaum perempuan."
"Emang ada bukti kalau pria yang paling mengharapkan malam pertama?"
Arini menggeleng. "Enggak sih. Emang kak Davit punya bukti kalau perempuan yang menginginkan lebih dulu."
"Ada donk, saat menjadi pengantin pasti wanita lebih dulu menunggu di ranjang pengantin, nggak mungkin kan kalau pria lebih dulu duduk di sana."
"Aaaaa, Kak Davit jahat. Ya udah Arini nanti nggak akan duduk di ranjang pengantin, nyebelin banget sih Kak Davit."
Davit tertawa, Arini mberengut malu. Dalam hatinya bertanya tanya, kenapa ya pengantin perempuan harus lebih duluasuk kamar, dihatinya kini akhirnya muncul rencana ingin mengerjai Davit.
"Aku tahu apa yang sedang ada di fikiran kamu sayang."
"Emang apa. Kak Davit sotoy deh."
"Yang ada di fikiran kamu sekarang adalah. "Davit pura pura berfikir sejenak. "Kamu akan menghilang usai ijab dan membuat aku menunggu di ranjang pengantin kita. Katakan tebakanku benar?"
"Kok bisa benar sih?"
" Karena kau tulang rusuk, jika kita ditakdirkan bersama, maka apa yang akan menjadi masalahmu, akan jadi masalahku juga, sekecil apapun, maka dari itu, aku maunya setelah kita menikah nanti, nomor satu jujur, setia dan dan penuh kasih sayang." Davit menggenggam jemari Arini dan meremasnya pelan. Mengangkat dan mengecupnya.
__ADS_1
Arini hanya bisa membalas dengan senyuman, bersama Davit dia benar benar takhluk. Arini menyandarkan kepalanya di dada Davit sambil.
Mereka berdua sudah tiba di gedung besar tempat resepsi, Arini keluar dari mobil setelah Davit membukakan pintu. Red karpet terpajang sepanjang pintu masuk, bunga mawar kuning berjajar di sisi kanan dan kiri, mengeluarkan aroma wangi menyambut kedatangan para tamu undangan dan para kolega dari ke empat pria hebat di keluarga Atmaja. Sahabat Arini dan beberapa karyawan baru Davit di kantor pun turut datang.
"kak tamu sudah datang."
"Iya lah, undangannya jam berapa, sekarang sudah pukul berapa, sudah pasti mereka pada datang."
Arini melihat Arlojinya, " Kak, kita telat banget."
Davit mengangguk, " iya, kita tidak bisa lewat depan, kita harus terpaksa lewat pintu belakang. Davit dan Arini kembali masuk mobil dan mengemudikan mobilnya menuju pintu belakang.
Mama dan Andini yang sempat melihat kedatangan Arini dan Davit. Mereka langsung menghampiri mobil yang dinaiki oleh oleh mempelai.
"Arini kamu baik-baik aja Nak, ya Tuhan syukurlah, kamu dibawa kemana Arin? Kamu nggak diapa apakan oleh penculik itu kan?"
"Arini nggak apa apa Ma, Kak Davit sudah selamatkan Arini sebelum mereka berbuat kejam pada Arini."
"Vit, kamu kedepannya harus lebih fokus lagi jaga Arini, calon istri kamu ini banyak yang naksir."
"Siap, Ma."
Kalau perlu kasih dia body guard, cewek biar ada temannya sekaligus ada yang melindungi.
"Apa? Bodiguard cewek?" Arini berfikir sesaat.
"Nggak nggak Arini nggak setuju, Arini nggak mau bodyguard itu nanti malah godain kak Davit lagi" Arini berkata dengan polosnya.
"Dah mulai protektif dia, yang mau jadi istri pria tampan." Papa johab menyahuti.
"Kalian ini mau nikah apa terus berdiri disitu?" Pria tak kalah tampan nan setia itu masuk dari arah luar.
"Arini, ayo dibantu sama Mbak, Arini tinggal pake gaun aja kok hubby, riasannya masih utuh." Andini membawa adiknya ke sebuah ruang makeup, menambal sedikit bedak Arini hingga tak lama riasannya sudah kembali sempurna.
Sista yang ada di dalam kursi belakang dia sudah mulai sadar juga, tapi tubuhnya masih terasa pegal dan ngilu di beberapa persendian, setelah sadar dia dibantu security untuk masuk dan beristirahat.
Arini kini keluar bersama Andini dia terlihat bagaikan seorang ratu yang sangat cantik, bahkan lebih cantik daripada waktu tunangan. Baju yang dipakai juga mewah dan anggun. Keluarga tak ada yang bilang kalau baju itu tadi habis dipakai Salsa. takut Arini nggak mau pakai, sedangkan tak ada waktu lagi untuk fighting baju.
"Vit, he kedip vit, awas Iler kamu netes." Miko melambaikan tangannya di depan Davit.
"Apa Mik, gue ileran . Ya Tuhan masa lihat calon istri gue sampek ileran. Habis dia seperti bidadari sih." ucap Davit bangga.
"Kamu pinter milih Istri Vit, kok mau ya sama kamu." Nenek Ipah ikut bicara.
" Kalau mau memuji, belakangnya jangan ngejatuhin gitu dong Nek, putra nenek dulu juga tampan, ya sekarang ketampanan bapak nurun ke saya."
"Dia pasti disana bahagia Vit, melihat anaknya sudah bahagia.
"Iya, Bapak, Ibuk Davit mohon restu sekarang mau menikah dulu, Davit minta maaf sudah menjual harta peninggalan Bapak untuk modal kawin, Davit janji akan tetap bahagiakan Nenek dengan penghasilan yang lain," ucap Davit dengan mata berkaca kala mengingat orang tuanya yang sudah pergi menghadap ilahi, lalu dia menengadahkan tangannya untuk memanjatkan sebuah doa semoga selalu diberi kebaikan dan dijauhkan dari keburukan.
__ADS_1
Para karyawan dan saudara hadir membawa suami istri mereka, mereka terlihat makin akrab dengan sesama relasi kerja, terjalin sebuah hubungan pertemanan diantaranya, karena berkali kali bertemu di keluarga Atmaja.
Ruangan yang tadinya gegap gempita oleh obrolan mereka kini sepi seakan terhipnotis.
"Maafkan kami membuat kalian harus menanti kedatangan mempelai wanita yang sesungguhnya, setelah drama pengantin palsu tadi," Arsena berkata dengan gagahnya diatas podium.
"Wowww, semua mata tertuju pada pengantin yang baru keluar. Mereka kembali terhipnotis oleh keserasian pasangan Davit Arini.
Davit dan Arini berjalan keluar diapit oleh Papa Johan dan Mama Rena, Andini dan nenek.
Penghulu dan ajudannya berdiri dari kursinya, Davit segera menyalami dan Arini memberi hormat dengan menangkupkan tangannya lalu menundukkan kepala. Arini juga memakai penutup wajah, namun kali ini lebih tipis dan terawang daripada yang dipakai Salsa tadi.
"Tuan Davit, mari kita mulai akad, apa anda siap. Anda diizinkan melihat mempelai, supaya kejadian seperti tadi tak terulang."
Davit membuka cadar Arini, Arini nervous sekali di lihat calon suaminya, ada rasa yang berbeda yang ia rasakan. Menuju halal dia mendadak jadi pemalu didepan Davit.
Davit tersenyum tipis, Arini hanya berkedip lalu menampilkan segaris senyum pula.
"Pak penghulu, dia sudah benar calon istriku yang sesungguhnya." ujar Davit yang tak dimengerti oleh Arini. Namun dia mulai merasa kalau tadi ada pengantin lain selain dirinya.
"Tuan Johan, mari kita mulai."
" Ya, baik. Johan kembali mengulangi bacaan ijab seperti tadi, Davit segera menjawab dengan bahasa arab dengan lancar tanpa belibet sedikitpun. Penghulu yang tak lain sahabatnya ikut bahagia, melihat putra putri dari kawan baiknya sudah berhasil ia nikahkan, termasuk Arsena dan Andini dulu.
"Gimana saksi!"
"Saaaaaah"
Alhamdulilah, Nenek segera memeluk Arini, dia ingin menjadi yang pertama, ia tarik jariknya yang tersangkut hingga robek. Alhasil dia berhasil memeluk Arini sambil menangis terharu
"Cucuku, Syukurlah Davit sudah laku sekarang, dia punya istri cantik, baik dan kaya. Arini kamu jangan menyesal ya, Davit juga tampan." Nenek senyum sendiri, memeluk Arini berulang kali, sampai-sampai Arini sesak nafas.
"Uhuk! uhuk! Nenek, Arini juga senang punya Nenek baik seperti Nenek Ipah." ujar Arini berkata dengan tebata karena dadanya sesak.
"Nek, sudah nek, nanti bakal ketemu setiap hari kok, besok aja peluknya."
"Iya iya, Dasar nggak mau ngalah sama neneknya," gerutu Nenek Ipah yang tak mau kalah sama Davit. padahal Davit yang nggak rela neneknya memeluk lebih dulu daripada dirinya.
Johan dan Rena pun mendekat, memberi ucapan selamat menempuh hidup baru, memeluk dan menciumi putrinya. Setelah puas dia mundur, kini giliran Arini mengecup tangan Davit dan Davit membuka penutup wajah Arini dan mengecup puncak kepalanya. Acara sakral akan segera berakhir, pesta baru akan dimulai.
"Sayang mulai hari ini harapan terindahku adalah kebahagian mu." ujar Davit. Meraih kedua tangan Arini dan mengecupnya.
" Kak Davit mulai sekarang kau adalah teman seperjuanganku dalam mengarungi bahtera rumah tangga ini. Jadilah imam yang mengayomi keluarga dan anak anak kita nantinya."
" Baiklah Baby, janji dan sumpah tak akan ada artinya jika tak ada bukti, kamu bisa lihat betapa besar cintaku nanti, aku akan mencurahimu dengan banyak cinta hingga kau akan bosan."
"Sweeeeet, Davit!!" Dara tepuk tangan begitu juga Miko.
Mert ikut tepuk tangan, sedangkan Zara yang ada di rumah ikut bahagia menyaksikan pernikahan mantan kekasihnya dari salah satu stasiun TV yang ditayangkan secara live.
__ADS_1
" Vit, aku senang saat melihatmu senang. Rupanya rencana Tuhan begitu indah. Kau dipertemukan dengan Wanita yang lebih segalanya dari diriku." Zara senyum sendiri ia lupa kalau sedang menggenggam gelas, hingga tak sadar gelas yang ada di tangannya terjatuh dan pecah.