
"Yang, kita balik ke kantor dia sudah tertidur karena reaksi obat yang dia minum baru saja." Arsena meminta persetujuan Andini.
"Okay." Andini mengangguk mantap.
Arsena menautkan tangannya di jemari Andini. Keluar dengan bergandengan tangan. Mesra sekali.
Mereka berdua berjalan menyusuri koridor, Arsena suka Andini menjadikan bahunya untuk penopang kepalanya seperti hari ini.
Sampai di mobil Andini segera dibukakan pintu depan dan mempersilahkan istrinya masuk seperti seorang Ratu. Andini mang rayu dihati pria itu.
"Katanya sudah nggak masalah, tapi kok seperti masih mikir sesuatu." Arsena bertanya saat sudah duduk di sebelahnya.
"Nggak, aku baik baik saja."
" Aku janji tak akan membuatmu seperti ini lagi, jika kemaren aku sering kesini itu karena kondisinya parah banget. Kangker servik yang diderita sudah stadium empat.
"Kangker servik atau HIV." Andini terkejut.mwngerutkan keningnya tak percaya.
"Dua duanya." ujar Arsena ikut bersedih.
"Dua penyakit itu kalau sudah bersatu kemungkinan tak bisa disembuhkan. Kecuali dengan keajaiban." imbuhnya lagi.
"Tolong sayang, maafkan jika aku sering jenguk dia, nggak ada yang aku lakukan, paling cuma lihat dari kejauhan. Atau kirimkan makanan. Masa gitu masih cemburu?"
Andini terlihat diam dan tatapannya lurus kedepan. Arsena jadi makin bersalah.
"i am sorry." Mencium keningnya marangkul tubuh Andini ke dalam pelukannya.
"Aku bertahan walau ada ribuan wanita mengejar suamiku, aku sangat bangga menjadi pemenangnya. Tapi aku akan kalah jika kau memberi perhatian pada wanita lain, termasuk dengan Lili."
" No no no, bukan perhatian cuma ... Gimana ya aku jelasin jadi bingung. Yang jelas nggak ada hubungannya dengan perasaan, gimana ya, kalau itu misalnya orang lain aku juga akan melakukannya." Arsena menggaruk kepalanya.
Tak ada reaksi dari Andini, Arsena jadi tak ingin membahas hal ini lagi. Dia yakin Andini masih cemburu, cuma berusaha memaafkan saja. Dalam hati berjanji tak akan melakukannya lagi.
Akhirnya dia mengalihkan pembicaraan lain. "Aku hanya bisa mencintai satu wanita, nggak bisa bercabang cabang, intinya kalau sudah sama kamu, seumur hidup juga cinta ini hanya untukmu."
"Makasih."
"Cuma makasih, pelit amat. Cium donk pipi ini biar aku seneng." Arsena mendekatkan pipinya.
"Lebay." Andini mendorong pipi Arsena dengan jari telunjuknya. Dan berakhir dengan kecupan sayang di pipi Andini.
Pria itu terlihat bahagia, dia menyalakan mesin mobilnya dan kembali ke kantor. Satu kecupan sudah seperti ribuan energi yang membakar jiwanya.
Akhirnya hari ini Andini memutuskan ikut arsena ke kantor. Arsena ingin Andini bersamanya seharian penuh sebagai hadiah ulang tahunnya. Bersama Andini saja bahagianya sudah sampai ubun ubun.
__ADS_1
Arsena duduk di di kursi kerjanya, Andini mengamati ruangan Arsena yang sangat nyaman, ada beberapa foto dirinya dan anak anak di sebuah lemari kaca yang tertata rapi. Andini tersenyum bahagia melihat semuanya, bahkan ada beberapa foto mesra berdua, entah kapan pria itu mengambil gambarnya. tau tau sudah jadi foto saja.
"Kerja, sambil ditemani kamu setiap hari begini enak banget, lho Ndin."
"Oh, benarkah?" Andini berhenti mengamati foto foto yang di bingkai indah itu. Tersenyum kepada suaminya yang makin hari makin tampan.
"Iya, bener." Arsena mengangguk walau mulai sibuk memainkan jarinya di keyboard.
Andini menarik satu kursi dan duduk di sebelah suaminya. " Sayang, aku telat menstruasi, sudah seminggu."
"Hah, benarkah?!" Arsena terjengkit kaget. Seketika hendak langsung menutup labtopnya.
Arsena langsung memutar kursi yang diduduki Andini. Sehingga duduk mereka saling berhadapan. "Apa yang kamu rasakan sekarang? Apa kamu mual, ingin muntah atau ...."
Andini tersenyum, meremas jari suaminya."Enggak aku masih biasa aja, nggak usah lebay. Kalau aku bemaran hamil, apa mau kabulkan keinginanku?"
"Apa itu? Arsena bahagia Andini minta sesuatu. Bahkan dia berharap istrinya akan minta banyak hal darinya. Orang hamil pasti akan banyak maunya.
"Rara, Vanya dan Ken, kita buat bersatu."
"Apa!"
"Kenapa?" Andini sudah kesal, padahal Arsena belum berkata yang lainnya.
"Tau dari mana Vanya mencintai Ken? Bukankah Ken mencintai Lili." Arsena tak percaya dengan perkataan Andini.
Andini mengeluarkan ponselnya untuk memberi tahu sesuatu pada Arsena. Sambil berbicara. "Di jam kerja, aku sempat memergoki Vanya sedang telepon dengan seseorang, tiba tiba Vanya panik dan sedih, dia membawa Rara dan pengasuhnya keluar, tak biasanya Vanya seperti ini, keluar di jam kerja dengan panik, bahkan dia lupa untuk membuat keterangan izin terlebih dahulu. Untung waktu itu tak ada pasien yang darurat."
"Lalu apa hubungannya?"
"Aku membuntutinya dari belakang, percaya nggak waktu itu aku jadi penguntit." Andini tersenyum.
"Kepo amat sih istriku ini." Arsena mengacak rambut Andini gemas.
"Ya karena aku tak biasa melihat sahabatku ini bersikap demikian panik, dia biasanya enjoy, santai dan cuek," terang Andini.
Arsena diam, pasti dia menimbang nimbang permintaan istrinya yang menurut Arsena itu melampui batas. "Itu belum membuktikan Vanya sayang sama Ken, pasti itu karena ada Rara bersama Vanya. Siapa tahu Ken kangen dengan Rara."
"Apa video ini menunjukkan kalau Ken kangen sama Rara. Kalau menurutku. Ken deh yang kangen sama Vanya." ujar Andini.
"Ya Tuhan, istriku. Kamu sampai video mereka juga, iseng banget sih."
"Siapa tahu berguna, seperti hari ini," jawabnya cepat. Andini memang sengaja merencanakan semua demi bisa membuat hati Arsena luluh.
Andini memposisikan ponselnya di depan Arsena, mereka sekarang melihat rekaman Vanya yang mendatangi Rutan dimana Ken sedang di amankan.
__ADS_1
Vanya memerintahkan pengasuhnya untuk menunggu di ruang tunggu sambil bermain dengan Rara. Sedangkan Vanya masuk lebih dulu.
Terlihat bayangan Andini membawa ponselnya. Rara segera menyapa. "Bu-na,bu-na"
"Nona Andini, anda rupanya juga disini." ujar pengasuh Rara pelan.
"Hai Rara cantik sttt, diam dulu ya, Buna lagi pengen berusaha untuk buat Papa dan Buna Vanya bersatu. Biar Rara punya keluarga yang utuh. Oke!" Andini meneruskan acara merekam Vanya yang sudah masuk lebih dulu. Para Penjaga sudah tau yang dilakukan Andini, mereka memilih kerja sama, alasannya karena Arsena pernah datang bersamanya. Para polisi yang ada di Rutan semuanya menjadi segan dengan posisi Andini sebagai istri Arsena.
Andini bersembunyi di balik dinding dengan kamera handphone masih menyala, ia pastikan lokasi perekaman pas dengan posisi Vanya dan Ken sekarang.
Ken lagi kurang enak badan, jadi dia dipindahkan dalam ruang perawatan, dan hanya dia seorang disana. penjagaan juga tak ketat seperti saat di rutan.
"Ken, kau sudah sehat?"
"Setelah kamu datang, aku menjadi sehat." ujar Ken
" Gombal banget sih, aku bertanya serius," Vanya terlihat tersipu dan malu malu. "Aku mendapat kabar kamu sakit. Makanya aku buru buri kesini."
"Aku berbohong biar kamu datang, seminggu itu lama Vanya."
"Ken, aku nggak bisa sering sering kesini. Tau sendiri ada aturannya."
"Iya, tapi aku rindu, rindu itu berat Van." Ken terlihat serius menatap Vanya. Layaknya seorang pria kasmaran.
"Gombal, rindumu belum tentu buat aku, aku tahu kamu sangat mencintai wanita yang telah melahirkan Rara." Vanya tak mudah percaya.
"Sama dia?" Ken terlihat menarik nafasnya. Pandangannya menerawang ke atas. Mengingat masalalu dengan Lili rasanya tak mungkin diteruskan. Wanita itu tak menghargai cintanya, dia hanya menjadikan Ken boneka demi sebuah tujuan.
Cinta itu kadang bisa berubah Van, bukannya nggak setia, tapi memang sudah tak bisa dan tak nyaman. Terus apa yang mau kita pertahankan jika sudah tak bahagia.
"Seperti kamu dan Vano, kenapa kamu lepasin dia gitu aja, kalau kamu suka. Kenapa nggak kamu kejar aja sampai dapatin hatinya lagi."
"Ya jawabannya sama, sudah nggak nyaman." ujar Vanya. Sambil membuka kotak nasi lemak yang ia beli di warung depan rutan ini.
"Kamu juga merasakan seperti itu kan? Melepas ketika sudah tak nyaman."
Vanya mengangguk. Ken tersenyum menatap gadis yang dulu pernah menjadi idolanya, sekarang nggak nyangka bertemu dengan seorang Vanya yang sudahenjadi dokter.
"Ken, makanlah dulu, setelah itu minum obat, aku tadi sudah bawa beberapa obat untuk menghilangkan panas yang ada di tubuhmu. Aku juga bawa alat untuk memeriksa tekanan darah, kadar asam urat dan kolesterol. Siapa tahu kebanyakan makan sayur kangkung kandungan asam urat ditubuhmu tinggi," Ledek Vanya.
"Siap Dokter." Ken bercanda dengan mengangkat tangannya dan menempelkan di kening, mirip anak SD sedang hormat.
Vanya mencubit perutnya membuat Ken memekik geli. "Alay, ya iyalah asisten Arsena Atmaja, pasti ketularan."
.
__ADS_1