Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 51. Cinta tumbuh dan bersemi.


__ADS_3

"Ada apa, Andini?" Arsena ikut menoleh ke arah yang sama dengan Andini. Penasaran dengan Andini yang tadinya mulai rileks mendadak menjadi tegang.


"Entahlah, aku merasa tadi di depan pintu seperti ada seseorang." Kata Andini sedikit berbisik di dekat telinga Arsena.


Baiklah masuk ke kamar, aku akan melihatnya.


"Hati-hati Ars."


Pusaka Arsena yang sudah menegang mendadak menyusut kembali kini tinggal sebesar pisang raja. Dalam hati ia mengumpat kesal. Kenapa ada saja halangan saat ia ingin memulai malam pertamanya dengan sang istri.


Padahal bayangan malam indah itu sudah lama sekali menari di otaknya. Hingga kini ia tak lagi mau jauh-jauh dari Andini.


Andini masuk ke dalam, sementara Arsena melihat ke luar. Memastikan kata kata Andini tadi. Benarkah ada orang yang sedang mengintai? Siapakah dia? Jika benar, Arsena sudah pasti akan memaksa Andini untuk kembali tinggal di rumahnya, baik suka atau tidak.


Ceklek!


Arsena membuka pintu dan melihat sekeliling, tak ada siapa-siapa.


Arsena kembali menutup dan menguncinya. Lalu masuk lagi. Arsena menyusul Andini masuk ke kamar.


"Ndin!" Panggil Arsena.


"Siapa Ars?" Andini ternyata tidak langsung masuk ke kamar, ia membuatkan minuman untuk Arsena. Melihat Arsena datang ia langsung membalikkan tubuhnya.


"Tak ada siapa-siapa."kata Arsena mengendikan bahunya.


"Ouh, berarti bayanganku saja, mungkin aku salah melihat tadi." Andini yang semula tegang, ia terlihat lega.


Andini takut yang datang Miko, pasti akan ada masalah besar kalau Miko yang datang. Namun disisi lain Andini berfikir tak mungkin Miko yang datang, karena pria itu sedang dalam keadaan terpuruk.


Mengingat keadaan Miko yang terpuruk membuat Andini yang tadinya sudah terbuai oleh perlakuan Arsena kini mulai rapuh lagi.


Andini kini berdoa untuk Miko, ia ingin Miko yang baik berjodoh pada wanita yang menurutnya baik pula.


"Ndin, kok melamun. Airnya sudah mendidih."


Kata Arsena yang sejak tadi berdiri mematung di pintu menuju dapur, mengamati perubahan wajah Andini yang tiba-tiba terlihat sendu.


"Eh, udah mendidih ya?"


"Iya, kok ngelamun sih? Ngelamun apa?" Arsena mendekati Andini dan memeluknya dari belakang.


Andini melepaskan pelukan Arsena, ia sibuk mengambil lepek dan gelas. Lalu menaruh satu setengah sendok gula dan satu sendok kopi, tak lupa dengan sepucuk sendok creamer.


Arsena mengeratkan lengannya di pinggang Andini.


Maaf Ars, tolong jangan sentuh aku, ini airnya panas. "Andini menuang air panas pelan-pelan ke dalam cangkir lalu mengaduknya.


Mereka berdua kini kembali ke ruang tamu dengan secangkir kopi untuk Arsena. Andini menemani Arsena menikmati kopinya.


Arsena duduk di kursi panjang. Andini memilih duduk di kursi tunggal yang ada di depannya.


"Ndin, apa nggak sebaiknya kita pulang, aku kepikiran jika kamu harus sendirian disini."


"Pulang? Pulang kemana?"


" Ya ke rumah aku."


"Aku akan pulang jika hati Dan cintamu sudah untukku Ars, aku tak bisa hidup dengan laki-laki yang tidak mencintaiku. Apalagi bayangan wanita lain masih terus bersamanya." Jawab Andini dengan tenang.


"Apakah yang kulakukan tadi, itu bukan bagian dari bukti kalau aku sudah menerimamu, Ndin."

__ADS_1


"Bukan, itu tadi nafsu, kamu hanya bernafsu karena kamu belum mendapatkan yang kau inginkan selama ini." Andini berkata dengan jujur.


Arsena menarik nafas dalam-dalam. Semakin hari Andini semakin sulit untuk ditaklukkan. Sepertinya Andini menuntut sebuah kejelasan hubungan masalalunya.


"Baiklah, Aku akan memutuskan siapa yang akan bertahta di hati ini dalam dua hari. Jika itu kamu, kamu harus berjanji akan pulang bersamaku. Kata Arsena sambil menggapai jemari Andini.


Andini tersenyum sinis, ia tidak terlalu berharap."Semoga saja, wanita itu adalah aku."


Andini mulai mengantuk, beberapa kali ia menguap. "Ars pulanglah, aku mau istirahat." Andini menarik jemarinya lagi.


"Aku mau tidur disini." Kata Arsena menolak.


"Ars, baru saja aku bilang apa tadi, pulanglah, aku akan ikut jika kamu sudah bisa memutuskan siapa yang kau cintai." Andini mempertegas kata-katanya tadi


"Baiklah, aku akan pulang." Arsena kecewa dengan penolakan Andini.


Arsena menghabiskan kopinya. Lalu beranjak dari duduknya. Ia mengulurkan tangannya. Andini meraih dan menciumnya. Ini pertama kalinya Andini mengecup punggung tangan Arsena.


Arsena segera menarik Andini ke dekapannya. Mengelus rambutnya. Arsena berat meninggalkan Andini sendirian. Apalagi setelah Andini melihat sosok mencurigakan tadi, ia khawatir ada orang yang berniat buruk.


Arsena keluar, ia mengingatkan Andini untuk mengunci pintu. "Ndin, kok aku nggak tega kamu sendiri?"


"Ars, banyak tetangga disini, kalau terjadi apa-apa aku akan berteriak nanti." Kata Andini meremehkan, ia berjalan keluar mengantarkan Arsena di depan pintu.


"Baiklah, kalau kamu keras kepala, aku pulang." Arsena mengecup kening Andini. Ia benar-benar pulang, Andini menghampiri mobil yang diparkir lumayan jauh dari kontrakan Andini.


Andini masuk dan mengunci pintu. Ia segera merebahkan diri di ranjang kecilnya, tak lama mata indahnya pun terpejam.


Sedangkan Arsena sudah melajukan mobilnya hingga di jalan raya. Ia merasakan kalau Andini berada dalam bahaya, sosok yang dilihat Andini tadi pasti itu benar adanya. Tak mungkin mata normal Andini salah dalam penglihatan.


"Doni, tolong kasih tugas pada Bodiguard yang kemaren melumpuhkan Devan. Aku membutuhkan tenaganya lagi."


"Siap, Den."


Sesuai keinginan Arsena, ia diperintahkan untuk memantau kontrakan secara diam-diam. Tanpa menimbulkan kecurigaan Andini sedikitpun. Jika hal itu diketahui Andini, pasti ia akan menolaknya terang-terangan.


"Bagus, Den Arsena mulai memperhatikan Nona Andini." Doni mengabarkan berita gembira ini pada keluarga Johan.


"Sebentar lagi keinginan Tuan Johan pasti akan terpenuhi. Aku yakin tak sampai tiga bulan. pasti sudah tersebar kabar Nona Andini hamil." Kata Doni dalam hati. Sambil tersenyum menggenggam ponsel ditangannya. Ia tiba tiba ikut sibuk memikirkan rumitnya kisah cinta majikannya.


*****


Mentari pagi sudah menampakkan sinarnya, kicau burung peliharaan sudah berdendang nyaring di teras depan. Mang Karman sedang asyik memberinya makan, pisang untuk Kutilang dan jagung muda untuk Labet, sambil terus bersiul menirukan lagu band.


"Eh Den sudah rapi banget." Kata Mang Karman yang melihat majikannya sudah rapi, ganteng dan tentunya wangi. Mang Karman sudah menduga pasti Tuan mudanya sedang jatuh cinta. Wajahnya terlihat bahagia dan lebih semangat.


Ya benar, semalaman Arsena tak bisa tidur, ia selalu memikirkan Andini. Apakah dia bisa tidur nyanyak di kamar sempitnya. Apakah semalam Bodiguard suruhannya bekerja dengan benar.


Doni sedang memanasi mesin mobil di garasi, Arsena menginginkan Doni menyiapkan mobil sportnya.


Karena pagi ini Arsena ingin memakainya. Setelah mobil putih mengkilat itu lama tak dipakai, membayangkan naik mobil itu berdua dengan Andini tanpa sengaja bibir Arsena tersenyum simpul ketika membayangkan saat sendirian.


Arsena ditemani oleh Doni. pagi sekali sudah meluncur ke kontrakan, ia ingin menunjukkan pada Andini keseriusannya.


Arsena sudah tak melihat siapapun di kontrakan. Ia segera menghubungi bodyguard yang selesai tugas semalam. Ia memang hanya diberi tugas ketika malam hari.


"Nona Andini sudah berangkat, Tuan."


Apa kamu tau alasannya kenapa dia berangkat sepagi ini.


"Em, ada pasien yang harus segera ia tangani. Itu yang aku dengar dari teleponnya." Kata Bodiguard pada Arsena.

__ADS_1


Arsena kini memilih segera menuju rumah sakit. Ia tak mau melewatkan paginya tanpa bertemu dengan Andini. Arsena segera menuju bangunan yang menjadi ruangan para Dokter.


Arsena tak menemukan Andini ditempat kerjanya ia kembali kesal telah melihat istrinya bekerja sepagi ini, tapi yang lainnya bahkan belum hadir, ada juga yang masih terlihat santai di ruangannya.


"Vano !"


"Iya Tuan, em tumben tuan berkunjung pagi sekali?"


"Kenapa kamu dan yang lain masih bersantai, dimana Dokter baru."


"Dokter Andini maksud Anda?"


"Iya!"


"Dia sedang memeriksa pasiennya tuan?" Kata Vano masih terkejut.


"Lalu kamu kenapa masih disini? Apa seperti ini kamu memperlakukan Dokter baru? Memeras tenaganya untuk mengerjakan semuanya dan kamu bersantai?" Arsena naik pitam. Ia tak rela Andini mengerjakan semuanya sedangkan Vano masih sersantai sambil bertelepon.


"Siapa sebenarnya Andini? Kenapa Anda sangat mengkhawatirkan dia?"


"Siapapun Dia, kalian adalah satu tim, harusnya saling membantu. Bukan memanfaatkan seperti ini.


" Siapa Dia, Tuan kenapa sangat peduli." Vano masih penasaran.


Dia istri ku!"


"Apa?? Baiklah akan segera aku panggil dia dan anda bisa menunggu di ruangan Dokter Andini."


Arsena geram dengan Vano yang seenaknya memperkerjakan Andini, padahal kalau dia mau, dia bisa memecat semua dokter di RS ini dalam sehari.


Andini datang menghampiri Arsena yang ada di ruangnya.


"Ada apa Ars? Kenapa kau datang kesini, kau tau aku sedang sibuk?"


"Sibuk sampai tak ada waktu untukku, atau menghindariku?"


"Mungkin dua duanya ..." Jawab Andini sambil mempersilahkan Arsena duduk di depannya. Sedangkan dia sendiri juga duduk di kursi miliknya.


"Aku ingin, pagi ini kita sarapan bersama!"


"Tapi aku harus memeriksa pasien, Ars."


"Baiklah aku tunggu sampai kau selesai memeriksa pasienmu. Atau biar Vano saja.


"Jangan, aku nanti bisa dipecat kalau tak provesional." Andini ketakutan ia menangkupkan kedua tangannya.


"Sudah, kamu ikut aku saja." Arsena mengulurkan lengannya.


"Ars, tolong mengertilah aku bekerja disini, aku nggak bisa keluar masuk seenaknya." Andini masih ragu.


Namun Arsena kekeuh. Menarik paksa lengan Andini. "Ndin, aku yang akan bilang sama atasanmu. Ayolah."


Dr Vano tiba tiba datang keruang Andini, ia memasang wajah menyesal.


"Andini ikutlah suamimu, kamu bisa jalan-jalan seharian dengannya. Turuti saja apa yang diinginkan," ucap Vano sambil terus melihat ke arah Arsena dengan wajah bersalah. Pria itu khawatir Arsena akan memecatnya karena ketahuan santai di jam kerja.


*Happy reading. Don't forget


* Like.


*Komen.

__ADS_1


*Vote.


__ADS_2