
"Mommy mommy, i Miss mom." Cello tak bisa dikendalikan lagi dia melorot dari gendongan Johan.
Davit yang kebetulan ada di dekat gerbang segera menangkap tubuh Exel dan Cello yang berlarian. Dua bocah itu tak bisa dibujuk lagi.
"Hello baby bear, Om juga rinduuu banget sama Exel dan Cello." Davit mencoba membujuk. Dia membungkukkan badannya di depan dua bocah yang sedang tak sabar ingin bertemu Daddy dan Mommynya.
"Minggil, Om Davit. Jangan bo'ong lagi. Exel dah tau Mommy dan Daddy lagi ada di dalam, mommy pasti kangen cama Exel"
"Kangen Cello juga." Cello menyahut.
"Hai, Exel dan Cello lupa ya? Mommy harus kerja, di dalam masih banyak pasien. Mommy nggak bisa ninggalin pasien gitu aja."
"No, Om Davit pasti bohong. Opa tadi panik Cello dengel sendili Mommy jatuh dali mobil."
"Emmm, Cello, Exel. Itu nggak benar sayang. Om Davit kan nggak pernah bohong. Gimana kalau kita jalan jalan sambil beli ice cream, nunggu Mommy selesai menangani pasien."
"Tapi Cello lindu Mommy, Om." Bocah kecil itu merengek manja.
"Exel juga Om."
" Kalian tega sama Om, padahal ini hari ulang tahun Om Davit loh. Om mau traktir kalian sepuasnya di Restaurant yang pernah kita datangi kemaren."
"Gimana Dik?" Exel meminta persetujuan adiknya.
Cello bimbang. "Benel om, mommy masih kelja? Nggak bisa di ganggu?"
"Iyaaa, benar." Davit mengangguk mantap untuk meyakinkan aktingnya. Sedangkan dia juga memberi isyarat pada mertuanya untuk masuk menemui yang lainnya di dalam..
"Kalau Daddy?" Cello bertanya lagi.
"Daddy masih di kantor, Daddy juga sibuk banget hari ini, harus lembur."
Davit akhirnya membujuk Cello dan Exel. Mengajaknya jalan jalan menuju restaurant yang terdapat wahana bermain anak anak juga. Setelah puas beaon tubuh mereka terlihat letih dan mengantuk.
"Exel, Cello. Dah ngantuk ya?" Tanya Davit sambil merangkul kedua keponakan gembilnya, mencium pipinya satu persatu. Davit berusaha menahan tangisnya. Dia tak mau terlihat sedih di depan kedua keponakannya.
"Iya Om, apa Mommy masih kelja ya Om? Apa Mommy nggak tau kalau Cello sudah pulang?"
"Iya Om, tolong telepon Mommy dan Daddy, Exel kangeeeeen banget, Exel sudah belikan cindela mata dari Bali buat Mommy dan Daddy." Bocah kecil pemilik wajah yang tampan milik Arsen itu berbicara dengan sedih.
"Ayo Om, please telepon Mommy," desak Exel dengan mata berkaca kaca.
"Iya, iya, kita telepon Mommy kalau sudah di mobil ya." Davit menggendong kedua keponakannya yang sedang merajuk di dada kanan dan kiri.
Davit seharian ini telah berhasil menjadi raja drama. Sampai di mobil dia dudukkan dua bocah cerewet di sebelahnya. Lalu dia pasangkan sabuk pengaman untuk Exel dan Cello. Satu sabuk sudah cukup untuk dua anak, karena tubuhnya masih mungil.
"Hoamm!" Excel menguap mengantuk.
Cello mentowel lengan kakaknya. "Kakak, jangan tidul dulu, kita belum ketemu sama Mommy."
"Ngantuk Dik, nanti bangunin Kakak ya, kalau Mommy sudah datang."
__ADS_1
"Iya iya." Cello mengangguk. Padahal dia sendiri juga sudah mengantuk. " Hoamm."
Banyak makan kue brownies, ice cream dan ayam eci membuat perutnya kekenyangan. Belum lagi berlarian menjelajah semua permainan yang ada di arena bermain tadi.
Davit mengajaknya berputar putar sebentar di bundaran kota. Tak lama dua bocah pemilik pipi gembul itu tertidur pulas di mobil. Davit segera menelepon Arini untuk segera menunggunya di parkir, setelah itu Davit segera meluncur menjemputnya.
Davit meminta Arini untuk menemani Exel dan Cello di rumah saja, sedangkan dirinya dan Miko akan berjaga di rumah sakit. Khawatir ada musuh lagi yang masih mengincar keselamatan Andini dan Arsena.
Kabar duka tentang musibah Andini dan Arsena sudah sampai di Turki, Miko yang memberi tahu pada Amert. Amert segera meminta Miko agar mengerahkan para dokter ternama yang ada di kotanya.
Dia akan secepatnya datang ke Indonesia bersama Zara dan anak anaknya.
******
Tit! tit! tit! tit!
Sayup sayup terdengar suara yang berasal dari layar EKG terus saja berdenting, berlomba dengan detik jarum jam.
Vanya menunggu di dalam sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah, matanya terpejam sambil terus berdoa. Dia yakin Andini akan segera siuman.
Menurut Dokter Vano, Andini akan segera melewati masa kritisnya. Tapi untuk kondisi Arsena masih sangat mengkhawatirkan. Para Dokter khawatir akan ada pembekuan darah di kepala, dan beberapa tulang sudah dipastikan ada yang patah.
"Vanya Izinkan kami masuk, bergantian juga tak masalah. Kami akan masuk satu persatu"
"Maaf Miko, aku tau kekhawatiran kamu, tapi pasien memang belum bisa untuk di besuk sekarang."
"Oke, kabari aku perkembangan Andini dan juga Kakak."
"Sekarang susah ada perkembangan?" Miko bertanya lagi, sepertinya jawaban diatas tak membuatnya puas.
Vanya sudah tak membalas pesan Miko. pria itu ingin sekali melempar ponselnya ke dinding.
"Kak, sabar. Dokter Vanya pasti sangat khawatirnya seperti kita, dia sahabat Mbak Andin."
"Iya tapi, masa kita keluarganya nggak boleh lihat sama sekali. Aku diluar kek gini juga panik. Coba aja kita nggak buru buru keluat dari mansion itu, ini pasti nggak akan terjadi." Miko terlihat frustasi berulang kali meremas rambutnya kasar.
Dara tau Miko akan seperti ini setiap apapun yang menyangkut Andini. Tapi Dara tetap bahagia, setidaknya perasaan Miko hanya sebatas dihati, atau entah sebatas kakak dan adik. Miko tak memiliki keinginan untuk main api dibelakang.
Miko menghempaskan pantatnya kasar di kursi dekat Johan, sedangkan Rena sudah menangis sesenggukan bersanding dengan Ana. Doni terlihat menelepon pengacara untuk membantu Ken.
_____
"Ndin!"
"Kamu bangun Ndin?" Vanya terkejut. Dia reflek menjatuhkan ponselnya.
Berlahan jemari Andini bergerak meski sangat pelan. Vanya yang melihat pertama kali segera meminta dokter yang ada di ruangan untuk memeriksa Andini.
"Ndin, aku yakin kamu pasti akan segera siuman, Ndin." Vanya menarik nafasnya lega.
Andini memaksakan diri untuk membuka mata, sakit terasa menjalar di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Aku kok ada disini Van? Andini mengamati sekeliling, ruangan yang tak asing lagi baginya. "Arsen mana?"
"Ndin, Arsen akan baik baik saja."
"Kamu bohong Van, Arsen mana!" Andini merasakan kepalanya sangat pusing ketika mengingat Arsena suaminya jatuh ke tebing bersama mobil yang di kemudikan waktu itu.
"Andini, tenangkan dirimu dulu, Arsen akan baik saja, kamu juga harus baik."
"Gue nggak bisa tanpa Arsen Van, Gue nggak bisa lihat anak-anak tanpa Daddynya."
"Daddynya anak-anak pasti akan segera siuman, kamu yang sabar ya." Vanya ikut menangis melihat Andini begitu putus asa.
"Arsen berhasil keluar sebelum mobil meledak, hanya saja saat melompat posisi tubuhnya tidak siap. Ada benturan di kepala, dan kemungkinan terburuknya Arsen akan …."
"Apa Van? Arsen kenapa?"
"Tidak, Arsen akan baik-baik saja." Vanya tak kuasa harus berkata jujur pada Andini.
"Kamu nggak berusaha menutupi sesuatu kan Van? Sebagai Dokter Kamu nggak boleh bohong tentang kondisi pasien, Van."
"Kamu bisa melihat sendiri kondisinya, tapi ada syaratnya?"
"Syarat?" Andini bingung. Mendesah.
"Minum obat dan makan, kalau biasanya Arsen yang suapin kamu, sekarang aku yang akan suapin"
" Nggak Van, aku pengen lihat Arsen dulu, aku janji setelah tau kondisi Arsen aku akan makan apa aja yang ada, please." Andini menangkupkan tangannya wajahnya penuh dengan lelehan air mata.
"Tidak bisa Andini, disini kamu pasien, harus nurut sama Dokter, ya." Lirih Vanya.
"Van."
" Enggak."
" Please Van."
" Ndin. Nurut saja."
" Oke." Andini mengangguk, menyerah. Dia berusaha menggeser tubuhnya agar posisinya agak duduk.
Andini makan dua sendok bubur dari tangan Vanya. Setelah itu dia sudah tak mau lagi. Vanya memaklumi keras kepala Andini, pasti dia sangat sedih. Dua suap bubur ia rasa sudah cukup untuk kawan obat yang masuk ke dalam kerongkongannya.
"Aku sudah menuruti semua keinginan kamu, Dokter Vanya." ucap Andini lirih.
"Iyes. Good, Andini. Tapi kamu harus janji satu hal lagi."
"Apa?" Tanya Andini dengan tatapan sayu.
"Kamu nggak boleh nangis, kamu harus kuat. Ingat! Anak anak butuh Mommy yang kuat."
Andini mengangguk. Vanya akhirnya membimbing Andini turun dari brankar, seorang perawat membuka tirai penutup yang menjadi penghalang antara Andini dan Arsena. Andini tak menyangka ternyata suaminya sejak tadi ada di dekatnya.
__ADS_1
"Vanya!" Andini sontak langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.