
Amert turun dari mobil, sambil menggendong Meysa yang terlihat cantik dengan baju berwarna pink, dan selimut empuk dengan warna senada.
Semua orang diam seribu bahasa, hanyut dalam perasaan masing masing. Ada yang kasihan pada Amert dan Zara dengan kejadian na'as itu, ada yang ingin membenci Amert yang dinilai ceroboh, tak bisa mengendalikan diri.
Amert menghampiri keluarga besar Atmaja dengan mencoba bersikap sebiasa mungkin walau tahu Mama Hana pasti tak akan pernah memaafkan kecerobohannya.
"Kalian pasti sudah menungguku, Aku akan menjelaskan semuanya di dalam." Amert membawa bayinya masuk, tak ada orang yang mau menggantikan dirinya menggendong Meysa.
Plak!
Tamparan keras mengenai pipi Mert. Pipi Mert memerah, tercetak jelas telapak jari mama Hana disana.
Andini reflek menutup mulutnya dengan telapak tangan.
" Andini mohon jangan lakukan ini tante, Amert tidak salah, kasih kesempatan Amert menjelaskan." Andini menahan mama Hana dengan memeluknya, supaya tidak melukai Amert lagi.
Arsena satu satunya orang yang mengerti duduk permasalahannya, dia memaklumi kejadian ini yang sama sekali bukan kesalahan Amert. Dia bahkan merasa berhutang budi. Jika dia tak meminta Amert datang, mungkin sekarang dirinya yang ada diposisi ini sekarang.
Arsena juga melakukan pembelaan untuk Amert. "Amert, selesaikan segera masalah ini, bicaralah biar semua orang tahu yang sebenarnya."
" Amert biar aku yang akan menggendong putrimu." Andini menawarkan bantuan, kini bayi mungil sudah pindah ke tangan Andini.
"Dia bernama Meysa." Mert menyerahkan kepada Andini dengan hati hati.
Andini terkesima, tak ada kata pujian yang keluar dari bibirnya. Dia cukup mengagumi.dijatonya saja.
"Zara." Amert menghampiri wanitanya, dia merasa sangat bersalah dengan membuatnya menangis seperti hati ini.
Zara menepis jemari Amert dan memundurkan beberapa langkah kakinya. "Kenapa kau bawa dia tanpa persetujuanku. Apa pendapatku tak penting lagi untuk dijadikan pertimbangan?"
"Tidak Zara bukan seperti itu. Aku kira kamu akan mengerti."Mert bingung bagaimana dia akan menjelaskan pada Zara.
"Mert kamu tak punya perasaan, harusnya kamu fikirkan bagaimana perasaan Zara." Arini berkata menyudutkan Mert.
"Benar Mert, kamu tak perlu membawa dia kesini. Kamu akan membuat Zara terus mengingat kalau ternyata kamu sudah pernah berhubungan badan dengan wanita lain." Dara ikut bicara. Sedangkan yang lain tetap diam.
Andini mengayun bayi perempuan yang ada di pangkuannya. Andini juga jatuh cinta pada bayi kecil mungil itu. Excel dan Cello ikut memutari, terlihat ingin mengganggu tidurnya si mungil.
"Excel, Cello adiknya boleh dilihat tapi nggak boleh disakitin ya."
"No, Mom. Adeknya kenapa tidul aja, padahal penen diajak main. Ah adik kecil semuanya pemalas."
" Excel, Cello kita main ditaman yuk, adiknya baru lahir, masih bayi, jadi nggak bisa diajak bermain dulu." Ratna membujuk Cello dan Excel supaya tak mengganggu para orang dewasa yang lagi dalam mode tegang. Andini senang Ratna akhir ini sudah berubah, sisi buruknya sudah tak terlihat lagi, tinggal Ratih yang kadang suka mempengaruhi cara berpikirnya, atau semua kebaikan yang terlihat semata hanya untuk menjadi alibi saja.
Mert mengatur nafasnya sejenak, setelah lebih tenang dia berbicara sambil bersandar di dinding, bingung dan rasa bersalah bercampur aduk menjadi satu, tetapi yakin keputusan yang ia pilih sudah yang di terbaik. Mert melipat kedua tangannya di dada lalu berbicara. "Anita tak mau merawat bayi ini, dia akan memberikan pada orang lain, jika kamu berada diposisi aku. Apa yang akan kalian lakukan?" Mert berkata sedikit keras, dia sengaja melakukannya agar anggota lain juga ikut mendengar.
"Apa yang kalian lakukan jika di dalam tubuh bayi ini mengalir darahku? Apa akan kamu biarkan dia dibawa orang yang tak dikenal, dan bagaimana perlakuannya nanti? Sedangkan sebagai ayah biologisnya aku masih mampu untuk membesarkannya dengan cinta."
Mert menatap Zara, wanitanya terlihat sedang larut dalam kesedihan, Mert juga sadar ini berat bagi seorang istri, mengetahui suaminya pernah menyentuh wanita lain hingga menghasilkan seorang anak.
"Amert harusnya kamu bawa dia jauh dari Zara, kalau kau sangat menyayangi istrimu. anak itu terlahir tanpa ada ikatan, dia tak bisa kamu setarakan dengan putramu Furqon." Oma ikut berbicara.
" Maaf Oma, kalau seperti itu jelas saya tak setuju. Aku akan memberikan sayangku pada Furqon dan Meysa dengan kadar yang sama, apa yang dimiliki Furqon, Meysa juga harus mendapatkannya. Jika tidak satu maka satunya juga tidak."
__ADS_1
"Zara apa kamu setuju?" Amert berharap Zara menurunkan egonya.
Zara yang duduk diapit oleh Oma dan Hana terlihat sibuk mengusap air matanya. Amert mendekat, Hana pindah pada sofa yang satunya. Zara tak mengangguk ataupun menggeleng.
"Mana Zara baik hati yang aku kenal dulu, yang membuat aku jatuh hati?" Mert duduk di dekatnya.
Mert meraih jemari Zara, lalu menggenggamnya. Zara menarik jemarinya, Mert merasa kecewa dengan Zara.
Mert berdiri lagi, menatap mereka yang ikut dalam persidangan satu persatu."Bayangkan jika posisi anak kita berada di posisi Meysa, apa kamu akan rela jika dia menderita? Apa kamu akan rela dia dibawa orang yang nggak kamu kenal sama sekali, apa tujuannya dan orangnya kayak gimana? atau bagaimana kalau di perdagangkan ilegal? Bisa bayangkan bagaimana kalau seperti itu hah?" Mert berkata dengan berapi api, Zara tak suka Mert bersikap demikian. Mert yang ia kenal tak pernah berbicara keras seperti hari ini.
"Aku takut ibu anak itu akan merebut cinta kamu dariku, Mas, aku nggak mau itu terjadi, tidak akan ada wanita yang bahagia kalau kalau suaminya menikah lagi, sebaik apapun wanita itu. Kecuali jika dia memang tak cinta dengan suaminya." Zara mulai berbicara.
"Aku bisa bertahan bersamamu dalam kondisi miskin sekalipun, tapi aku tak bisa bertahan dalam kondisi cintamu terbagi Mas."
Amert mengerti ketakutan Zara, dia mengusap air mata wanitanya yang terlihat rapuh.
"Asalkan Anita tidak menuntut agar kau menikahinya, Meysa akan menjadi anak kandungku, dan selamanya aku akan menjadi satu satunya ibu untuk dia."
" Ya Tuhan, jadi kamu takut aku mendua? Aku sudah membuat perjanjian hitam diatas putih dengan Anita tentang perihal yang kau takutkan itu. Anita dan aku hanya akan menjadi adik dan kakak. Itupun karena Meysa ada bersama kita."
"Jadi Anita tidak meminta kau menikah dengannya?" Tanya Zara
"Tidak akan ada pernikahan lagi, cukup satu kali dan itu hanya denganmu."
"Bisa aku pegang kata kata Mas barusan?" Tanya Zara lagi.
"Pegang ucapanmu kalau perlu kau boleh merekamnya, jika aku lupa tunjukkan lagi padaku." Amert berbicara serius
"Zara kamu yakin ingin merawat Meysa?" Hana bertanya supaya keraguan dihatinya terjawab oleh Zara sendiri.
" Iya Ma."
"Baiklah,kalau begitu sesuai rencana awal kita balik ke Turki besok. Sebaiknya sekarang kalian istirahat. Biar besok semua sudah bangun dalam keadaan tubuh sudah fresh."
"Yakin mau balik besok?" Andini kaget dengan keputusan Mert yang buru-buru.
Andini merasa ini tak adil baginya, sudah lama tinggal bersama, terbiasa dengan keramaian yang setiap hari tercipta dari sebuah cinta dan kebersamaan kini semuanya tidak akan ada lagi.
"Aku akan sering kesini, bersama Zara, Zara pasti akan sering merindukan ibu dan ayahnya di kampung, Sekaligus sesekali mempertemukan Meysa pada ibunya. Aku juga akan menjalin kerja sama dengan perusahaan kalian disini.
"Tetap aja aku nggak bisa terima kalian pergi begitu aja, aku akan merindukan kalian setiap hari." Andini memeluk Zara.
"Apa kalian ingin kami selalu menjadi benalu di rumah ini?" Canda Mert
" Siapa yang menganggap kalian benalu? Kalian itu ibarat anggrek datang dan memberi warna pada hidup kami yang cenderung monoton ini," ujar Andini sambil menciumi Meysa.
" Aku akan sering sering telepon, karena di rumah inilah aku menemukan banyak pengalaman, aku tak mungkin akan lupa saat saat bersama kita." Zara memeluk Andini layaknya Adik dan kakak. Jiwa wanita memang selalu rapuh disaat seperti ini. Meysa yang ada di pangkuan Andini menggeliat malas. Bibirnya terlihat berkecamuk.
Zara melihat bayi mungil yang tak berdosa itu, hatinya tersentuh, dia menyesal secara tidak langsung tadi telah menolak kehadirannya.
"Zara, mau gendong." Tanya Andini.
"Iyah, aku ingin menggendongnya." Zara membenarkan duduknya, Andini memindahkan Meysa dari pangkuannya ke pangkuan Zara.
__ADS_1
"Dia cantik sekali ya," puji Zara.
"Iya, mirip Amert, dia takut nggak diakui." ujar Andini.
"Pantas saja Amert langsung percaya ini anaknya, lha wajahnya Turki banget. Dara ikut mengerubuti Meysa. "Za, sepertinya dia ingin minum asi deh."
" Ya udah kalau gitu, aku tidurkan sekalian di kamar bersama Furqon."
Zara membawa Meysa ke kamarnya, dia menidurkan Meyza disebelah bayinya yang pulas. Tak terasa bibirnya tersenyum membayangkan hari harinya akan dilewati dengan dua putra dan putrinya. Keraguan dihati Zara pasti ada, tapi dia berusaha untuk berprasangka baik, kejadian esok tidak ada yang tahu, yang ia sadari merawat titipan Allah dengan baik pasti akan dapat balasan baik juga.
Kedua bayi telah tidur pulas, Zara mulai ikut mengantuk, tiba tiba pemilik dagu kasar sudah ada dibelakangnya, bibir yang basah terasa mengecup pipinya dari belakang.
"Sayang, terima kasih."
"Untuk apa?"
" Sudah menerima Meysa."
" Iya, sama sama, tapi ini pertama dan terakhir kalinya ada anak dari wanita lain, aku nggak mau ada anak yang lain lagi karena kesalahanmu di masalalu."
Amert tertawa. "Kamu kira aku doyan jajan apa?"
"Buktinya, nggak ada angin nggak ada hujan pulang bawa bayi. Siapa tahu masih ada lagi bayi Mert yang lainnya karena dijebak wanita" Zara menoleh kepada Mert yang ada dibelakangnya.
Mert gemas dengan istrinya, dia mencium Zara biar berhenti berbicara. Dan terbukti cara itu ampuh.
"Aku yakin akan banyak bayi lagi yang aku miliki, tapi aku berani jamin hanya kau ibunya." ujar Amert sambil memeluk Zara dengan erat.
"Jangan dekat dekat, puasanya masih lama." Zara menjauhkan tubuhnya dari Mert begitu merasakan junior suaminya berdiri tegak, menyenggol punggung Zara.
Amert akhirnya berpindah posisi di sebelah Furqon sambil memeluknya hingga tertidur lelap, dan Meysa didekat Zara. Mulai tak bisa tidur. Meysa membuka matanya yang bening dan kecil, menatap langit langit kamar yang berwarna putih bersih.
"Hey sayang, sebentar sekali tidurnya, kamu pasti merasa nggak aman di dekat Umi, Umi sayang kok sama Meysa."
Meysa masih menggeliat tak nyaman. "Oekk."
"Kamu kenapa sayang, kamu mau Nen lagi?" Zara berbicara berdua dengan Meysa. Namun suara Zara yang lembut mampu mengganggu Mert yang belum lelap.
Mert pura-pura tidur, dia ingin tahu apakah Zara sudah tulus menerima putrinya yang sempat menimbulkan pergolakan batin istrinya itu.
"Kamu puf ya sayang!" Zara menahan kantuk, dia bangun untuk memeriksa diapers Meysa.
"Zara mengambil diapers di keranjang. Sebelumnya ia bersihkan dulu bagian tubuh Meysa yang terkena pup, lalu ia beri minyak hangat dan bedak setelah itu ia pakaikan diapers lagi."
"Meysa, sekarang kamu sudah nyaman, kamu mau tidur lagi atau kita main-main di koridor? Tapi kamu tadi waktu kesini sama Abi kan sudah tidur. Sebaiknya kita cari udara segar di taman belakang yuk, kita tinggalkan Abi sama Furqon. Daaaaa Abi, jangan ngorok ya."
Zara menggendong Meysa keluar kamar, sepertinya Zara ingin duduk di taman belakang sambil menikmati indahnya pemandangan sekitar pantai yang tak jauh dari mansion.
Zara tak sadar kalau Amert mengikutinya, pria itu belum menampakkan diri, dia masih bersembunyi dari perempuannya yang kini tengah memakai gamis panjang dengan jilbab instan itu.
Zara melantunkan bacaan sholawat untuk menenangkan Meysa, bayi mungil itu menatapnya dengan kelembutan dan terlihat jarang mengerjabkan matanya.
Si kecil terlihat nyaman dalam dekapan Zara yang sengaja mengayunkan tubuhnya pelan-pelan demi kenyamanan Meysa.
__ADS_1