Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 294. Semoga Arini hamil.


__ADS_3

Andini dan Arsena menuju kolam yang satunya. Tetapi Andini sepertinya sudah enggan berendam lagi. Tubuhnya sudah terasa dingin.


Arsena yang tau kondisi istrinya dia langsung panik. "Yang, kamu kedinginan?"


"Iya,Bie. Aku sepertinya masuk angin."


"Berapa lama berendam tadi? pengen muntah nggak?" Arsena mulai panik


"Iya, pengen muntah juga." Kata Andini tiba tiba mengusap keningnya yang berkeringat.


"Sayang apa kamu hamil?"


"Mikirnya kenapa kesitu terus sih? Kalau nggak hamil kamu nanti kecewa, aku masuk angin Bie." Andini berusaha membuat Arsena tak memikirkan tentang kehamilan dulu, tapi memang kemungkinan itu bisa saja terjadi, karena wanita habis kuret, rahimnya akan mudah sekali ditumbuhi janin baru. 


Arsena senyum-senyum sambil menatap Andini, membelai keningnya dengan lembut. Memeluknya sebentar. "Kalau begitu ke kamar aja ya, aku akan buatkan teh hangat."


Belum sempat menjawab tubuh Andini sudah melayang di angkasa, siapa lagi yang melakukannya kalau bukan Arsena. Pria itu sudah menggendongnya.


"Ars, turunkan aku, cepat, aku nggak mau kakimu baru saja sembuh." Karena Andini memaksa, akhirnya Arsena menurunkan lagi. 


"Daddy pengen gendong mommy ya? mommy kan sudah gedhe? Kenapa halus di gendong" Exel mendekati kedua orang tuanya sedangkan Cello menagih janji pada Arini meminta dibuatkan Ice cream rasa coklat kesukaannya. 


"Exel, mommy lagi masuk angin, tadi habis berendam sama Tante Vanya. Jadi minta di gendong sama Daddy."


"Oh, kukila anak kecil saja yang suka di gendong. Telnyata Mommy juga." Exel masih ingin tahu.


"Sayang, sudah selesai belajarnya? Sekarang minum susu dan istirahat ya, minta sama Tante Ratna." Andini memberi perintah pada anaknya, Exel segera bergabung dengan Cello di meja makan. Mereka kini tengah duduk berhadapan. Sambil mengayunkan kakinya yang menggantung. Tak lama Ratna sudah datang membawa dua gelas susu.


Arsena segera membantu Andini ke Kamar. Acara main di kolam renang terpaksa harus ditunda. 


Ken dan Vanya juga sudah selesai berenang. Ken tadi sempat merayu istrinya untuk main-main sebentar sesuai rencana Arsena, tapi Vanya menolaknya. Dokter muda itu tak mau menuruti permintaan suaminya yang konyol. 


"Kalau mau, nanti di rumah ya, tahan!" Vanya mendorong Ken yang terpengaruh dengan ucapan Arsena.


 Arsena berkata kalau wanita akan lebih seksi dan liar saat bermain di kolam. Ken yang baru beberapa hari pulang dari sel, tentu ingin sekali mempraktekkan kehebatannya. Apalagi pernikahan mereka masih terbilang sedang hangat-hangatnya. 


"Janji ya, Sayang." Ken memberi kecupan di bibir Vanya.


"Iya." Vanya segera keluar dari kolam setelah Ken mengulurkan satu tangannya, memberi bantuan.


Mereka berdua segera memakai baju, kali ini Ken memakai baju Arsena dan Vanya meminjam baju Andini. 


Vanya mengetuk pintu kamar Andini. "Andini! Aku akan pulang dulu!" Vanya pamit pada Andini yang ada di kamar bersama Arsena. 


"Vanya pulang, Ars." Andini yang sedang tiduran ingin segera bangun begitu mendengar teriakan Vanya. 


"Oke, biar aku yang kasih tau kalau kamu sedang kurang enak badan," ujar Arsena menahan istrinya.

__ADS_1


"Mommy disini saja, bial Exel peliksa." Exel meraih termometer yang ada di dalam nakas, usai Arsena gunakan untuk memeriksa Andini tadi.


"Suku tubuh Mommy belapa ya?" Exel pura pura memeriksa, padahal dia belum tahu berapa jumlah angka yang tertera di termometer.


"Sini Mommy lihat?" Andini memeriksa alat yang baru saja keluar dari ketiaknya setelah beberapa menit. "ini namanya tiga puluh delapan sayang, tiga sama delapan jadinya? tiga puluh delapan.


"Oke hasilnya tiga puluh Delapan, Mommy." Exel menirukan ucapan Andini. Andini mengecup pipi putranya dengan gemas.biat anak kecil itu senang dan kembali berlarian sesuka hati.


"Sudah diminum susunya Exel!"


"Sudah Ma, Cello yang Ndak mau minum susu."


"Adik suruh minum susunya, Exel."


"OK, Mom." Exel kembali menemui Cello yang kini sudah membongkar pasang mainan rumah rumahan di ruang bermainnya.


________


"Van, Andini sedang kurang enak badan. Kalau kalian mau pulang, pulang aja." Arsena memberi Izin pada Vanya yang terlihat dua duanya rambutnya basah.


"Sakit?" Ken terkejut. 


"Oh, tolong izinkan aku memeriksa, apa boleh?" Vanya meminta izin. 


"Em Boleh, silahkan." 


"Ndin kok mendadak sih sakitnya?" 


"Iya, cuma meriang. Arsen aja yang suka berlebihan, Van."


"Ouh kukira sakit apa, aku pulang dulu Ndin, Rara rewel kata Bibi."


" Hati hati ya Van, oh iya kalian nggak honeymoon? Kalau misalnya iya, Rara biar disini sama Exel dan Cello. Dia pasti senang dapat banyak teman."


"Bulan madu?!" Vanya terlihat berfikir sesaat. "Enggak Ndin, Ken belum mau, dia bilang jika ada bulan madu, itu harus pakai uang hasil kerja dia sendiri."


"Sabar ya Van, Ken mulai besok sudah kembali bekerja." Andini menggenggam jemari Vanya. 


Setelah melihat kondisi Andini yang tak perlu dikhawatirkan, Vanya segera keluar dari kamar, dia melihat dua pria itu ada di ruang tamu dan kelihatan sangat akrab. Ken dan Arsen sudah berdamai.


Melihat Vanya sudah keluar dari kamar, Ken segera berdiri merapikan hem dan celana pinjaman itu, tetapi baju Arsena rupanya juga pas dipake oleh Ken. 


_______


Tak lama setelah Ken pulang, Arini dan Davit juga pulang ke Mansion, Arini dan Davit bisa pulang kemanapun yang ia suka, rumah Arsena selalu terbuka untuknya. Mau pulang ke perumahan yang di beli Davit sebelum menikah juga tak masalah. Nenek Davit juga sangat menyayangi Arini layaknya cucu kandungnya sendiri.


"Ada apa ini? Kok Arini pucat? Kenapa dia?" Arsena langsung membombardir Davit dengan pertanyaan. 

__ADS_1


Arini tadi telepon aku Kak, waktu masih di kampus. Jadi aku tinggalkan pekerjaan untuk jemput dia. Kataanya perutnya mual terus."


"Kamu ini gimana sih Arin, sudah tau sakit masih aja ke kampus, kamu sih malas makan. Jangan jangan kamu hamil lagi."


"Arini hamil?" Davit terlihat langsung berbinar. 


"Ya bisa jadi hamil, bisa jadi masuk angin, kan gejalanya memang susah dibedakan, periksa aja ke bidan biar tau apa yang terjadi." Arsena takut Davit terlampau bahagia. Takut kalau tak hamil jatuhnya malah kecewa berat.


"Hamil?" Davit langsung membulatkan matanya menatap Vanya dengan ekspresi bahagia.


"Bisa jadi, coba aja belikan alat test kehamilan dulu di Apotek." 


"Sayang, aku belikan alatnya dulu ya!" Tanpa babibu Davit segera meluncur menuju Apotek. Dia meminta pada apoteker mengeluarkan semua jenis alat yang bisa digunakan untuk memeriksa kehamilannya. 


Arini langsung merobohkan diri di sofa, Arsena ikut duduk di sofa tunggal di sebelah Arini.


"Mbak Andini juga mual tadi. Semoga aja ini bukan awal sakit serius."


"Mbak Andini sakit, kasian sekali, dia pasti capek banget selama ini urusin kakak sendiri." Arini ingat bagaimana waktu Arsena sakit Andini bangun pagi untuk buatkan sarapan dan siapkan segalanya untuk suaminya. Mengenai kebutuhan suami, Andini selalu lakukan sendiri, dia jarang mau dibantu oleh asisten.


 Tak sampai tiga puluh menit Davit sudah balik dari mencari alat test urin itu. Jalannya buru-buru seperti dikejar Satpol-PP, nafasnya terengah-engah. 


"Sayang ini aku beli semua jenis alat test kehamilan yang kamu hutuhkan, bisa langsung pakai semuanya."


"Ih Kak Davit, satu atau dua sudah cukup, emangnya Arini mau test berapa kali." Arini memeriksa segepok alat test yang ada dalam kantong kresek.


"Kak Arsena kalau mbak Andini terus mual, coba aja, siapa tahu Mbak Andini memang hamil lagi." Arini memberikan kantong kresek pada Arsena. 


"Mana bisa mbak Andini hamil, Kak Arsena kan baru saja sembuh, pasti belum sempat begituan."


"Ye Kak Davit, Kak Arsen itu yang sakit kakinya, bukan anunya. Kak Davit kira Kak Arsen betah puasa lama."


"Benar, juga kamu sayang."


"Diam kamu, ngeledekin orang tua aja bisanya." Arsena memasang wajah serius, walau aslinya membenarkan ucapan adiknya. 


Arini segera masuk ke kamar mandi. Davit menunggu dengan tak sabar dia menautkan jemarinya sambil mondar mandir di depan kamar mandi. 


Arsena segera menuju kamar untuk meminta pada Andini supaya mencoba salah satu alat yang baru saja di beli Davit. 


"Yang kamu coba ya! Siapa tahu yang kita lakukan kemaren malam sudah berubah jadi kecebong di sini." Arsena mengelus perut Andini yang datar. 


Andini mengangguk. "Masa iya aku sudah hamil lagi."


"Bisa jadi, bibit yang aku punya memang kualitas premium, lho sayang."


"Kualitas premium kalau ladangnya kering kecebong juga nggak akan tumbuh, Bie." Jawab Andini sambil beranjak dari ranjang. 

__ADS_1


Arsena tersenyum, membantu membenarkan alas kaki Andini. Setelah Andini berjalan ke kamar mandi, Arsena beberapa kali menarik nafasnya panjang dan berdoa dalam hati, berharap kali ini Andini benar benar hamil adik Exel dan Cello, menggantikan calon bayinya yang telah kembali pada Yang Maha Kuasa di usianya yang belum genap satu bulan.


__ADS_2