Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 278. Lamaran Ken.


__ADS_3

Pemakan Lili sudah usai, di sebuah makam umum terbesar di kota Surabaya. Andini dan Arsen tak melihat Dev datang, pria itu hilang bagai di telan bumi, sampai sekarang pencarian Gondrong dan Botak pun hasilnya nihil. 


Arsena nampak murung, dia merasa bersalah tak mampu menjadikan wanita yang begitu menginginkan dirinya ke jalan yang lebih baik. Tapi rasanya sangat sulit seorang Lili bisa berubah.


Vanya yang ada di sebelah Andini ikut serta menaburkan bunga di pemakaman Lili. Andini diam, bibirnya terasa menempel sebuah gembok yang membuatnya enggan berbicara. Vanya yang tau kesedihan Andini memeluk pundaknya. "Kami semua juga kehilangan dia Ndin, tapi bagaimana lagi, Tuhan ingin dia tenang di alam penantian."


"Iya Van, aku tahu. Tapi kenapa aku bodoh sekali, aku bahkan cemburu pada orang yang hidupnya tak panjang lagi, dan aku marah, aku cemburu, aku merasa tak adil saja, jika Arsena terus saja memberi perhatian pada orang yang jelas jelas ingin aku pergi dari dunia ini. Aku sudah jadi orang yang jahat Van."


"Kamu nggak jahat Ndin, kamu wajar kalau cemburu. Nggak mengira kalau hari ini akan terjadi kan," ucapan Vanya membuat Andini semakin pilu. Namun, ia sadar kepergian Lili tak mungkin bisa kembali dengan penyesalan, dia akan lebih tenang ketika semakin banyak orang yang mengikhlaskan serta mendoakan. 


"Sayang, kita pulang sekarang," Ajak Arsena sambil menggandeng Andini. Dibalas anggukan oleh wanitanya. 


"Van aku duluan ya?"


"Iya." Vanya mengangguk. "Hati hati jaga bumil." pesannya pada Arsena.


Arsena tak menjawab. Namun ia tersenyum.


'Dia istriku, harusnya aku yang lebih tahu. Apa yang terbaik untuknya.' Arsena ngedumel dalam hati.


Sedangkan Andini berjalan kembali ke mobil dengan langkah yang berat. Sebelumnya dia menggendong Rara sebentar dan menciumi bayi berusia satu tahun lebih itu dengan menahan air matanya. Betapa malang nasib Rara yang sudah tak memiliki ibu di usianya yang masih balita.


"Nona, sebaiknya anda segera pulang, dan jangan terlalu larut dalam kesedihan, apalagi anda sedang hamil."


"Iya Ken," Andini mengangguk. Lalu segera menghampiri suaminya yang menunggu agak jauh darinya. Ken tau betapa dia sudah kehilangan semuanya, hubungan baik dengan tuannya tak ada yang tersisa. Hingga Arsena menghindari Ken untuk menyapa dirinya.


Arsena melajukan mobilnya setelah Andini melambaikan tangan pada Vanya. Vanya membalas lambaian tangannya. 


"Aku akan main kerumah kalian ujar Vanya."


"Aku akan menunggu." Andini terlihat senang. Vanya mengamati mobil yang dikendarai Arsena hingga mobil mereka benar-benar tak terlihat lagi. 


Kini di tempat peristirahatan Lili tinggal mereka berdua, Ken mendekati Vanya yang tak jauh darinya. Sedangkan Rara dan pengasuhnya menuju mobil mengambil susu. 


"Apa yang terjadi sudah takdir Ken, kamu pasti sedih Lili pergi lebih dulu sebelum kalian menikah. Seharusnya setelah melewati hukuman, kalian berdua bisa menjadi orang tua yang utuh untuk Rara." ujar Vanya yang ikut memperlihatkan rasa bela sungkawa. 


Ken mengangguk, "Andaikan waktu bisa diulang, aku tak akan pernah membebaskan dia dari penjara bawah tanah yang ada di kastil itu, jika tau kebebasannya semakin membuat dirinya merajalela untuk menyakiti orang orang yang ada aku sayangi. Mungkin tetap tinggal disana, dia sudah menyadari kesalahannya." Ken tertunduk sedih. 


Vanya diam, pandangannya lurus ke arah makam Lili yang masih basah. Ken meraih jemari Vanya yang ia rekatkan dengan kedua tangannya di depan. 


"Ken!" Vanya terkejut lalu menoleh ke arah pria yang sudah meraih satu tangannya dan telah menggenggamnya begitu erat.


"Ken aku akan pulang."  Vanya menarik tangannya dari genggaman Ken. 


"Aku akan antarkan." Ken melepaskan tangan Lili. 


"Tidak perlu, aku sudah biasa mengemudi sendiri."

__ADS_1


"Aku kangen dengan Rara, bolehkah aku lebih lama bersama dia." Ken beralasan lagi. 


"Kalua begitu Rara akan ikut kamu hari ini, entar malam aku akan jemput."


Tapi Rara belum terbiasa dengan aku, dia akan menangis mencari kami nanti, aku juga belum terbiasa buatkan susu. Biarkan aku antar sekali ini saja dan aku akan belajar merawat Rara, atau sekalian kami berdua kamu yang rawat. Aku mau banget." Ken tersenyum menggoda Vanya.


"Ishhh, dasar hidung belang."


"Masa sih? Nggak ada yang belang kok?" 


Ken dan Vanya akhirnya jalan berdua menuju mobil, Ken menelpon temannya untuk dimintai tolong mengambil mobil di makam Lili. Sedangkan dia kekeuh ingin bermain ke rumah Vanya, mumpung wanita pujaannya sedang libur kerja. 


Bibi duduk di belakang sedangkan Ken di depan kemudi, Vanya di sebelahnya memangku Rara yang sibuk memainkan boneka jerapah menghadap ke arah depan. Sekilas mereka seperti keluarga. 


"Bi, sudah sarapan, apa belum?"


"Kok Bibi yang ditanya, Tuan?" Bibi yang diam-diam mengagumi keserasian mereka berdua dari belakang, terkejut mendengar Ken bertanya padanya.


"Iya, soalnya kalau tanya sama Nona. Pasti jawabannya sudah, padahal susah sarapan."


"Tuan rupanya sangat perhatian, di samping nona Vanya seperti ini anda juga serasi."


"Bi!" Vanya memberi peringatan. Mereka 


"Maaf, Nona."


"A-yah." Rara menoleh pada Sang Ayah yang sedang sibuk merayu. 


"Iya Sayang, Rara setuju nggak kalau ayah nikah sama Mama Anya."


"Setujuuuu." Bibi reflek bertepuk tanngan.


"Ehmmm Bi."


"Maafkan bibi lagi, Nona."


Tak terasa mereka sudah sampai di kawasan perumahan elit. Mobil berhenti di salah satu rumah berlantai dua dengan cat warna putih tulang kombinasi coklat.


Ini pertama kalinya Ken tahu hunian baru Vanya. Ken tak menyangka Vanya sudah menjadi wanita karir yang sukses dan mandiri, di statusnya yang masih gadis. Sedangkan Ken memiliki banyak tabungan yang habis karena mengelabui keinginan Lili.


Mobil langsung masuk di garasi yang berdampingan dengan ruang tamu, taman hias bergelantungan diatas, dan tumbuh subur di sekeliling. Menambah kesan damai.


"Masuklah, Ken?" Perintah Vanya. 


"Iya, sebentar, pria itu terlihat mengantongi sebuah barang di saku celananya."


Mereka berempat masuk ke dalam, ada Bibi yang bertugas membersihkan rumah tengah membukakan pintu. 

__ADS_1


"Bi, tolong tunjukkan tuan Ken kamar tamu, biarkan dia istirahat dan mandi."


"Mari Tuan, Tuan ini tampan sekali, calon suami Nona Vanya ya," goda Bibi. Bibi yang bertugas membersihkan rumah dan memasak memang sedikit agresif dan ceplas-ceplos, beda dengan pengasuh Rara yang terlihat pemalu dan santun.


"Iya, Makasih." Ken menurut, dia menuju ruang yang dipersilahkan oleh Vanya. 


Ken segera mandi dan istirahat. Dia bingung setelah mandi apa yang ingin dilakukan. Akhirnya Ken memutuskan untuk keluar kamar dan mengintip aktifitas Vanya bersama Rara.


 Sedangkan Vanya membuatkan susu hangat untuk Rara setelah itu dia segera masuk sebuah kamar yang kira kira ukurannya terbesar nomor dua dibandingkan kamar yang lain. Bedanya kamar Rara setiap sudutnya dipenuhi dengan pernak pernik untuk anak dan hiasan dinding. Vanya masuk tanpa menutup kembali, membuat Ken mudah mengamati dari kejauhan.


Vanya menidurkan Rara di dalam gendongannya, sesekali mengecupi pipinya. Bocah kecil itu memainkan jemarinya di wajah Vanya. Selingan canda dan tawa sesekali terdengar. 


Tanpa terasa bibir Ken terukir segaris senyum. Khayalan Ken melambung tinggi, membayangkan alangkah bahagianya jika Vanya bersedia menjadi istri sekaligus ibu dari anaknya.


Tak lama Rara sudah tidur. Vanya membaringkan di box bayi. 


Vanya masih biasa menidurkan Rara di box bayi, untuk menghindari ketika bangun dia akan merangkak dan tergelincir jika berada di ranjang biasa.  


Tiba-tiba sosok pria pemilik tubuh berotot itu sudah ada dibelakangnya, tersenyum dengan sangat tampan.


"Ken kau?!" Vanya terkejut dengan kehadiran Ken.


"Maaf, usai mandi aku tak bisa tidur. Aku tak biasa tidur siang."


"Kalau begitu kita makan siang, Bibi pasti sudah matang." Vanya berjalan nyelonong keluar melewati Ken. 


"Tunggu!" Ken meraih lengan Vanya membuat langkah gadis itu terhenti. 


"Van, apa kamu bersedia menjadi istriku?"


Vanya diam, menurutnya masih banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk menerima seorang Ken. Tapi tidak dengan Ken. Pria itu sudah mantap memilih Vanya tanpa ada pertimbangan.


"Setelah ini aku akan bekerja, jika alasannya karena aku pengangguran."


"Bukan itu Ken, alasannya aku belum siap menikah,"


"Masih sering keinget mantan kamu yang bernama Vano itu."


"Tidak juga." Vanya menggelengkan kepala.


"Lalu apalagi?" Ken mulai mendesak Vanya dengan pertanyaan yang belum bisa dia jawab. 


Ken menarik dagu Vanya, hingga tatapan mereka bertemu.


 "Aku akan berusaha menjadi suami yang baik. Aku tak suka main main dengan wanita Vanya. Jika aku sudah jatuh cinta, perasaan dan hatiku akan sejalan dengan langkahku."


"Ken, aku masih butuh waktu untuk menyembuhkan lukaku ini."

__ADS_1


" Aku akan membantu menyembuhkan lukamu itu." Ken terlihat serius. Dia bahkan menghalangi Vanya untuk keluar kamar. Ken berharap Vanya akan mendengarkan ucapannya tanpa ada keraguan lagi. 


__ADS_2