Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 213. Terbongkar


__ADS_3

Pagi buta Arsena mengirimkan sebuah pesan pada Ken.


"Ken datanglah ke kamarku, ambil berkas berkas yang harus kau kerjakan di minggu ini, aku sedang lelah, tak ingin kemana mana sementara waktu." Sebuah pesan segera meluncur ke ponsel Ken.


Arsena tak sabar menunggu Ken membaca pesan darinya, begitu pesan yang ia kirim sudah berubah tanda menjadi centang biru. Arsena sangat senang.


" Baik Tuan, Aku akan segera datang."


" Ya aku sudah menunggumu."


Klik!


Arsena menutup panggilannya, dia segera bangkit dari ranjang dan mandi dengan buru-buru, iya sisir rambutnya yang hitam mengkilat itu ke belakang, lalu mengenakan kaos polo warna putih kesukaannya dan celana slimfit warna hitam.


Arsena segera keluar dari hotel lebih cepat, dia sengaja ingin lebih dulu tiba di hotel Rosella sebelum Ken datang.


Arsena mulai memarkirkan mobilnya di basement, segera turun dengan langkah arogant menuju lift, ia acuhkan beberapa wanita dan gadis yang memandangnya dengan kekaguman.


Saat di lift pun tidak sengaja dia bertemu dengan dua gadis, ia berbisik dengan kawannya tentang pria yang terlihat begitu memikat, dada sikpacknya tercetak begitu jelas di kaos putihnya. Urat otot lengannya yang menonjol menambah visualnya semakin terlihat maskulin.


Arsena mengabaikan tatapan para wanita didepannya itu, fikirannya hanya fokus dengan Ken dan Lili. Dia sudah tak sabar ingin segera memergoki Lili dan Ken, Sang Pengkhianat.


Arsena segera bersembunyi di balik tiang besar yang mampu menyembunyikan tubuh beberapa orang sekalipun. Ralat, rupanya dia hanya duduk santai tetapi tak terlihat dari pintu kamar Arsena.


Lima menit kemudian Ken sudah terlihat keluar dari lift dan berjalan tergopoh, membawa tas yang tentunya berisi dokumen yang diminta Arsena baru saja.


Rupanya pintu tidak dikunci oleh Vina saat dia keluar tadi, sekarang Ken bisa masuk dengan mudah, pintu yang bisa di buka dengan nomor paswort atau kunci sekaligus itu terlihat terbuka sepenuhnya.


Suara Ken mulai terdengar memanggil manggil nama tuannya.


"Tuan! Tuan! Apa kau ada di dalam?" Ken mengamati ruangan yang sepi. Tiba tiba dia merasakan kerongkongannya haus. sebelum berangkat tadi dia belum sempat minum kopi.


Ken berjalan menuju dapur setelah menaruh berkas yang ia bawa tadi di atas meja tamu.


Saat sampai di depan kamar, Ken mendengar suara seorang wanita sedang menggeliat sambil mengeluh seperti orang kesakitan.


"Auuuh, tubuhku sangat pegal, Tuan! Tuan Arsena dimana kau?" Lili yang masih betah pura-pura menjadi Vanes memanggil Arsena sambil berusaha bangkit dari tidurnya. Tubuhnya terasa pegal dan kepalanya pusing.


Lili menggeser tubuhnya berlahan, lalu bersandar di tepi ranjang. Lili merasakan udara AC sangat dingin, setelah dia membuka selimut, lili terkejut tak ada satu pakaian pun yang melekat ditubuhnya. Pantas saja udara AC lebih dingin daripada biasanya.


"Ars, kau melakukannya padaku juga akhirnya." Lili tersenyum senang, mengira Arsena semalam ada bersamanya, mereguk nikmatnya madu yang sudah lama ia damba. "hahaha."


"Hahaha kau akan menjadi milikku Ars, kau tak bisa lagi pergi dariku, kau akan tunduk padaku tanpa bisa berpaling lagi," Lili tiba tiba tertawa keras, suaranya menerobos pintu dan jendela. tak menyangka Arsena sudah masuk dalam jebakan cintanya.


Netra Ken membeliak kaget, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. " Suara itu? Ya itu suara Vanes. Tapi kenapa ada disini." Ken terkejut ada suara Vanes di kamar Arsena.

__ADS_1


"Brak!!" Ken membuka pintu dengan tak sabar. Melihat wanita yang dicintainya sedang duduk tanpa busana di kamar bosnya, Ken sungguh terkejut. Rasanya sakit, seperti ada sebuah godam besar yang memukul jantungnya. Mata Ken melotot hampir membentuk lingkaran penuh.


"Vanes! Apa yang kau lakukan disini?" ucap Ken dengan nada suara tinggi. Tangannya sudah mengepal keras. Ken mendekat ke arah ranjang, sedangkan diatasnya ada tubuh Lili yang sedang polos, hanya tertutup oleh selimut berwarna putih, selimut bekas yang biasa digunakan Andini dan Arsena untuk bersembunyi ketika dia lelah setelah menjelajahi pintu surgawi. Sungguh nasib malang.


"Apa yang kulakukan bukan urusanmu." Lili tak bisa mungkir, dia sudah kepergok basah. Tak mungkin ada alasan yang masuk akal untuk membohongi Ken, sedangkan semua bajunya berceceran di lantai dan ada baju Arsen juga disana. Walaupun dia tidak ingat apapun saat itu, tapi Lili masih sanggup mengingat kalau mereka berdua saling mengucap sayang saat di Cave.


" Vanes kau sudah berjanji akan membalas dendam orang yang menyakitimu, dan menikah denganku, kenapa kau mengkhianatiku? Kenapa sekarang kau malah tidur dengan Tuanku. Pria yang harusnya kau hancurkan dalam misi kita kali ini?"


"Kenapa sekarang justru kau yang terperangkap!!"


"Aku tak akan memaafkanmu, aku akan bikin perhitungan dengan pengkhianatanmu ini Vanes. "Kau akan menyesal telah berkhianat denganku." Ken masih tersulut emosi.


"Menyesal, justru aku sama sekali tak menyesal, aku bahagia Arsena kembali padaku, walau bukan sebagai Lili, tapi dia sayang padaku sebagai Vanes. Berlahan aku akan memberi tahu kenyataan ini, Arsenaku ternyata tak bahagia dengan rumah tangganya."


"Kau tahu, lili tak bisa mendapatkan keinginannya selama ini tapi Vanes ternyata bisa dengan mudah." Imbuh Lili lagi dengan percaya diri.


Lili berjalan berputar ke sisi Ken kanan dan kiri. "Ken, lupakan balas dendam itu, dan aku akan segera menikah dengan Arsena secepatnya setelah aku mengandung benih cinta kita semalam di rahim ini."


"Dasar murahan." Tangan Ken sudah siap mendarat di pipi mulus milik Lili namun urung ia lakukan, karena Ken sadar dia berada di kamar orang. Ken khawatir Arsena akan memergokinya.


Ken meraih baju lili dan melempar ke wajahnya.


Lili menanggalkan selimut dan mengambil bajunya satu persatu lalu memakainya.


"Kita pergi dari sini, aku akan memberikanmu pelajaran yang besar telah berselingkuh di belakangku," ucap ken dengan emosi. Ken segera menarik lengan Lili dan mengajaknya keluar dengan buru buru.


Betapa terkejutnya dua insan sedang berseteru itu setelah keluar kamar.


Ternyata Arsena sedang duduk dengan santai di meja makan, sambil menikmati secangkir kopi panas.


Arsena meniup kopi di dalam cangkir. Yang artinya dia sangat menikmati perdebatan panas mereka dipagi hari.


"Kenapa berhenti?" Seucap kata yang keluar dari bibir Arsena sudah mampu menjawab pertanyaan dihati ken. "Lanjutkan obrolan kalian," ujarnya masih tanpa menoleh.


Ken dan Lili melongo dalam keterkejutan. Ekspresi mereka berdua sudah membiru, ingin membela diri rasanya tak mungkin. Lili tak rela ken tau semuanya. Diamnya masih mencari cara untuk beralasan yang benar.


Arsena berdiri lalu tersenyum ke arah Ken, tentu bukan sebuah senyum persahabatan atau senyum seorang atasan pada bawahan. Senyum yang manis namun mematikan.


"Ayo lanjutkan Ken?"


"Tuan, aku tak bermaksud ...."


Ya aku tau kau sangat setia, tak bermaksud berkhianat? Itu kan yang ingin kamu ucapkan? Tapi sayang sekali kau sudah terlanjur berkhianat dan_"


Plaaaak! Plaaaak!

__ADS_1


Pukulan kepalan tangan mendarat di pipi Ken.


"Aku tak akan pernah memaafkan pengkhianat." Rahang Arsena mengerat, Raut kecewa terlihat di iris mata bak tatapan elang itu. Dia menatap Ken dengan tatapan tajam. Arsena sungguh kecewa Ken yang disayangi keluarganya telah berkhianat.


"Maafkan kesalahanku, Tuan."


" Kenapa kau meminta maaf saat aku mengetahui, kenapa tidak kau perbaiki saat aku masih belum menyadari kesalahanku. Bagaimana jika aku tak pernah tahu? Apa kau akan selamanya berkhianat dan aku percaya padamu seperti orang bodoh.


Ken diam tak bergeming. Cinta buta sudah membuatnya lemah dan mudah tertipu.


Lili bingung dengan pria yang ada di depannya. Dua duanya tak ada yang bisa memberi keuntungan, Arsena ternyata hanya menipunya.


Baru saja dia merasa melambung diatas awang awang membayangkan Arsena menyentuh setiap inci tubuhnya. Kini bayangan itu terhempas bahkan terperosok ke jurang. "Ars_"


"Diam kau murahan!"


"Ars, bukankah semalam kau dan aku_"


" Bagaimana bisa kau berfikir aku menyentuhmu? Jika kau tak pernah bisa menjaga tubuh itu dari setiap pria yang mendekatimu. Cih_" Arsena berdecih.


"Ken, kau dengar sendiri. Arsena tidak melakukan apapun padaku."Lili beralih merayu Ken.


"Haaaaah." Ken menghempaskan tangan lili yang berusaha menggenggam jemarinya.


"Lihatlah ini," ujar Arsena.


Ken dan Lili menatap ke satu arah hampir bersama.


Sret!


Sebuah monitor sebesar layar tancap tiba-tiba nyala di salah satu sisi dinding ruang tamu. Berlahan sebuah rekaman mulai berputar menampilkan sosok wanita mabuk yang diapit oleh Vina sang sekretaris.


Lili melihat gambar yang tertampil di layar tanpa berkedip, dia tak percaya Arsena ternyata sudah tahu semuanya. Berniat menjebak namun justru dia yang terjebak sendiri.


"Tidak mungkin. Ini memalukan." Lili histeris saat melihat Vina menggantikan bajunya yang basah dengan terus mengumpatnya dengan kata kata seorang pelakor.


"Ken itu tidak benar. Aku tertipu" Keputusan terakhir Lili akhirnya memilih Ken.


" Kau sungguh plin plan, tadi kau inginkan diriku, sekarang kau kembali merayu Ken. Kau sungguh mencoreng nama baik wanita di muka bumi ini." Ejek Arsena dengan senyumnya yang merendahkan.


"Ken aku tertipu. Dia merayuku, kamu tahu kan aku tidak tidur dengannya, dia hanya menjebakku, aku hanya ingin bersamamu."


Lili berusaha mendekap tubuh Ken yang gemetar karena tersulut amarah, Lili yang ia perjuangkan tak pernah berubah.


"Bruk!" Ken mendorong lili hingga terjungkal, lututnya memar.

__ADS_1


__ADS_2