
Dara dan Miko sudah sampai di apartement dengan cepat, setelah taksi online mengantarnya, selain itu jarak bermain tadi juga hanya beberapa ratus meter dari hunian mereka.
"Pergi Lo, gue nggak butuh simpati, kayak gini. Gue bisa urus diri gue." Miko menyingkirkan tangan Dara, lalu merebahkan tubuhnya di sofa.
"Kak! aku seperti ini karena perhatian sama kakak."
"Gue nggak butuh, gue nggak butuh istri penghianat seperti kamu. Pergi atau aku akan ...."
"Iya, iya aku akan pergi."
Dara memilih untuk ke kamar dan bermain handpone. Dara membuka sebuah aplikasi tentang tips tips agar lebih disayang suami pastinya.
Selama ini dia hanya mengandalkan wajah polos dan hidung runcing, nyatanya itu tak bisa membuat Miko cepat jatuh hati. Kanapa susah sekali.
Tiba tiba Miko masih sempoyongan mendatangi Dara yang sedang tengkurap memeluk bantal.
Miko menjatuhkan tubuhnya di samping Dara. Dara merasa tak aman di dekat pria mabok itu, ia ingin menghindar mencari tempat lain. Setahu dia pria mabok bisa kalap.
Namun, Dara kalah gesit, hingga lengannya berhasil diraih oleh Miko. Dara menghentakkan tangannya agar terlepas, Namun, tenaganya hanya sebatas perempuan muda bertubuh imut.
Dara berhasil dikuasai oleh Miko hingga tubuhnya terpelanting kembali keatas kasur. "Lo dengar ya, gue nggak suka wanita tukang selingkuh, gue benci, katakan padaku sejak kapan kau mengenal pria itu?"
Dara dengan ketakutan membalikkan tubuhnya. Dia menggeleng kepala dengan kuat. " Aku tidak selingkuh, aku baru mengenal dia tadi pagi."
"Bohong. Kau bohong, bibir ini ternyata suka berbohong," Lirih Miko
Jemari Miko menelusuri bibir Dara, membuat gadis itu merinding merasakan sentuhan dari suaminya, kali ini bukan sentuhan lembut seperti biasanya, lebih terasa seperti sebuah sentuhan intimidasi yang menakutkan.
Dara takut dengan sorot mata tajam dan seringai senyum mengerikan dari bibir Miko? Dia memilih memandang kearah lain, yang penting tidak benatap langsung iris hitam legam bak mata elang itu.
Miko mengelus rambut Dara, giginya mengerat rapat. "Apa selama ini ada yang kurang dari ku? Hingga kau menginginkan pria lain untuk menemanimu? Katakan Dara?
"Kak, kau sedang mabok, menjauhlah dariku." Dara mendorong tubuh Miko sekuat tenaga membuat pria itu terjengkang kebelakang.
"Aku tak sudi di sentuh saat mabok seperti ini. Biarkan aku pergi."
Dara hendak pergi, sekali lagi Miko berhasil menguasai tubuhnya. Miko menyentuh Dara dengan kasar.
__ADS_1
Merobek baju terusan selutut yang dikenakan dara membuat Dara semakin ketakutan.
"Berani membuat masalah dengan Miko, hukumannya akan sangat menyakitkan."
"Katakan? Apa kantongku kurang tebal, apa aku kurang tampan? Atau aku kurang hebat saat bermain diranjang. Jika iya, aku akan membuktikan padamu."
"Kak lepaskan aku, kau sedang mabok, Dara memohon untuk dilepaskan meronta dengan kuat." Membuat Miko semakin geram dan mengikat lengan Dara dengan gaunnya yang sudah berhasil dia robek.
"Jika seperti ini kau tak akan bisa menyakitiku lagi, kau wanitaku, tak ada yang boleh menyentuhmu walau seujung kuku." Miko berkata dengan pelan mendekatkan bibirnya di telinga Dara. alkohol tercium begitu kuat dari mulutnya.
Dara ingin muntah mencium aroma alkohol dari mulut Miko, ia terus memalingkan wajahnya, sambil menggerakkan tangannya naik turun berharap ikatan itu akan lepas. Namun hasilnya nihil. Miko suaminya yang lembut sudah sirna.
Dara sudah tau apa yang akan dilakukan Miko padanya, walau ini bukan pertama kali, namun, tubuhnya tetap saja bergetar ketakutan.
Miko mengambil minuman beralkohol yang tersimpan di lemari pendingin. Menegik lebih banyak lagi dan sisanya ia tuang ke tubuh dara yang sudah berkeringat panas dingin.
Siang ini Miko melakukan kewajibannya sebagai seorang suami dengan begitu kasar dan bringas, rintihan kesakitan dari Dara tak ia hiraukan. Miko sibuk melahap manisnya percikan minuman keras yang membasahi tubuh Dara.
Tubuh Dara tak merasakan sedikitpun kenikmatan. Bahkan organ intinya terasa perih dan sakit.
"Ampun kak, lepaskan Dara. Aku bisa mati." Dara meringis saat Miko menghentakkan miliknya dengan kuat. Menghujami tubuhnya dengan gigitan dan kismark.
******
Matahari semakin meninggi, udara panas, di musim panas semakin menggila, sama gilanya dengan Miko ketika cemburu, Miko dan Dara masih dalam pergulatan panas hingga beberapa kali menuju puncak. Miko baru membebaskan Dara dari hukuman yang lebih keji dari hukuman mati itu ketika perutnya bergejolak dan ingin muntah.
Miko memuntahkan cairan pahit sangat banyak dari perutnya. Sebenarnya Miko sudah tak suka minuman keras lagi, tetapi karena kejadian tadi membuat dia tak bisa berpaling dari minuman yang pernah membuat dirinya opname itu.
Miko ambruk setelah perutnya sedikit lega, ia tertidur pulas seakan tak pernah berbuat dosa. Wajahnya yang tadi mirip berang-berang kelaparan kini kembali terlihat imut seperti bayi panda baru lahir.
Melihat Miko lelap, Dara menggigit tali yang mengikat tangannya,berlahan tali itu lepas juga.
Dara berusaha menggerakkan tubuhnya, beringsut dari tidurnya hendak turun ranjang, sakit luar biasa tengah ia rasakan menjalar di sekujur tubuhnya. Tulang belulang seakan dilolosi dari kulitnya.
"Akhh," Dara merintih kesakitan, Sakitnya setara ketika malam pertama waktu itu.
__ADS_1
Dara tak jadi turun ia memilih kembali merebahkan tubuhnya yang letih hingga tertidur pulas.
Miko terbangun ketika hari telah sore, ia berulang kali mengerjabkan matanya, pening dikepalanya masih tersisa. Namun sudah tak sehebat tadi. Matanya juga tak lagi berwarna merah.
Miko mengelus rambut Dara, terbersit sebuah penyesalan di hatinya, mungkin dia terlalu keras memberi hukuman pada wanitanya. Ketika mabok tubuhnya susah untuk dikendalikan.
Merasa ada yang menyentuhnya, Dara membuka matanya. Miko segera berpaling dan merubah posisi duduknya. Kini posisi duduk Miko membelakangi Dara. Miko menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Begitu juga Dara, Ia juga melakukan hal yang sama.
Karena Dara sudah bangun, Miko ingin pergi, Miko terlalu naif untuk minta maaf terlebih dahulu. Miko masih menyalahkan Dara karena sudah berani jalan dengan pria lain dan memberi harapan, seolah dia wanita single.
"Kak!"Dara menahan lengan Miko.
Miko menghempaskan tangan Dara, mendapatkan penolakan dari Miko, Dara tak patah semangat. Ia memeluk lengan Miko dengan kuat kuat.
"Aku ingin ke kamar mandi, lepaskan!" Bentak Miko tanpa menoleh ke arah Dara, auranya kembali dingin.
"Kak aku tidak kenal pria itu. Aku memanfaatkan perkenalan tadi untuk membuat kakak cemburu."
" Apa kau suka, setelah melihat aku cemburu?"
"Tidak, aku sudah jera, tapi setidaknya aku sudah tau kalau Kak Miko bisa cemburu."
" Ada-ada saja. Aneh tau nggak, dasar otak udang," Miko menyingkirkan tangan Dara lalu ke kamar mandi.
Dara kesal ditinggal Miko begitu saja. Ia hanya bisa bersabar dan menghembuskan nafasnya kasar. " Daripada kepala batu, udang masih gurih kalau dimakan."
"Ngomong apa?"
" Enggak,"
Miko hanya berhenti sebentar lalu berjalan lagi menuju kamar mandi, berendam adalah pilihan yang paling tepat untuk kondisinya sekarang ini.
"Kak Miko, boleh aku jujur?"
"Soal apa?"
"Aku cemburu kakak masih menyimpan nama kak Andini di hati kakak. Biasanya kalau seseorang kebawa di mimpi kita, itu artinya kita sedang rindu dengan orang itu?"
__ADS_1
"Tapi sayangnya keyakinanmu berbeda denganku, Mimpi itu bunga tidur, atau mungkin Tuhan sedang memberi petunjuk pada kita, Buang prasangkamu itu, dan segera berikan aku bayi yang lucu, agar aku lebih menyayangimu."