
"Andini kamu sudah cek kamarnya, yakin nggak ada yang ketinggalan?"
"Yakin Ma!" jawab Andini sambil menautkan ransel kecil ke punggungnya. Sedangkan Arini memakaikan kaus kaki dan sepatu pada Excel yang ada di pangkuan Papa.
Arsena menggendong Cello di depan, tubuh Cello yang mungil di dada papanya lebih mirip dengan kura kura lucu.
Arsena berjalan keluar sambil menyeret koper berisi baju anak anaknya dan peralatan makan untuk kedua anaknya.
"Yakin Ars sudah rela ninggalin kamar ini?" Goda Mama. Sontak Arsena langsung terkejut ingat kejadian kemaren sore.
"Sebenarnya sih masih pengen disini lebih lama, Ma. Tapi Gimana kabarnya perusahaan kalau aku tinggal terlalu lama. Aku sih malah senang disini, asal sama Andini. Iya kan sayang?" Arsena menjawab dengan santai, sesekali melirik ke arah Andini yang mendadak menjadi pemalu.
Sedangkan Papa dan Mama saling pandang. Senyum mengembang di bibir keduanya. " Papa masih kuat gendong dua cucu sekaligus, jika memang kalian akan diberi rezeki anak lagi ."
Andini menunduk malu. Sungguh rasa malu yang amat besar. Andini juga yakin pasti Mama Rena nggak bisa nahan untuk tidak bilang Papa Johan tentang kepergok main kuda kuda'an semalam.
"Akan Arsen kabulkan Pa, Arsen masih mampu bikin banyak cucu untuk papa. Sepuluh lagi juga masih mampu." Walau terdengar bercanda, dihati Arsena tetap mengaminkan ucapannya.
"Auhhh." eluh Arsena, Andini mencubit pinggangnya sekeras kerasnya.
" Mau bikin grup kesebelasan haaah?"
" Itu kan umpama sayang, beneran juga malah senang. seperti umpama banyak anak banyak rezeki."
" Ngomong apaan sih, dari pada ngomongin kak Arsen yang sudah nggak waras, mending mikirin kapan pernikahan Arini, Pa. Masa mikirin kak Arsen melulu."
Andini tersenyum dengan Arini yang polos tapi sudah ingin menikah.
"Excel sudah siap, kita pulang ke Surabaya ya sayang." Arini mencium pipi gembil Excel kanan dan kiri. Membuat si kecil reflek menarik rambut Arini.
"Tante kok di tarik sih rambutnya, Excel mau nakal ya sama Tante." Arini mencium lagi dengan gemas. Membuat Excel ingin menangis.
"Sudah Arin. Excelnya lagi nggak pengen bercanda itu," protes Mama yang melihat Arini berlebihan menggoda Excel.
"Oke, fik, kita pulang sekarang, sebelum hari makin panas." Arsena dan keluarga berjalan beriringan keluar kamar hotel. Seorang office boy sudah menunggunya di depan pintu. Arsena menyerahkan kopernya. Dia segera membawanya turun lewat lift.
Liburan di pulau Weh sesungguhnya sangat menyenangkan. Andaikan pengangguran mungkin Arsena akan tinggal lebih dari sebulan, kalau perlu lebih. Tapi sayangnya itu tak mungkin.
____
Arsena dan keluarga sudah sampai di halipad, tempat dimana halicopter pribadi nya singgah selama dia liburan. Pilot Davit segera membuka pintu dan menurunkan tangga. Orang yang pertama masuk adalah Arini. Arini memilih duduk paling depan di sisi Davit. Sedangkan Papa dan Mama duduk di tengah bersama anak anak, Andini dan Arsena duduk di belakang.
"Sayang, kok jemari kamu dingin banget sih." Arsena menggenggam jari Andini. Sebenarnya bukan hanya jari, tapi kakinya juga ikut dingin.
"Aku pobhia sama ketinggian, Hubby. Aku takut naik pesawat," Jelas Andini dengan Tubuhnya menggigil.
"Tenang ada aku." Arsena semakin mengeratkan pelukannya. Berangkat kemaren Andini tak berani membuka matanya hingga tiba di pulau. Dan untung sekarang ada Arsena yang bersamanya.
Anak-anak justru terlihat sangat senang melihat awan berarak dan burung di angkasa. Excel bahagia dengan memainkan kakinya, berjingkrak jingkrak. Diangkatnya tinggi- tinggi lalu dijatuhkan ke pangkuan Omanya. Tangannya menepuk nepuk seperti sedang ingin tepuk tangan.
Cello juga melakukan hal sama, sayangnya dia haus dan minta minum susu. Cello menggigit dotnya sambil memainkan jarinya ketika di dalam helicopter.
" Oh Tuhan, kamu takut banget ya? Sampe keringat dingin keluar begitu." Arsen sudah memeluk Andini erat.
"Andini sejak kecil belum pernah naik helicopter?" tanya Mama
"Belum Ma, kepulau Weh ini pertama kalinya." Ujar Andini jujur.
"Arsena waktu kecil sangat senang , seperti putranya ini." Mama menciumi cucunya dengan gemas. " Iya kan Pa?"
"Iya Ndin, bahkan setiap minggu dia minta jalan- jalan naik helicopter dan mendarat di bukit yang tinggi. Lalu kita camping di tempat itu. Kalau nggak salah waktu itu usianya menginjak sepuluh tahun," terang papa.
"Tapi kenapa kamu nggak belajar mengemudikan halicopter hubby?" Tanya Andini sambil menatap wajah suaminya. Kepalanya masih setia menempel di dadanya.
"Papa nggak izinin, papa khawatir Arsena akan pergi kemanapun yang ia mau dan tak tahu waktu. Sedangkan dia harus belajar banyak hal," sahut Papa.
"Ars, sudah menjadi kebanggaan ku sejak lahir, aku yakin kehadirannya di dunia akan membawa kebahagiaan untukku dan masa datang. Oleh sebab itu papa membiasakan dia melakukan apapun didampingi seorang pelayan."
Andini mendengarkan Johan berbicara, kata demi kata dengan seksama. Ketakutannya berlahan terlupakan. Pelan pelan Andini bisa merasakan nikmatnya naik perahu udara itu.
Tak terasa perjalanan hampir memakan waktu dua jam. Kini mereka sudah hampir sampai di halipad pribadinya. mansion miliknya sudah terlihat dengan megah di sebuah bukit yang tinggi.
Kepulangan Andini dan yang lainnya sudah di dengar oleh keluarga yang ada di rumah. Dara dan Zara sudah menyambutnya dengan suka cita mereka sudah menanti lebih dulu di sekitar Halipad.
__ADS_1
Halicopter terdengar dari kejauhan, Zara, Dara, Miko dan Mert segera berdiri dari duduknya. Menatap ke arah datangnya helikopter. Senyum mengembang di bibir masing-masing.
Helikopter terus berjalan kian mendekat dan nampak semakin besar dan terakhir landing di sebelah halicopter yang satunya. Kini dua transportasi udara itu berjajar rapi sesuai tempatnya.
Pintu halicopter terbuka, Davit nampak lebih dulu turun, tak lupa membuka pintu lain dengan remote control. Setelah pintu terbuka, seluruhnya, keluarga yang lain pun ikut menyusul keluar melewati tangga.
Dara dan Zara berlari menghambur ke pelukan Andini.
"Hey kalian kenapa? Seperti aku sudah pergi setahun saja?" Ujar Andini agak risih, sejak tadi merasakan kurang enak badan dan merasakan perutnya mual.
"Tolong jangan dekat dekat, aku sepertinya alergi naik helikopter." Andini melepas jaketnya.
"Hoek Hoek." Andini memuntahkan isi perutnya.
"Ya Allah Kak, naik helikopter itu enak banget loh, kok sampai mabok sih." ujar Dara menimpali. Yang pernah merasakan naik pesawat merk terkenal waktu bulan madu ke Istanbul dulu.
"Entahlah Dara, kakak memang kampungan."
"Istriku kenapa? Tadi dia baik baik aja di pesawat." Arsen khawatir dengan Andini yang tiba-tiba pucat.
"Ini Tuan, dia sepertinya mabok, alergi naik pesawat." ujar Zara yang ikut panik, membantu menggosokkan minyak angin ke tengkuk Andini.
Ya Tuhan, Sayang. Kok bisa sih. Ma, Pa, anak-anak baik baik aja kan?" Arsena mengecek kondisi kedua bayinya.
" Anak anak malah happy banget Ars."
"Kok bisa sih sayang," Arsena mengusap kening Andini yang bercucuran keringat.
"Aaaars." Pekik Andini yang merasakan tubuhnya terbang dengan tiba-tiba.
Arsena terpaksa harus menggendong Andini di depan banyak orang menuju mobil. Mama dan Papa saling pandang dan tersenyum. Sedangkan Zara dan Dara bergandengan layaknya seorang sahabat.
"Kak Davit, aku mau donk digendong seperti Mbak Andini. Aku juga pusing banget nie." ujar Arini pura pura memegangi kepalanya.
"Jangan sekarang, Sayang. Nanti kalo udah halal mau minta gendong seharian pun aku turutin." ujar Andini mengelus rambut kekasihnya penuh kelembutan.
Kak Davit, sweet banget sih. Janji ya. Tetep sayang seperti Kak Arsen kepada mbak Andinibwalau kita sudah banyak anak nanti.
"Iya, semoga nanti sayangku padamu akan lebih hebat lagi dari Kak Arsen."
Dara dan Zara terkejut melihat Arini dan Davit begitu mesra.
Apa yang telah terjadi di pulau Weh? Tanya Dara pada Zara.
Iya, sepertinya telah terjadi sesuatu yang besar. Tapi kita tidak tau apa apa." ujar Zara melihat mantan kekasihnya bermesraan.
"Resiko bumil Zara, diam dirumah, kita ketinggalan sebuah berita penting," ujar Dara.
"Sayang, Davit dan Mama akan naik mobil yang satunya. Dan kita akan bersama Kak Arsen." Miko memberi kode pada istrinya.
Aku juga ikut Nona Andini. Zara menimpali.
"Ah kalian ini, mana muat perut kalian pada gedhe-gedhe semua," celetuk Arsena.
"Muat kak, yang Gedhe cuma perutnya. Badan yang lainnya tetep langsing."
"Makanya jangan suka ngelawan sama suami, nah kena azab kan kalian berdua." Canda Arsena lagi.
Miko dan Mert hanya tersenyum. "Mentang mentang istrinya paling ramping."
"Bukan Azab karena ngelawan suami, cuma kebanyakan makan pisang." Mert menimpali.
"Ih, apaan sih Mert, pisangnya nggak kita makan. Cuma dimainin doangk kok." Dara ikut menyahut.
"Bicara apa sih kalian, aku mual nih dengar kalian ngobrolin pisang. Pisang kok di buat mainan." Andini makin ingin muntah dengar adik adiknya ngobrolin soal pisang, yang nggak jelas itu.
"Mbak Andini jangan jangan mabok pisang lagi ini, kan disana kalian liburan, pasti banyak waktu buat makan pisang."
"Mert, lanjutin ngobrolin pisang, gue timpuk pake sandal mau!"
Zara tertawa suaminya mendapat amarah dari Andini.
Dara justru terpingkal pingkal menertawakan kakaknya yang dibilang Mert mabok pisang.
__ADS_1
"Sayang jangan-jangan memang benar yang dikatakan Mert, kamu mabuk pisang lagi. Aku kan sudah ganti pil kamu dengan vitamin dan itu juga sudah lama."
"Wah pasti benar itu. Kak Miko kita mampir ke apotik ya, beli tespask buat Mbak Andini." Zara langsung nyambung.
" Jangan, aku nggak mungkin hamil lagi. Aku masih sering menyusui Excel dan Cello. Jika aku masih sering menyusui kemungkinan hamil sangat kecil.
"Gimana ni kita mampir apotek nggak?" Tanya Miko. "Biar yakin mabok pisang apa nggak." imbuhnya lagi. sambil mengurangi kecepatan mobilnya.
" Astaga, Kak Miko diam diam juga ikut dengerin kita ngobrolin pisang. Kakak fokus aja sama jalanan," protes Dara
"Dara Sayang? Kamu nggak ngidam apa apa lagi kan? Mumpung kita di jalan? Rujak Bi Enok misalnya?"
'Nggak Kak. Langsung pulang aja, kasian mbak Andini sepertinya payah banget dia.
"Ya sudah kalau begitu." Miko segera membelokkan mobilnya menuju gang masuk Mansion. Sampai di garasi Arsena langsung membuka sealt belt dan membantu Andini membuka sealt belt juga.
"Aku bisa jalan Ars." ujar Andini payah.
"Bener sayang."
"Bener tapi nggak yakin akan sampai kamar, kepalaku berputar putar.
"Ya udah aku gendong lagi aja." Arsena langsung menggendong istrinya ala bridal style.
"Kak Miko aku juga mau di gendong sama Kakak. Kepalaku juga terasa berputar putar." Dara ikut ikutan.
"Kamu juga Sayang?" Mert bertanya pada Zara.
"Ah bolehlah."
Jadilah sebuah tontonan, ketiga pria menggendong istrinya masing masing.
Oma yang menunggu para cucunya di ruang tamu, kaget melihat para suami menggendong istrinya masing masing.
"Astaga ini pada kenapa? Kok main gendong gendongan?"
"Ini Oma, istri kami sedang mabok kebanyakan pisang," jawab Miko asal.
"Sejak kapan pisang bikin mabok?" Tanya balik Oma.
"Ratna, Ratih, buruan bikin teh buat cucu ku, mereka pada mabok ini."
"Miko emang pisang dari pulau Weh itu bisa bikin mabok ya? Boleh nggak oma lihat pisangnya seperti apa?"
"Kak Arsen! Kak Miko! Habis antarin istri kalian segera berkumpul di ruang keluarga. Oma penasaran sama pisang yang bikin mabok, jadi nanti kalian semua, wajib kasih tau sama Oma pisang kalian masing masing." Mert berbicara sambil cengengesan.
"Mert kamu sudah gila ya?" Arsena kesal dengan kelakuan Mert. Kalau tidak sedang gendong Andini dia pasti sudah menimpuk Mert dengan sepatunya.
Sedangkan Mama, Papa, Davit dan Arini baru sampai di garasi. Mereka segera menidurkan Excel dan Cello di kamar bayi lewat lift, jadi tak bertemu dengan Oma yang ada di ruang tamu.
"Nona, kakak ke mess dulu ya?" Pamit Davit usai mengunci mobil lalumenyerahkan kuncinya pada Arini.
"Iya, Nanti telepon Arini ya?" ujar Arini manja. Bibirnya mengukir senyum yang sangat manis.
" Pasti, Sayang." Davit benar benar pergi, Arini segera masuk lewat ruang tamu.
"Arini sayang? Cucu Oma? Kamu sehat kan? Bagus rupanya tubuh kamu kebal dengan pisang yang bikin mabok itu."
"Pisang apaan sih Oma?" Arini mengernyitkan dahinya. Bingung.
"Jadi kamu nggak makan pisang yang bikin mabok seperti mereka?" Bagus kalau gitu."
"Nggak ada pisang Oma disana. Yang ada itu ikan lumba-lumba. Kalau lumba-lumba banyak Oma. Tapi nggak bikin mabok." Lumba lumbanya bisa lompat-lompat gitu." Arini menjelaskan sambil tangannya memperagakan mamalia itu berenang dan melompat
"Oma ada ada aja, pisang apa'an bikin mabok." Arini menggerutu sambil berlari ke kamar. Dia sudah sangat merindukan kamar miliknya yang menjadi surga di dunia dengan desain warna serba pink itu.
Akhirnya aku dengan Kak Davit akan menikah. Dan cinta Kak Davit hanya akan menjadi milikku. kita akan saling memiliki.
"Kak Davit I Loveeeeeeee! Youuuuuuuu!" Arini memeluk boneka bear dengan bahagia.
"Arini kamu sudah mulai mabok ya?" Oma mendatangi Arini, karena mendengar teriakan Arini yang memekakkan telinga dari dalam kamarnya.
"Hehe Oma. Mungkin Oma." Arini nyengir kuda kepergok sedang memanggil Davit dengan keras.
__ADS_1
* happy reading.