Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 57. Aku ingin menjadi satu-satunya.


__ADS_3

Pagi sangat cerah, secerah hati Arsena Atmaja. Tak ada hari yang sangat membahagiakan selain hari ini.


Arsena baru bangun pukul setengah tujuh, pergulatan dengan banyak gaya sudah ia coba hingga semalam suntuk.


Hari ini ia memutuskan untuk libur kerja. Soal pekerjaan, Vina dan Galang sudah bisa menghandle semuanya.


Saat membuka mata, Andini sudah tak ada di sampingnya. Andini ternyata sudah bangun sejak subuh tadi. Arsena segera bangkit, ia mengkhawatirkan kondisi Andini, karena semalam ia kelelahan dan jalannya terseok.


Arsena turun dari ranjang memakai sandal tipis, khusus di pakai di dalam ruangan. Pagi ini ia sedang malas mandi, menyentuh air di bak mandi saja bulu kuduknya sudah berdiri. Air di kontrakan rasanya begitu dingin.


Selesai gosok gigi dan mencuci muka, Arsena segera menyusul Andini di dapur. Andini terlihat memakai baju tidur berbahan sunly dengan rambut masih dililit oleh handuk.


"Awww ... Ars." Andini memekik ketika Arsena tiba-tiba memeluknya dari belakang. Menempelkan dagunya di pundak.


Jantung Andini dag dig dug. Ia sangat terkejut, karena Arsena sengaja datang dengan memelankan langkahnya. Hampir saja Andini memukul dengan spatula karena sebuah gerak reflek.


"Ars, bisa nggak jangan bikin kaget, kamu mau aku jantungan." Andini benar-benar kaget dengan tingkah Arsena di pagi hari, semakin mengenal prianya, ternyata dia juga memiliki sifat usil luar biasa.


Arsena tertawa melihat Andini terkejut dengan ekspresi galak. Andini terlihat serius ia memelototi Arsena. Membuat pria itu segera menghentikan tawanya.


"Jangan ngambek donk, Sayang. Siapa suruh ninggalin aku sendiri di kamar. Aku masih kangen." Arsena membela diri. Ia kembali memeluk Andini dari belakang dan menciumi tengkuknya.


"Kan aku harus masak. Aku lapar Ars, semalam aku lupa makan, sedangkan kau tak memberi aku waktu untuk istirahat.


"Aku juga lapar, ya udah buruan, biar cepat matang. "


" Apa? Kalau mau cepat matang, bantuin donk, kamu potong bawang merahnya, lalu tumis di wajan ini," Andini sengaja mengerjai Arsena.


"Oke, siapa takut, aku juga pernah, memotong bawang merah, bagiku itu kecil dan pekerjaan mudah." Arsena menjentikkan jari kelingkingnya, dibalas senyuman oleh Andini.


"Ini tuan Ars, bawang merahnya, potong yang rapi." Andini menyodorkan telenan dan banyak bawang merah.


Arsena segera mengambil belati, mulai memotong bawang merah yang sudah selesai di kupas dengan potongan asal saja. Sudah berulang kali di protes oleh Andini, tapi Arsena masih bandel. Ia memotong semaunya. Lama-lama Andini membiarkan saja Arsena memotong sebisanya.


"Ayo buruan tuan Ars, kuah soto ini harus segera diberi taburan bawang goreng," ujar Andini sambil mengaduk aduk kuah yang hampir mendidih, aromanya sudah harum khas sayur soto hingga memenuhi seluruh dapur.


Arsena sesenggukan, ia berulang kali menyeka airmata nya. "Kenapa aku menangis sekarang, seumur hidup aku belum pernah menangis seperti ini. Dasar bawang, mulai hari ini aku akan benci karena dia sudah menyakiti mataku.


Andini tertawa geli, suaminya ngomel-ngomel, gara gara bawang merah."


"Tuan Ars. Sekarang remas pake garam lalu dicuci setelah itu masukan ke dalam penggorengan seperti ini."


"Oke Nona."


 


"Srenggg!" Suara nyaring dari minyak goreng.


Arsena takut ia bersembunyi dibelakang Andini. "Sayang, bagaimana kalau kau terkena minyaknya, mulai sekarang kamu jangan masak lagi. Kita pesen aja, atau biar bi Um yang memasak."


Andini hanya tertawa sambil geleng kepala. "Biar rasa masakan itu lezat, kita butuh perjuangan lebih, sama seperti cinta, biar Tuan Arsena makin sayang, aku harus berusaha untuk menyenangkan hatinya."


"Emuahc ..." Arsena mengecup tengkuk Andini dan memberi satu tanda merah. "Papa bener bener hebat pilih istri buat aku."


"Ars, kenapa kau suka sekali membuat tato seperti ini, aku akan jadi bahan bulyng kalau di kantor." Andini menyentuh tengkuknya bekas hisapan Arsena.


"Kenapa? Apa yang akan mereka bilang? Mereka tak akan ada yang mengganggumu, karena mereka tau kau sudah bersuami." ucap Arsena kembali bersikap usil. Menggosok gosokkan juniornya pada bokong Andini.


"Ars, tolong berhenti, aku masih memasak ini."


"Lanjutkan, aku cuma kasih suport aja, biar kamu masaknya cepet selesai dan kita bisa ...." Arsena makin merapatkan tubuhnya.


"Dasar suami mesum, minggir ! jika aku terus menuruti keinginanmu itu, aku besok bisa-bisa tak bisa jalan."

__ADS_1


" Aku akan menggendongmu, tubuh dan lenganku masih siap untuk menggendongmu walaupun keliling rumah ini sebanyak tujuh kali.


" Ars, kamu sweet sekali." Andini menoleh kearah Arsena lalu mendorongnya menjauh. ia tak suka acara masaknya di ganggu.


 


Masak sudah hampir selesai, Arsena kini menyiapkan piring di meja makan, tak lupa sebelumnya ia juga mengelap semua alat yang akan digunakan untuk makan termasuk sendok dan garbu. Seumur hidup ini pertama kali Arsena melakukan pekerjaan yang menurutnya konyol.


Andini membawa dua gelas teh hangat, menaruhnya di meja, kembali lagi ke dapur untuk mengambil sayur dan lauk yang sudah siap untuk di hidangkan.


"Tuan Ars, semua sudah siap, waktunya sarapan."


Arsena sangat bersemangat, ia segera mengambil piring yang tengkurap di depannya.


Andini segera mengambil dua centong nasi pulen untuk Arsena dan secentong untuknya sendiri.


Mereka kini duduk berdampingan, layaknya keluarga harmonis. Sesekali bercanda dan saling menyuapi.


"Buka mulutmu ...."


" Kamu juga, kita gantian ya."


Tring! tring!


"Bentar ya!" Andini beranjak, hendak mengambil handphone miliknya yang tiba-tiba berdering.


Habisin dulu makanannya, entar rasanya berubah." Tahan Arsena, dengan gesit ia meraih pergelangan tangan Andini.


"Khawatir kalau penting, Ars."


Arsena memilih melepaskan pergelangan tangan Andini. Sudah sifatnya terlalu perduli dengan orang lain, dicegahpun rasanya percuma.


"Hallo. Kau kah ini girl."


"Hallo. Iya, ini aku Andini."


"Iya." Jawab Andini singkat, Andini selalu menatap ke arah Arsena, ia takut kalau Arsena akan mencari tau siapa si penelepon.


"Andini, apa kau baik saja." Tanya Miko lagi.


"Iya."


"Kenapa jawabanmu hanya, iya, iya saja. Apakah kau tak suka aku meneleponmu."


"Tidak. Aku senang kau baik saja."


"Hai Girl, aku ingin bertemu besok, ada yang ingin aku bicarakan, tolong jangan menolak?"


" Mmmm, tapi aku ...."


Arsena mulai curiga dengan sikap Andini yang mendadak gagu saat berbicara dengan si penelepon.


Arsena juga meninggalkan sarapannya, ia berjalan menghampiri Andini yang sejak tadi berdiri mematung.


"Hallo, Andini apa kau masih disana."


"Andini." Miko merasa Andini tak seperti biasanya.


"Iya ...." Jawab Andini makin gusar.


Arsena menengadahkan satu tangannya, ia meminta handpone yang ada di genggaman Andini. "Berikan padaku."


Andini semakin panik, ia memilih menyerahkan handphonenya, bagaimanapun Andini harus jujur dengan suaminya. Andini tak mau lagi ada rahasia diantara berdua.

__ADS_1


Arsena menempelkan telepon genggam di telinganya. Mendengarkan semua ucapan Miko dari seberang


Andini khawatir, ini akan jadi kemarahan pria yang pernah memiliki hati dingin sedingin es di kutub utara itu. Andini selalu menatap Arsena hampir tanpa berkedip.


Arsena mematikan teleponnya, meletakkan kembali di atas meja. Arsena membalas tatapan Andini yang sudah sangat ketakutan.


"Andini, ayo kita lanjutkan sarapan. Setelah itu kita akan berkemas-kemas untuk pulang."


Arsena membalikkan badan ia kembali duduk di kursi kecil di ruang makan.


Sedangkan Andini masih mematung, Arsena tak marah dengannya, justru membuat hatinya bertanya.


"Kenapa kau tak memarahiku Ars?"


"Duduklah, lanjutkan makanmu, nanti dingin, rasanya jadi nggak enak." Kata Arsena wajahnya menjadi tak sebahagia tadi. Ia menghabiskan makannya dengan lahap lalu pergi keluar menelepon seseorang.


Andini patuh, ia kembali menghabiskan sarapannya. Disisi lain hatinya lebih tenang. Ia tahu kalau Miko baik-baik saja.


Selesai sarapan, Andini masuk kamar. Memasukkan baju ke dalam koper kecil. Setelah dirasa semua tak ada yang tertinggal. Andini segera ganti baju dengan baju sederhana, kaos t-shirt warna putih dan celana jeans biru. Rambut yang di ikat tinggi dan foni disisir ke depan hingga menutup separuh keningnya.


Selesai berkemas, Andini menenteng koper ke depan. Arsena sudah menunggunya bersama Doni di ruang tamu. Doni langsung meluncur setelah Arsena menghubunginya.


"Nona, biar saya taruh di bagasi barang-barangnya." Doni melihat Andini membawa koper, ia segera mengambil alih dari tangan majikan mudanya.


Andini menyerahkan pada Doni, setelah selesai berpamitan dengan para tetangga, Andini segera menyerahkan kunci pada orang yang dipercaya untuk mengelola perumahan.


Andini dan Arsena duduk di belakang. Andini menoleh ke arah Arsena, pria yang selalu tampan dilihat dari segi apapun. Arsena juga menoleh ke arah Andini, bibirnya mengukir sebuah senyuman. Andini membalas senyumannya dengan tulus.


Arsena menyusupkan tangannya di punggung Andini lalu mengeratkan tangannya. Membuat Andini merasa hangat di dekatnya. Arsena suka sekali mengecup puncak kepala Andini. Menghirup rambutnya yang wangi.


"Jalan sekarang, Pak." Titah Arsena.


"Baik Den." Doni mengangguk, lalu menjalankan mobilnya pelan, menyusuri jalan keluar dari perumahan.


"Ndin boleh aku bertanya sesuatu?" Arsena membuka obrolan ketika di dalam mobil.


"Silahkan, Ars."


"Tolong jawab dengan jujur, apakah saat aku membencimu, menyiksamu , dihatimu pernah terbersit keinginan untuk berpisah lalu menikah dengan Miko."


" Ars, apa yang kau tanyakan?"


" Jawab saja Andini ...."


Andini kini menjauhkan tubuhnya yang sejak tadi condong ke dada Arsena. Ia memilih memandang ke arah samping. Mengamati bunga bugenvil yang sengaja di tanam di sepanjang jalan keluar perumahan.


Andini bingung harus menjawab apa, jika jujur khawatir apa yang dikatakan akan membuat Arsena salah paham.


"Jujur saja Andini, aku tak akan marah, aku memang salah, harusnya selama ini aku yang selalu ada di sampingmu. jika itu aku lakukan, pasti tak ada Miko mendekatimu.


"Aku bodoh, aku menyia-nyiakan kamu, selama ini aku malah menginginkan Lili, mantan kekasih Miko."


-


-


"Jawabannya adalah, iya. Miko sangat baik, selama ini mungkin dia pria yang terbaik yang pernah aku temui, jika kau mengijinkan aku ingin berteman baik dengannya."


"Kalau aku boleh minta satu lagi padamu, tolong bujuk dia agar kembali bekerja di perusahaan papa."


Andini meraih tangan Arsena, menautkan jemarinya, rasanya berkata jujur lebih baik untuknya, daripada berbohong, yang akan menimbulkan kebohongan berikutnya.


Arsena kembali memandang wajah Andini, mengecup rambutnya, menempelkan bibirnya disana sangat lama " Sekali lagi aku minta maaf, Ndin. Dan sekarang kau hanya milikku. Aku ingin mulai hari ini hanya aku yang paling dekat denganmu. hanya aku satu satunya pria yang akan kau butuhkan."

__ADS_1


"Apa artinya kamu setuju dengan keinginanku? Meminta Miko untuk kembali bekerja?"


"Itupun jika dia mau." Arsena menarik nafas panjang. keinginan Andini lumayan berat.


__ADS_2