Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 194. Berasa malam pertama.


__ADS_3

Arsena dan Andini sudah sampai di Hotel Rosella. Belum juga menapakkan kaki dilantai hotel. Dua office boy sudah menyambutnya dengan ramah tamah. Beserta dua pengawal berbaju serba hitam.


Ya, pemilik hotel Rosella masih sahabat Arsena. Begitu mendengar sohibnya akan menghabiskan banyak waktu di salah satu kamar VIP miliknya, tentu dia tidak hanya senang, melainkan juga suatu kehormatan yang besar.


"Tuan, Nona Jangan heran jika mereka memperlakukan Anda berlebihan, semua yang dilakukan oleh office boy ini sudah perintah dari atasan mereka." ujar Davit saat membuka pintu, dengan tak mengurangi kadar kesopanannya.


"Ya, terima kasih Davit, karena aku akan ada disini beberapa hari, tolong kau fokus jaga Arini sebaik mungkin. Jangan beri celah sedikitpun pada pria untuk mendekatinya, aku ingin dia fokus pada kuliahnya dulu." Arsena berkata dengan aura serius. Ucapannya baru saja bagaikan cambuk bagi Davit.


" Siap Tuan." Pandangan Davit menunduk, dia tak berani menatap mata elang Arsena. Arsena tak ambil pusing dengan perubahan sikap Davit yang semakin kaku di depannya. Dia hanya berfikir mungkin Davit sedang ada masalah pribadi dengan orang lain.


Andini dan Arsena berjalan menuju lift, dua pengawal untuk tamu VIP terus saja mengekor di belakang mereka mengantarkan hingga sampai di kamar mewah yang hanya terbuka dengan nomor code itu.


Dua orang office boy dengan cekatan membawa baju ganti untuk berdua yang sudah dibeli sendiri oleh Arsena sebelum berangkat ke acara universary nya.


" Kalian tinggalkan kami saja, datanglah bila aku memanggil." Perintah Arsena dengan nada dingin, saat tiba di depan pintu.


"Siap Tuan. Jangan lupa ini kartu nama dan nomor telepon kami. Kami akan selalu siaga di depan."


" Ya ya pergilah." Arsena mengibaskan tangannya.


"Jutek amat sih. Biasa aja kali." Andini menggoda suaminya yang terlihat risih karena dua pengawal tadi.


" Kita kan mau bulan madu, sayang, jelas aku risih donk kalau dia stanby di depan pintu, bisa bisa dia dengar suara kita nanti."


" Emang ini bilik, dia bisa dengar." Andini hanya menggelengkan kepala sambil mengulum senyumnya.


Andini dan Arsena segera menaruh kopernya di dalam lemari besi. Lemari yang hanya bisa dibuka dengan nomor kode juga. Usai merapikan barang-barang Andini duduk di depan cermin rias.


Tubuh Andini terasa lengket oleh keringat, Dia ingin membersihkan diri, biar segar dan wangi. Sebelum mandi Andini terlebih dahulu menghapus make up lalu melepas ikat rambut dan jepit kecil kecil di puncak kepalanya .


Arsena mendekati Andini, Dia membantu melepaskan jepit dikepala istrinya, saat itu juga tangan nakalnya mulai bergerak agresif, otak mesumnya mulai bangkit. Tangannya menelusup ke bagian dada Andini yang tertutup dengan kacamata kuda tanpa tali itu. Andini segera menahan tangan suaminya.


"Ars, nggak sabar banget sih. Aku ingin mandi dulu." Andini menggenggam tangan suaminya lalu menciumnya. Mendongakkan kepala sebentar dan tersenyum.

__ADS_1


"Puasanya sangat lama, jangan buat aku menunggu lebih lama lagi sayang." Arsena merengek seperti bayi minta ASI. Arsena meremas juniornya yang sudah mengembung. Padahal tuxedo yang dipakai saja belum dilepas.


" Sabar lah sebentar lagi," ujar Andini sambil melepas gaun yang menempel ditubuhnya, Arsena membantu menurunkan resleting berlahan agar tak mengoyak kulit putihnya.


Melihat tubuh Andini yang mulus, Arsena berulang kali menahan salivanya agar tak menetes. Diam-diam tubuh dan rambut yang sehari hari tetap wangi itu dia hirup aromanya.


" Baiklah, biar lebih cepat aku ingin kita mandi bersama." Ajak Arsena tiba-tiba.


"Apa! Kalau mandi bersama, bukan cepat, yang ada kita kemalaman di kamar mandi." Andini bangkit dari duduknya niatnya ingin segera mandi dan makan malam terlebih dahulu baru bermain kuda kuda'an. Namun rencana itu bisa saja berbeda dengan isi kepala Arsena.


Setelah gaunnya lepas dari tubuhnya Andini segera memakai bathdrope lalu masuk ke kamar mandi


Arsena memilih menunggu sambil menatap gerak-gerik istrinya yang semakin membuat otaknya tak waras.


Untuk menahan otaknya yang sulit berfikir jernih. Arsena mulai menyalakan musik romantis dan menyiapkan kejutan kedua. Arsena yakin saat Andini keluar nanti dia pasti langsung klepek klepek tak bisa menolak gejolak cinta yang dia persembakan.


Tiga puluh menit berlalu. Arsena mondar mandir di depan kamar mandi


"Andini ini sebenarnya mandi apa semedi sih Nggak tau apa aku sudah minum jamu sejak pagi tadi." Arsena mondar mandir makin gelisah. Menggaruk tengkuknya berulang kali, namun tak mengurangi kadar hormon testosteron yang terus membuat Adek kecilnya berdiri.


"Surprize!"


"Ars .... " Andini terkejut matanya terbelalak ketika melihat kelopak mawar berjatuhan dari langit langit kamar. Uniknya, jatuhnya sedikit demi sedikit dan pelan, seakan kelopak itu melayang turun secara alami.


Andini membuka tangannya lebar-lebar menyambut jatuhnya kelopak mawar itu dengan bahagia. Senyumnya terlihat begitu tulus. Sorot matanya memancarkan cinta yang sangat besar.


Arsena segera mendekati Andini yang terpana dengan kejutan kecil yang sebelumnya dia request kepada pemilik hotel secara langsung ini. Untuk membuat kelopak mawar berjatuhan seperti di taman ini tentu tak menghabiskan uang yang sedikit.


"Ars, aku suka sekali, ini indah Ars, bunga bunga ini berasal dari mana?" Andini menghirup bunga yang jatuh ke tangannya. Tak menyangka kelopak mawar itu jumlahnya sangat banyak dan terus berjatuhan ke lantai secara berlahan. Lantai keramik yang tadinya berwarna putih bersih tanpa setitik debu kini berubah dipenuhi kelopak mawar.


"Kamu suka sayang?" Arsena memeluk dari belakang.


" Tentu ini cantik sekali." Andini terus mendongakkan kepalanya, mengamati darimana asalnya jatuhnya bunga mawar.

__ADS_1


Sayang, Arsena menyibak rambut Andini kebelakang. Menatap wajahnya lekat lekat lalu menarik dagunya.


Andini memejamkan mata, begitu juga Arsena. Perlahan Arsena mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka saling bersentuhan. " Andini berjanjilah kita akan mengarungi samudra cinta ini hanya bersamaku. Kau tak akan pergi dariku apapun yang terjadi."


"Iya, Suamiku."


"Katakan kau berjanji," lirih Arsena.


" Iya aku berjanji," ujar Andini dengan mata masih terpejam.


Tadi hanya hidung yang bersentuhan, kini Arsena kembali mengulum bibir merah basah yang sudah menjadi candu untuknya itu.


"Ars, Andini sekali lagi mendorong Tubuh Arsena agar menjauh. Andini segera duduk di depan meja rias. Ia teringat kalau rambutnya masih basah.


Arsena mendekati Andini yang mencoba mengeringkan rambut sendiri. "Sini aku bisa bantu."


Arsena mulai menggerakkan hair dryer memutari kepala Andini, setelah dirasa rambutnya agak kering sedikit, Arsena menyudahi melakukan aktifitasnya. " Seperti ini kurasa cukup, nanti juga pasti akan basah kembali.


" Ya seperti ini saja sudah cukup, Ars." Andini meraba rambutnya yang lumayan kering. Tercium aroma wangi sampo yang dipakainya.


Andini berdiri dari kursi dia hendak mengambil baju yang ada di koper. Namun Arsena mencekal lengan Andini dengan kuat-kuat.


"Kenapa aku merasa kau menghindari ku?"


"Tidak Ars, aku hanya." Wajah Andini menunduk tak berani menatap sorot tajam dari suaminya. Andini memilih menyerah apapun yang akan dilakukan Arsena padanya hari ini dia akan pasrah. Toh dia tak mungkin menundanya lagi. Bukankah yang terjadi sekarang juga atas izinnya, dia yang mengirimkan surat, mengibarkan bendera perang.


"Kenapa?" Tanya Arsena lagi.


" Aku gugup saja, entahlah aku merasa sepertinya akan kembali pada malam pertama kita saja."


" Tenang, Sayang. Aku bisa pelan-pelan. Jangan takut." Arsena mengecup kening Andini dan berusaha menghadapi istrinya dengan sabar. Andini bisa merasakan bibir Arsena mendarat dengan hangat di keningnya.


*Happy reading.

__ADS_1


* jangan lupa bagi Votenya ya biar Mak author tambah rajin ngehalunya. mumpung hari Senin nih kawan.


__ADS_2