Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 127. Resah


__ADS_3

"Arsena cucuku, Oma nggak mau kamu pergi."


Oma menangis di sudut kamar hingga dadanya terasa sesak.


Rumah yang tadinya penuh dengan aura positif kini mendadak menjadi panas bagaikan neraka.


"Brakk!!" Johan melempar asbak keramik kearah Rena, untung tak mengenai wajahnya. Asbak itu melukai lengan Rena dan jatuh kelantai.


Anggota keluarga tak ada yang berani bergeming dari tempatnya.


"Aku yang membawa andini ke rumah ini, siapapun yang tak suka pada kehadirannya. Mohon berdiri disini!" Kata Johan dengan emosi yang sudah berapi api. Suaranya lantang memenuhi ruang tamu.


"Kenapa kalian semua diam? ayo cepat tunjukkan wajah kalian?"


Semua orang diam seperti patung. Bahkan jika ada bagian tubuhnya yang gatal sekalipun mereka tak berani mengangguk. Johan yang terlihat ramah, tapi jangan diremehkan kalau sedang marah.


"Apa ada lagi selain Rena?"


"Pa, aku menyesal, aku janji akan ...."


"Diam !! Siapa yang menyuruhmu membuka mulut!"


Nafas Johan naik turun, kali ini dia tidak main-main dengan ancamannya.


" Rena, aku beri waktu satu minggu. Jika Andini dan Arsena tidak ada di rumah ini lagi sudah kupastikan diantara kita tidak ada hubungan lagi."


"Pa Ampuni Mama, Pa." Rena merangkak mendekat dan merangkul kaki Johan.


Johan membiarkan Rena histeris sendiri tanpa ada rasa kasihan.


"Mbak, berdiri jangan seperti ini." Mita baru selangkah ingin menolongnya. Namun Johan sudah mengisyaratkan tangannya untuk Mita agar tak mendekat.


"Jangan ada yang mendekat saat aku belum selesai bicara!" Cegah Johan. Langkah Mita pun terhenti dan kembali ke tempat semula.


"Ini peringatan terakhir, dan tak ada kompensasi lagi!"


"Bawa Andini dan Arsena kembali dalam satu minggu!"


"Aku bertahan hingga saat ini bersama dirimu, memaklumi segala kecurangan yang kau buat, Karena putra kita. Jika dia tak ada bersamamu, maka aku juga tak lagi bersamamu. Cam kan itu!"


Johan mengucapkan kalimat panjang dengan suara baritonnya tanpa beban. Membuat Oma dan Mert terkejut. Ternyata hubungan yang mereka jalin selama puluhan tahun begitu rapuh.


Rena menundukkan wajah dengan sejuta sesal. Dari kedua sudut matanya banjir air mata. Berkata dan memohon seperti apa, sudah pasti hanya akan menambah suaminya semakin emosi.

__ADS_1


Selesai mengucap senjata keramat untuk Rena, Johan pergi entah kemana. Terlihat dia menghubungi seseorang. Mungkin dia khawatir karena melihat dompet Arsena yang tergeletak.


"Mbak, saya bantu berdiri, pegang tangan saya." Mita membantu Rena berdiri, mengulurkan kedua tangannya.


Rena meraih tangan Mita, terlihat Rena dalam kondisi tubuhnya linglung, Mita memeluk Rena. Setelah sedikit tenang, Mita merangkul dan membimbing berjalan ke kamar "Mbak sebaiknya ke kamar, tenangkan diri dulu, Mas Johan pasti tidak serius dengan ancamannya. Dia juga sangat menyayangi Mbak."


"Terima kasih Mita, kamu tidak usah menghiburku, walaupun Mas Johan selama ini nberusaha adil, dia tetap lebih menyayangi dirimu."


"Enggak benar itu Mbak, Mas Johan juga sering ingat mbak saat bersamaku. Kita sama-sama disayangi oleh dia," kata Mita sambil mengambilkan tisu di atas nakas.


" Apalagi saat aku masakin makanan untuk dia, dan itu kesukaan Mbak. Dia pasti ingat Mbak."


"Benarkah dia ingat aku, Mit."


Mita duduk di sebelah Rena. "Tiga puluh tahun itu bukan waktu yang sebentar, buktinya dia masih bersama Mbak Rena."


Tangis Rena mulai reda, dia mengusap air matanya dengan tisu pemberian Mita. " Kamu benar Mit, aku aja yang selama ini suka buat masalah, buat mas Johan suka ngejauh dari aku." sesal Mita.


"Aku bikinkan minuman dulu ya. Biar Mbak lebih baik baikan, mau yang dingin apa anget."


"Dingin aja,"


" Ok."


Rena melangkahkan kaki keluar kamar hendak ke dapur, Namun suara Rena kembali menghentikan langkahnya.


Mita mengangguk setuju," Iya nanti aku bantu, kita cari sama sama."


"Makasi Mit."


"Iya Mbak."


 


 


Arsena dan kawan kawan segera menuju pantai sepanjang perjalanan mereka terus saja saling mengobrol.


Salah seorang dari mereka begitu penasaran dengan kisah Arsena, apakah gerangan yang membuat pasangan sampai bisa tinggal di perkampungan pesisir. Mereka wajar banyak bertanya, aura wibawa Arsena begitu nampak di wajahnya, mereka bahkan takut kalau Arsena adalah salah satu mafia yang sengaja mengasingkan diri.


"Emang Mas, sebelumnya pernah bekerja kasar macam kita ini."


Arsena menggelengkan kepalanya. "Belum Om. Tapi saya pasti bisa. Saya akan berusaha."

__ADS_1


Burhan menepuk pundak Arsena," iya, pasti baru di PHK dari kantor kan? Semangat semoga betah gabung sama kita-kita."


Arsena melengkungkan bibirnya, sebagai tanda setuju. Tak lupa menganggukkan kepalanya mantap. "Semoga saja."


Arsena dan lima kawannya naik ke atas kapal, ternyata ada lima orang lagi sudah menunggu, mereka dari desa lain, pantas saja saat berangkat tak bersama. Melihat ada anggota baru mereka saling mengenalkan diri.


"Bro, Lo yakin mau kerja beginian? Tampang Lo aja seperti Bos besar." ujar salah seorang yang berwajah sangar pada Arsena.


"Buktinya, gue ada disini, berarti gue mau, Mas," jawab Arsena.


Kapal semakin bergerak ke tengah samudra, mereka serempak menurunkan jala, Arsena mengikuti apa yang kawan-kawan lakukan.


Kapal kecil yang dinaiki Arsena semakin merangkak ketengah lautan luas, jujur Arsena takut berada di tengah laut, ketika malam seperti ini.


Tapi ketakutan itu sirna ketika hatinya kembali diingatkan oleh sosok Andini yang manja, Arsena senang istrinya manja. Karena ia yakin pasti efek dari kehamilannya.


"Minum kopi dulu Mas, atau tidur juga boleh sambil nunggu ikan nyangkut." Burhan mendekati Arsena, menuang secangkir kopi hangat lalu menyerahkan pada Arsena.


Arsena menerimanya dengan senang." Makasi, Om,"


"Udah, minum aja, jangan terus bilang makasi, kita satu tim disini, sudah pasti seperti keluarga." Burhan pria yang mengajaknya ternyata dia pria yang baik.


Arsena meniup kopi di dalam gelas, karena embusan angin laut begitu dingin, kopi panas pun cepat menguap berubah dingin.


"Karena pertama kali kerja malam gini, pasti kangen istri Ya."


"Iya bang, istriku hamil muda, aku kepikiran, kalau pagi dia sering mengalami morning sicknes."


"Awalnya kita juga begitu, lama lama sudah biasa. Toh kita siang juga sehari dirumah."


Nasehat Burhan tak berhasil membuat Arsena melupakan bayangan Andini.


Pria itu makin gelisah ketika di sudut ponselnya tak ada tampilan sinyal. Bagaimana dia bisa menghubungi Andini.


Arsena menengadahkan wajahnya ke langit. Bulan sabit sedang menggantung di udara pun tak bisa menghilangkan kegundahan hatinya.


"Andini maafkan aku."


 


Andini pun merasakan hal yang sama, mondar mandir di kamar dengan perasaan gelisah, waktu seakan berjalan begitu lama.


Sedangkan Zara yang disuruh menemani, sudah lebih dulu terbang ke alam mimpi. Andini memaklumi gadis itu pasti lelah, seharian bersih-bersih rumah.

__ADS_1


Andini mengelus perutnya yang mulai terlihat membuncit. sesekali mengajak bicara pada kedua anaknya. "Sayang, maafkan Papa kamu ya, malam ini tak bisa tidur dengan kita, Papa harus bekerja."


Andini duduk setengah tidur dengan mengganjal punggungnya dengan bantal. Aneh sekali untuk malam ini tak ada kantuk yang hinggap, padahal biasanya di jam-jam sekarang kantuknya sudah tak ketulungan.


__ADS_2