
Netra Arini membola ketika melihat surat pengunduran diri dari Davit. " Tidak boleh, Kak Davit harus tetap bekerja di sini, kak Davit tidak boleh tinggalin Arini seperti ini."
Arini berlari menghampiri Arsena yang sedang ada di kamarnya. Kebetulan pintu kamarnya sedang tak dikunci.
Rupanya Arsena sedang bermanja dengan Andini, pria itu membiarkan istrinya duduk di pangkuan, sambil dia memainkan piano. Walau tidak hebat tapi sedikit dikit pria dua anak itu cukup bisa.
Arsena menyanyikan sebuah lagu sambil sesekali menatap Andini dengan senyuman. Sedangkan wanita itu mengalungkan tangannya di tengkuk suami dengan manja.
"Hubby, aku akan buatkan minuman segar." Andini turun dari pangkuan suami. Arsena mengangguk, jemarinya masih tak berhenti memainkan tut piano.
Saat keluar Andini bertemu Arini di dekat pintu, Andini ingin bertanya tapi Arini terlihat enggan berbicara, dia hanya menatap ke arah kakaknya yang sedang memainkan piano memunggunginya.
"Kak Arsen!" Panggilnya.
"Iyap, ada apa Arin?" tanya Arsena menoleh sesaat.
" Apa ini?" Arini menyodorkan map pada kakaknya. "Kak Davit sudah mengundurkan diri. Dia tidak lagi bekerja disini."
"Lalu kenapa? Dia berhak melakukan apa yang dia mau, Davit bukan seorang budak, dia berhak menentukan kebebasannya sendiri," jawab Arsena enteng.
"Kak Arsen, tapi aku mau Kak Davit kerja disini, dia harus selalu bersama Arini, aku nggak mau tanpa Kak Davit."
"Kalau kamu mau seperti itu, buat nyaman dia. Lagipula David mencintai Zara jauh sebelum kenal kamu."
" Arini tidak tau kak, Arini terkejut semua itu terlalu tiba-tiba," ujar Arini mulai sedih.
" Sekarang terserah kamu, pilih sendiri jalan hidupmu, yang jelas Davit sekarang cinta banget sama kamu, dia mengundurkan diri sudah pasti karena kecewa. Setahuku pria itu tak pernah marah jika tidak sedang terluka terlalu dalam."
Arsena melihat wajah Arini yang menitikkan air mata. Dia menunduk tak berani menatap wajah kakaknya. " Arini memang salah. Harusnya kak Davit jangan pergi, biar Arini bisa menemui dan minya maaf."
"Iya, itu yang kamu mau, tapi apa yang terjadi di dunia ini belum tentu berjalan sesuai keinginan kamu." kata Arsena lalu menutup pianonya.
Sedangkan Arini yang tak mendapat pembelaan dia akan pergi, tetapi bayangan Andini yang datang membawa minuman segar di tangannya mengurungkan niat Arini.
"Mbak." Menghambur ke pelukan Andini
"Iya, mbak ngerti. Buruan cari Davit, sebelum dia pergi lebih jauh. Siapa tahu dia masih ada di apartemennya," ujar Andini mengingatkan sambil melepas pelukannya.
Arini segera meletakkan map berisi pernyataan pengunduran diri di tangannya. Perasaannya kacau sekali, tak menyangka sifatnya yang kolokan mampu membuat pria pujaannya pergi jauh. Arini segera keluar mengendarai mobil sporty yang sudah lama di kandang tak pernah dipakai.
Arini mulai melenggak lenggokkan kemudi mobil dengan pelan dan hati hati menyusuri jalanan tengah kota. Dia sekarang sudah sampai di hotel dimana David check-in hingga beberapa hari bersama nenek.
Arini setelah menanyakan pada resepsionis tentang tamu yang bernama Davit Handaru. Sekali lagi harapan Arini menuai kecewa yang amat dalam. Davit sudah cek out baru beberapa menit yang lalu.
Arini kembali meraih ponselnya di tas slempang mini yang melilit di pundaknya.
Mencari pada kolom panggilan terbanyak, munculah nama kekasihnya, Arini segera menempelkan benda pipih itu di telinganya.
Panggilan terhubung, tapi sepertinya pemilik ponsel sangaja mengabaikan ponselnya yang berdering, hingga lagi lagi operator yang menutup panggilannya.
Arini duduk di sebuah kursi, merenungkan kesalahannya, harusnya pagi itu dia tak mematikan ponselnya, harusnya dia tak pergi bersama Nathan. Dan mengabaikan ajakannya.
"Kak Davit, i am sorry." Arini terlihat lesu, dia juga rindu dengan nenek Davit yang begitu menyayanginya. Arini memutus panggilannya yang kesepuluh kali.
Tring! tring!
__ADS_1
Ponsel Arini berdering, dengan nyaring. Ia sengaja membuat suaranya keras, takut kalau panggilan Davit akan terlewatkan.
"Dimana kamu Arin?" Ternyata Mama yang menelepon.
"Ma, Arin sedang di depan hotel, mencari Kak Davit."
" Arin pulang sekarang, mama khawatir kamu mengemudi sendirian, lagian Davit nggak perlu dicari juga akan balik lagi."
" Nggak mungkin Ma, kali ini Arini sudah membuat kecewa Kak Davit."
"Ya udah kamu disitu saja jangan kemana mama. Mama akan minta Nathan untuk menemanimu mencari Davit."
"Nggak usah Ma, Arini bisa sendiri."
"Dengan kamu bawa mobil sendiri? Tidak Arini, mam nggak bisa ngebiarin itu terjadi."
"Ish, Gara gara mama gue jadi manja kayak gini, gue nggak bisa bersikap dewasa." Arini menggerutu sendiri begitu obrolan dengan mama terputus.
'Kemana aku harus mencari Kak Davit lagi. Kak tolong jangan hukum aku seperti ini, oke aku salah, aku cemburu sama kamu dan Zara, aku nggak rela ada wanita manapun dekat dengan Kakak, baik itu masalalu atau masa yang akan datang. Gue sayang banget sama kamu Kak. Bahkan sayang ini belum pernah Arini rasakan dengan pria manapun termasuk mantan mantan Arini.'
Arini menyandarkan tubuhnya pada sebuah kursi panjang yang ada di depan hotel, lebih tepatnya terletak di taman.
"Rin, ngapain kamu disini? Ayuk pulang." Suara familiar itu membuat lamunan Arini buyar seketika.
"Nathan ngapain Lu kesini."
" Ngapain? Ya disuruh jemput Lu pulang. Nyokap elu khawatir." Pria itu menarik paksa lengan Arini.
"Kok kasar sih elu, pake narik-narik gini, gue bisa jalan Nat."
" Nat, berhenti provokasi gue, Kak Davit pria baik. Dia pernah selametin hidup gue." Arini membela Davit.
Arini akhirnya menurut dia pulang bersama Nathan. Saat dijalan Nathan sempat melihat Davit naik bentor. Nathan sengaja mengalihkan pandangan Arini agar tak melihat Davit dan neneknya. yang ada di tepi jalan.
"Rin itu ada toko buku, biasanya suka beli buku Novel"
" Gue lagi nggak mau beli Novel, gue maunya Kak Davit segera ketemu." ketua Arini.
" Masakan Padang yuk?"
"Malas makan. Mau pulang aja."
"Ketus banget sih." Davit mentowel pipi Arini.
"Berhenti bercanda Nathan!" Sentak Arini.
"Oke oke. Tuan putri." Kini tatapan Nathan fokus kedepan.
Arini baru ingat kalau Kakaknya punya tangan kanan yang hebat, ibarat kata mampu mencari jarum di tumpukan jerami, tapi sayangnya dia masih berada dalam sel, andaikan dia berada di alam bebas pasti bisa menemukan Kak Davit nya dengan mudah.
Nathan Lega Davit sudah terlewat jauh pria itu sepertinya menuju Terminal Bungurasih.
'Pergi yang jauh Vit, gue malah suka banget kalau kamu pergi. Kalau bisa nggak usah balik aja, biar Arini sama gue.' Nathan tersenyum Devil sambil mengamati kaca spion. Pria dan wanita tua itu sudah tak nampak lagi.
_____
__ADS_1
Arini sudah sampai di rumah, sekali lagi dia harus merengek manja pada kakaknya Arsena, yang sedang tak mau terlibat masalahnya itu.
Arsena lagi mengalami puber kedua, untung saja dengan orang yang sama. Semenjak Andini kembali kerja, dia sibuk menjadi Bodiguard untuk wanitanya. Tidak perduli di kantor di RS ataupun di rumah dimana ada Andini pasti ada dia.
Sepertinya kumbang jantan itu sudah mulai ingin membuat istrinya mengandung benihnya lagi. Dia tak akan puas sebelum mendapatkan bayi perempuan seperti yang diinginkan.
"Kak, Arini minta tolong perintahkan botak dan gondrong untuk mencari Kak Davit."
"Hmm, ya."
" Kak serius, Arini nggak bercanda. Kalau kakak nggak mau
" Kenapa? Bunuh diri? Atau akan kabur dari rumah? Basi lo"
" Kak Arsen nggak sayang Arini lagi ya?"
Arsena diam tak menjawab, tatapannya fokus pada Andini yang baru keluar dari kamar mandi.
Nggak mau mengganggu moment penting kakaknya, Arini buru buru keluar lagi. Dia ingin memerintah gondrong dan Botak sendirian.
Kakaknya sekarang sudah bucin dengan wanitanya, menemui berkali kali hanya membuat tambah stress saja.
_____
Davit dan nenek sudah sampai di perumahan sederhana, tetapi masih dalam satu, kota yaitu Surabaya.
"Vit, kamu sudah kabari Arini belum?"
" Sudah, Nek."
"Bohong," sungut Nenek.
Davit hanya tersenyum tipis. Sadar kalau Nenek tak mungkin bisa dibohongi.
"Sudahlah Nek, pikirkan Arini nanti saja, mending kita lihat lihat kedalam, mulai sekarang kita akan tinggal disini."
"Kamu beli rumah ini? Emang nggak jadi kawin, kok uangnya di hambur hamburin."
" Uangnya masih kok nek, cuma Davit ambil sedikit buat DP.
"Lalu angsurannya? Walaupun nenek tinggal di kampung, rumah seperti ini angsurannya pasti masih diatas sepuluh juta."
Tenang aja Nek, Davit sekarang bekerja di perusahaan besar yang dapat gaji diatas sepuluh juta, sisanya masih cukup untuk kita hidup sehari hari.
"Di atas sepuluh, kalau gitu nenek bisa beli banyak perhiasan dong?" semburat bahagia terlihat di wajah tua nenek.
Davit ikut tersenyum. " Bisa Nek, maafin Davit ya selama ini belum bisa bahagiakan Nenek. Belum pernah belikan banyak perhiasan. Soalnya gaji Davit jadi sopir buat biaya kuliah. Alhamdulilah kan sekarang cucu nenek sudah bisa kerja di kantor."
"Iya Alhamdulilah." Nenek seperti sedang terharu. Ia memelintir ujung bajunya untuk digunakan menyentuh air matanya yang menetes.
"Oh iya, tumben nenek mau beli perhiasan? Bukannya nenek nggak suka pakai emas dan semacamnya "
"Nenek mau belikan untuk Arini. emang nikah nggak pake mas kawin."
" Nek, kalau mas kawin, Davit sudah pikirin. mending nenek pikirkan kesehatan aja, kalau punya cicit biar masih kuat gendong." ujar Davit sambil mengalungkan lengannya di punggung Nenek.
__ADS_1
"Beneran kamu janji mau kasih Nenek cicit cepat?" Binar bahagia terlihat di mata tua nenek.