Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 195. Kau yang paling hebat.


__ADS_3

Arsena menarik tali bathdrope yang dikenakan Andini, membuat sebagian tubuh itu terekpose sedangkan Arsena sendiri sudah ganti dengan celana kolor dan kaos oblong.


"Sayang kau masih saja pemalu seperti ini di depanku," ujar Arsena saat melihat Andini rikuh menutup aset berharganya.


Arsena menggoda Andini dengan satu jarinya. Membangkitkan gairah Andini dengan memberi sentuhan wajah dan lehernya yang kemudian merambat turun semakin kebawah. Andini hanya mampu memejamkan mata, ketika tubuhnya mulai merasakan sentuhan jemari Arsena yang penuh kelembutan.


Arsena mendorong Andini hingga punggungnya menempel ke dinding, posisi Andini sangat tersudut membuat Arsena bisa leluasa mengerjai tubuh yang sudah kepanasan itu.


"Umpppp." Arsena kembali menyatukan bibirnya dengan bibir sang istri. Arsena merasakan Andini membalasnya. Arsena tersenyum Andini sudah mulai membalasnya


Kecupan Arsena berlahan turun dia memberi beberapa tanda kepemilikan disekitar leher dan dada yang sudah banyak jumlahnya.


Kini Arsena berjongkok dengan elegant didepan Andini memberi sentuhan pada titik sensitifnya. Andini menggeliat seperti cacing kepanasan menahan rasa yang sulit untuk digambarkan. Tangannya menekan kepala Arsena seakan tak ingin semua ini cepat berakhir.


Arsena tersenyum melihat istrinya sudah masuk perangkap cintanya, tubuh Andini sudah tak tegang lagi malah sebaliknya bibirnya berdesis mirip suara ular. Alunan musik romantis terus saja berputar dari satu lagu ke lagu lainnya.


Malam masih panjang, Mereka berdua masih memiliki banyak sekali waktu untuk terus bermain hingga lelah. Kelopak mawar tak henti hentinya bertaburan turun dari langit kamar.


Andini merasakan kakinya lemas, tak mampu lagi menopang tubuhnya. Arsena berhasil membuatnya dia mencapai puncak nirwana yang pertama kalinya, hanya dengan memberi sentuhan lembut jarinya saja. semakin hari keahlian Arsena terus meningkat demi Andini bisa merasakan pengalaman yang baru dan baru lagi.


"Ars, ampuni aku aku tak kuat lagi, rancau Andini. Yang dibalas senyuman dari Arsena.


Arsena mengangkat tubuh Andini keranjang, menanggalkan bathrobe ke lantai. Membuat tubuh seputih susu itu kembali terekpose di depannya.


Sehabis melahirkan tak ada yang berubah pada tubuh Andini, bahkan tubuh ibu dua anak itu justru kini semakin menggoda.


Arsena merangkak diatas tubuh dengan lekukan indah nan sudah polos itu. Mengabsen setiap inci dari atas kebawah. Membuat Andini kembali tersulut gairah, tatapannya sayu dan nafasnya mulai berat.


" Uh, Ars." Bibir Andini bergetar menahan gejolak yang terjadi pada dirinya. Mencengkeram rambut Arsena yang tadinya tersisir dengan rapi. Tapi tidak untuk sekarang. Rambut itu sudah berantakan dikacaukan oleh Andini.


"Jangan ditahan, berteriak lah semaumu, Sayang. Ini dunia kita, kau milikku dan hanya aku milikmu,"Arsena tahu Andini malu malu mengeluarkan suaranya hingga hanya sebatas rintihan halus dan desisan.

__ADS_1


Arsena tersenyum, ibu dari dua putranya ternyata sudah kembali basah oleh permainannya. Junior Arsena berlahan mulai mengetuk pintu gerbang istana yang sekian lama terlarang untuk ia singgahi.


Tubuh Arsena bergetar ketika tongkat warisan leluhur itu sudah terbebas dari belenggu yang selama ini mengikatnya. Tongkat memiliki kesaktian luar biasa itu mulai memperlihatkan keahliannya hingga sang pawang harus kuwalahan untuk meredakan amarahnya.


"Ars, apa ada yang berubah." Andini memberanikan diri, bertanya takut persembahannya hari ini mengecewakan.


" Tidak, ini semakin luar biasa, ini sangat sempit, sayang," rancau Arsena yang mulai kehilangan akal sehatnya.


Arsena tak sungkan lagi mengutarakan apa yang ada di benaknya. Dia telah jujur dengan apa yang ia rasakan, Andini semakin membuatnya gila. Dalam hati Arsena bertekat ingin mengulangi kegilaan ini hingga berulang kali di malam ini.


Andini dan Arsena masih hanyut dalam gelora cinta yang menggebu. Tak ada insan yang datang untuk mengganggu, mungkin ini yang disebut bulan madu yang sesungguhnya. Semua terjadi dalam keadaan sudah baik. Miko sudah menikah, sang ibu juga merestui cinta mereka.


"Sayang, aku mau kau hamil lagi, kita buatkan adik perempuan untuk Excel dan Cello," ujar Arsena di kala tubuhnya tengah bermandikan keringat. Nafasnya sudah tak beraturan, tatapannya sayu.


Untaian kata cinta dan terimakasih sepertinya tak layak untuk menggantikan kebahagiaan dan pengorbanan yang diberikan Andini untuknya.


" Bagaimana kalau yang lahir adalah bayi laki laki?" ujar Andini dengan nafasnya yang sudah memburu.


Setelah lama Arsena berada diatas, kini Arsena merubah posisinya menjadi dibawah, Andini sekarang menjadi pemegang kendali. Andini mulai meliukkan tubuhnya ke kanan dan kekiri sesuai keahlian yang dimiliki, berusaha memberikan yang terbaik untuk Arsena. Hingga saat saat seperti ini tak mudah ia lupakan.


"Yes baby, great, again baby, yes, oh no," Rancau Arsena semakin gila. Matanya merem, melek. Lama sekali mereka dalam pergulatan panas akhirnya Andini terlebih dulu tumbang di dada bidang Arsena.


"Ars, euhhh," desah Andini tersenyum malu malu sambil menahan ritme nafasnya yang terengah.


Melihat Andini tumbang dalam dadanya, Arsena segera memeluknya, mengecup keningnya sesaat lalu merubah posisi kembali. "Sedikit lagi aku juga akan selesai. Ini baru pertama Sayang," bisiknya lirih di dekat telinga Andini.


Andini mengangguk pasrah." Iya, lakukan Ars. Aku hanya milikmu."


Arsena kembali memimpin permainan, sedangkan Andinikehilangan banyak energinya usai pelepasan.


Arsena yang belum selesai ia berusaha menyelesaikan permainannya secepatnya. Tak lama Arsena merasakan bagian tubuhnya ada yang ingin meledak keluar. Arsena mempercepat ritme gerakannya.

__ADS_1


"Aaaaaa." Suara panjang Arsena membahana hingga seluruh ruangan, permainan di ronde pertama telah berakhir. Andini merasakan ada yang sedang mengembang lebih besar, hingga terasa sesak dan penuh, Dia mencengkeram tengkuk Arsena kuat-kuat dan Akhirnya ribuan pasukan yang dibawa Arsena kembali menerobos pintu gerbang yang tertutup rapat menuju sebuah mahligai cintanya.


Arsena mengusap keringat Andini dengan telapak tangannya. Kembali mengecup kening istrinya dengan penuh cinta. Lambat laun cengkeraman Andini pun melemah.


Arsena menggulingkan tubuhnya di samping sang istri. Dia ingin beristirahat sebentar. Wajahnya menoleh ke arah Andini. Dia kembali tersenyum lalu memeluk sang istri erat, setelah usai menarik selimut berwarna putih yang terlipat rapi di kakinya.


Arsena dan Andini sama sama tersenyum. Senyum yang terukir di bibir mereka melebihi sebuah ucapan untaian kata cinta.


Musik romantis masih terus mengalun merdu, menemani dua makluk yang kini merasakan puber kedua itu, Namun indahnya karena dengan orang yang sama.


"Sayang!" Arsena belum ingin tidur.


" Sebentar lagi, aku lelah," kata Andini, lemah.


"Iya aku mengerti." Arsena tersenyum.


"Menurutmu apakah aku hebat? Apakah kamu senang?"


"Ya kau hebat, tenagamu sangat kuat,." Posisi mereka kini sama-sama memiringkan tubuhnya.


Andini mengelus rambut Arsena mencubit hidungnya dan meraba bibirnya.


"Kenapa? Kau suka bibirku? Apa mau lagi."


" Sudah cukup, bibirku terasa tebal. Saat makan nanti pasti akan terasa perih."


" Maafkan aku."


" Jangan minta maaf, bukankah kita sama sama senang?" Andini pun menjatuhkan lengannya di pinggang Arsena.


"Ars, aku rindu anak anak. Apa dia rewel ya." Andini tiba tiba gelisah.

__ADS_1


"Dia baik saja, sayang. Kan ada Oma, ada Eyang uyut. Tenang ya. Dara dan Zara pasti membantu menjaganya." Arsena


__ADS_2