Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part.170. Siapa yang paling hebat?


__ADS_3

Satu jam kemudian Namira sudah tiba. Dokter cantik itu segera memarkirkan mobil di garasi, Arsena terkejut melihat kedatangan Namira dia segera melipat koran di tangannya lalu turun menyambut kedatangan kawan lamanya.


"Mira!"


"Kenapa kamu terkejut begitu? aku kesini, ada yang meneleponku tadi, "ujar Mira sambil mengulurkan tangannya. Arsena menyambut uluran tangan Mira.


"Oh, masuklah. Apa Andini yang telah memanggilmu?"


"Tidak, Tuan Muda, istrimu tak sedekat itu denganku. Harus telepon tanpa izin suaminya ini." Namira menepuk pundak Arsena lalu menautkan lengannya.


Mereka berdua berjalan masuk. Arsena sengaja menghindari lengan Namira yang menggamit lengannya tanpa membuatnya canggung.


Arsena menghindari kontak fisik dengan memasukkan tangannya pada saku celananya.


"Duduklah Mira, senang kau datang kemari. Biar aku panggil Andini dulu."


Namira tersenyum disertai anggukan kepala. Namira mengamati sekeliling ruang tamu dengan takjub. Ya, siapapun yang masuk rumah Arsena dia akan takjub oleh interiornya.


"Sayang!" Panggil Arsena dari ruang tamu.


"Iya, Ars." Sahut Andini dari ruang tengah.


Andini segera keluar memenuhi panggilan suaminya, wajahnya terlihat segar dan cantik setelah usai mandi, begitu tau yang datang Namira, Andini segera memeluknya.


"Dr. Andini? kapan kau praktek lagi? Excel dan Cello pasti sudah bisa ditinggal kan? Lagian di rumah sudah banyak asisten."


"Entahlah, separuh takdirku dia yang menentukan." Andini tersenyum sambil menatap suaminya.


"Ars, kapan kau izinkan istrimu kembali bekerja." Namira menatap Arsena berharap pria itu mengangguk atau mengucap sepatah kata, mengizinkan Andini kembali keluar rumah dengan bebas.


" Aku ingin dia hanya menjadi dokter pribadiku, dokter cintaku. Dan dokter untuk keluargaku saja."


"Sweet banget sih Ars, kamu dulu nggak seperti ini lho, kamu dulu tu, angkuh sombong, tapi tetep sih idola para cewek. Oh iya? Kabar Lili gimana sekarang? Kalian kan waktu itu pacaran?" Namira tiba tiba ingat dengan wanita yang pernah menjadi saingannya itu, walau akhirnya Namira yang mengalah.


"Lili?"


"Em Lili aku tidak tau kabarnya." Arsena terlihat gelisah, ketika Namira menyebut nama Lili kembali.


"Iya Ars, dimana lili sekarang? Kamu pasti sudah menemukan dia? Tak mungkin hampir setahun Lili tak ditemukan? Bukankah Kendro adalah pria tangguh, dia kepercayaan Papa yang selalu mengatasi semua masalah dengan mudah," cecar Andini.


" Seperti yang kubilang, Sayang. aku tidak tahu." Arsena masih kekeuh dengan jawaban pertama.

__ADS_1


---------


Saat asyik membahas Lili, tiba-tiba Miko menghampiri mereka bertiga.


"Dr, Mira, tolong periksa istriku, dia seharian tak mengizinkan aku mendekatinya, apakah ini benar-benar dia sedang hamil anak kami atau karena hal lain?"


"Tuan Miko, dia yang memanggilku kesini. Ars." Mira menjelaskan setelah ia kembali mengingat nama Miko yang mendonorkan darah untuk Andini.


"Oh iya, silakan lakukan tugasmu." Arsena mengizinkan Namira masuk ke kamar yang menjadi hunian Miko dan Dara.


Andini juga beranjak ingin pergi bersama mereka ke kamar Miko. Namun, Arsena menahannya.


Arsena menarik lengan Andini. Hingga Andini jatuh di pangkuannya.


"Sayang, mau kemana?"


" Mau melihat Namira, memeriksa Dara," ujar Andini.


"Disini saja, aku ingin bersamamu." Arsena mengeratkan tangannya di pinggang istrinya, sambil menggigit kecil telinganya. Andini juga merasakan pisang Arsena kembali mengeras.


Andini segera menggeser duduknya dari pangkuan Arsena menuju sofa. Membuat Arsena bertanya, "apakah masih sakit, Sayang?"


"Tidak, tapi aku takut kamu tak kuat menahan lagi, tinggal beberapa hari kerindua mu akan terobati Ars." Andini menatap Arsena dengan tatapan kasihan.


"Terima kasih sayang, sudah bersedia menjadi ibu dari anak-anakku."


"Sama sama Ars, aku juga berterimakasih padamu, mau menerima aku apa adanya."


Arsena mendekatkan bibir nya ke bibir Andini. Menyesap bibir istrinya yang manis. Merasakan nikmat, ia melakukan lebih dalam lagi.


Andini melingkarkan lengannya di tengkuk suaminya, membiarkan bibir berdua bertautan lebih lama, Aroma tubuh istri yang ia damba kembali menusuk hidung, membuat Arsena merasakan tubuhnya menghangat.


"Ars, cukup, jangan dilanjutkan." Andini mendorong bibir Arsena agar menjauh, ketika Arsena mulai tak bisa mengontrol nafasnya, ketika bibirnya mulai menyesap leher dan membuat tanda merah di lehernya yang putih.


"Nanti malam aku mau lewat gang. Bisa kan?"


"Gang apa'an sih? Gangnya masih buntu," celetuk Andini sambil tersenyum. Lalu pergi menuju kamar Miko.


Saat baru melangkah mendekati kamar Miko, suara teriakan sudah menggema di depan pintu.


"Andini, Dara hamil!"

__ADS_1


Mita terlihat bahagia tiada Tara, akhirnya menantu satu satunya bisa hamil. Mita langsung menghambur Andini ketika berada di depan pintu. Miko terlihat menangis haru sambil memeluk Dara. Melihat Miko bahagia Andini juga ikut bahagia. Tak terasa bulir kristal jatuh di pipi Andini.


Dara terlihat memakai masker untuk menutupi hidungnya, mungkin maksudnya biar aroma tubuh Miko tak tercium oleh hidungnya. Andini kasihan juga melihat Miko.


Selamat Miko, kau akan jadi ayah, kau akan bahagia dengan keluarga kecilmu bersama adikku, Dara. Sungguh aku ikut bahagia.


Andini membalikkan tubuhnya hendak pergi. Ucapan selamat untuk Dara bisa dia berikan lain kali.


"Andini tunggu! Kau tak ingin memberiku selamat untukku?" Miko berlari menuju pintu yang hendak Andini tinggalkan.


Andini kembali berbalik. Bibirnya mengucap sebuah kata, sambil menyeka titik air mata yang jatuh di pipinya." Iya, selamat Miko. Aku bahagia kau akan memiliki seorang pewaris dari adikku, Dara. Kau akan menjadi ayah."


"Terima kasih Andini. Jalan Tuhan memang unik, bahkan aku tak menyangka ini terjadi padaku." Miko mendongakkan kepalanya agar air mata haru tak jatuh menetes di pipinya. tangannya memegang kedua pundak Andini. Bibirnya terus saja tersenyum. Terlihat sekali dia sedang bahagia.


"Sekali lagi selamat untukmu. Aku ke kamar Zara dulu, aku juga ingin melihat hasil pemeriksaan Namira pada Zara."


"Iya pergilah."


Seberkas senyum manis keluar dari bibir Miko, sambil mengayunkan tangannya sebagai isyarat mengizinkan Andini pergi.


Usai memeriksa Dara, Namira kini pindah memeriksa Zara. Dan memang kebetulan yang sangat unik, Zara juga hamil. Kehamilan Zara hanya selisih beberapa hari saja sama istri Miko.


"Sebentar lagi para cucu keturunan Atmaja akan lahir dan para pria ganteng itu akan menjadi hot daddy," ujar Oma dengan bahagia.


ucapan selamat juga bertubi tubi untuk Zara. Terutama Oma dan Mama Rena, mereka antusias sekali menunggu di kamar Zara bersama Mert. Video call dengan orang tua Mert terus berlangsung sepanjang Namira memeriksa Zara.


----------------


Usai memberikan ucapan selamat pada kedua adiknya, saatnya Andini meregangkan otot ototnya yang terasa pegal. Rupanya menjadi seorang ibu dari dua putra sangat melelahkan.


Andini membaringkan tubuhnya di ranjang besar yang ada di kamar si kembar. Menyusul Arsena yang sejak tadi menjaga buah hatinya.


"Sayang! Apa mereka berdua beneran hamil." tanya Arsena.


"Iya, Zara dan Dara mereka sudah sama-sama hamil, Miko dan Mert terlihat bahagia. Papa Ars, secepatnya kasih ucapan selamat untuk dia.


" Syukurlah, Mereka ternyata tokcer juga."


" Iya, mereka hebat ya, hamil saja bisa barengan." Andini tersenyum membayangkan Dara dan Zara yang sebentar lagi perutnya akan sama sama membuncit. Andini kini duduk di sebelah Arsena yang sudah tiduran.


"Hebat aku lah, sekali cetak aku dapat dua."

__ADS_1


"Iya, iya, Papa Ars, yang paling hebat dari semua pria. Andini mencubit hidung Arsena. Sedangkan Arsena asyik rebahan sambil menjadikan lengannya sebagai bantal.


__ADS_2