
"Ars, Kok marah melulu sih. Kasih komen yang menyenangkan hati atau ciuman sayang karena aku sekarang udah pakai hijab kek."Andini memonyongkan bibirnya.
Davit memilih pergi. Tak mau terlibat dengan pertengkaran dua orang yang sedang berseteru sejak pagi tadi itu
" Habis kamu bandel Andini, bagaimana bisa kau mengunjungi Ken tanpa izinku. Jangan-jangan kau diam-diam menyukai Ken ya?" Kata aneh terlontar dari bibir Arsena.
"Gila, kamu makin gila tau. Menuduh orang seenak udelnya sendiri." Andini sebal Arsena menuduhnya. Masih di luar rumah Arsena sudah membuat Andini kesal.
Andini melewati Arsena begitu saja dengan wajahnya yang murung. Ia abaikan Oma yang melihatnya dengan wajah kening berkerut karena aneh saja melihat mereka bertengkar. Sedangkan Mama hanya menoleh sesaat lalu kembali lagi bermain ame-ame dengan cucunya.
" Andini tunggu aku belum selesai bicara." Arsena mengejarnya.
'Kenapa sih aku tak bisa menahan emosiku. Pasti karena aku nggak makan bakpau beberapa hari ini.'
Gerutu Arsena yang telah berhasil melewati puasa tujuh hari tujuh malam. Dia takut hari ini tak dapat jatah dari Andini setelah puasa panjangnya.
"Ndin, ya udah aku salah aku udah tuduh macem-macem. Habisnya mengunjungi Ken saja nggak bilang, tau gitu kan aku tadi bisa susul kamu, soalnya dikantor tadi aku juga sempat santai dan membeli hadiah untuk ..."
" Untuk siapa?" Andini penasaran.
" Untuk dirimu sayang."
"Hadiah dalam rangka apa? Kayak ABG aja pakai hadiah segala" Andini tersenyum tipis lalu menyingkirkan tubuh Arsena yang menghalanginya dengan mendorong kuat-kuat. Membuat tubuh pria itu oleng ke samping.
Semakin Andini jual mahal, membuat Arsena semakin tertarik untuk menggodanya, sesungguhnya dia memang tak benar-benar marah pada istri cantiknya.
Sedangkan Andini memanfaatkan moment ini untuk mencari sebuah keuntungan. Arsena pasti akan merengek, jika sudah dalam mode ngebet, dia akan mengabulkan sesuatu yang di minta.
"Hubby, benarkah malam ini kau sangat ingin?"
" Tentu dong Say, aku sudah menahan tujuh hari lamanya. dan satu hari lagi waktu Qiara ada disini. Jadi jumahnya sudah menjadi delapan hari."
"Wah beruang kutub sudah berubah menjadi bayi besar, dia pasti akan setuju dengan rencanaku.
Tapi sayangnya aku lagi nggak ingin begituan, jika aku memikirkan sebuah hal yang berat, selera untuk begituan nggak ada lagi. Maaf ya." Andini menangkupkan tangannya.
" Apa? Tega sekali kamu sayang." Arsena mulai nggak sabar, ia menarik sabuk yang melingkar di pinggangnya.
"Sayang, cepat ganti bajumu, kalau di kamar kau tak perlu lagi menutup tubuhmu serapat ini," Rengek Arsena.
__ADS_1
" Iya aku baru datang. Jadi belum ganti." Ujar Andini sambil menata bantal di ranjang empuknya.
" Ide dari siapa pake baju Gamis?" Arsena menertawakan Andini yang terlihat makin cantik, Namun Arsena belum terbiasa melihat istrinya.
" Zara, aku lihat Zara selalu memakai gamis dan kamu suka nggak?"
"Iya sayang, aku suka , pokoknya aku dukung. Tapi, khusus di kamar kau hanya boleh pakai lingeri saja." Arsena tersenyum dan berulang kali mengangkat alisnya.
"Ngelantur dan mesum nggak akan dapat jatah." Andini mendorong pipi Arsena dengan telunjuknya.
"Jahat banget sih." Arsena mentowel dagu Andini. Niatnya ingin menggoda, namun sang pemilik dagu lancip itu hanya merespon dingin.
Andini sengaja menyembunyikan senyumnya. lama-lama dia kasihan juga dengan Arsena terlihat lucu saat sedang sakau.
"Sayang puasa sudah delapan hari, sudah nggak kuat puasa lagi." Rengek Arsena yang akhirnya menjatuhkan egonya ingin meminta sesuatu dari Andini. Arsena menarik Andini ke dalam dekapannya.
"Hubby, Vanya ternyata dulu satu kelas dengan Ken"
" Hmmm ... Malas bahas Ken." Arsena makin jengah, ia remas rambutnya kasar. Andini terlihat tak menanggapi reaksinya.
"Kemana?"
" Cari anak anak." Andini menghindar.
"Ma, anak-anak biar sama aku saja ya?" Andini mendekati Mama yang tengah bermain dengan Mama.
" Sudahlah Andini, biar Excel dan Cello sama kita saja. Kalau dia ikut kami takutnya ganggu kalian. Urus saja tuh bayi besarnya."
"Mama ini." Pekik Andini yang malu kata kata fulgar mamanya, apalagi di sebelah sedang ada Papa yang bermain dengan putra yang satunya.
"Mmmaaa!" Excel memanggil Andini dan memperlihatkan mainan ditangannya.
"Udah Excel main sama opa ya. Opa bingung mau ngapain kalau nggak ada Excel." ujar Excel.
Terpaksa Andini harus kembali ke lantai atas tanpa seorang putra satupun tapi dia juga bahagia putranya sangat disayangi oleh mertuanya.
"Anak-anak mana?"
" Sama Mama dan Papa di kamarnya."
__ADS_1
"Baguslah ."
"Kok bagus."
"Resiko gangguan sementara aman. Mama memang paling tahu." Senyum nakal kembali terukir di bibir Arsena. Pria itu kini bahkan melepas Hem dan celananya. Kini dia tinggal bertelanjang dada. Dan memakai celana pendek selutut.
Arsena ke kamar mandi sebentar untuk gosok gigi, tak lama dia sudah keluar dan Andini sudah ganti dengan lingeri warna hitam dengan motif bling-bling, saking seksinya membuat tubuhnya semriwing. Lalu ia merebahkan dirinya ranjang dan bersandar di sebuah sisi.
"Sayang, aku nggak bisa tunda lagi." Arsena langsung ambruk menindih tubuh Andini. Nafas hangat Arsena menerpa wajah ayunya.
"Tunggu ! Tunggu! ada yang pengen aku omongin dulu"
" Apa lagi sih sayang. Kamu kok sengaja nunda nunda, kamu nggak suka lagi ya sama tampilan tubuhku." Arsena mulai kehilangan percaya diri.
'ya Tuhan. suka banget Ars.'
Andini tertawa dalam hati. Sungguh dia sebenarnya setiap melihat dada bidang dengan tonjolan di perut berbentuk lima roti sobek dan bulu halus di dada itu tak mampu berpaling, tapi kali ini dia akan membuat Arsena lebih penasaran lagi akan dirinya.
"Tunggu! boleh nggak aku minta satu permintaan."
"Apa lagi sih?"
Arsena mengangkat tubuhnya. Sepertinya kelakuan Andini sangat menyebalkan.
"Hubby, sepertinya Ken sudah menyadari kesalahannya. Bisa nggak cabut tuntutan Ken. Dia melakukan semuanya karena sudah dipengaruhi oleh Lili."
"Maksutnya?" Arsena menjauhkan tubuhnya.
"Ken di bebaskan aja. Ken sudah menyadari kesalahannya. Cabut aja tuntutan Ken."
"Nggak aku nggak setuju?" Arsena menjauhkan tubuhnya dari Andini, mood bercintanya sesaat jadi musnah. Dia berjalan mendekati meja dan meneguk kopi.
"Ya udah." Andini memiringkan tubuhnya membelakangi Arsena.
Arsena makin pusing dengan sikap istrinya yang makin aneh.
"Tidak semudah itu sayang. Kamu tahu kan aku masih harus melihat seberapa dia akan berubah. Tapi jangan kau hukum aku seperti ini donk." Arsena kembali duduk mendekati Andini. "Masa Ken mendapat hukuman aku harus dihukum juga. Kalau seperti ini aku bisa mati berdiri.
" Putuskan Hubby, kapan kamu akan membebaskan Ken?"
__ADS_1
"Belum bisa sayang. Please jangan paksa aku, kamu terlalu menggunakan perasaan hingga kamu terperdaya oleh Ken."
*Happy reading*