Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 232. Hadiah berharga.


__ADS_3

Arsena duduk di sebuah kedai, kali ini dia sendirian tanpa didampingi Davit.


Tuan muda di keluarga ternama itu telah sedikit tenang melihat orang-orang yang sudah berkhianat dengan keluarganya satu persatu sudah mendapat balasan. Namun masih ada satu yang masih berkeliaran bebas.


"Tuan! " Seseorang datang.


"Duduklah!" Perintah Arsena.


"Cari bukti kejahatan Dev dan tangkap dia dari persembunyiannya."


"Serahkan semua pada kami, Tuan. Kami akan mencari Dev dan membawa pada anda. " Botak dan gondrong menyatakan kesanggupannya.


Arsena tersenyum, lalu tangannya melambai satu kali mengisyaratkan pada kedua pria pesuruhnya untuk segera pergi.


Setelah bayangan gondrong dan Botak tak terlihat lagi. Arsena masih tetap berada di cave Xx untuk menghabiskan kopi late sesukaannya sambil memikirkan hukuman apa yang paling cocok untuk Dev yang telah melakukan banyak sekali kesalahan.


Pria yang menghalalkan segara cara itu harus ikut dihukum atas perbuatannya. Mencoba melakukan pelecehan pada Andini ketika di dalam mobil, menculik Andini dan membawanya ke pulau, dan terakhir mencoba menodai Andini di hotel.


Arsena menggenggam jemarinya kuat-kuat, begitu dia mengingat satu persatu penderitaan wanita terkasihnya, tak menutup kemungkinan dia juga akan melukai kedua putranya.


"Semua akan segera berakhir, aku akan menuntaskan musuh keluarga Atmaja." Gumam Arsena lirih.


Arsena lalu meneguk kopi hingga tandas diperutnya. Dan segera membayar pada kasir selembar uang lima puluh ribu tanpa mengambil kembaliannya.


Arsena ingin segera pulang kembali. Namun sebelumnya dia ingin mampir ke Rutan terlebih dahulu. Melihat dia sudah mendapat ganjarannya tentunya akan menjadi kebahagiaan tersendiri.


"Tuan, anda pasti sangat sibuk. Pasti anda berusaha meluangkan waktu agar bisa datang kesini. Briptu Zidan sudah menyapanya keluar ruangan ketika mengetahui mobil mewah milik Tuan muda itu yang datang.


"Bagaimana hukuman yang kau berikan pada Ken? Aku ingin dia menyesal telah berani berkhianat dengan keluarga Atmaja. Dia harus membayar semua pengkhianatan ini." Arsena kembali dikuasai amarah, yang bisa diredam hanya dengan melihat pelakunya menderita.


Arsena berjalan masuk, dia melihat Ken duduk dipojokan, tatapannya kosong, namun tidak sesedih diawal masuk Rutan ini.


Senyum tipis tersungging dari bibir Arsena ketika tatapannya bertemu dengan Ken.


"Kau betah disini Ken?" tanya Arsena dengan senyum mengejek.


"Jika disini dapat mendapatkan maaf darimu, seumur hidup pun aku akan meminta tinggal disini." Jawab Ken dengan sesantai mungkin.


"Hmm ... Kau memang pandai bersandiwara."


"Anjing peliharaan, dia akan berpura pura setia selama majikan masih hidup tapi jika majikan itu mati dia akan memakan bangkainya."


Ken tertunduk diam. Merasa apapun hinaan yang dikatakan Arsena itu benar. Manusia tak tau diri di dunia ini memanglah dirinya.


"Maafkan aku Tuan. Aku manusia biasa. Kekhilafan pasti ada." Ken menundukkan wajahnya.


Kali ini Arsena menatap Ken dengan tatapan yang berbeda. Ken gagah yang ia kenal dulu tak terlihat lagi. Hanya penampilan seorang pengecut yang memohon ampun saja yang terlihat.


Sebelum rasa kemanusiaan Arsena semakin tumbuh. Pria itu pergi lagi tanpa pamit. Briptu Zidan hanya mengekor di belakangnya.


"Sampai kapan hukuman Ken akan berlangsung?" Tanya Arsena pada Zidan.


" Sampai Tuan akan mencabut tuntutan untuk Ken."

__ADS_1


Arsena tersenyum. "Aku masih ingin melihat dia lebih menderita. Berapa kali istriku berkunjung tanpaku?"


"Baru satu kali Tuan, aku lihat dia bersama temannya."


"Ya dia pasti Vanya, laporkan padaku setiap kali dia datang kalau perlu rekam percakapan mereka."


"Kami selalu siap Tuan." Zidan mengangguk. "Tuan tidak mencurigai Nona kan?"


" Tidak," elak Arsena dengan tegas.


Zidan tersenyum, menyetujui apapun ucapan pria paling berpengaruh di kota ini. walau hatinya tak yakin.


****


Usai dari kepolisian Arsena segera pulang.


Arsena sudah di depan pintu lantai dua, pintu terbuka dengan otomatis. Andini menyambutnya di depan pintu.


"Pulang anda sangat terlambat, Tuan." Protes Andini.


Andini membantu Arsena melepas jas dan dasi. " Istirahatlah kau terlihat lelah."


Arsena duduk di sofa. Andini menghampiri, membantu melepas sepatunya dan menaruh di tempat khusus sepatu.


" Aku ingin mandi bersama, pasti segar dan menyenangkan." ujar Arsena.


"Mandilah sendiri, aku sudah selesai mandi. Aku akan siapkan makan malam." Andini kembali beranjak. Dia hendak turun menuju dapur. Arsena menarik dan mencium bibirnya sekilas."


"Bukan gula." Andini tersipu. Dia benar benar pergi.


Sampai di depan pintu Andini sudah dibuat terkejut. Dia melihat seorang wanita berdiri memberi hormat.


"Selamat malam Nona, ada yang bisa saya bantu?" ujar wanita itu.


"Selamat malam kamu siapa?" Andini terkejut.


" Dia adalah asisten barumu, dia robot yang aku pesan khusus dari profesor Alberto yang tinggal di luar negeri. Itu hadiah ulang tahunmu sayangku." Arsena kembali merengkuh istrinya mengecup keningnya berulang kali.


"Tapi dia sangat mirip wanita muda." Andini masih heran.


Dia seperti manusia, tapi sayangnya dia sudah di desain hanya akan patuh dan mengikuti dirimu saja. Dia akan menjadi teman yang asyik untuk kamu.


"Jaman sungguh sudah berubah , ada robot yang begitu mirip dengan manusia. Ini sungguh unik."


"Kamu suka sayang." Arsena masih setia memeluk Andini.


Andini mengangguk. Arsena kembali ingin menciumnya. Andini mendorong bibir Arsena. " Aku malu aku seperti diawasi oleh dia."


"Dia tidak punya cemburu, dia hanya akan patuh denganmu," ucap Arsena melepas pelukannya. " Panggil saja dia Freya."


"Freya tolong tinggalkan kami berdua."


" Baik Nona." Robot Freya pergi meninggalkan mereka berdua menuju kamar asisten.

__ADS_1


Arsena dan Andini bermesraan sebentar hingga berakhir dengan percintaan pertama untuk hari ini. Keinginan Arsena untuk mandi bersama akhirnya terlaksanakan. Usai mandi mereka turun dan Robot Freya membersihkan tempat bercinta mereka yang berantakan.


"Hubby, kau beli robot mirip manusia itu pasti sangat mahal."


" Jangan tanya harga, dia akan melayani dirimu dengan baik."


" Terima kasih Ars."


" Aku yang berterima kasih, hadiah yang baru saja lebih menyenangkan, membuat aku terus ingin melakukannya." ujar Arsena dengan senyum genit sesekali mengibaskan rambutnya yang basah.


Sampai dibawah anggota berkumpul di ruang keluarga menunggu makan malam siap disajikan. "Andini menuju dapur sebentar. Ingin membuatkan Arsena makanan kesukaannya.


Andini segera mengambil daging gurami segar dari freezer.


Dara dan Zara yang ada di dapur dia mulai menjauhi Andini. " Aku takut jika mencium aroma ikan itu perutku akan mual dan muntah."


"Jangan takut, aku sudah memberikan perasan jeruk nipis jadi tak akan beraroma menyengat." ujar Andini.


Arsena ngobrol di ruang tengah bersama Miko dan Mert. Mereka bertanya tanya seputar bayi dan wanita paska melahirkan pada Arsena. Karena dari ketiganya cuma Arsena yang sudah melewati masa itu.


"Seperti yang kau bilang kemarin Jangan lupa potong kuku istri-istri kalian. Dia pasti akan mencakar mu dan menjambak rambutmu sekuat mungkin, potong sajalah rambut kebanggaan itu menjadi gundul. Jika kau ingin selamat."


Miko dan Mert saling memandang.


"Gundul?" Miko terkejut. Dia reflek menyentuh rambut hitam kesayangannya itu.


"Tidak, aku tidak mau gundul, akan lama sekali aku terlihat jelek." Jawab Miko Keberatan.


" Terserah." Arsena melipat tangannya di dada yang membusung. "Aku sudah memberitahukan pada kalian, aku tidak melakukannya dulu, karena aku belum tahu."


Mert juga sama keberatannya. Gundul akan menghilangkan ketampanan hakiki yang pernah ia miliki.


Andini hanya bisa tersenyum mendengarkan Arsena yang berbicara dengan hiperbola.


Sedangkan Zara dan Dara terlihat gelisah.


"Kak benarkah melahirkan sangat sakit? Bisa membuat rambut suami kita botak?" bisik Dara pada Andini yang mengiris tomat.


"Kau percaya dengan yang kamu dengar tadi?" Andini menanggapi pertanyaan Dara dengan senyum manisnya.


"Kita jadi takut, Nona." Kata Zara ikut bicara. sebelum membuat jus alpukat untuk keluarga besar.


Arsena terus saja menatap Andini dari ruang makan. mereka melempar senyum ketika pandangan mereka bertemu. Miko dan Mert pun sama. Kaum tua hanya bisa melihat saja.


"Arini, kapan Davit melamar kamu? suruh Dia segera melamar. Papa akan kasih waktu satu Minggu."


"Harus secepat itu ya Pa?" Arini bertanya dengan polosnya.


" Iya, menunggu bisa saja, tapi papa tidak suka wanita harus mendapat kepastian."


Johan terlihat serius. " Jika pria itu tidak serius, Papa akan jodohkan kamu dengan Nathan, yang jelas sudah sayang dan cinta sama kamu."


*happy reading.

__ADS_1


__ADS_2