
"Kok cemberut sih? Senyum donk." Davit menggenggam tangan Arini kuat. Arini terpaksa memaksa senyumnya supaya Davit bersedia melepas genggaman tangannya.
Nathan dan Arini turun dari mobil hampir bersamaan. Davit bisa membaca Arini berubah sejak dirinya menerima telepon tadi.
Arini masuk gerbang kampus tanpa menoleh seperti tadi, semua itu sudah cukup menjawab pertanyaan Davit baru saja.
" Saat cemberut seperti itu bahkan kau makin cantik, Sayangku. Benar sekali kata Kak Arsena, kau kekanakan dan juga suka ngambek." Senyum tipis lagi lagi kembali tersungging di bibir Davit. Nathan Dan Arini sudah tak terlihat lagi.
Davit kembali menghubungi seseorang yang pembicaraannya sempat terputus tadi.
"Hallo Pak, pembicaraan kita sampai mana tadi?" Tanya David ketika panggilan mereka berdua mulai tersambung.
" Oh iya Mas, Bos kami mau beli tanahnya dua kali lipat dari harga yang anda tawarkan. Bagaimana anda setuju?'
" Setuju pak, sangat setuju. Kenapa dia baik sekali pada saya? Bolehkah aku menemuinya sebentar saja, akan aku ucapkan banyak terima kasih padanya, Pak." Davit kembali ceria. Harapannya ingin meminang gadis cantik putri majikannya sudah semakin dekat.
" Tapi sayang sekali bos kami sangat sibuk, Dia baru saja melakukan penerbangan ke luar negeri."
" Sayang sekali padahal aku ingin bertemu dengannya meski cuma sebentar."
" Maaf Anda sedang tak beruntung." ujar ajudan itu lagi berbohong.
"Terimakasih, Pak. Kalau gitu kapan saya bisa mengambil uangnya?" Tanya Davit dengan Tak sabar
" Ambil saja sekarang, anda bisa tentukan tempatnya."
" Baiklah, aku ingin pembayarannya dilakukan di rumah saya saja, biar nenek juga ikut menyaksikan."
" Oke siap meluncur di rumah Nenek."ujar ajudan itu.
Davit pun segera pulang ke rumahnya yang ada di kampung, setelah memastikan waktu untuk pulang pergi akan cukup, dia sudah stanby lagi saat Arini pulang kampus.
Davit tiba di rumah, sekitar jam sembilan tiga puluh. Nenek menyambutnya dengan hangat.
"Davit nenek senang sekali sudah ada yang beli sawah peninggalan bapak kamu dengan harga tinggi. Tapi siapa orang itu. Apa motif dibaliknya? Karena setahu nenek harga yang kamu tawarkan sudah tinggi."
" Yang Davit tau pasti orang baik Nek. Kalau nggak, tak mungkin orang itu mau membelinya."
__ADS_1
"Nek sekarang siap siap ikut Davit ke kota, Davit akan ajak nenek nginap di hotel yang bagus. Dan aku ingin nenek menyaksikan pernikahan Davit nanti." Ajak Davit pada neneknya yang mulai renta.
"Baiklah Cu, nenek akan berkemas Dulu." Nenek tersenyum senang. Segera menerima tawaran Davit.
Nenek masuk ke kamarnya yang kecil namun rapi, mulai memasukkan beberapa jarik dan baju kutu baru. Tak lupa ikat pinggang panjang berbahan kain juga ia bawa.
"Silahkan masuk Tuan," Davit mempersilahkan masuk, ajudan yang tentunya membawa banyak uang di dalam kopernya.
" Terima kasih, Mas Davit." Ajudan itu masuk sedikit membungkukkan tubuhnya karena rumah sederhana dari papan itu memiliki pintu yang terlalu rendah.
" Duduklah, Tuan." Davit duduk lebih dulu di sofa tunggal yang ada diruang tamu disusul ajudan yang tak pernah dikenalnya itu duduk di kursi yang ada disebelahnya. Obrolan pun dimulai.
" Tuan anda bisa berikan sertifikatnya, dan ini uang yang anda."
Ajudan itu membuka uang dalam koper yang isinya hanya uang berwarna merah semua. Karena dibeli dua kali lipat, jumlah uang di dalam koper itu sangat banyak.
Davit tersenyum, mimpinya untuk segera menghalalkan anak majikannya akan segera terwujud.
Davit menyentuh uang berwarna merah dan mengambilnya segepok, mengecek keasliannya." Yah ... Semuanya Asli." Lalu menutup kembali.
Davit kemudian berdiri dari duduknya dan membuka lemari, mengambil sertifikat tanah. Lalu menyerahkan pada pria yang tengah ada di depannya.
Setelah menandatangani pria itupun memohon diri untuk undur diri.
Usai transaksi menjual sebidang tanah Davit lalu membawa Nenek ke kota. Selama dalam perjalanan nenek banyak bertanya.
"Davit apa kamu yakin, anak orang kaya yang akan kamu nikahi itu benar benar sayang sama kamu?" Sebuah kekhawatiran muncul dibenak nenek, dia khawatir kekecewaan yang pernah dialami akan terulang lagi.
" Iya, Davit yakin Nek. Nenek tentu ingin cucu nenek ini bahagia, do'akan yang terbaik buat Davit ya." Davit menatap neneknya yang semakin tua. Ia merasa belum pernah bahagiakan sosok yang menemaninya sepanjang hidupnya ini.
" Iya, tentu. Siang malam nenek hanya mendoakan kamu akan bahagia dengan wanita yang tepat."
"Oh hiya Vit, kabar Zara mantan kamu itu apa masih tinggal di rumah majikanmu itu?"
" Masih Nek."
" Kamu pasti sakit hati tiap lihat dia bersama suaminya terus."
__ADS_1
Davit tersenyum. " Semua sudah ada masanya Nek, dulu memang sakit hati. Tapi sekarang rasa itu sudah pergi. Aku malah bahagia lihat dia bahagia."
" Nenek salut dengan cucu Nenek, allah itu pasti bersama orang yang sabar, nggak dapat Zara sekarang malah dapat anak majikannya."
Davit kembali bersabar dengan celoteh neneknya. Ia hanya tersenyum.
"Nenek jadi nggak sabar pengen ketemu dan lihat wajah cantik cucu Nenek." Nenek mengelus rambut hitam mengkilat milik Davit.
"Nek, kita sementara tinggal di hotel ya, nenek mau kan?" Tanya Davit.
" Hotel." Nenek terkejut mendengar nama hotel.
" Iya, seumur hidup Nenek pasti belum pernah tinggal di hotel. Biar tau rasanya." Davit menoleh ke arah nenek yang terlihat binar kebahagiaan di wajahnya. Sesaat kemudian binar bahagia itu hilang.
"Kenapa di hotel? Pasti mahal Vit. Nenek mau di penginapan sederhana saja."
"Ya sekali kali Nek, biar ngerasain tinggal di rumah mewah."
"Terserah kamu ajalah. Nenek ikut aja. Sama kamu Davit. Di hotel ada sungainya nggak? nanti nenek mau berendam sambil mencuci baju. Pasti akan menyenangkan sekali."
Davit tertawa mendengar neneknya berbicara lucu. "Nek, kalau mau mencuci nanti ada yang ambil baju kita, kita terima bersih lagi saja. Kalau di kota bukan sungai lagi, tapi kolam. Cuma digunakan untuk berenang dan berendam saja.
"Enak ya di kota, nggak perlu cuci baju" Sungut nenek.
Di desa juga enak, Nek. Tergantung orangnya saja, orang kota juga banyak yang ingin tinggal di desa, menikmati sejuknya udara pagi tanpa polusi, melihat pemandangan hijau."
"Benar juga sih, Oh iya Vit, siapa calon istrimu namanya?"
" Nona Arini, Nek. A-RI-NI." ujar Davit semangat menekankan nama kekasihnya biar nenek nanti tak salah sebut.
" Namanya bagus, Semoga nanti dia nggak malu ya akui nenek yang dari kampung ini. Nenek takut kalau Arini malu mengakui nenek, seperti istri Malin Kundang. Kalau misalnya seperti itu, kamu mau pilih nenek atau dia?"
Davit terdiam sejenak, memikirkan seandainya itu benar terjadi. Pasti Dirinya akan sulit memutuskan. Namun Davit yakin Arini tak seperti itu. Arini bukan gadis yang bisa merendahkan orang seenaknya. Kalaupun iya dulu, Davit yakin dia akan bisa membimbingnya nanti.
"Vit kamu pasti sulit memilih antara nenek dan gadis itu, kalau misalnya itu terjadi kamu mending pilih dia saja, Nenek akan pulang lagi ke kampung. Kalau dikampung nenek tetep ada yang rawat keponakan keponakan nenek. Tapi nenek nggak mau kamu terus bersedih. Pertama Zara telah membuat mu bersedih. Aku nggak mau kamu akan bersedih lagi."
"Nenek ngomong apa sih? Belum tentu Arini akan bersikap seperti itu pada Nenek, Nenek suuzon itu namanya," ujar Davit, sambil fokus menyetir karena jalanan mulai padat kendaraan. Davit sudah sampai di kota dengan simbol ikan sura dan buaya itu.
__ADS_1