
"Ibu, tadi bicara sama siapa? Apa masih ada pembeli? " Tanya Dara pada Ana, sambil celingukan mengamati sekeliling.
Saat mencuci peralatan kotor tadi dia sempat mendengarkan ibunya ngobrol serius dengan seorang pria.
"Kamu ke kamar dulu nanti ibu ceritain," kata Ana.
Ana mulai memeriksa keadaan Nenek Sumi di kamar sebelah, nenek ternyata sudah tidur nyenyak. Ana biasa membuatkan susu untuk nenek sebelum tidur, kalau sudah tidur seperti hari ini Ana sekedar membenarkan selimut saja dan membiarkan kamar nenek tetap dengan lampu menyala.
Setelah selesai memeriksa kamar nenek, Ana ke kamar putrinya yang sudah menunggu. Benar, ternyata Dara belum tidur, dia masih menunggu penjelasan yang dijanjikan Ana.
"Dara, tadi papa kamu kesini, Nduk," kata Ana. Wanita itu melangkahkan kaki masuk lalu mengambil duduk di atas ranjang, sebelahan dengan putrinya.
Ana mengelus rambut Dara, tak terasa putri balitanya kini sudah menjadi remaja yang cantik, wajahnya tak jauh beda dengan Andini.
Dara remaja, banyak sekali dikagumi kaum Adam ketika masih SMA, dan hal itu pasti juga akan terjadi ketika di kampus nanti.
"Papa? Bukannya papa Dara sudah mati, saat Dara masih kecil, Bu."
"Huss ... Bicara yang bagus Nak, bicara itu sama saja dengan Do'a, gimanapun dia papa kandung kamu, kita tak boleh membenci dia."
"Seorang papa, dia pasti akan ingat kalau memiliki putri, nah papa? Pernahkah selama ini mencoba untuk ada disaat Dara butuhkan? Memeluk Dara dan mengakui kalau putrinya saja tak pernah, memanggil dara dan sekedar mengajak jalan jalan juga tak pernah. Mungkin, jika kak Andini bisa memaafkan papa, tapi tidak dengan Dara, Bu."
Dara yang taunya sejak kecil memang ibunya sudah sendiri, membesarkan dia sendiri, menyayangi sendiri dan Antoni tak pernah menunjukkan sisi hangatnya, karena sudah memiliki balita dari wanita lain, membuat kebencian untuk Antoni lebih besar dibandingkan Andini kepada ayahnya.
"Dara saat menikah nanti, kamu membutuhkan dia sebagai wali, jadi ibu mohon, bersikaplah baik dengan papa. Jika dia menolak menjadi wali maka ..."
"Kita bisa pakai wali hakim, Bu."
"Tidak bisa dara, lagian jika kamu membencinya, itu artinya kita menunjukkan sisi rapuh kita, kalau kita tak bisa tanpanya. Kita harus kuat, jadikan diri kita kuat selama ada Tuhan bersama kita. Kita tidak bergantung pada manusia semacam papa kamu itu." tutur Ana pada Dara. Gadis itu mendengarkan dan dengan mudah mencerna kalimatnya.
"Iya, Ma. Akan aku tunjukkan pada Papa, ada atau tidaknya kehadirannya tak akan membawa pengaruh apapun buat kita."
"Gitu dong." Ana mencubit gemas hidung putrinya,lalu merentangkan kedua tangannya"
Dara mengeratkan pelukannya pada ibu. "Ibu, aku beruntung memiliki ibu sepertimu, semoga kelak, aku akan sekuat ibu."
"Tidurlah, kamu pasti capek." Dara menurut, karena besok pagi dia harus di jemput oleh Johan. Dan hari berikutnya dia sudah mulai dengan aktifitasnya kuliah.
Ana sudah tau semua rencana keluarga kaya itu. Namun, dia ingin Dara berbicara sendiri dan memutuskan yang terbaik untuknya.
Dan kebetulan sekali, mulai besok juga sudah ada dua orang asistent wanita yang dikirim Arsena untuk membantu Ana di depot.
Pagi hari, udara terasa dingin, dingin yang tidak membuat sejuk namun justru membuat tubuh menjadi menggigil. Musim peralihan telah tiba sehingga perubahan cuaca siang dan malam begitu ekstrim.
"Ars, aku akan bangun. Aku harus buatkan kalian sarapan." Andini mencoba bangun, berulang kali menyingkirkan tangan Arsena tetapi pria itu masih enggan kehilangan selimut hangatnya. Cuaca kurang bagus membuat si beruang semakin malas meninggalkan ranjang.
"Bentar lagi." Arsena masih keras kepala.
"Ars, entar keburu Miko, bangun"
"Kenapa kalau dia bangun?" Jawab Arsena dengan mata masih terpejam. "Aku kan masih mengantuk."
Andini lama-lama makin takut, jika terus memanjakan Arsena seperti sekarang, bisa-bisa Miko benar benar melihat dirinya se kamar pagi ini.
__ADS_1
Miko membuka kamar Mita, yang seharusnya di sana ada Andini tidur bersama mamanya. Namun, terlihat Mita masih tidur dengan pulas dan ia tidur sendiri.
Pria itu sedang ingin jalan-jalan, di temani Andini di taman. Hari mumpung masih pukul lima pagi. Di taman akan banyak sekali para pasangan muda yang sedang melakukan rutinitas joging.
Miko diam-diam punya rencana, setelah ingatannya pulih, dia akan langsung menikahi Andini tanpa menunggu lama-lama, Jadi dia harus menciptakan hubungan sedekat mungkin dengan Andini.
Miko sudah bisa berjalan sendiri, hanya saja fisiknya masih lemah, Semua itu mungkin karena efek luka di kepalanya belum sembuh sempurna.
"Andini jika semalam, dia tidak tidur bersama Mama? Lalu dia tidur dimana? Sedangkan kamar di apartement ini hanya ada tiga."
Miko mencari Andini di sofa. Namun, Andini tak ada di sofa.
Ceklek!
Andini membuka handle pintu.
Miko menoleh ke arah suara. " Andini! Miko dan Andini sama sama terkejut bukan kepalang.
"Miko, kamu sudah bangun." Andini serba salah harus bersikap seperti apa.
"Andini? Miko mendekati Andini, Andini berdiri seperti patung, setelah buru buru menutup daun pintu tadi.
"Minggir," pinta Miko.
Miko menggenggam handle kuat-kuat, ingin segera memutar dan membuka pintu kembali. Memastikan apakah benar semalam, Andini tidur dengan pria pengawal.
"Jangan Miko. Aku mohon lebih baik sekarang kamu mandi dan kita jalan-jalan. Biar aku siapkan air hangatnya."
"Baiklah, setelah aku memastikan tak ada pria itu di kamar ini." kata Miko penuh tatapan intimidasi.
"Miko ...!" Andini berusaha menggagalkan Miko dengan menahan lengannya dari handle pintu.
Andini terus berdo'a dalam hati.
Ceklek!
Tubuh Miko, seperti terkena aliran listrik, tubuhnya bergetar hebat melihat pria itu masih bergelung malas di atas ranjang, dengan tubuh berbalut selimut menyerupai kepompong raksasa. Dugaan Miko benar Andini semalam tidur bersama Arsena.
Miko masuk dan segera menarik selimut Arsena, dan benar dugaan Miko, hanya celana boxer yang menempel di tubuh Arsena. Arsena yang tau Miko sedang jadi detektive, ia langsung membuka matanya lebar-lebar. membuang jauh jauh rasa kantuknya.
"Mik, apa yang kamu lakukan ganggu orang saja?" Arsena segera memakai kaos oblong warna putih dan celana selutut. Ingin tau apa yang telah terjadi.
"Andini kau semalam sudah melakukan hal terlarang dengan pengawal ini?"
"Aku tak menyangka akan melihat kenyataan semenyakitkan ini."
"Aaaarrrgg!"
Miko merambat ke dinding, matanya memerah, dia hari ini kembali hancur melihat kenyataan didepannya tak sesuai ekpetasi yang diharapkan. Miko menangis, ia menangis wanita satu-satunya yang ia ingat dan tersimpan indah di memorinya telah bersama pria lain. Hati Miko sakit seperti seorang pria sedang di selingkuhi pasangannya di depan mata.
"Miko, kamu tidak apa-apa?" Andini mencoba mendekat belum sampai menyentuh tubuh Miko. Pria itu sudah menepis tangannya.
"Menjauhlah dariku, pergiiiiiii ... !" Aku benci kalian semua. Pembohong penipu!"
"Kau pura pura perhatian denganku, tapi kau menikam ku."
"Miko, Kamu duduk, ada banyak sekali yang telah hilang dalam ingatan kamu, aku bisa jelaskan." Pinta Andini yang juga ikut merasakan betapa pedihnya hati Miko.
__ADS_1
"Andini, kenapa aku diberi kesempatan hidup untuk kedua kalinya, jika aku kembali terluka seperti ini? Apa kamu bisa menjelaskan padaku Andini?"
"Kenapa tidak kau suntikkan saja racun saat aku tak berdaya."
"Miko Mama akan menjelaskan semuanya padamu, kamu duduk dan dengarkan, mama akan berkata sebenar-benarnya."
"Arsena adalah kakak kamu, Andini adalah kakak ipar kamu."
"Andini bukan kekasih ku?"
"Bukan Miko."
"Tapi kenapa saat aku koma, aku hanya melihat Andini dalam tidur panjangku. hanya dia yang terus memanggilku, hingga aku memiliki kekuatan kembali ke dunia nyata ini."
"Itu karena kamu tertembak, saat menyelamatkan Andini. Mungkin kamu sangat mengkhawatirkan istriku." Kata Arsena.
"Aku ingin menjelaskan ketika di rumah sakit tapi Andini melarang. Sesungguhnya ya aku khawatirkan sekarang terjadi," imbuhnya lagi.
"Kakak, maafkan aku, aku sudah membentakmu semalam karena menganggap kakak pelayan."
"Sudah Kakak maafkan." Miko dan Arsena berpelukan yang pertama kali seumur hidupnya.
"Miko, jika kamu ingin tau kekasihmu dia ada di depan, ayo bukakan pintu untuknya!" perintah Mita pada Miko.
Mita tadi sempat panik, jadi dia bertindak cepat dengan segera menghubungi Johan, agar membawa Dara ke apartement. Mita khawatir Miko akan bertindak berlebihan. Maka di hari ini dia akan mengenalkan Dara untuk Miko.
ternyata Miko tak se rapuh yang dibayangkan Mita.
-----
Sejak Miko di rumah sakit Johan sudah mengutarakan isi hatinya pada Ana, untuk meminta satu lagi putrinya untuk satu putra terakhirnya.
Ana sedikit berat hati mengiyakan permintaan Johan. Namun, menurut kepercayaan keluarga Ana, jika wanita menolak pinangan laki laki akan jadi pamali bagi pihak perempuan.
Takut hal itu terjadi. Akhirnya Ana menyetujui. Dan Dara seorang anak patuh tidak susah membujuk Dara. Walaupun dia banyak di sukai cowok . Namun selama ini dia juga belum menerima cowok manapun menjadi kekasihnya.
Miko melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Dia sudah tak sabar melihat wanita yang dibilang Mita calon istrinya.
Ceklek!
"Kak Miko." Dara menatap Miko dengan tatapan menilai. Gadis itu terlihat sedikit grogi melihat Miko menatapnya balik menelisik dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Mama bilang dia kekasihku, tapi aku seperti sama sekali tak akrab dengan sosok ini."
"Masuklah!" Perintah Miko pada Dara dan Papa.
Johan dan Dara melangkahkan kaki masuk, Johan memerintahkan Dara untuk duduk di dekat Miko, dan Arsena duduk di sebelah Andini, kini Mita memilih duduk di dekat suaminya.
"Wah Miko serasi sekali ya, Pa"
"iya, Ma." Johan jawab setuju aja, sambil kepala mengangguk angguk.
" Miko, cantik kan Dara? Dia adiknya Andini lho."
"Oh, jadi namanya dara?" batin Miko. "i-i ya, Ma cantik."
" Serasi darimana, dia masih anak kemaren sore. apa benar aku pernah mencintai bocah seusia dia."
__ADS_1
Miko nampak berfikir keras, sesekali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
...--------...