
"Mama!" Arsena tersenyum smirk.
"Iya Ars"
"Arsena sudah beberapa hari lupa kasih makan piranha itu."
"Iya mama tahu." Kata Rena masih gemetar.
"Mama tahu ikan piranha itu sangat lapar." Tanya Arsena.
"Ars, Ampuni Mama Ars, jangan bilang kamu memberi hukuman supaya mama masukin jari jari mama kedalam akuarium piranha lapar itu." Kata Rena paranoid. Padahal Arsena belum mengatakan apapun.
"Oke, sekarang mama memilih, jujur atau piranha lapar itu akan ...." Arsena masih berjalan pelan memutari dua orang yang sudah ketakutan.
"Baik Ars, mama akan berkata jujur, tapi tolong jangan lakukan itu pada Mama."
"Anita tolong kamu yang jelaskan?" Rena menyenggol pundak Anita. Anita merasa Rena kini sedang memanfaatkan keberadaannya.
"Ti-ti-dak Tante, Anita tidak tau apa-apa. Anita hanya melakukan yang Tante minta," ucap Anita dengan bibir bergetar. Ars, kamu percaya kan? Kita sahabat sejak kecil dan aku tak punya hati sejahat itu, apalagi ini menyangkut orang yang kamu sayangi." Nita memohon dengan suara pelan.
Arsena mengangguk kan kepala, ia mulai yakin kalau Anita adalah bagian dari rencana Mama.
Yah, kalian berdua jika tak ada yang mau jujur terpaksa ... Selain aku akan memasukkan jari kalian dan dimakan predator itu, aku juga harus memanggil pihak kepolisian untuk menyelidiki kasus ini.
"Tau sendiri, aku tak memiliki belas kasihan pada penjahat, sekalipun itu orang yang melahirkan ku."
Dengan penuh intimidasi dari Arsena, Akhirnya Rena jujur selama ini dia telah melakukan sebuah ketidakadilan pada Andini.
Rena dengan cerdik memberikan sebuah obat yang ia pesan khusus dari luar negeri, obat tetes itu spesial ia berikan untuk Andini, obat itu bekerja untuk merusak reproduksi wanita. Obat itu bisa membuat wanita sehat menjadi mandul.
Rena rajin memberikan pada setiap roti selai yang ada di piring Andini. Sebelum Andini dan Arsena keluar kamar untuk sarapan, dia lebih dulu mengabsen menu sarapan untuk anak anaknya. Dan Rena tau Andini dan Arsena tak akan berpindah tempat duduk.
Ia belum bisa rela putra berharga satu-satunya jatuh pada wanita kampung yang memiliki masalalu sangat buruk.
Rena sekarang melihat sendiri betapa perempuan kampung itu sudah berhasil membuat putranya jatuh cinta.
Mendengar penjelasan dari mamanya, Arsena sangat marah. Matanya merah, ia hampir saja kehilangan kendali, Arsena hampir saja lupa kalau pelaku kejahatan itu adalah mama sendiri. Tangan Arsena mengepal. Urat urat dilehernya menonjol.
"Aaakkkk" Arsena memekik keras, menghantam dinding sekuatnya dengan jari-jarinya.
__ADS_1
Bi um yang melihat Arsena dia segera memanggil mang Karman dan asistent Doni untuk menolongnya.
Mereka berdua secepat kilat menarik tubuh tuannya dan mendudukkan di kursi.
"Ars, mama minta maaf, Ampuni Mama." Rena mengiba. Bahkan tubuhnya merosot ke lantai. Anita yang bingung ia juga duduk di lantai mengikuti Rena.
"Mama minta maaf itu mudah! Bagaimana kalau Andini sakit selamanya karena obat berbahaya itu? Bagaimana jika rumah tangga kami akan hambar jika diantara kami benar benar tak ada seorang bayi? Mama adalah wanita paling jahat di dunia ini."
Arsena merasakan kecewa yang amat dalam. Mama kandungnya sendiri telah meruntuhkan asanya.
"Ars, jika obat itu berhenti di konsumsi, mama yakin Andini berlahan akan kembali sehat, dan alat reproduksinya pasti akan kembali bekerja dengan normal."
"Ars, Andini seorang dokter, dia pasti tau jenis obat yang sudah diberikan oleh Tante Rena, Saya berharap obat itu memiliki penawar," ujar Anita mengingatkan.
Arsena menerima saran dari Anita. Ia sedikit lega mendengar penjelasan Anita. Arsena masih duduk dengan deru nafas tak beraturan.
Berlahan ia menurunkan emosinya yang sudah memuncak. Dan ia masih yakin dengan kemurahan Tuhan. Jika Tuhan berhekendak, menghadirkan seorang bayi pada rahim Andini hal itu bukanlah suatu yang mustahil.
"Baiklah, Anita sebagai hukuman yang pantas, sekarang kamu pulanglah. Persahabatan diantara kita sudah berakhir, aku dan kamu mulai sekarang adalah orang asing." Arsena berkata dengan wajah memandang ke arah lain.
Anita menitikkan airmata ketika Arsena berkata demikian.
"Akan aku pertimbangkan." Arsena pergi dari dua orang yang membuat hatinya berapi api. Semakin lama melihat wajahnya hatinya semakin diliputi rasa bersalah pada Andini.
Di lantai dua.
"Zara, aku bosan jika hanya diam seperti ini"
"Apa yang Nona inginkan? Apa Nona ingin berjalan keliling taman, aku akan antarkan Nona. Biar aku siapkan kursi rodanya." Zara mengambil kursi roda untuk Andini. Zara berharap Andini bisa lebih rileks dengan bantuan kursi roda.
"Zara, aku hanya ingin keluar kamar dan aku bisa berjalan."
"Baiklah Nona. Tapi saya tetap harus mengantisipasi jika tiba-tiba kepala Nona pusing. Ada baiknya Nona tetap memakai kursi roda." Zara mendekatkan kursi roda pada ranjang, Andini segera turun menempatkan diri.
Setelah Andini duduk dengan benar. Zara segera membuka pintu yang menghubungkan kamar dengan taman. Zara berlahan mendorong kursi dorong itu keluar kamar. Udara sore membuat Andini betah berlama lama memutari kolam dan sesekali melemparkan makanan pada ikan Koi."
"Nona, Tuan datang kemari," ucap Zara sambil melihat Arsena yang kian berjalan mendekat.
__ADS_1
Senyum Arsena sudah terlihat dari kejauhan memamerkan deretan gigi putihnya.
"Ars, kenapa kau menyusul? Aku baru saja sampai disini." Andini terlihat malu, baru keluar sebentar saja Arsena sudah menjemputnya.
"Tuan, Nona baru saja memberi makan koi koi ini, kita belum melakukan hal yang lainnya." Kata Zara yang berdiri di belakang Andini.
"Aku sudah kangen dengan istriku, apa aku tak boleh menemuinya?" Arsena mengusap dahi Andini yang terdapat bintik-bintik keringat.
Andini membalas belaian lembut Arsena dengan tatapan mata berbinar-binar. " Ars."
"Hm ... Ingin sesuatu? Katakan saja!"
"Ars, jangan terlalu keras dengan ibu, aku tau kenapa dia seperti itu, dia telah membesarkanmu penuh cinta, pasti dia berharap kau akan menikah dengan seorang gadis yang memenuhi kriterianya." Tatapan sayu terlihat pada sudut netra Andini, angin sepoi membuat rambutnya menari nari menutupi elok wajahnya.
Arsena duduk berjongkok di depan Andini, menjadikan kakinya untuk tumpuan tubuhnya meraih jemari lentik milik Andini dan mengecupnya. "Kriteria terbaikku adalah dirimu Andini."
"Ars," Andini menarik tangannya.
Arsena terkejut dengan penolakan Andini. Namun, ia segera menyadari. Keberadaan Zara di dekatnya yang membuat Andini terganggu dengan kemesraan yang ditunjukan oleh Arsena.
"Em Zara, kamu bisa tinggalkan kami, tolong siapkan keperluan Nona Andini, sebentar lagi dia akan mandi."
"Baik, Tuan." Zara meninggalkan Arsena dan Andini berdua saja.
"Ars, kenapa kau melakukan semua ini, kasian Zara, dia harus pergi karena kamu mengusirnya."
"Karena aku sedang ingin berdua saja dengan dirimu ,Sayang. Mari kita lanjutkan keliling taman." Arsena mendorong Andini pelan-pelan. Ia begitu menikmati jalan jalan sore ini.
Arsena menemukan mawar merah sedang mekar dan menguarkan aroma harum. Arsena memetiknya satu lalu menyelipkan di telinga Andini.
"Em, kau memang cantik, Istriku. Andai aku bisa aku akan mengurung dirimu di dalam mansion ini saja. Hingga tak ada pria lain menikmati kecantika istriku." puji Arsena
"Ars, darimana kau belajar bicara gombal seperti ini."
"Darimu, karena hanya melihatmu aku mendapatkan inspirasi."
"Tuan Ars, aku hari ini sangat terhibur dengan gombalan recehmu itu."
Andini tertawa riang. Arsena mendorong kursi roda pelan-pelan. Sesekali mengecup kening istrinya dari belakang.
__ADS_1