
Hancur, Begitulah kata yang tepat untuk mewakili hati Arsena. Bukan satu dua kali Arsena memaklumi kesalahan Mama. Tapi kali ini sudah melampui batas.
Hati Arsena seketika luluh lantak. Tubuhnya bergetar hebat, ia begitu rapuh.
"Mama aku menyayangi Andini, Ma. Tak ada yang membuatku bahagia selain dia," gumam Arsena dalam hati.
Arsena sudah mendapatkan jawaban dari pencariannya. Ternyata masalah itu berada dalam keluarganya sendiri.
Jujur Arsena bingung, hukuman apa yang pantas jika pelaku kejahatan yang tak lain orang tuanya. Wanita yang melahirkan nya. Pantaskah dia harus menjatuhkan hukuman kepada ibu kandungnya. Jika media massa mendengar, reputasi perusahaan dan keluarganya akan hancur di mata masyarakat.
Dengan langkah gontai Arsena keluar dari RS. Arsena mengemudi mobil layaknya orang kesetanan, hatinya begitu remuk, "aaaaarrg." Arsena memukul kemudi
******
Andini Oma dan Mert sedang berkumpul di koridor. Mita dan Johan beberapa hari ini sedang menghadiri hajatan di keluarga Mita yang ada di luar kota, membuat rumah besar itu tak seramai biasanya.
Mert sebenarnya ingin menceritakan kejadian yang menimpanya di perusahaan tempo hari pada seorang wanita yang pernah menarik hatinya saat pertama kali bertemu ini, Tapi melihat Arsena mencintainya begitu tulus, Mert membuang perasaan kotor itu sejauh mungkin tanpa ingin memikirkan lagi.
Mert urung menceritakan, Andini tak bisa duduk tenang. Dia nampak gelisah, berulang kali memandangi jam yang ada di gawainya.
"Ndin gelisah amat? Kayak setrika'an. Duduk kenapa?"
"Iya Mert, makasi. Tapi aku khawatir. Jam segini Arsena belum juga pulang." Andini terlihat panik. Tak henti netranya menerawang ke arah gervang yang masih terkunci rapat.
"Nanti juga pulang, dia tahu rumahnya kan?"
"Mert! Aku serius, Arsena sedang dalam misi berbahaya." Andini tak suka Mert meledek. Membuat Andini sedikit kesal dan mengerucutkan bibirnya.
"Andini, Andini ha ... ha ... kamu meragukan suami kamu? Dia itu jago dalam hal begituan. Iya kan Oma?" Mert menertawakan Andini dengan logatnya nya sendiri.
" Iya Ndin, kamu harus yakin, Ars pasti sebentar lagi akan pulang." Oma ikut berbicara dan memberi dukungan mental pada Andini.
"Semoga Oma." Andini ikut duduk disebelah Oma. Menyandarkan kepalanya di pundak Oma sebagai wujud sayang.
Mert yang melihat Zara santai di kursi lain. Membuat Mert ingin memerintahnya.
"Hei Zara, bisa bikin minuman satu lagi nggak?"
"Buat siapa kak?"
"Buat akulah, siapa lagi'
"Aku mau lagi, aku mau yang seperti tadi, yang manis. Sama kek yang buat. Manis." Mert menggoda Zara membuat pipi gadis pemalu itu seketika merona.
__ADS_1
Arsena sudah sampai di istana megah huniannya, Ia menghentikan mobil sport tepat di halaman, tanpa ada keinginan memarkirkan mobilnya di garasi.
Pak Karman segera menutup gerbang kembali, sedangkan sang tuan rumah masuk dengan tubuhnya yang lelah berbaur dengan keringat.
"Ndin, benar kan kata Oma. Coba lihat! itu mobil siapa yang ada di depan?" Kata Oma dengan wajah ceria.
"Iya, Ars sudah datang, Oma?" Andini segera menoleh dengan cepat seperti anak kecil yang mendapat mainan.
Andini buru buru menyongsong kedatangan Arsena. Tak sabar lagi menunggu Arsena menapakkan kaki hingga koridor. "Ars, aku senang kamu sudah pulang."
"Iya, Sayang aku sudah pulang." Arsena memeluk Andini, mengecup puncak kepalangnya.
"Ars, aku menghawatirkan dirimu." Andini menangkupkan kedua telapak tangannya di dagu Arsena. " Apa semua masih baik baik saja?"
" Semua akan baik baik saja, penjahat itu tak mungkin menyakitiku." Arsena meraih tangan Andini lalu mengecupnya.
"Benarkah ini kamu? Aku tak sedang bermimpi, kan?" Andini tak percaya.
Arsena meraih jemari Andini dan menggigit kecil ujungnya." Ini untuk membedakan sedang mimpi atau tidak.
Andini memeluk tubuh Arsena makin erat "Syukurlah, aku lega, sejak kau berangkat aku tak henti memikirkan dirimu, Ars."
"Apa kau tak mual, dengan aroma keringatku, aku sehari telah berpetualang, aku ingin mandi, tubuhku terasa lengket." Arsena mengingatkan Andini tentang kondisi dirinya
Arsena meminta Andini melepaskan pelukannya. Arsena hari ini benar-benar lelah, capek, bingung. Bagaimana menjelaskan kepada keluarganya, kalau sebenarnya pelaku kejahatan itu adalah mamanya sendiri.
Sambil menunggu bi Um menyiapkan air hangat, Arsena bergabung dengan Mert dan Oma.
"Mert, bagaimana acara makan makan dengan Anita? Sukses kan?" Arsena duduk sebentar di sebelah Mert.
"Anita?" Mert kaget Arsena kembali menanyakan hari itu.
"Ada yang ingin kuceritakan, tapi tidak sekarang."
"Oma yakin cucu Oma pasti akan pulang dengan kabar gembira," kata Oma sambil memeluk cucu tersayangnya.
Arsena mengangkat sudut bibirnya, senyumnya kaku dan dipaksa. " Iya Oma, Ars sudah tau pelakunya."
"Kau memang detektif hebat." Oma tak kalah senang dengan Andini.
Mama Rena yang merasa misinya berhasil ia memasang wajahnya dengan tenang. Wanita itu keluar dari kamarnya dan bergabung dengan yang lainnya. Ia memakai baju setelan mewah, dengan warna merah menyala.
"Ars, mama menunggu sejak tadi. Mama sudah memasak khusus buat kamu, membuat semua hidangan kesukaanmu.
__ADS_1
Tanpa menimpali perkataan Rena walau sepatah kata, Arsena pergi meninggalkan keluarga.
Oma dan yang lainnya heran melihat sikap arsena yang tak seperti biasanya.
Ars, kenapa seperti itu dengan Mama, seharian tadi sudah rela turun ke dapur sendiri.
"Ikut aku ke atas, aku sedang ingin ditemani dirimu.""
"Tapi Ars, kamu belum minta maaf pada Mama."
"Andini tolong diam, aku menginginkan kamu di dekatku seperti ini. Bukan menjadi juru bicara."
"Baiklah, Tuan." Cicit Andini menunduk sedih
Andini menunggu Arsena di luar kamar, sementara pria itu mulai masuk ke dalam bathtub, merendam tubuhnya, merefres kembali otaknya.
Di dalam kamar mandi Arsena sedang memikirkan sesuatu. Sebuah rencana besar dan kali ini dia tak mau gagal. Kelicikan harus dibalas dengan kecerdikan pula hingga orang itu akan jera.
Usai mandi Arsena menghampiri Andini. Meminta maaf atas kekurangannya dalam mencintai selama ini. Memeluknya sangat erat.
Andini menerima pelukan Arsena dengan sebang hati.
"Maafkan Aku, maafkan Aku, maafkan Aku," ucap Arsena lirih. Sbil memejamkan mata.
Andini yang merasakan hangatnya dekapan tubuh suaminya ikut memejamkan mata.
"Ini sudah larut, waktunya menidurkan anak anak kita, kasian dia harus begadang." Arsena membimbing Andini ke ranjang kebesarannya
Sebelum melakukan rencananya besok. Arsena tak mau melewati malam ini dengan hambar.
"Ars, tapi mama sudah masak banyak untukmu." Kata Andini.
"Lalu kenapa kalau sudah masak banyak? Aku sekarang hanya ingin tidur saja. Aku sedang ingin memakan dirimu Sayang, bukan yang lainnya." Arsena melingkarkan lengannya di pinggang Andini, Andini yang tidur menghadap kearahnya hanya tersenyum.
Arsena juga mengelus perut Andini. "Apa mereka tadi rewel."
"Hari ini dia pintar, sudah menghabiskan sate ayam hingga beberapa tusuk."
"Rupanya, anak-anakku suka dengan makanan itu, baiklah besok pagi kita bikin acara membuat sate di taman sambil memutar musik, pasti akan menjadi seru."
"Boleh, kita undang teman yang lainnya pasti tambah seru."
"Ide bagus, sekarang tidurlah."
Andini akhirnya lelap ketika jam menunjukkan pukul satu dini hari. Arsena tiada henti membelai rambutnya yang lembut. Menghujaninya dengan banyak kecupan. "Ndin bagaimana reaksimu nanti, kalau tahu ternyata pelaku kejahatan itu adalah mama."
__ADS_1