Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 153. Malam yang indah.


__ADS_3

"Zara ayo tunggu apa lagi, kita pergi dari sini." Davit kembali mendesak Zara. Davit yakin Zara belum berubah pikiran.


Zara diam, hanya bibirnya saja yang bergetar karena menangis. Air mata terus berderai, menetes hingga membasahi gamis cantik yang melekat ditubuhnya.


Mert tak kuasa melihat wanitanya demikian sedih, dia mengambilkan tisu didepannya.


Zara memerima tisu dari Mert. Zara sangat sedih dengan kata kata Mert baru saja, andaikan saja dia memberi Mert sebuah kepercayaan untuk memiliki cintanya. Mert takakan serapuh hari ini.


"Zara, semoga kau bahagia, aku akan pergi membawa semua kenangan kita, aku akan kembali pulang, semoga kau dan Davit akan bahagia, menikahlah dengan Davit, semoga Tuhan memberi anugrah bayi yang lucu." kata Mert yang terlihat memaksakan suaranya yang terputus karena menahan sesak di dadanya.


" Terima kasih pernah singgah di hati ini"


Mert beranjak dari duduknya lalu pergi. Bayangan Mert begitu cepat menghilang di balik pintu keluar yang ber lorong.


"Tuan Amert. Tunggu akuuuu!!"


" Zara berhenti!!" Suara Davit tak kalah kerasnya. Davit gagal menahan Zara tetap bersamanya. Zara memlilih mengejar pria bertubuh tinggi yang selalu tampil stylish itu.


Aksi kejar kejaran akhirnya terjadi di dalam restaurant bergaya Turki itu. Zara mengejar Mert dan Davit mengejar Zara


Mert sudah sampai di mobil lebih cepat, karena dia tahu ada jalan pintas untuk keluar resto. Sekilas ia menoleh ke belakang. Bayangan Zara tak terlihat. Mert segera masuk ke dalam mobil dan mengunci pintunya.


Ia sejenak menyenderkan kepalanya di sandaran kursi. ' mungkin sudah takdir aku harus melapas Zara. Dia tak pernah mencintaiku.'


Mert mulai menyalakan mesin mobil dengan tergesa gesa, Harapannya benar-benar pupus. Tak ada tanda-tanda Zara mengejarnya. Mert memutar balik kemudi mobil meninggalkan halaman resto.


"Tuan Amert! Berhentiiii !"


Suara nyaring dari arah belakang berulang kali memanggil nama Amert


"Tuaaaan!"


Terlihat kaki Zara keseleo berulang kali, karena highell yang dipakai lumayan tinggi, seperti sebuah kebetulan saja. Zara biasanya juga tak suka memakai highell, entah kenapa malam ini dia begitu ingin.


"Tuan Mert !"


Zara melempar highell nya entah kemana. Zara tak perduli lagi, yang ada dipikirannya hanyalah ingin mengatakan kalau dia tak mau Mert pergi. dia ingin Mert kembali padanya.


"Tuan Mert!!" Zara terus memanggil Mert hingga ia terjatuh di halaman berpaving. Zara tak berhenti berteriak meski lututnya kini berdarah.


Mert melirik ke arah kaca spion. Pria yang tengah menerima kekalahannya itu segera menginjak rem mobilnya dengan mendadak. begitu melihat bayangan Zara sedang mengejarnya.


Mert segera membuka pintu mobil tanpa menutupnya. Ia segera berlari menyongsong keberadaan Zara.


"Jangan pergi tuan hik hik hik."


"Tuan tak bisa tinggalkan aku seperti ini." Zara lega Mert berhenti. Dia tak ingin berdiri, dia masih menata nafasnya yang berembus tak beraturan.


Mert berhenti, terpaku sesaat, lalu ia jongkok di depan Zara. "Zara kenapa mengejar ku, bukankah kau mencintai Davit?" Mert bertanya pada Zara yang masih linglung.


"Suamiku Tuan, apa Davit? Kenapa aku harus memilih Davit?" ucap Zara malu malu sambil mengusap airmatanya dengan punggung tangannya.


"Apa itu artinya aku adalah suami yang kau inginkan? kau mau menghabiskan sisa usia ini bersamaku?


"Tentu tuan." Zara mengangguk kan kepalanya mantap.


Mert tersenyum, dia berdiri kembali, mengulurkan tangannya pada Zara. Zara meraih tangan Mert. Zara menjatuhkan tubuhnya di dada bidang Mert.

__ADS_1


Mert memeluk pinggang Zara. Mert merasakan hangatnya tubuh Zara. Mert semakin mengeratkan lengannya.


" Tuan jangan tinggalkan aku." Bisik Zara ketika kepalanya masih menempel di dada Mert


"Zara!"


Davit pun berlari tergopoh. Langkahnya terhenti di pintu keluar resto ketika netranya menangkap pemandangan yang menyayat harinya.


Davit melihat Zara telah lengket dipelukan Mert membuat ia sadar diri siapa pria yang diinginkan Zara. " Zara kau memilih dia ..."


Davit memundurkan langkahnya. Dia tak mau dua orang itu melihatnya. Davit duduk di sebuah kursi kecil yang kebetulan sedang kosong.


Davit menahan sesak di dadanya. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Zara apakah kau yakin dengan pilihanmu?" gumam Davit lirih. Matanya berkaca kaca.


Zara mengangguk mantap. "Tuan Mert, aku istrimu. Kenapa anda tega membuat aku menangis," manja Zara sambil mendongakkan kepala, menatap wajah oval suaminya.


Mert mengusap air mata Zara yang tak berhenti mengalir.


"Kenapa kamu masih cengeng." Mert mengecup kening Zara. Lalu membanjiri pipi dan bibir Zara dengan kecupan juga.


Mert mengangkat tubuh Zara yang hanya kisaran lima puluh kg itu dengan otot otot lengannya ala bridal stile.


Mert menurunkan Zara ketika, langkahnya berhenti di samping mobil.


Mert memastikan Zara sekali lagi. "Apakah sudah yakin dengan keputusannya."


Zara sudah yakin, dia tak mungkin salah. Beberapa hari ini dia mulai nyaman bersama Mert. Hanya saja Zara malu menunjukkan rasa cintanya yang mulai tumbuh.


Mert dan Zara akhirnya memutuskan untuk pulang. Malam semakin larut di tambah hujan deras mulai mengguyur kota Surabaya. Hawa dingin mulai menusuk nusuk kulit menjadi momok yang menyeramkan.


Mert menarik bahu Zara, supaya kepala Zara bersandar di bahunya. Hari ini adalah hari yang paling romantis sepanjang pernikahan mereka.


Sampai di rumah, Mert langsung saja memasukkan mobilnya di garasi setelah Pak Karman membuka gerbang garasi. Mert berterima kasih lalu Pak Karman pun kembali ke pos.


Mert kembali membimbing Zara turun lalu menggendongnya. Mereka segera masuk ke kamar tanpa membuat kegaduhan. Mert yakin semua penghuni rumah sudah tidur nyenyak.


Pria keturunan Atmaja, rupanya mereka semua adalah pria tangguh dan berotot, dia bisa menggendong pasangannya layaknya menggendong guling. Hal itu menjadikan para wanitanya semakin merasa teristimewakan.


"Duduklah disini sebentar," ujar Mert. Melepas tubuh Zara dengan hati hati di pinggir ranjang.


Zara menurut ditandai dengan anggukan kepalanya.


Mert terlihat membuka hem yang ia kenakan, lalu meletakkan di sandaran kursi kerjanya.


Mert berjalan menuju nakas, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang ia simpan sendiri di dalam sana. Mert mengambil kotak itu dan mendekat kapada Zara.


Mert berjongkok tepat di depan Zara yang masih duduk di sisi ranjang.


"Tuan, apa yang Anda lakukan?" Tanya Zara. Ia tak enak hati membiarkan Mert di bawahnya seperti itu.


"Aku akan melihatnya" Mert memegang kaki Zara dan mengangkat sedikit gamisnya.


"Jangan tuan!" pekik Zara, wanita itu menurunkan lagi gamisnya yang terangkat diatas mata kaki , Zara masih malu Mert bersikap demikian.


"Zara diamlah, aku akan obati kakimu."

__ADS_1


"Tuan, aku malu."


" Aku suamimu, bukankah kau tadi sudah memilihku."


"Terima kasih sudah membantu menjelaskan semuanya pada Kak Davit." Zara bisa tersenyum, mata indahnya terlihat berbinar binar diterpa sorot lampu.


Mert pelan-pelan mengangkat gamis Zara hingga sebatas lutut. Mert bisa melihat lutut Zara berdarah, walau tak parah, luka itu perlu untuk diobati.


Mert membersihkan luka Zara dengan kapas dan alkohol.


"Perih kak ...." Zara menggigit bibir bawahnya wajahnya mengkerut menahan dingin bercampur perih karena sentuhan alkohol.


Zara meremas pundak Mert yang membuat Mert sesekali menatapnya. Justru ekspresi Zara yang memejamkan mata itu terlihat semakin cantik dan imut.


"Pelan-pelan. Sakit, Tuan!" Rintih Zara. Memberkuat remasan di pundak Mert


Mert tersenyum sambil menggelelengkan kepalanya pelan. Baru tahu ternyata istrinya tak tahan dengan sakit ringan lutut yang tergores.


Mert merasakan tangan Zara yang menyentuh tubuhnya terasa seperti aliran listrik, walau masih terhalang oleh kaos. Jari jari Zara mampu membangkitkan adek kecilnya yang tadinya sedang tidur nyenyak.


Fikiran Mert mulai berkelana, Mert segera menutup luka Zara dengan amanplas, ia tak tahan jika lama- lama berada dalam kondisi menegangkan seperti ini.


"Sekarang tidurlah, sudah larut malam." Mert takut kegelisahannya terbaca oleh Zara. Dia segera mengemasi alat P3K miliknya dan menyimpan kembali.


Zara menurut ia membaringkan tubuhnya, ia membiarkan gamis cantik pembelian Mert masih melekat ditubuhnya.


Zara tak bisa tidur. Entah perasaan apa yang merasukinya. Malam ini Zara ingin sekali melihat Mert membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata di sampingnya.


" Tuan jika besok pagi anda bekerja. Kenapa sekarang tak tidur saja?" Zara bisa merasakan Mert sengaja menghindarinya karena sesuatu. Dia sangat gelisah.


"Aku harus mengerjakan tugas kantor." Jawabnya tanpa menoleh. Mert sibuk mengambil laptopnya dari tas kerja.


Zara bangun kembali dari ranjang. Menyeret kakinya keluar kamar.


"Kemana?" Menatap Zara, seolah memiliki arti sebuah larangan.


"Bikin kopi, bukannya tuan selalu minta dibikinkan kopi saat begadang."


"Tidak perlu, kalau begitu sebaiknya aku akan tidur saja." Mert menutup kembali laptop nya. Dan mulai merebahkan diri di salah satu sisi ranjang, di tengah tengah ada guling yang menjadi pemisah antara wilayahnya dan Zara.


Zara pun menyusul, setelah mengganti bajunya dengan setelan baju tidur lengan panjang. Sepertinya sebelum tidur Zara sengaja menggunakan farfum atau lotion. Malam ini Zara juga melepaskan jilbabnya, yang sebelumnya dia selalu memakai baik diluar ataupun di kamar.


"Tuan, malam ini aku tidak ngantuk, Tuan tidurlah dulu."


Zara meraih ponselnya, ia hendak berselancar sebentar ke dunia Maya. Mungkin dengan memainkan ponsel dapat mengundang kantuk untuk segera datang.


"Jadi Kangen Mbak Andini. Bisa bisanya dia meminta Tuan Arsena menangkap kupu kupu. Oma yang bercerita," celoteh Zara sambil tersenyum bahagia menceritakan Andini yang gemar menyiksa suaminya.


" Benarkah, apakah dia mendapatkan kupu kupunya?" Mert bertanya asal, tak tertarik dengan obrolan Zara mengenai Arsena. Sebenarnya dia sudah tak fokus. Malam ini tubuhnya terasa hangat. Jantungnya berdegup kencang dan entah perasaan seperti apa lagi yang datang, sungguh sulit untuk digambarkan.


"Zara ...." Mert memiringkan tubuhnya.


" Hmmm .... iya tuan?" Zara menoleh. wanita yang tengah bersandar di sisi ranjang itu menatap wajah Mert yang terlihat sendu.


"Zara ...." Mert menjatuhkan tangannya di pangkuan Zara.


" Apakah bayi-bayi Andini sehat?" Mert menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Zara.

__ADS_1


*happy reading.


__ADS_2