Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 175. 'Perasaan apa ini?'


__ADS_3

Arini segera menghubungi Willy, mencari tahu kebenaran ucapan Davit yang sedikit banyak sudah mempengaruhi otaknya.


Davit orang kepercayaan kakaknya, tak mungkin Kakak tercintanya itu salah memilih kaki tangan. "Sekarang dimana? Aku ingin kesana. Beri tahu aku tempatnya." Arini sudah tak semanis biasanya.


"Aku masih ditempat yang tadi sayang, kebetulan dekat dengan mesin ATM. Kenapa uangnya belum masuk? aku tak berani memanggil tukang derek sebelum uangnya benar-benar ada di tanganku."


"Maaf Willy aku belum bisa mengirim uangnya sekarang."


"Apa!?" Pura-pura terkejut. Padahal dia tadi sudah tau kalau Arini panik gara gara ATM terblokir saat di Mall tadi.


"Iya, Will, ATM aku sedang terblokir. Coba kamu hubungi papa kamu atau keluarga lainnya kali ini aku minta maaf."


"Dengar sendiri Kan? Willy itu masih di tempat semula, mobilnya saja mogok. Mana bisa dia datang kesini," ujar Arini setelah memutus panggilannya.


Iya, Nona. Bicara dengan orang sedang jatuh cinta itu memang sulit. Nona bisa percaya kata kata saya, karena saya memang tak ada niat buruk pada Nona, seperti yang selalu nona tuduhkan," ucap Davit panjang lebar. Tak mengurangi kesopanannya sedikitpun.


"Mbak, berapa total semua belanjaan ini?" Tanya Davit pada kasir. Sambil menyerahkan ATM nya


"Semuanya pas tiga juta, cuma kembali seribu rupiah, Mas." Kasir menyerahkan uang koin pada Davit, membuat netra pria itu membulat dan tertawa tak percaya. Padahal uang segitu sudah bisa dia pake untuk beli beberapa lusin daster untuk nenek yang ada di kampung.


Kasir menyerahkan kembali card milik Davit, pria itu segera menerimanya, sesungguhnya uang di ATM Davit masih banyak hanya saja dia kali ini tak mau membantu Arini untuk penipu itu.


"Kita pulang sekarang?" Tanya Davit pada Arini yang terlihat dalam bimbang.


"Iya."Arini mengangguk. Berjalan mendahului Davit.


Davit membawakan belanja Arini sampai mobil, lalu menaruh di dalam bagasi. Setelah itu Davit membukakan pintu untuknya.


"Silahkan masuk Tuan Putri." Kelakar Davit.


Arini tersenyum tipis. Dihatinya salut. Davit yang sudah dihina dan dimaki kenapa tak pernah marah atau benci sedikitpun. Dia tetap enjoy dan senyum setiap saat di depannya.


Mobil meluncur kembali di jalanandavit kali ini menyalakan musik romantis, Arini yang mendengarnya justru mengantuk dan tertidur.


Dua puluh menit mereka sudah sampai mansion. Rena dan Andini terlihat duduk di gazebo bermain main dengan putranya. Ratih dan Ratna menyiram bunga dengan bibir yang selalu manyun. Merutuki nasibnya yang sial.


"Arini sudah pulang Ma ... Dia lama nggak keluar pasti itu anak ketiduran di mobil." Kata Rena pada Andini.


"Jadi dia memang terbiasa ya, Ma?" Tanya Andini.


" Iya pokoknya mobil jalan AC nyala. Langsung tidur, beda sama Arsena dia suka bermain main di dalam mobil ketika adiknya sedang pulas.


"Kakak beradik yang tak memiliki kesamaan," ujar Rena lagi.

__ADS_1


"Nyonya, nona Arini tertidur, apa dibangunkan saja?" Davit mendekat ke arah majikan tuanya.


"Jangan, kamu bisa tolong bawa dia ke kamarnya?"


" Oh bisa Nyonya." Davit mengangguk dan segera masuk kembali ke garasi.


"Benar kan. Ndin dia tertidur?" Ujar Rena sambil tertawa terkekeh. Andini juga.


Davit menelusupkan tangannya di punggung dan kaki seraya bergumam. " Tidur apa pingsan sih, Non."


"Vit, bawa ke kamarnya dia pasti capek banget sampai pulas seperti itu."


"Iya, Nyonya "


Davit segera membawa Arini ke kamar ala bridal style. Tubuh berototnya sama sekali tak merasakan berat dengan beban tubuh Arini yang sekitar lima puluh kilo.


Davit takjub sejenak melihat kamar Arini, gadis manja ini ternyata pandai sekali menata ruang pribadinya.


Davit meurunkan tubuhnya diatas ranjang empuk, melepaskan tas slempang yang masih melilit tubuhnya dengan pelan. Davit juga melepaskan sepatunya. Semua yang dilakukan Davit tulus, tentu semua itu lepas dari pekerjaannya menjadi sopir.


"Selamat tidur Nona. Semoga ketika tau semuanya, kau sudah benar benar siap, hingga luka yang nanti kau alami tak terlalu sakit, " gumam Davit sambil menarik selimut di bawah kaki Arini dan menutupnya hingga sebatas Dada


Davit kembali keluar dan menuju mess yang menjadi tepat tinggalnya di sebelah garasi mobil. Davit ingin mengobati luka di pipinya yang masih sedikit memar lalu tidur. Hari ini sungguh sangat melelahkan.


Sore sudah tiba, Arini berulang kali mengerjabkan matanya. Gadis itu terlihat lelah perutnya juga berdendang.


"Sudah bangun rupanya?" Sapa Andini dari luar.


"Iya,Mbak," tersenyum malas.


"Sana mandi dulu gih, biar kuman yang ikut pulang segera pergi."


"Siap Dokter," turun dari ranjang dan bergerak ke kamar mandi dengan malas.


"Kusut banget sih? Oh iya Davit kenapa wajahnya bisa babak belur," tanya Andini yang menghempaskan pantatnya di pinggir ranjang.


Arini berhenti, menoleh ke arah Andini sebentar. "Oh, itu. Ya ... karena sok jagoan "


"Sok jagoan gimana maksudmu Arin? Davit sebelumnya nggak pernah buat masalah, Kok?"


"Karena dia melawan preman. Harusnya kan jangan pernah berurusan dengan orang orang semacam itu."


Willy maaf untuk menyelamatkan diriku, aku sampai bilang kamu preman.

__ADS_1


"Ini antarkan keruangan Davit. Dia pasti butuh obat untuk lukanya." Andini menaruh kotak PPPK diatas ranjang. Arini berjalan ke dalam kamar mandi sambil mengangguk setuju.


****


Usai mandi Arini memakai kaos warna merah dan celana yang panjangnya selutut. Meraih kotak PPPK dengan malas menuju rumah kecil Davit.


Tok! Tok! Tok!


Arini mengetuk pintu tiga ketukan


Ceklek!


"Arini ada apa? Tumben kesini?" Davit berbicara sambil menahan perih. Tadinya tidak begitu sakit. Setelah diam saja di kamar. Sakitnya jadi makin terasa.


"Nih." Menyodorkan kotak pemberian Andini.


"Buat apa?"


"Emang buat apa kotak beginian." Davit pura pura tak butuh. Ia mengembalikan kotak ke tangan Arini.


"Baiklah. Aku katakan pada Mbak Andini kalau kak Davit menolak." Arini hendak pergi, dia kembali melangkah hendak keluar.


Tiba-tiba hati nuraninya menginginkan untuk berhenti dan kembali melihat Davit yang mulai menata bantal ingin segera istirahat, sambil meringis menahan sakitnya.


Arini segera berbalik. " Bolehkah aku membantu." Katanya lemah lembut. Tak seperti biasa yang selalu jutek.


"Tidak, aku tidak apa-apa." Katanya sambil menggeliat kesakitan. Menutup pipinya yang memar.


Arini tetap memaksa, Davit yang tadinya bersandar kini merubah posisinya dengan duduk, membiarkan Arini menyentuh lukanya. Memeriksa dengan teliti khawatir bisa berakibat infeksi.


Arini membuka kotak PPPK, mengambil kapas dan meneteskan alkohol hingga beberapa tetes. "Mungkin rasanya akan perih. Tapi kalau dibiarkan bisa infeksi." ujar Arini.


Arini menyentuh pipi Davit dengan kapas. Membuat pria itu meringis kesakitan. " Auhh perih."


"Tahan, dikit aja." Arini tersenyum sambil menekan lebih keras.


"Pasti sengaja ya." Davit menghindari tangan Arini.


"Nggak, kak Davit sini wajahnya, menghadap kesini, biar Arini bersihkan."


"Nggak usah Nona aku bisa sendiri." Davit menggenggam tangan Arini agar berhenti menyentuh lukanya. Membuat mereka bertukar pandang dan saling diam.


Davit dan Arini segera menundukkan pandangannya. Ada getaran kecil yang muncul di hati masing masing.

__ADS_1


'Perasaan apa ini.' Davit masih tetap memalingkan wajahnya menatap arah lain. Sedangkan Arini menunduk.


'Ini tidak benar, aku dan Nona. Kita sangat berbeda. Aku tak boleh memiliki perasaan ini.'


__ADS_2