Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 196. Semoga dugaan ku salah


__ADS_3

Andini menggeser tubuhnya. Dia menyandarkan punggungnya pada sisi ranjang. Tiba tiba dia kepikiran Excel dan Cello. Pasalnya dia sebelumnya tak pernah meninggalkan baby twins seperti yang dilakukan hari ini.


"Sayang!" Arsena ikut menggeser tubuhnya pula, seperti yang Andini lakukan. " Baiklah kita telpon anak anak."


Arsena meraih ponselnya lalu mengusap layarnya berulang kali mencari kontak yang bernama mama.


Tut! Tut! Tut!


"Hallo." Suara dari seberang terdengar berat. Mama kelihatannya juga sudah ngantuk, terlihat wajahnya yang lelah dan gaun tidur warna maroon melekat di tubuhnya.


"Ma, apa sudah tidur?" Tanya Arsena.


"Iya, baru aja mama mau tidur, kenapa? Kamu dan Andini baik baik saja kan?" Khawatir mama.


"Iya, baik, ini aku baru selesai bikin Andini kelelahan." Arsena tersenyum nakal.


"Ars, kebiasaan banget, suka bablas kalau ngomong." Andini mengerucutkan bibirnya. Memukul pundak Arsena dengan kedua tangannya yang menggenggam. Namun Arsena malah menelusupkan tangannya ke punggung Andini dan merangkulnya.


"Ars, kamu ini, dasar !" Mama diseberang sana menggerutu, karena Arsena yang suka bicara asal.


"Ma, Andini kangen anak anak bisakah kita menyapa mereka sebentar." Arsena melirik Andini sekilas. Menyerahkan ponselnya kepada Andini. " Ni ngomong sama mama."


"Hai Andini! Kamu yang sabar ya berdua saja dengan Arsena, jangan lupa minum jamu biar kamu nggak kelelahan. Suami kamu pasti nggak biarin kamu tidur."


"Iya, Ma." Andini mengangguk. Mama di seberang sana tersenyum senang.


Andini diam-diam tadi sudah meminum pil KB tanpa sepengetahuan Arsena, akan sangat lucu jika bayinya baru dua bulan tapi mamanya sudah hamil lagi. Selain tidak dianjurkan oleh dokter dengan alasan kesehatan, kasian si kecil juga, masih kecil harus punya adik, sedikit banyak cinta orang tua pasti akan terbagi. Sedangkan Excel Dan Cello, dia sudah harus berbagi kasih sayang sejak lahir.


"Ndin, Excel dan Cello sekarang sudah tidur, nih, lihat! dia tidur di kamar mama." Rena mengarahkan kamera kearah Excel dan Cello yang sedang pulas, disebelah kedua putranya ada Johan yang sedang memeluknya sambil tidur. Excel dan Cello terlihat begitu nyenyak dan wajahnya penuh dengan kedamaian. Bocah kecil itu sedang memakai baju kembar dengan gambar mobil di perutnya.


" Ma, Pa makasi ya, sudah sayang sama mereka berdua." Andini terharu melihat papa mertuanya memeluk anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, walau papa tak mendengar karena sudah pulas.


"Andini, ngomong apa sih kamu, Sayang? Cucu itu nggak ada bedanya dengan anak sendiri. Darah daging Arsena mengalir ditubuhnya anak anak Artinya darah daging papa dan mama juga. Maafin Mama dulu pernah khilaf, Ndin."


"Sudah Andini maafin, Ma." Andini tersenyum mama pun tersenyum. Kebencian yang dulu sudah berakhir.


"Sayang, sudah lega kan lihat anak-anak tidur." Arsena makin menempel pada Andini memeluk dengan erat. Dia juga mencium dengan tak tahu malu di depan mamanya yang sedang video call.


"Iya, Ars, aku khawatir dia rewel dan kasian Mama kalau sampai itu terjadi. Tahu sendiri kan Excel dia suka bangun di tengah malam. Kalau Cello sih nyenyak tidurnya


"Nggak akan, Sayang, anak anak pasti sudah tau kalau Mama masih honeymoon."


"Ya udah, kalian lanjutkan honeymoon nya, ya, baik baik disana, daaa!!" Mama menutup ponselnya lebih dulu.


"Tu kan, Mama nggak keberatan jaga anak anak, malah kamu lihat sendiri kan. Gimana nyenyak nya tidur Excel dan Cello tadi."

__ADS_1


"Iya Ars, tau. Anak anak memang dukung banget buat papanya senang."


Andini turun dari ranjang. Dia ingin mandi membersihkan diri dari sisa sisa cinta mereka baru saja, setidaknya saat Arsena minta lagi keadaan tubuhnya sudah kembali bersih.


Andini segera masuk ke kamar mandi, tiba tiba ia begitu semangat melihat air di dalam bathup penuh, dia seakan menemukan surga yang bisa melepaskan lelahnya. Andini menggantungkan bathrobe di dinding. Ia segera memasukkan tubuh polosnya ke dalam air. Andini terkejut bukan main. Tubuhnya penuh dengan tanda kepemilikan di sekujur tubuhnya.


" Dasar Drakula penghisap darah!" Andini kesal Andini yang dilampiaskan dengan memukul air. mencoba menggosok tanda merah di tubuhnya, yang ada bukan malah hilang tapi malah terlihat lebih jelas.


Ceklek!


"Siapa penghisap darah?" Arsena langsung saja nyelonong masuk. Dia hanya memakai kain segitiga saja untuk menutupi tubuhnya.


"Ars, pergi! Biarkan aku selesaikan mandi dulu." Andini memasang wajah keberatan.


"Aku kesini karena dengar kau mengumpat drakula, siapa drakula?" Arsena mendekat, Dia ikut menceburkan diri ke dalam bathup Membuat air bathup mendadak penuh.


"Drakula nya keren nggak? Keren mana sama aku?" canda Arsena.


Arsena meraih sponge di sampingnya. Dia segera melumuri dengan sabun cair lalu meremasnya. Begitu busanya sudah keluar Arsena segera mengusapnya ke tubuh Andini.


"Ars, aku bisa sendiri." Andini berusaha merebut sponge dari tangan Arsena.


"Tapi aku ingin membantu. Izinkan aku membantumu sayang."


Andini mendengkus kesal. Tak ada gunanya melawan. Tapi Andini khawatir predatornya akan bangun dan memangsanya lagi.


"Sayang." Panggil Arsena dengan suara parau. Susah payah dia meneguk salivanya.


"Hmmm, jangan bilang mau lagi?" ucap Andini pendek.


"Gantian, aku pengen kamu yang memberi sabun pada tubuhku."


"Oke, bener ya hanya memberi sabun." Arsena mengangguk.


Andini menyentuh dada kotak-kotak mirip roti sobek itu dengan sponge. Ada rasa bangga rasanya bisa memiliki suami dengan tubuh demikian indah. Sekarang bukan saja Arsena yang jantungnya kembali berdegup kencang. Rupanya Andini juga mulai tersulut api gairah lagi.


"Sayang yang ini belum." Arsena membimbing tangan Andini menyentuh predatornya."


"Ih, mesum." Pekik Andini ketika tangannya dipaksa menggenggam benda besar dan pastinya diatas standar itu.


" Tapi kamu suka kan memiliki ini seorang diri, ini hanya milikmu."


" Mana aku tahu, sebelumnya pernah dipake sama wanita lain, kan aku nggak tau."


"Maksudnya?" Arsena tak terima.

__ADS_1


" Ya, siapa tahu kamu sudah pernah melakukannya sama mantan pacar-pacar kamu sebelum aku. Bukankah mantan kamu banyak banget. Dan salah satunya Namira sama Lili."


Arsena terkekeh. " Kalau aku berkata jujur, kamu mau kan membantu menenangkan dia yang lagi marah ini?"


"Pasti modus, kenapa selalu memberi pilihan yang hanya menguntungkan dirimu saja."


Benarkah hanya aku yang diuntungkan? Kamu juga sayang. Kalau dia tidak mau bangun, kamu nggak akan suka. Dan pasti nggak bisa merasakan kenikmatan."


Andini hanya mendengkus kesal. Rasanya berbicara dengan Arsena hanya buang waktu dan energi, saja dia buru buru berdiri dan membersihkan tubuhnya di shower, lalu keluar dengan cepat.


Sedangkan Arsena yang ditinggalkan Andini sendirian ia juga menyelesaikan mandinya dengan cepat, takut Andini akan tidur sebelum menyelesaikan permainan yang kedua.


Andini dan Arsena melewati malamnya dengan begitu indah, malam ini terbayar sudah penantian Arsena selama satu bulan setengah.


Dunia seakan hanya miliknya berdua, mereka menikmati malam panjangnya dengan saling mencurahkan kasih sayang dan bercumbu mesra. Mereka melakukannya ditempat yang berbeda, di kamar mandi, di sofa, di ranjang, terkadang Arsena memintanya saat di ruang makan, di dapur , pernah juga mencoba sekali di koridor kamar hotel.


***


Pagi telah tiba. Andini mengerjabkan matanya berulang kali. Tubuhnya sangat lelah, Dagingnya seperti dilolosi dari tulang-belulangnya.


Setelah pandangannya kembali jernih, Andini menoleh di sampingnya, berharap pria yang sudah membuat tubuhnya porak-poranda masih tidur lelap di sampingnya. Namun Andini tak menemukan Arsena. Rupanya pria yang sudah terbiasa bangun pagi itu sama sekali tak meninggalkan kebiasaan baiknya.


Andini mencoba turun dari ranjang. Menggerakkan tubuhnya menuju kamar mandi. Lalu membuat kopi di dapur cantik nan bersih yang ada di kamar hotelnya.


Andini tiba-tiba melamun, dia kembali teringat pada Vanes. Wanita yang memiliki suara sangat mirip dengan Lili. walau sekedar mirip, tapi kemiripan itu sangat jarang terjadi kalau dia bukan saudara, atau kerabat.


"Sayang, melamun saja."Arsena tiba-tiba dari arah belakang langsung memeluk Andini, membuat lamunan Andini yang sudah ia rangkai sedari tadi buyar seketika.


"Ars, bisa nggak sih, sekali saja nggak bikin orang jantungan." Andini berbicara dengan mimik muka serius.


"Sayang, kok sensi, tumben?" Arsena membalik tubuh Andini, menangkupkan tangannya menopang wajah Andini. " Sayang ada apa?" Lirih Arsena kali ini suaranya terdengar lembut tak bercanda lagi.


"Ars, aku merasa Vanes adalah Lili. Kamu tau kan Lili tidak ditemukan, Ken sendiri sudah lelah mencarinya, bukankah dia tangan kanan papa yang hebat selama bekerja, tak pernah sekalipun melakukan kesalahan, tapi Ken tak mendapatkan info apapun saat masa pencarian Lili dan Dev.


" Dev dan Lili seperti telah hilang dari muka bumi ini. Tapi tak mungkin dia menghilang begitu saja setelah kekalahan yang ia alami." ujar Andini.


"Sayang kamu takut? Jangan takut, Kan ada aku. Aku awalnya juga sependapat dengan kamu, aku sudah melakukan penyelidikan. Tapi mereka memang orang yang berbeda. Andrew dan Vanes bukan Lili dan Dev. Mereka resmi sudah suami istri, dan mereka juga sudah memiliki putra, bahkan putranya baru berusia empat puluh hari." Terang Arsena berusaha membuat Andini tenang.


Andini sebenarnya tak begitu yakin, berhubung kalimat itu keluar dari bibir Arsena. Andini percaya.


"Sayang tenang ya, jika aku menemukan bukti kalau Andrew dan Vanes adalah Lili maka aku akan mengantarkan mereka kembali pada jeruji besi. Dia harus bertanggung jawab telah membuat Miko koma dan kamu menderita." Arsena mengelus rambut istrinya lalu mengecup keningnya sesaat.


"Kopi ku mana? Pasti sudah dingin." Arsena mengalihkan topik pembicaraan pagi ini. mereka berdua kini menuju ruang tamu dan duduk santai menunggu sarapan datang dikirim oleh waiters.


"Ars kamu yakin anak itu anak kandung Vanes dan Andrew."

__ADS_1


" iya, mereka bahkan melahirkan di sebuah rumah sakit di kota ini, jadi tak mungkin itu anak adopsi." terang Arsena sebelum menyeruput kopinya.


* happy reading.


__ADS_2