Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 209. Berpisah untuk sementara.


__ADS_3

"Sayang bagaimana kalau sementara waktu kau dan anak anak liburan dulu, jika kamu setuju aku akan atur keberangkatan kalian nanti."


"Aku dan anak anak? Tanpa dirimu?" Andini menoleh kearah Arsena, mencari kebenaran dari ucapan yang baru saja lolos dari bibir pria tampannya. Tak percaya dengan kata-kata yang baru saja di dengar.


"Ya, kamu dan anak-anak, mungkin Mama dan Arini juga." Arsena yang mengerti ketidak yakinan Andini dia terpaksa mengulang kata katanya.


Andini segera beringsut, menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Arsena. Andini terlihat merajuk. Dia tak pernah membayangkan sebelumnya harus berjauhan seperti yang dikatakan Arsena baru saja.


"Jangan salah sangka, aku hanya ingin kau dan anak anak aman." Arsena menggenggam jemari Andini dan mengecupnya. "Ini pertama kalinya aku mengiklaskan kamu jauh dariku, bukan hanya kamu saja yang merasakan beratnya berjauhan, tapi aku juga, aku pasti akan sangat merindukanmu dan kedua anakku nanti aku akan sering telepon."


Andini menepis tangan Arsena. "Tidak mau! Aku tidak akan pergi jika tanpamu. Bukankah kamu sudah berjanji kalau kita akan selalu bersama."


Arsena menarik nafasnya, menghembuskan berlahan. Menghadapi Andini kadang memang membutuhkan kesabaran ekstra. Apalagi dia baru saja sembuh dari racun yang mematikan itu, dia makin sensitif.


"Tidak apa-apa sementara waktu kita berjauhan. Tapi setelahnya kita akan bahagia dan tenang, Sayang."


"Tapi Ars, apa aku bisa? Apa aku sanggup melewati hari hari tanpamu. Kamu memang nggak akan mengerti dengan apa yang aku rasakan."


"Secinta itukah dirimu padaku sayang?" Arsena berusaha bercanda agar Andini tak kalut dalam kesedihan.


"Tidak juga, aku mencintaimu begitu besar.alasannya karena ada anak diantara kita."


"Sudah ketahuan masih saja malu, memangnya cuma anak anak saja yang butuh papahnya, mamanya enggak? apa seorang istri tak butuh kehangatan suami, bohong banget sih." Arsena mentowel hidung Andini. Andini mendadak menjadi pemalu.


'Percayalah padaku, Sayang. Aku akan menyelesaikan semuanya secepatnya. Setelah semua sudah baik baik saja. Kalian akan segera kembali lagi. Anggap saja kalian sedang liburan, karena aku akan mengirim kalian pada pulau yang sangat indah."


Andini kembali diam, kini dia menempelkan kepalanya di dada bidang suaminya. Mendongakkan kepala,bmenatap dengan tatapan penuh cinta.


"Harus janji setelah semua selesai, aku ingin kamu sendiri yang menjemputku."


"Iya sayang. Aku janji."


"Iya Mbak, mbak Andini nggak usah khawatir. Arini juga akan ikut liburan kok. Mumpung kuliah juga libur. Apalagi ada Kak Dav ...." Arini menggantung kata katanya.


"iya kalau ada kak Davit kita aman, kak Davit jago banget, dia memiliki ilmu beladiri tinggi," ujar Arini yang kebetulan dengar percakapan Andini dan Arsena.


" Davit akan ikut kita?" Tanya Andini pada Arsena.


" Iya, aku percayakan Davit untuk menjaga kalian semua nanti disana, hanya dia yang aku percaya sekarang. Aku akan menghabisi pengkhianat beserta koleganya yang bersekongkol ingin menghancurkan keluargaku bersama botak dan gondrong..


"Ars, aku ingin Vanya juga ikut, " pinta Andini. " Dia sahabatku, semenjak menikah dan tinggal di mansion aku hampir saja melupakan kisah kisah persahabatanku dengan Vanya."


"Iya, Nanti Dokter Vanya akan ikut juga, dia yang akan membantumu, tapi ingat, saat bersama dengan dia jangan bahas mantan ya?"

__ADS_1


"Emang mantan sepenting itu untuk di bahas?" Andini ingin tertawa. Yang keluar hanya sebatas senyum saja sambil mencubit bibir bawah Arsena yang asal bicara.


Arsena nenatap lekat wajah Andini yang terlihat lebih baik " Siapa tahu ingat nostalgia saat kuliah."


" Ars, jangan mikir macam macam." Andini dan Arsena sama-sama menggeser posisi duduknya, sudah tak serapat tadi.


"Iya, kak Arsena ada ada aja, mbak Andini sudah cinta mati sama kakak, cuma cinta monyet ya nggak mungkin diingat lagi." ujar Arini yang tiba tiba muncul lagi dari arah dapur, menyerahkan secangkir teh hangat untuk Arsena dan satu cangkir untuk Andini.


"Lhoh lok bikin Lima? Buat siapa aja nie?" Andini mencoba menggoda.


Mendengar ucapan Andini, Arsena ikut tertarik dengan jumlah teh buatan Arini.


"Oh, ini? Satu buat kak Davit, dia berjaga di depan pasti haus," ujar Arini yang gelisah, takut ekspresi wajahnya ketebak oleh kakaknya.


"Kamu perhatian sekali dengan Davit?" ujar Arsena sambil menyeruput teh manis hangat buatan Adiknya, dan meletakkan kembali setelah tinggal separuhnya.


"Iya, tentu. Bukankah itu perbuatan baik. Kita harus berbagi dengan siapapun, orang yang bekerja dengan kita itu sudah seperti saudara." Andini berusaha meyakinkan Arsena kalau Arini tak melakukan kesalahan.


"Okey, bagus kalau memang seperti itu alasannya, silahkan antarkan tehnya ke Davit." Arsena mengisyaratkan dengan tangannya, mengizinkan Arini pergi.


"Ars bagaimana kalau Arini nanti berjodoh dengan pria sederhana? Apa kamu akan merestui." Andini menyoba menyentil sedikit tentang hubungan Arini dan Davit.


"Sayang apa yang kamu katakan? Arini masih kuliah, dan dia hanya boleh memikirkan mata kuliah bukan hal lain."


"Tapi Ars aku bilang cuma andaikan?"


Andini memanyunkan bibirnya, menyerah. Dia selalu kalah telak. Berdebat dengan Arsena tak akan pernah menang.


Andini akhirnya memutuskan tidur tidak terlalu larut, seperti yang dibicarakan tadi, pagi buta dia harus sudah berangkat.


Andini tidur seperti bayi kecil yang menjadikan Arsena seperti guling raksasanya. Perpisahan ini hanya sementara, tapi bagi Andini ini pertama kalinya akan jauh dengan sosok pemilik tubuh harum yang sangat ia sukai , Andini merasa ini hal yang amat berat. Sedangkan Arsena sama sekali tak bisa tidur, dia terus memeluk tubuh istrinya dan menatap wajahnya hingga puas.


'Aku sudah lega bisa merayakan pernikahan kita dan membuat sebuah album foto yang bagus. Biar Oma dan kamu senang Andini. Walaupun semua terlambat, album foto pernikahan kita ada setelah kita memiliki dua putra.'


'Kau tau alasannya karena aku bukan pria yang mudah jatuh cinta, dan setelah jatuh cinta kau tahu sendiri kan? Aku tak mungkin melepasnya lagi sayang.'


'Andini kaulah satu satunya wanita yang telah membuatku takhluk, aku lemah tanpa cintamu.'


Arsena membuang nafas kasar mengusir kegelisahan hatinya lalu memaksa diri membuat netranya terpejam. Berharap malam ini akan panjang daripada biasanya. Atau kalau bisa selamanya biar tak ada pagi yang membuat dekapan ini terlepas.


****


Pagi telah tiba. Arsena sudah lebih dulu bangun. Dia segera menghubungi mama. Rupanya mama dan papa sudah siap berangkat. Mereka amat senang dengan liburan yang ditawarkan Arsena. Excel dan Cello juga terlihat senang, bayi kembar tetapi tidak identik itu sudah rapi dengan baju baru warna putih bersih dengan gambar karakter Spider-Man di dadanya. Celana panjang dan kaos kaki sudah melekat ditubuhnya.

__ADS_1


Selama kepergian Arsena dan Andini, Rena melarang Ratih dan Ratna menyentuh Excel dan Cello, termasuk sekedar menyiapkan baju ganti. Semua dia lakukan sendiri dibantu Bi Um dan Sang Kakek sendiri. Sedangkan Zara dan Dara perut mereka berdua sudah mulai terlihat membuncit Miko dan Mert sudah tak sabar menantikan calon jagoan mereka untuk melihat dunia.


Andini menggeliat, merasakan tubuh hangat masih memeluknya, Andini membalas pelukan suaminya. "Ars aku berharap hari ini tak ada siang. Biar aku senang, karena kau tak perlu mengirim diriku ke pulau itu."


"Tak ada pelangi sebelum hujan tak ada emas berlian yang indah sebelum di bakar dan melalui proses penanganan yang panjang. Begitu juga hidup kita, aku berharap setelah kita berpisah sementara ini. Setelah itu hanya kebahagiaan yang menghampiri." ujar Arsena bijaksana.


"Amin semoga Ars. Andini segera bangkit dari ranjang menatap sebentar pada jam bundar yang menempel di dinding.


Saatnya mengingatkan pada Arini untuk segera bersiap, anak gadis mandinya lebih lama. Andini berjalan tanpa semangat menuju kamar Arini. Ternyata gadisnya sudah selesai mandi dan bahkan dia sudah rapi dengan blus selutut yang ia beri pemanis berupa ikat pinggang yang melilit di pinggangnya.


Arini tentu berbeda dengan Andini, dia sangat senang akan bersama Davit. Semalam dia dengar Davit yang akan menjadi keamanan untuknya selama liburan.


"Mbak, kok belum siap?" Tanya Arini saat Andini datang.


Ya, aku akan siap siap sekarang, Andini kembali memundurkan tubuhnya menutup kembali pintu kamar Arini. Andini juga melihat Vanya sudah siap dengan penampilannya yang kali ini terlihat feminim.


Andini masuk ke kamarnya, rupanya Arsena ada di kamar mandi, ia sudah mengisi bathup dengan air hangat memberinya beberapa tetes aroma terapi rupanya dia pagi ini sudah jadi pelayan yang siap melayani istrinya. Jika tanpa melihat sendiri, para wanita tak akan percaya seorang Dirut perusahaan besar sudah melayani istrinya dalam hal mandi.


"Sayang, mandilah sekarang. Aku sudah siapkan semuanya."


"Ars, kenapa kamu melakukan ini semua? Aku masih bisa."


"Sayang aku melakukannya semata untuk membuatmu merasa istimewa." Arsena menarik lengan Andini agar jarak mereka lebih dekat. Arsena membuka tali piyama tidur Andini dan menjatuhkannya ke lantai. Tubuh putih seputih susu itu seketika sudah polos.


Arsena langsung menggendongnya sambil terus menciumi bibir Andini. Ciuman mereka terlepas saat lutut Arsena menyentuh bibir bathup.


Arsena menurunkan Andini pelan pelan lalu mengunci pintunya dari dalam. Arsena juga membuka piyama mandinya dan menggantungnya di gantungan.


Senyumnya mengembang saat Andini tak protes sama sekali dengan yang akan ia lakukan.


Arsena segera masuk dan memangku Andini meraih sponge yang sudah dilumuri dengan sabun lalu menggosok punggungnya dengan pelan, setelah selesai bagian punggung Arsena membersihkan tubuh Andini bagian depan.


Sentuhan lembut pagi yang dilakukan Arsena, rupanya telah menyulut api gairah yang semalam terlewatkan. Mereka terpaksa harus menuntaskannya di pagi ini.


Air di bathup mulai berombak Arsena dan Andini sangat menikmati sensasi percintaan yang berbeda dari biasanya ini. Tak lupa Arsena memberi banyak tanda cinta di sekitar leher dan kedua bukit kembar yang nampak lebih menggairahkan dan kencang itu.


"Ars, kau nakal sekali, semua orang akan melihatnya nanti."


"Aku sengaja melakukannya, agar siapapun yang melihatmu dia tahu kau sudah ada yang memiliki."


"Orang orang pasti akan tahu, karena aku bawa bayi."


"Dia akan mengira kalau itu bukan bayimu, kau terlihat masih gadis."

__ADS_1


Andini makin gemas dengan Arsena, kalau tak ingat waktu yang terus bergulir, Andini masih ingin menggigit hidung suaminya hingga dia memekik kesakitan.


* Happy reading.


__ADS_2