Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 251. Pernikahan.


__ADS_3

Langit berwarna biru, mentari pagi bersinar dengan elok, alam seakan ikut berbahagia menyambut datangnya hari ini. ya, hari ini sudah ditetapkan sebagai hari pernikahan Davit dan Arini yang sudah dinantikan oleh para tamu undangan. Mereka penasaran. Akankah pernikahan si kaya dan si miskin bisa berjalan dengan lancar.


Para pelayan hilir mudik keluar masuk rumah Atmaja, mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan untuk acara pesta hari ini.


Sedangkan sang pengantin sudah sejak pagi tadi di jemput menuju gedung dan ditempatkan dalam ruangan khusus untuk melaksanakan rangkaian ritual yang harus dilalui sebelum naik pelaminan.


Dara masih di rumah, dia akan datang ketika ijab saja. Sang suami yang amat sayang tak ingin membuatnya lelah, menyentuh satu pekerjaan saja apabila ketahuan Miko pasti langsung dilarang.


Sedangkan Zara sangat berhati hati dengan moment ini, dia memilih tinggal dirumah sendiri, dengan alasan kehamilannya yang menuju persalinan. Zara tak mau membuat Arini merasa terganggu dengan kehadirannya setelah kejadian tukar cincin waktu itu.


"Nona berikan telapak tangan anda." Seorang make up artist yang terlihat separuh laki dengan gayanya yang gemulai mulai melukis telapak Arini, kuku cantiknya juga sudah selesai dipakaikan kutek berwarna senada dengan warna henna nya.


"Anda terlihat masih muda, kenapa mau menikah cepat, apa nggak menyesal," tanyanya dengan gaya bicara yang alay.


"No, Sista. I am very happy." ujar Arini yang telah tak sabar menunggu hari ini tiba.


"Ya ya, Nona,saya tahu anda sudah sangat kasmaran dengan calon suami anda yang tampan itu tentunya." ujarnya lagi, sambil terus melukis nama Davit di telapak tangan Arini dengan jarinya yang berukuran agak besar itu.


"Tau aja kalau calon suami gue memang cakep?" Ujar Arini bangga.


"Tau lah Nona, Sista tadi udah lihat fotonya di pajang di depan, pasti banyak wanita di kota ini akan membicarakan pernikahan ini Nona. Pernikahan menakjubkan seorang sopir tampan dengan wanita cantik seorang konglomerat, wow pasti amazing." Pria gemulai itu kembali berbicara dengan gayanya bicaranya yang dibuat secentil mungkin


"Sista bisa aja, emang salah aku menikahi mantan sopir ku," tanya Arini.


" No, Sista nggak bilang salah tapi me-nak-jub-kan."


"Mau dong Sista, kalau ada kembarannya yang cakep, tinggi, besar kayak Kak Davit. Pasti Sista bakar nyaman di pelukannya. Amboy nikmat banget pasti rasanya."


Arini tak bisa menahan tawanya, Sista nggak sepenuhnya cuma berkhayal, kenyataannya Arini merasakan sendiri kalau dia memang menemukan kehangatan yang luar biasa di dekat Davit.


"Stt ... calon suami nona sudah datang Dia sedang berdiri di ambang pintu, melihat ke sini tanpa berkedip, seminggu dipingit pasti kangen banget. Siap-siap nanti malam Nona pasti akan dilahap habis sama suami," ujarnya sambil berbisik-bisik.


" Benar Sis, Kak Davit sudah datang?" Arini sengaja tak menoleh, ia ingin membuat David lebih penasaran lagi pada dirinya saat sudah menjadi pengantinnya. Dag Dig Dug kantung Arini tak terelakkan lagi.


" Sista nggak bohong, cakeepnya." Sista ******* ***** jemarinya gemas.


'Karena elo bukan wanita tulen gue biarin natap Kak Davit penuh nafsu gitu, tapi kalau cewek tulen, jangan harap ya Sis.'


'Pergi Kak Davit dari sini jangan masuk please.'


Seperti mengerti bahasa kalbu hari ini David pun pergi.

__ADS_1


____


"Astaga Arini, acara ijab qobul pukul sepuluh, ini pengantinnya kenapa masih belum pakai gaun dan riasan di wajah." Salsa tiba-tiba sudah ada di samping Arini.


"Hei, Bawel. Datang-datang langsung nyamber aja kayak emprit elo, ini baru jam tujuh, emangnya yang kerja itu gue apa elu?" Sista terlihat risih sama Salsa yang datang langsung menjadi komentator.


Salsa datang bersama Davit, dia yang merengek sejak semalam minta dijemput, alasannya karena dia pengen datang lebih awal, dan kondisinya yang hamil muda tak memungkinkan untuk naik kendaraan sendiri.


Salsa kini menyerahkan kado yang dibeli tempo hari. Dia membelikan kotak musik yang cantik. "Diterima ya Arini, mungkin ini jauh dari kata bagus tapi aku memberinya dengan tulus."


"Ya Tuhan, Salsa ini hadiah udah Bagus banget aku ucapkan terimakasih sebanyaknya, Ya. jadi ngerepotin kamu." Arini menerima hadiah dari Salsa dengan senang hati. Memeluk sahabatnya erat. Semoga salsa kali ini tulus dengan yang dilakukan.


Sista yang sudah terbiasa mendandani artis papan atas, kini dengan keahliannya dia mulai bekerja dengan terampil, memolas wajah Arini yang natural menjadi make up bold khas seorang pengantin.


Davit juga mulai didandani namun berada di kamar lain. Pengantin pria lebih cepat selesai daripada pengantin wanita, hanya lima belas menit kawan Sista sudah selesai mendandani Davit. Davit terlihat sangat tampan dengan tukedo yang dikenakan.


Selang beberapa menit Arini juga sudah selesai, tinggal memakai baju saja. Tiba-tiba seorang berseragam securiti datang menghampiri Arini. " Nona, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda, sebentar saja. menurut pengakuannya dia ingin memberi ucapan selamat dan setelah lega bertemu dengan Anda dia akan pergi ke luar negeri."


Arini yang masih memainkan kotak musik di tangannya, dia segera meletakkan benda pemberian sahabatnya itu.


"Siapa? Kenapa tidak langsung saja menunggu di kursi tamu yang sudah disediakan?"


"Baiklah aku akan temui dia sebentar, aku ingin tahu siapa pria itu."


"Mari saya antar Nona." Securiti tersebut mengantar Arini menuju pintu belakang, rupanya dia tidak berbohong ada dua orang yang berdiri di dekat mobil warna hitam dilengkapi dengan kaca gelap. Kebetulan dua pria itu berdiri memunggungi Arini.


"Siapa kalian?" Tanya Arini yang tak menuai jawaban.


" Siapa kalian kenapa ingin bertemu denganku dengan cara seperti ini?" Tanya Arini sekali lagi.


" Siapa? Gadisku kau mendadak pelupa rupanya, pasti pria miskin itu yang membuat dirimu lupa akan cintaku yang besar." Pria itu membalikkan tubuhnya, tawa smirk keluar dari bibirnya yang tercium aroma alkohol. "Kenapa kamu mudah sekali melupakan kita berdua Arini, Gadisku!"


"Willy, Nathan!! kenapa kalian bisa bebas?!" Arini tak percaya.


" Nona anda berhati hatilah, aku takut dia akan membuat kekacauan." Sista yang bukan hanya sekali mengalami kejadian seperti hari ini dia mulai waspada, memperingatkan Arini.


Arini mengangguk, Namun dia belum puas tanpa tahu sebab kedua laki-laki itu bebas. "Bukankah kamu harus mendekam di penjara, kamu tak mungkin bisa keluar, pengadilan sudah memutuskan hukuman seumur hidup untukmu."


" Siapa bilang?" Buktinya hari ini aku bisa keluar dengan tubuhku yang utuh dan sehat. Aku bisa menghirup udara bebas Arini yang manis." kata Willy sambil menarik dagu Arini yang lancip.


" Kamu tak mungkin bisa lolos dengan mudah, polisi tak mungkin berani melepaskan mu!!" Arini menepis tangan Willy. " jika kakakku tau, kau pasti akan mendapat hukuman yang lebih berat dari sebuah hukuman di jeruji tahanan.

__ADS_1


"Apa kamu mau tahu banget bagaimana aku bisa keluar. Aku sudah membuat konspirasi yang sangat bagus bersama Nathan. Harusnya kau memberiku pujian karena aku berhasil keluar dari sana. Bukankah dihatimu juga masih ada namaku, aku sudah berjanji padamu akan membuat bahagia." Willy mulai menarik lengan Arini. Namun Arini berusaha menepis dengan cepat. Sedangkan Sista ingin berlari memanggil keluarga yang lainnya. Tapi Nathan dengan cepat membekap mulutnya dengan saputangan yang sudah dibubuhi dengan obat penghilang kesadaran.


Nathan segera membawa Sista masuk ke dalam mobil, sedangkan Willy masih mengatasi Arini yang meronta.


Willy pun segera membuat Arini tak sadar, dia membawa tubuh Arini yang sudah dirias tinggal ganti dengan gaun pengantin itu ke dalam mobil.


Dua pria setengah gila itu segera meluncurkan mobilnya dengan kecepatan tinggi, beberapa orang yang melihatnya curiga ada mobil dari arah belakang gedung melaju dengan cepat.


Sekurity yang sedang berjaga di pintu depan segera memeriksa tempat mempelai wanita yang tengah dirias.


Mereka kembali tenang, ternyata pengantin wanita sudah siap dengan gaun putih tulang dengan memakai penutup wajah.


"Nona, anda yakin ingin melakukan ijab dengan penutup wajah seperti ini." Tanya salah seorang sekurity. Dibalas anggukan oleh wanita itu.


Wanita itu keluar dan duduk di tempat yang disediakan setelah penampilannya dirasakan sudah sempurna.


Wanita yang menggantikan posisi Arini segera duduk di sebelah Davit, mereka saling diam tanpa berani menatap.


Satu langkah menuju halal, sungguh membuat Davit tak bisa memikirkan apapun. yang ada di angannya sekarang, sungguh hanya bagaimana dia akan mengucap bacaan ijab dengan benar.


Arsena dan Andini beserta keluarga lainnya baru datang dari salon kecantikan, segera duduk di belakang pengantin.


"Bagaimana menurut semua yang hadir? apa pernikahan bisa di mulai sekarang?" Tanya penghulu sambil mengamati saksi dan wali yang sudah siap.


"Mulai sekarang saja pak penghulu, semakin cepat akan semakin bagus." Tangan Johan terulur ke depan, Davit menyambutnya dengan cepat, Johan segera mengucapkan bacaan ijab dengan lancar.


Ketika Davit tinggal mengucap bacaan Qobul, Andini yang menangkap gelagat aneh dari pengantin perempuan segera menghentikan.


"Tunggu. Pernikahan ini harus dihentikan, wanita ini bukan Arini, adikku. Arini adikku ingin memakai henna di tangannya saat pernikahannya. Tapi tangan gadis ini polos, dia juga tak memakai cincin tunangan."


"Pantas saja sejak tadi wanita itu menyembunyikan tangannya di bawah meja." Oma ikut berbicara.


Andini yang tepat berada di belakangnya sejak tadi mulai menangkap gelagat aneh, Arini akan mencium tangannya saat datang. Dan Arini juga tak ingin menikah dengan mengunakan cadar atau penutup apapun di wajahnya.


"Securiti tangkap wanita ini dan buka penutup wajahnya?" Arsena geram, dia telah kecolongan. Ternyata musuh yang diduga sudah tak ada lagi kini masih berkeliaran di dekatnya.


Pengantin palsu itu tangannya gemetar hebat, dia ingin berlari keluar menembus para tamu.


Namun rasanya hal itu tak mungkin, ribuan orang yang hadir dan ratusan kerabat dekat tak akan diam begitu saja.


Tamu undangan semua berdiri, bahkan ada sebagian yang maju kedepan berdesakan demi bisa melihat pengantin palsu yang ada di depannya.

__ADS_1


__ADS_2