
Mert menyaksikan semuanya di balik monitor, dia tau apa yang sedang Zara obrolkan dengan kekasihnya itu. Ya ... mereka belum sama-sama mengucap putus. Ketika di malam ulang tahun Zara telah sepakat menjalin kasih, mereka belum mengakhiri kisah cinta itu.
Ide gila ini tiba-tiba muncul di benak Mert. Dimana ia ingin sekali mengambil apa yang sudah menjadi haknya. Namun, Zara waktu itu selalu bilang belum siap, ia selalu beralasan dan terlihat ketakutan. Mungkin kejadian malam itu membawa trauma pada diri Zara. Hingga dia tak ingin lagi merasakan penyatuan antara dia dan suaminya.
Semenjak kejadian itu Mert kembali bersabar. Menunggu Zara membuka hati untuknya. Mert berharap cara yang ia lakukan saat ini akan mengungkap kebenaran yang terpendam di hati Zara. Seberapa besar Zara menghargai ikatan yang di sebut 'pernikahan'.
Apakah Zara akan tetap setia ketika cintanya kini tengah diuji? Seberapa besarkah cinta Zara untuk Mert?
"Zara pertimbangkan sekarang juga. Aku mencintaimu, dan cintamu untukku, kau mengorbankan kebahagiaan mu demi orang yang tak kau cintai."
"Kasihan sekali hidupmu Zara," kata Davit seolah Zara adalah wanita paling malang di dunia.
Davit berusaha menggenggam jemari Zara yang ada di atas meja.
Zara menjauhkan tangannya dari jangkauan Davit. Seolah dia tengah tak sengaja melakukannya.
"Kak, Davit apa yang akan kak Davit lakukan jika aku ikut bersamamu?"
"Kita pergi Zara, kita pergi yang sangat jauh, dan kita akan mulai hidup baru disana"
Zara tersenyum, senyum bukan berarti kalau dia sedang bahagia oleh ajakan Davit. Zara berfikir kalau Davit akan mendoakan kebahagiaan untuknya, tapi ternyata pria itu memilih jalan ingin membawanya pergi.
Mert ingin segera mengakhiri semua ini, dia sudah tak sabar berada di balik layar, Mert ingin menunjukkan dirinya sekarang juga. Tapi teman Mert, Ardo pria yang membantu acara ini menahan Mert.
"Tunggu Bro, acara ini belum selesai. Bukankah kau ingin mengetahui seberapa besar istrimu bisa menjaga hubungan kalian. Dan paling penting kau harus mengetahui apakah dia tetap setia di belakang suaminya
Yah, Kau benar ini waktu yang tepat untuk tahu semuanya. Mert mengangguk anggukan kepala. Kini tangannya berpindah menopang dagunya. Menatap monitor dengan intens, Mert tak ingin ada satu katapun yang terlewatkan untuk ia dengar.
Zara, apa yang kau harapkan dari pria yang tak memberimu cinta?
Zara mulai tak nyaman berdua saja dengan Davit. Terlihat dari kegelisahan di wajahnya, berulang kali menatap pintu masuk, mungkin Zara berharap Mert akan segera datang.
Kini tatapan Zara berpindah pada gawai ditangannya.
Melihat apakah pesan yang ia kirim kepada Mert sudah centang biru. Ternyata belum.
Zara mencoba mengirim satu pesan lagi pada suaminya yang bertuliskan
Tuan temanmu tak datang, aku sudah lama menunggu, aku ingin pulang.
Mert yakin pasti Zara sedang mengetik pesan untuknya, Mert buru-buru mengaktifkan ponselnya.
Benar sekali, pesan dari Zara segera meluncur di ponsel Mert. Mert segera membacanya. Dan ia pun membalas.
Tunggu sebentar lagi, jangan kemana mana, aku akan segera kesana begitu meeting selesai.
Zara tersenyum begitu pesannya mendapat balasan dari Mert.
__ADS_1
Davit menyipitkan sebelah matanya. " Suamimu?" ujarnya kemudian.
"Iya. Dia masih meeting." ujar Zara kemudian. Sambil menggigit bibir bawahnya. tuan, 'malam malam seperti ini, meeting dengan siapa.'
"Zara putuskan sekarang? Pilihan ada di tanganmu?" Davit masih berharap kalau kebahagiaan Zara hanya tertumpu padanya.
"Kak, Davit, aku tidak bisa memilih kalian berdua, karena kalian bukan pilihan, aku hanya ingin bersama seseorang yang seharusnya mendampingiku."
Zara menggelengkan kepala, entah kenapa bukannya malah senang di dekat Davit. Justru ketenangan dulu yang pernah ia temukan itu berubah menjadi ketakutan. Zara takut Mert akan cemburu.
"Zara !" Davit berdiri meninggalkan kursi yang mulai terasa panas oleh pantatnya, mengulurkan tangannya pada Zara, menatap wajah wanita yang kini tengah dilema, seakan memberi tahu ini kesempatan terbaiknya.
"Tidak, Kak." Zara menggeleng. Namun Davit tak sabar ia hendak meraih paksa tangan Zara.
"Kak, Davit. Manusia hanya bisa berencana, tapi takdir sudah ada, aku minta maaf dimalam itu telah memberi kak Davit harapan palsu. Aku tak bisa menepati ucapan ku. Aku hanya manusia biasa, aku tak bisa menyakiti hati seorang manusia lebih dari ini, berdua ditempat seperti ini, kita sudah salah."
"Tapi ingat Zara, kau tak bahagia." Davit menarik tangannya yang hanya sebatas menggantung di udara.
Zara berlari keluar, ia membuka pintu ruangan dengan tergesa gesa.
Deg. Jantung Zara berdetak kencang. Setelah ia berpapasan dengan Mert di depan pintu.
"Zara, kau akan kemana?" Tanya Mert.
"Tuan, aku kedinginan AC di dalam terlalu dingin, aku ingin menunggu di taman saja." ucap Zara yang tak bisa menyembunyikan kepanikannya.
"Pakai jaket milikku dulu" cegah Mert.
Zara berhenti, menoleh ke arah Mert.
Mert melepaskan tangannya. Membuka jaket kulit warna hitam yang menjadi kesayangannya. Mert menempelkan ke punggung Zara.
Davit mematung melihat adegan romantis suami istri didepannya.
'Ah, dia pasti sengaja melakukan semua itu di depanku, hanya untuk membuatnya cemburu.'
"Masukkan saja jari jarimu di sakunya, jaket ini hangat," kata Mert, sambil melirik Zara, ada segaris senyum yang tertampil di bibir Mert.
Mert kembali membimbing Zara agar masuk ke dalam ruangan ini, dengan meletakkan tangannya di punggung Zara, lalu menariknya melangkah masuk.
"Zara, Davit, kenapa kalian tak jadi makan malam. Aku sudah pesankan menu kesukaan kalian berdua."
"Tuan Mert, apa maksud anda sebenarnya?" wajah Davit terlihat tak bersahabat.
" Tidak ada maksud apa-apa, duduklah kembali." Mert menunjuk kursi yang kosong untuk davit, agar duduk kembali. Sedangkan untuk Zara, Mert menarik satu kursi tepat di sampingnya.
"Apa kalian sengaja menjebak kami, dan Tuan bisa menuduh Zara selingkuh?"
__ADS_1
"Tidak, aku hanya ingin katakan sesuatu pada istriku dan kekasihnya, kalian belum putus bukan." Mert berusaha berbicara dengan santai.
"Tuan, apa yang anda katakan?" Zara ikut angkat bicara.
"Tenanglah istriku, aku sengaja menyusun rencana ini untuk mempertemukan kalian." Mert menatap Zara sekilas. Kemudian beralih pada Davit.
"Aku ingin kalian bernostalgia kembali, maaf aku yang sudah datang menjadi pengganggu selama ini. Semua itu karena ...."
"Kesalahan. Akulah si perusak hubungan kalian, aku akui aku telah bersalah"
"Tuan" Zara menggeleng pelan, mungkin maksud Zara adalah Mert tak perlu mengungkit itu lagi.
"Aku bercerita tentang kesalahanku. Di malam itu aku telah memaksakan kehendakku pada Zara, istriku. tepat di hari ulang tahunnya, mungkin hari itu adalah hari special buat kalian berdua."
"Kau laknat." Davit sudah dipenuhi amarah. Ia berdiri dan meraih krah pria yang kini terlihat rapuh di depannya itu. Satu bogem mentah siap mendarat di pipi Mert.
"Jangaaan," pekik Zara menghalangi tangan Davit. Wanita itu reflek langsung berdiri.
"Turunkan tanganmu Davit." Kata kata Mert terdengar tenang. "Aku akan menceritakan semuanya, dan setelah itu kau akan tau siapa pria yang dicintai istriku yang cantik ini."
"Kak, Davit Zara mohon jangan pukul tuan Mert." Zara terlihat lebih condong membela Mert. membuat Davit semakin berapi api.
"Zara buka mata lebar-lebar dia ini pria licik, karena dia hubungan kita menjadi kandas, dan kamu ... Bisa bisanya menyembunyikan semua ini dariku."
"Zara, ikut denganku, atau kau tetap bersama pria laknat ini." Davit sudah berdiri, ia tak mau duduk lagi, melihat Mert sama saja dengan melihat anj*ng, naj*s dan jijik.
"Zara, keputusan ada di tanganmu, Aku sudah menjelaskan semuanya pada Davit. Setidaknya kau sekarang tak perlu berbohong apa-apa lagi dengannya."
"Cepat Zara, putuskan! Katakan kau memilih aku. Tinggalkan pria laknat ini."
Zara hanya menggelengkan kepala. Bulir kristal membanjiri pipinya.
"Zara, pergilah, kau berhak bahagia dengan pilihanmu." Mert menganggukkan kepala memberi izin.
"Tidak, Tuan." Zara menggelengkan kepala.
" Zara, ayo kita pergi," lirih Davit. Kembali mengulurkan tangannya.
Kata kata Davit kini berubah menjadi lembut, dia tak mau membuat Zara takut dengan nada suaranya yang tinggi.
Davit duduk kembali. Setelah melihat Zara menangis tersedu sedu. "Zara, kita pernah bermimpi akan membina mahligai kita, kita akan hidup bahagia walau tak bergelimang harta. Tapi kenapa sekarang kau bimbang. Aku masih menunggumu Zara ... aku berharap kesempatan ini ada" Davit berusaha meyakinkan Zara.
Mert hanya menatap dua insan di depannya dengan rasa bersalah. Mert siap, jika Zara akhirnya akan memilih Davit. Setidaknya dia sudah betanggung jawab dengan dosa yang pernah ia lakukan.
" Zara menatap dua pria yang ada di depannya, bergantian. seakan dia adalah seorang juri yang mencari siapa yang layak menjadi sang juara.
*Happy reading.
__ADS_1
* Mohon maaf jika terkesan membosankan.