
Prangg !!!
Suara Kursi di ruang makan sengaja dilemparkan di kaca, serpihannya sangat banyak, bahkan hampir ada yang mengenai Andini dan Miko.
Dua insan yang ada di pinggir kolam kaget bukan kepalang, mereka secara bersamaan menoleh ke arah suara.
"Kalian berdua .... Pengkhianat !" Arsena menunjuk Andini dan Miko dengan jari telunjuknya, matanya merah, dan urat-urat di keningnya menonjol tegang. Tak bisa dibayangkan lagi betapa besar kemarahannya saat ini.
Pria itu nafasnya terdengar ngos ngosan. Bagaimana tidak, diluar tadi ia telah berduel dengan body guard yang menjaga gerbang utama. karena mereka menolak memberi izin masuk.
Bukan pekerjaan mudah menaklukkan mereka berdua, Doni saja yang sudah memiliki sabuk hitam dalam sebuah perguruan beladiri di negara taekwondo, ia masih kuwalahan. Apalagi Arsena yang hanya berlatih karate beberapa bulan saja.
"Kalian !!" Arsena menatap jijik pada Andini dan Miko. Tangannya menunjuk mereka berdua.
Andini mundur, menjauhi Arsena yang lagi naik pitam, sedangkan Miko yang memakai bokser saja, segera meraih bathdrope yang terlipat rapi di bibir kolam.
"Ars, in- ini tak seperti yang kamu kira. A-a-ku akan jelaskan." Kata Andini dengan bibir bergetar. Suaranya tergagap.
Andini menginginkan perdamaian, ia mencoba mendekati Arsena dengan langkah pelan pelan.
"A-aku akan jelaskan. Tolong kamu dengarkan aku." Andini meminta Agar Arsena sedikit tenang.
Arsena menatap Andini dengan tatapan membunuh. ia menggelengkan kepala. tangannya mengepal keras, dadanya naik turun. Tak terbayangkan gimana raut wajahnya sekarang ini. Andaikan ada batu es yang dilempar di kepalanya, tak mungkin mampu mendinginkan panasnya kepala pria yang sudah dikuasai emosi itu.
Tangannya mengepal, urat uratnya menegang. . Bogem itu siap melayang pada siapapun yang mendekat.
"Ars ..." Andini menyentuh tangan Arsena. Ia hendak menceritakan yang telah terjadi semalam. Namun pria itu mendorongnya, dengan satu dorongan saja tubuh Andini sudah oleng beberapa langkah dan hampir jatuh.
"Arsena, jangan kau sakiti dia!" Miko tak terima.
"Kenapa? Kau mau melindungi wanitamu? Dasar Pebinor, perebut istri orang !!."
Arsena tanpa kita-kira lagi ia langsung memukul perut Miko. Dalam satu pukulan saja Miko langsung terjungkal ke belakang. Arsena masih memberi bonus lagi pukulan di rahang dan mengulangi tinju di perutnya.
Tanpa ada keinginan membalas. Miko menyadari posisinya memang salah, mencintai wanita yang sudah bersuami.
Namun kesalahan tak seluruhnya milik Miko, karena Arsena mengabaikan Andini dan memilih Lili, pria itu jadi seperti ini. Andaikan Arsena memperlakukan Andini layaknya seorang Istri, Miko tak akan datang diantara mereka berdua.
Andini yang tubuhnya terjatuh mencoba membangunkan Miko.
"Bangun Mik, please ... Hiks." Andini mengulurkan tangannya untuk Miko, seperti Miko yang selalu mengulurkan tangan untuk Andini ketika dibutuhkan.
"Ayo bangun Mik !" Miko tak menyambut uluran tangan Andini. Ia lebih memilih diam, mengusap darah di sudut bibirnya.
Arsena semakin murka melihat Andini mengkhawatirkan Miko, bukannya melindungi diri sendiri yang juga tak akan luput dari amarah darinya, malah mengkhawatirkan pria lain.
"Dasar wanita murahan, ikut aku jal*ng !!" Arsena yang sudah dikuasai amarah tak segan lagi memperlakukan Andini dengan kasar.
Mencengkeram lengan Andini dengan paksa. Miko tak bisa berbuat apa-apa. Dia menyadari telah salah membawa Andini ke mansion ini, bahkan Miko berniat untuk mengurus perceraian mereka.
Miko ingin mengabulkan mimpinya. Memiliki Andini seutuhnya. Sungguh dangkal pemikiran Miko. Ia lupa ada Arsena yang tak pernah rela miliknya tersentuh sedikitpun, apalagi berpindah tangan untuknya.
"Lepaskan Ars, ini sakit sekali."
"Diam!! ikut aku, atau aku akan memaksa."
Andini yang memakai bikini basah dan dilapisi handuk kimono nampak menolak ajakan Arsena, ia ingin ganti baju dulu atau mengambil barang miliknya yang tertinggal.
"Ars, aku mohon, aku akan ganti baju dulu."
"Tidak perlu."
" Miko !" Andini memanggil Miko ketika Arsena menyeret tubuhnya. Matanya mengembun, ia belum sempat berterima kasih pada Miko.
Miko mengangguk pelan, mengizinkan Andini untuk ikut dengan Arsena.
Jebrett!
Arsena membuka pintu belakang dan mendorong tubuh Andini secara paksa.
Arsena mengisyaratkan Doni untuk mendahuluinya, karena posisi mobil Doni ada di depan.
__ADS_1
Andini dan Arsena kini berdua dalam mobil, tak ada makluk lain yang bisa mengganggunya. Jika Andini dibunuh di dalam mobil pasti ia akan mati, tak ada yang menolongnya kecuali Tuhan.
"Berhenti menangis, aku benci air mata!" Arsena melemparkan tisu pada Andini. Ia menoleh sekilas dan kembali fokus ke jalanan.
"Kenapa kamu takut denganku Andini? Apakah kau sudah melakukan dosa besar dengan pria itu?"
"Aku tidak melakukan. Yang kamu lihat baru saja, itu tak seperti yang kau duga ... Semua tak seperti yang kamu bayangkan, Ars. Kenapa kau suka sekali menyakiti Miko. Dia selalu mengalah untukmu.
Arsena tersenyum smirk, sesekali ia melihat Andini dari kaca spion.
"Diam, Andini. Diam akan membantumu." Kata Arsena dengan suara tercekat.
Jauh dari apa yang Andini bayangkan. Ia berfikir Arsena akan menembak atau mencekiknya, ternyata Andini telah salah berprasangka.
Namun di sisi lain, Andini semakin takut. Jangan-jangan pria itu sedang bermain cantik untuk balas dendam.
Andini dan Arsena sampai di rumah ketika hari telah sore. Pria itu terlihat masih normal, tenang dan tak banyak bicara.
Arsena tak membukakan pintu mobil untuk Andini, ia malah mengunci dan meninggalkan begitu saja, tanpa sepatah katapun.
Arsena menghampiri Pak Karman yang sedang menikmati sebatang rokok di taman. Usai memotong rumput dan ilalang.
Entah apa yang dikatakan Arsena pada Pak Karman, pria paruh baya itu langsung pergi begitu saja setelah Arsena usai berbicara dengannya sebentar.
Andini memilih diam di tempat, bersyukur dengan keada'an saat ini.
"Ayo masuk!!" pinta Arsena. Suara nada tinggi sudah biasa ia dengar. Andini menurut saja.
Cekleek!
Arsena membukakan pintu mobil menggunakan remote control, pengait terbuka otomatis.
Tanpa menunggu lama Andini segera keluar dari mobil berhawa panas itu. Walaupun AC sudah dinyalakan dengan temperatur rendah tetap saja terasa panas. Karena sang pemilik lagi emosi tak jelas.
Baru saja Andini beberapa langkah masuk ,Arsena kembali mencekal lengannya.
"Auhh ... Sakit, Ars."
"Ars, aku bisa jalan sendiri."
"Diam !" Kalimat bernada tinggi lagi. Membuat Andini terjengkit kaget.
"Bibi, hari ini dan besok sebaiknya menginap di rumah Mama. Disana sedang membutuhkan bantuan, Bibi." Kata Arsena pada Bibi.
Andini hanya menatap Bibi dengan wajah penuh tanya, begitu juga Bi Uma. Sejenak bibi berfikir mungkin sedang ada hajatan di rumah Nyonya besar dan Tuan besarnya.
"Sekarang juga Bibi siap-siap berangkat kesana, jangan lupa pintu dan gerbang dikunci sebelum pergi, pastikan rumah ini terlihat seperti sedang kosong."
"Baik Den, tapi kenapa bibi kesana."
"Lakukan saja."
Bibi hanya mengangguk setuju. Walau ia tahu apa yang terjadi dengan putra majikannya itu. Yah ... Bibi tau dulu waktu kecil, ketika Arsena sedang marah selalu ingin sendiri, dan dia akan menghancurkan mainannya. Tapi sekarang dia sudah besar, apa yang akan dihancurkan, dia sudah tak punya mainan lagi.
Bibi melihat pada Andini yang sejak tadi mengaduh kesakitan karena lengannya berada dalam cengkraman suaminya. Niat ingin menolong urung ia lakukan. Melihat Arsena sudah menatapnya dengan tatapan berang.
"Nona, bibi pamit dulu."
Andini mengangguk sambil meringis kesakitan.
Arsena menarik kembali lengan Andini, seperti seorang pendosa yang siap dihukum pancung. Andini menurut saja.
"Masuk !"
Arsena menarik paksa Andini ke kolam yang keberadaannya tepat di depan kamarnya. Ada satu pintu yang menghubungkan langsung ke kamar Arsena. Kolam nampak dalam dan jernih.
"Apa yang akan kamu lakukan padaku, Ars" Andini masih bingung heran dan takut. Yah Arsena masih terlalu menakutkan buat Andini saat ini. Bahkan kelakuannya kini terlihat lebih aneh.
Arsena menarik Andini hingga bibir kolam. "Apa yang ingin ku lakukan?"
"Buka kimono ini !"
__ADS_1
"Ars, kamu sudah gila."
"Gila .... Kau tau aku gila, maka lakukan perintahku sebelum aku lebih gila lagi."
"Tidak mau."
"Aku tak mau melakukannya, aku sudah tak ingin berenang lagi " Andini menolak, ia ingin pergi. Ia takut dengan Arsena yang sudah terlihat makin tak waras.
Andini menghentakkan lengannya, membuat cengkeraman Arsena pada bahunya lepas.
Andini berlari menjauh, secepat kilat Arsena menarik handuk kimono yang tergerai "Hey mau kemana?"
"Aku tak ingin berenang, kamu dengar tidak !!" Andini membentak Arsena.
"Kau berani membentakku Andini, apa pria sialan itu yang mengajarimu." Arsena menarik lengan Andini namun tak berhasil, hingga yang ia gapai hanyalah kimono saja.
Kimono yang dipakai Andini robek seketika. hingga pakaian Andini yang tersisa kini tinggal bikini hitam yang mencetak lekuk tubuh bak gitar spanyol itu.
Seringai licik terlihat di wajah Arsena kini ia menggendong Andini dan menceburkan diri di kolam. Kolam yang memiliki air amat jernih layaknya cermin itu beriak kecil karena dua tubuh manusia dewasa mengusik ketenangannya.
"Andini aku ingin kau melakukan sama seperti yang telah kau lakukan dengan Miko di kolam tadi!" Kata Arsena dengan tatapan penuh nafsu dan hembusan nafas hangatnya menyentuh wajah Andini.
"Aku tak melakukan apa-apa?"
"Bohong ...!"
"Pasti banyak adegan dewasa yang terlewatkan untuk ku lihat tadi, Apakah kau tadi juga bermain layaknya artis blue bersama Miko di kolam?"
Arsena menyudutkan tubuh Andini hingga bibir kolam, tubuh Arsena mengunci tubuh Andini, membuat Andini hanya diam . Pria itu menangkupkan kedua tangannya hingga wajah Andini mendongak menghadap tepat ke wajah Arsena.
Andini sulit mengartikan tatapan Arsena. Dari yang ia baca, pria itu seperti ingin menunjukkan kalau sedang benci, marah, atau nafsu.
Lama Arsena menatap lekat wajah Andini, ada getaran berbeda yang Arsena rasakan, wanita yang pernah ia hina habis habisan, kini nampak lebih cantik, namun emosinya terlalu besar.
Sebentar saja jauh dari Andini. ia merasakan rasa seperti kehilangan. Namun, pertemuan yang tak seindah harapan membuat rasa rindu yang tadi menggebu menjadi kebencian dan amarah menyatu.
Arsena memandangi bibir merah muda yang begitu ranum di depannya , tanpa memberi aba-aba Arsena langsung saja menyergap, mel*mat bibir Andini dengan bringas.
"Huff ... Hap ... Emmm."
Andini yang tak tau rencana Arsena ia sangat kaget. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menerima perlakuan Arsena yang brutal.
"Hap ...Emmpp ... Le ... Pas" Andini ngos ngosan. Arsena melepas pagut*nnya sebentar. Memberi Andini waktu untuk bernafas.
"Bibirmu manis sekali, aku suka, apa Miko tadi sudah mengambil ciuman ini? Saat aku belum datang tadi."
Plaaak !
Tangan mulus Andini mendarat di pipi Arsena. Namun Arsena mengabaikan sentuhan Andini baru saja.
"Andini kau menamparku lagi."
"Karena kau brengs*k !"
"Hap ... Emmmpp ... hufff." Arsena mel*mat kembali bibir Andini. Bahkan ciuman kali ini lebih lama daripada yang baru saja.
Andini yang tak pernah berciuman sebelumnya hanya bisa pasrah. Ciuman yang diberikan oleh Arsena cenderung menyakiti, menusuk dan terus menyakiti. Tak ada kata romantis seperti film drama yang sering ia lihat.
Arsena semakin menghimpit tubuh Andini wanita lemah itu tak bisa menghindari ke ganasan pria di depannya walau ingin bergeser sedikit saja.
Arsena semakin memperdalam ciumannya, menyesap, meneguk manisnya. Berlahan Andini mulai ikut terbawa arus, permainan bibir Arsena yang tadinya kasar kini melembut dengan sendirinya, ketika Andini tak memberinya penolakan lagi.
*Happy reading.
*Don't forget
Like
coment
Vote.
__ADS_1