Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 253. Kubawa pengantinku pulang


__ADS_3

Davit berhasil masuk koridor lantai kedua, Dia berusaha untuk mengintai di sebuah kamar yang terang. Ada sebuah tirai yang belum tertutup membuat Davit lebih mudah mengamati sesuatu di dalamnya.


Davit melihat tubuh mungil Arini tergeletak di sebuah ranjang besar, dia nampak cantik dengan riasan diwajahnya, tubuhnya yang lunglai mulai menggeliat pelan, sepertinya dosis obat yang diberikan oleh kedua cecunguk itu mulai hilang.


Arini mengerjabkan matanya, dia terbelalak melihat dirinya tengah tidur di sebuah rumah yang ia kenal. "Kenapa aku bisa di rumah Nathan."


Arini memegangi kepalanya yang pusing, dia sepertinya mengkhawatirkan kesuciannya, setelah memeriksa tak ada yang hilang satupun yang melekat di tubuhnya, Arini mulai bisa bernafas lega. "Syukurlah."


Arini bangkit menuju pintu, dia belum melihat ada Davit yang sejak tadi melihat gerak geriknya. "Nathan! Bukain pintunya Nat!"


"Elo gila ya! Kenapa elo sembunyi'in gue disini." Arini menggedor pintu.


Willy dan Nathan kini sedang bersitegang di ruangan minum mereka. Willy ingin memiliki Arini dan menjadikan kekasihnya, tapi Nathan tak merelakan Arini menjadi milik Willy lelaki yang terkenal kasar dan main tangan.


"Arini nggak boleh jadi milik elo, dia terlalu berharga untuk pria kasar dan main tangan macam elo"


Willy tentu tak terima dikatain kasar oleh Nathan. "Apa elo bilang Nat, gue kasar, elo yang serakah, elo sudah merenggut kegadisan Salsa, bisa aja kecebong elo sudah ada di perutnya sekarang."


"Gue khilaf waktu itu, gue nggak ada rasa sama dia. Kalau elo mau ambil aja."


"Apa?! ambil bekas elo?" Willy mendelik. " Ogah gue, emang gue apa'an, dikasih barang sisa. Pokoknya Arini buat Gue." Willy hendak berjalan keluar, dia ingin melihat Arini yang ada di kamar Nathan.


Enggak bisa, Arini ini milik gue, apapun yang terjadi dia akan tetap jadi milik gue."


Pyarr! Willy memukul kepala Nathan yang berusah terus menghalangi dengan menarik lengannya.


"Aaaaaa." Nathan kesakitan. Dia merasakan darah dari kepalanya sudah menetes, Sebelum rasa sakit ia rasakan. Nathan tak mau kalah, kondisinya yang mabuk membuat ia melakukan apapun yang ingin dilakukan.


Nathan membalas memukul Willy dengan botol minuman keras tepat dikepalanya sama seperti yang ia rasakan. Willy yang tak sempat menghindar dia langsung saja menerima pukulan tepat di tulang tengkoraknya.


Pecahan kaca bercecer dimana mana. Nathan dan Willy yang sama sama terluka kini tergolek lemah karena darah tak mau berhenti menetes.


______


"Arini! Arini! kakak disini!" Davit memanggil Arini lumayan keras. Namun masih berhati hati, Davit tak ingin mengambil resiko gagal membawa Arini dalam keadaan baik-baik saja.


Mendengar ada yang memanggil-manggil Arini berhenti meraung raung di dekat pintu.


"Kak! kak Davit! Itu suara Kak Davit?" Arini menoleh ke sekitar, ia mengusap lelehan air matanya dengan punggung tangannya.


"Arini, Kakak disini." Davit masih mengetuk ketuk kaca jendela.


Arini sekarang sudah melihat bayangan Davit ada di luar kaca. " Kakak!" Arini bahagia dia tak bisa mengendalikan untuk tak bersuara.


"Kak Davit!" Arini berlari mendekati Davit. Sayang sekali Davit tak bisa masuk karena jendela telah dilengkapi dengan besi teralis.

__ADS_1


"Sttt! Tenanglah disitu. Kakak akan masuk."


"Bagaimana caranya?" Arini melihat ke sekeliling tak ada jalan yang terbuka untuk kekasihnya masuk.


"Tenang, Kakak akan masuk dengan merusak jendela ini."


"Tapi bagaimana kalau Kakak terluka." Khawatir kembali terlihat di raut wajah Arini.


"Tenanglah, calon suamimu akan baik baik saja." Davit tersenyum, Arini membalas senyum Davit. Arini menjauh berjaga jaga jika ada besi yang melesat tak sampai melukai tubuhnya.


Braak!! Tendangan kaki Davit tepat mengenai besi teralis di depannya.


Besi kecil-kecil itu seketika ambrol oleh sekali tendangan kaki Davit.


Arini segera mendekati jendela yang sudah terbuka. Dengan sangat hati-hati, Arini segera keluar dengan membungkukkan tubuhnya melalui jendela, Davit mengulurkan tangannya menyambut tubuh mungil sang kekasih.


"Kak, Arini takut." Arini segera memeluk Davit, kali ini terdengar jelas degup jantung ketakutan Arini oleh telinga pria yang harusnya sekarang sudah sah menjadi suaminya itu.


"Jangan takut, aku bersamamu." Davit menenangkan Arini. Ia membalas pelukan dengan erat. Ia tempelkan kepala Arini di dada bidangnya.


" Ya sepertinya sekarang aku tak perlu lagi takut, ada superhero yang siap menjadi penyelamatku." Arini senang ia mencubit kecil dada Davit.


"Itu kamu sudah tahu, Sayang." Davit membusungkan dadanya. Arini mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan calon suaminya. Bola mata bulat itu mengerjab sesekali dengan pelan, takjub akan ketampanan pria di depannya.


"Apa benar kata nenek kalau aku ini tampan banget ya," kata Davit sambil menyusut hidungnya sendiri.


Tubuh Davit oleng lalu menarik lengan Arini dan kembali memeluknya. " Kita harus keluar dari sini."


" Caranya?" Arini melongok kan kepalanya ke bawah.


"Aku akan membantumu Sayang." ujar Davit dengan manis.


"Tapi bagaimana Nathan dan Willy?"


"Ken dan gondrong akan meluncur, dia sudah menuju kesini, kata Kakak kita harus balik karena penghulu masih menunggu." ujar Davit sambil memeriksa ponsel yang sedari tadi bergetar hingga terasa panas di pahanya. Sedangkan isinya tertulis beberapa deret pesan dari Arsena yang semuanya adalah sebuah perintah.


Davit melepas celananya. Lalu ia masukkan sebuah tali yang tadi ia pake untuk manjat, Arini di sebelahnya tak bisa menahan tawa melihat tingkah konyol David.


"Buat apa Kak."


"Buat turun. Tadi nggak usah pake beginian, Kakak udah biasa main panjat panjatan, tapi kan My Baby belum pernah," Kata Davit sibuk mengakali tali dengan celananya.


" Ada aja, emang kakak sering manjat apa? Pohon kelapa?"


"Iya dulu, tapi sekarang udah nggak lagi. Kakak udah ganti profesi."

__ADS_1


"Kak Davit hebat, dulunya manjat kelapa sawit, lalu jadi sopir, sekarang udah jadi direktur. Hebat banget."


"Tapi sebentar lagi kakak akan rajin manjat lagi."


"Di rumah baru ada pohon kelapa juga?"


" Nggak, tapi di rumah baru ada istriku."


"Aaaaaaa, Kak Davit mesum." Arini memukul pantat Davit yang sedang sibuk membuat jalan akal -akalan untuk turun.


"Sttt," Davit memberi isyarat untuk jangan terlalu bersuara. Mereka hanya sebatas tersenyum, ingin tertawa yakut di dengar oleh penjaga dibawah, tapi sepertinya tak mungkin yang terlihat sedang mengantuk karena kekenyangan.


Membuat perosotan darurat sudah selesai, Davit mengajak Arini turun


"Sayang, ayo turun lewat sini pelan pelan?"


Arini mengintip ke bawah? tubuhnya menegang, "Takut Kak. bagaimana kalau tangan Arini nggak kuat menahan tubuh ini.


Davit terlihat berfikir sejenak. Pria yang hanya memakai celana kolor itu akhirnya membungkukkan badannya di depan Arini.


"Ya kalau begitu tak ada jalan lain, sekarang rebahkan tubuhmu di punggungku."


Arini kini menuruti perintah. dia melingkarkan lengannya di leher David, sedangkan kedua kakinya mengapit pinggang David.


"Pegangan yang kuat. kalau jatuhpun kita akan berdua."


"Baiklah Kak. Arini akan pegangan yang kuat."


" Davit mulai menuruni tali yang di buat, turun dengan hati hati layaknya monyet menggendong anaknya di punggung."


"Hati hati, Arini takut. ini kan pertama kali, beda dengan Kakak dah biasa manjat pohon kelapa," ujar Arini bawel.


"Kalau takut pejamkan mata saja."


"Oh iya, kenapa aku nggak kepikiran ya."


"Lengkap sekali, Manja, Penakut dan Kekanakan," gerutu Davit merasakan tangannya memar.


"Kakak bilang apa?" Tanya Arini yang belum mendengar jelas, kini mereka sudah sampai dibawah, Arini turun dari gendongan Davit.


"Udah nggak usah dibahas, mending sekarang kita pulang, semuanya sudah menunggu. Nenek panik tadi." Kata Davit menarik lengan kekasihnya sambil mengendab-endab dalam kegelapan menuju mobil.


"Kak, celananya ketinggalan!"


"Ya Tuhan, kok bisa lupa." Davit menepuk jidatnya.

__ADS_1


*Maaf ya, emak janji habis ini akan bikin mereka nikah beneran.


__ADS_2