
"Hatcing ! hatcing !"
"Ars kamu kenapa sejak tadi kok .... " Andini ingin tahu.
"Pasti ada kucing disekitar sini, hatcing!" kata Arsena.
Andini melihat di kolong meja, ternyata benar ada si empus yang sedang tiduran di bawah sana.
Andini tersenyum geli melihat tingkah Arsena yang menaikkan kedua kakinya ke kursi. Wajah galaknya sirna, yang tampak hanya ketakutan yang membuat dirinya terlihat lucu.
"Galaknya saja seperti singa beranak, bisa bisanya anda takut dengan kucing yang sedang tidur," ledek Andini.
"Empus sini, pindah ya Raja Singa takut sama kamu."
"Enak aja bilang gue Raja Singa, emang gue se galak itu." Arsena tak terima dengan perumpamaan dari Andini.. Wajahnya melotot kearah Andini, dengan kaki masih di atas sofa.
Akhirnya Andini membangunkan kucing menggemaskan itu.Menakuti Arsena dengan mengayunkan kearahnya. Membuat pria itu terus saja bersin dan semakin kegelian.
"Andini hentikan atau aku ..."
"Atau apa?"
Andini kembali mengayunkan, gadis itu terlampau bahagia bisa mengetahui kelemahan sang suami.
****
"Andini, aku ingin ke kamar mandi."
"Oh, silahkan, Tuan, kamar mandinya ada dibelakang."
Arsena berdiri dari duduknya, ia berjalan menuju dapur.
Mencari keberadaan kamar mandi, biasanya kalau di kampung kamar mandi suka berdekatan dengan dapur. Namun Arsena tak menemukan ada kamar mandi di dalam rumah.
"Andin, aku tak melihatnya." Arsena keluar lagi sambil menahan sesuatu ia sudah kebelet mau buang air.
Andini mengantarkan Arsena ke belakang rumah, menunjukkan kamar mandi sederhana yang ada di luar rumah. Kamar mandi yang hanya tertutup oleh anyaman bambu yang melingkar menutupi kubangan.
"Ini kamar mandinya?" Arsena heran begitu ada tempat mandi yang tak terbayang sama sekali di otaknya.
"Benar Tuan Ars, terhormat" kata Andini dengan suara di lemah lembutkan.
"Seperti ini kau bilang kamar mandi?" Arsena menyipitkan kedua matanya sambil menunjuk ke arah tempat yang disebut Andini kamar mandi.
"Ku bilang apa? Anda nggak akan bisa hidup disini walau satu jam saja, Anda dan aku itu berbeda kelas tuan Ars. Anda terbiasa dengan kemewahan sedangkan aku sudah terbiasa dengan semua ini.
"Bukan masalah itu, tapi yang benar saja, kalau aku melakukan sesuatu di dalam sini kamu bisa melihatku, pasti akan mengintip nanti," kata Arsena.
Pria itu mencoba masuk. Mencoba menempatkan posisinya di dalamnya. Kepalanya menyembul keluar.
Anyaman bambu itu hanya setinggi perut sena saja, dan pintunya hanya tertutup kain spanduk, yang bisa saja terombang ambing ketika angin datang. Sedangkan pria itu baru sekali ini melihat model kamar mandi seperti ini.
"Idih, siapa yang mau mengintip, baiklah aku akan pergi." Andini memiringkan bibirnya geli.
"Jangan! Tunggu disitu! Nanti kalau ada orang lain masuk gimana, tapi balikkan dulu tubuhmu. Kamar mandi seperti tempat bermain petak umpet saja." Gerutu Arsena.
"Tuan, jangan lupa sambil duduk."
Arsena yang belum merasa nyaman, terpaksa ia duduk dan membuka resletingnya karena sudah tak mampu kalau harus menahan lagi dan akhirnya setelah membuang olinya kini perutnya terasa blong.
"Sudah, Tuan?" Tanya Andini.
"Hmm ... Awas ngintip," Arsena kini membenarkan celananya.
Arsena heran dengan Andini dan keluarganya, bagaimana ia bisa mandi dengan kondisi seperti itu setiap hari.
"Kamar mandi apaan seperti ini. Apa kamu juga dulu setiap hari mandi ditempat seperti ini?" Kata Sena sambil keluar.
__ADS_1
"Emang kenapa? Tetangga juga mandi dengan cara yang sama, kami ini di kampung tuan" Sanggah Andini.
"Rugi donk saya nikah sama kamu, pasti tubuhmu sudah dilihatin para tetangga mesum disini?"
"Apa'an sih? Ini di desa tuan Ars, banyak mereka juga mandi di kali sambil mencuci baju. Kalaupun ada orang ngintip dia pasti orang mesum seperti anda."
"Kapan aku mesum, sama kamu?"
"Bukan sama aku sih." Jawab Andini.
Sontak membuat ingatan Arsena pulih, kalau Andini pernah memergoki saat akan mencium Lili.
"Kamu cemburu ya? melihat aku dengan Lili, Jangan jangan kamu mulai suka sama aku."
"Idih ... Suka sama Anda. Maksudnya?"
"Wajahmu itu?" Arsena tersenyum penuh percaya diri.
Ya Tuhan, kenapa dia cepat sekali berubah, apa benar dia ini Arsena, pria yang selalu berucap kasar dan meneriaki diriku ketika di rumahnya.
Acara di kamar mandi sudah selesai
Andini dan Arsena kini duduk di bawah pohon jambu monyet yang sejuk, disitu ada kursi panjang yang menjadi tempat istirahat yang nyaman. Dulu Andini saat bermain di bawahnya ia sering tertidur.
Mereka hari ini terlihat akur, dan seolah semua baik baik saja.
"Ndin kamu menyetujui pernikahan ini karena sakit ibumu, dan sekarang dia sudah sembuh" kata Arsena yang duduk disebelah Andini, dengan jarak tak jauh, hanya sekitar dua jengkal tangan saja.
Andini mengangguk. "iya, ibu sudah melewati masa paling sulit, waktu ibu kritis dan papa kamu memberikan tawaran itu. aku tak ada pilihan"
"Kenapa kamu tak mencoba kerja sama dengan ku sebelum semua terjadi, aku pasti akan membantumu, tanpa harus menikah denganku. Pernikahan konyol ini tak akan pernah terjadi, dan kamu tak seharusnya menderita saat bersamaku"
"Tapi sekarang terlanjur, kamu pasti sangat tersiksa tinggal bersamaku? Jika kau setuju kamu akan cepat terbebas dengan pernikahan ini, kita harus bekerja sama"
"Maksud kamu apa Ars? Apa aku harus berbohong dengan orang yang sudah menolongku?" Andini berusaha mencari jawaban kegalauannya pada diri Arsena.
Andini terlihat bimbang.
"Baiklah, sepertinya kita cukup pura-pura sudah menjadi suami istri yang saling mencintai di depan papa, dan setelah aku menjadi direktur utama di perusahaan PT Wilmar peninggalan kakek. Artinya kerja sama ini berhasil, kamu bisa terbang kemanapun yang kau suka tanpa harus terbebani dengan rencana konyol ppa"
"Baiklah." Andini mengangguk setuju.
Senyum di bibir Arsena pun mengembang.
Andini sekilas menoleh ke arah Arsena ia juga ikut tersenyum.
Kenapa bisa berubah lebih imut dan menyenangkan ketika berbicara tanpa membentak seperti saat ini.
"Ndin, kamu dan Miko pacaran ya?"
"Em, aku belum punya pacar, aku belum kepikiran, bagaimana aku sempat memikirkan hal seperti itu, jika aku sibuk mencari sesuap nasi, dan selalu memikirkan gimana ibu bisa segera sembuh."
"Oh ... Jadi Miko bukan pacar kamu?"
Andini menggeleng. "Bukan, kami berteman."
"Devan sepertinya juga menyukaimu?" Kata Arsena lagi. Mengingat sikap Devan yang berlebihan ke Andini waktu pertama bertemu.
"Ars, aku tak mau dengan orang kaya. jika kau menceraikan ku nanti, aku ingin memiliki suami orang sederhana saja, pekerja keras dan tentunya menyayangi ku apa adanya, dan itu sudah cukup bagiku." Andini berkata dengan mata berkaca. Membayangkan ia akan menjadi janda.
"Kalau sama orang kaya, jadi berat." Kata Andini lagi.
"Emang kenapa?" Arsena penasaran, dengan jawaban Andini.
"Takut dia tak bisa menerima aku apa adanya dan ujungnya aku akan bercerai lagi, takut nggak setia"
"Orang kaya yang setia juga banyak, orang miskin yang selingkuh juga banyak." Arsena tak terima dengan ucapan Andini barusan.
__ADS_1
Sebagai kaum berada ia sudah berusaha setia dengan satu wanita. Selama ia tak mendapati Lili selingkuh atau tak adil dengan hubungannya. Selama itu Arsena akan mempertahankan hubungan cinta yang sudah ia rajut berdua.
Sejak perjanjian itu diucap dan disepakati oleh berdua, Andini dan Arsena sudah tak saling membenci lagi, dia makin akrab layaknya sahabat.
****
"Ndin kenapa suaminya nggak diajak makan dulu? Kenapa malah di belakang, baru datang pasti lapar?" Panggil nenek dari ambang pintu.
"Nggak mungkin, Nek dia pasti sudah makan, iya kan Ars." Andini yang menjawab teriakan nenek. Orang tua kalau belum dijawab suka mengulangi kata katanya.
"Hei ... Siapa bilang? Aku lapar." Protes Arsena. Kamu pasti lagi masak gurame penyet sambal seperti kemaren kan?"
"Tuan Ars yang terhormat, aku cuma masak sayur asem dan ikan asin. Apa kamu masih mau?"
Arsena tak mengerti menu apa yang dibicarakan Andini, tapi ia yakin pasti kali ini ia sedang masak sedap seperti biasanya.
Arsena berdiri lalu meninggalkan kursi panjang, disusul Andini di belakangnya. Dua orang yang tak lagi merasa asing itu datang ke meja makan. Andini membuka tudung saji, dan segera mengambilkan piring untuk Arsena dan untuknya sendiri.
Andini memanggil dara dan nenek serta ibu untuk makan bersama. Mereka akhirnya duduk melingkar di meja makan sederhana itu.
Andini mengambilkan secentong nasi untuk suaminya dan juga yang lainnya. Khusus ikan dan sayurnya mereka mengambil sendiri- sendiri.
Arsena nampak bingung mau mengambil ikan apa? Bukan karena ia tak suka dengan menu yang disediakan. namun emang baru kali ini ia melihat ikan mujaer kering yang dibelah dan digoreng hingga berwarna kecoklatan.
Ia bingung bagaimana makannya, mana ada dagingnya ikan kering seperti itu.
"Cu, kenapa cuma dilihatin nasinya? Ayo buruan makan!" Perintah Nenek pada Arsena.
"Dia nggak doyan makan kek ginian?" Kata Andini mencibir Arsena.
"E-enggak Nek, aku suka kok. Ini pasti enak sekali." Kata Sena berbohong. Berusaha semaksimal mungkin membuat wanita tua itu tersenyum.
Arsena mengambil satu ikan asin dan menaruh di piringnya. Andini menahan tawa melihat ekspresi wajah Arsena yang terlihat tak berselera. Lalu mengambil satu mangkuk sayur asem kacang panjang, potongan tempe dan sambal.
"Ars, ayo dimakan, katanya suka." Andini sedikit mendesaknya, ia ingin tahu bagaimana reaksi seorang calon pewaris perusahaan besar, ketika tahu rasa ikan yang ada dipiringnya.
"I-iya pasti." Arsena melahap nasi dan menggigit ikannya. Ikan itu pertama kali menyentuh lidahnya ia sudah ingin mengeluarkan dari mulutnya lagi. Asin seperti makan garam.
Namun ia mengurungkan niatnya itu, ketika melihat Andini dan yang lainnya makan dengan lahap. Jika itu ia lakukan pasti bisa merusak selera makan orang serumah.
"Andini aku mau ...!" terlihat hendak pergi.
"Kemana," Andini sudah memasang wajah galak dan menahan lengan Arsena, kalau Arsena benar-benar meninggalkan meja makan ia akan marah, ini rumahnya, Andini bisa sedikit membalas mengerjainya. lagian pria itu yang memutuskan untuk menginap bukan dia yang minta.
"Angkat telepon dulu, sebentar doang"
"Pasti alasan, hp kamu nggak bunyi .... Nenek, Ars nggak mau makan!! Dia pasti akan sakit jika telat makan, maqnya akan kambuh." Adu Andini pada nenek membuat Arsena memelototinya, sedangkan Andini tersenyum penuh kemenangan.
"Cu ... Makan yang banyak, kamu harus jaga kesehatan. Biar Andini saja yang suapin. Kalau begitu."
"Apa ...??" Arsena terkejut. Begitu pula dengan Andini.
Andini yang hampir menyelesaikan sarapannya segera meminggirkan piringnya.
"Sini aku suapin," Andini mengambil alih piring Arsena. "Kamu harus banyak-banyak makan Tuan Ars, makanan kolesterol tinggi akan membuatmu mudah sakit. Sekali kali harus makan makanan seperti ini."
Gue malah bisa sakit kalau makan makan seperti ini, apa ini higienis. Ah ini sangat tak layak konsumsi. Gimana aku bisa pergi dari situasi seperti ini, nenek pake selalu memperhatikan lagi.
Nenek, Dara dan Ibu yang melihat, turut bahagia dengan Andini yang mulai perhatian dengan suaminya.
"Nggak usah Andini aku bisa sendiri." Ars terlihat malu. Sambil mengambil piringnya sendiri.
"Nggak apa apa Cu, dia istrimu. Kalau malu biar kami pergi lagian kita juga sudah selesai makannya."
Arsena terpaksa memakan suapan Andini hingga beberapa sendok. Walaupun perutnya sangat bergejolak.
Entah kenapa ia tiba-tiba mendadak konyol seperti ini. Padahal ia juga membawa uang cash untuk memborong makanan. Menjaga wanita tua itu tersenyum menjadi hal penting bagi Arsena.
__ADS_1
"Tuan pintar, bagus sekali." Andini sambil terus tersenyum menahan tawanya. Andini berhasil membuat Arsena memakan menu paling aneh yang terasa di lidahnya, dan ini terjadi baru sekali seumur hidupnya.