Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 105. Cinta berlebihan.


__ADS_3

"Ars, aku ambil tas dulu ya!"


Arsena melihat kearah tangga, ia takkan membiarkan istrinya naik turun tangga sendirian. Tangga dirumahnya yang tiba tiba terlihat menakutkan. Akan lebih baik jika ia menggantikan istrinya mengambil tas.


"Tas yang mana? Biar aku saja yang Ambilkan." ujar Arsena menahan tangan Andini.


Andini menghentikan langkahnya. "Tas yang berwarna putih. Ada di dalam nakas."


"Baiklah tunggu di mobil saja. aku yang akan ambilkan."


Oma, terharu melihat Arsena yang begitu besar rasa cintanya pada Andini. Bahkan hal sekecil itu dia tak ingin Andini melakukannya sendiri.


Andini menunggu di mobil ia memilih duduk di belakang, Zara ikut duduk di belakang di sebelah Andini.


Lima menit berlalu Arsena sudah datang. "Apa tas ini?"


"Iya, terima kasih." Andini mengangguk.


Arsena duduk di depan menjadi pengemudi, karena Doni sedang mengantar Anita.


"Apa maksudnya ini?" Arsena terlihat protes dengan keputusan Andini duduk di belakang.


Nggak apa-apa Ars, kan cuma sampai rumah sakit saja."


"Nggak, aku jadi persis sopir beneran, aku mau kamu di depan Andini, disampingku."


"Nona sebaiknya didepan saja, Tuan muda tak mau jauh jauh dari Nona." Bisik Zara.


"Lama-lama cinta juga bisa membunuhku." Gerutu Andini lirih, wanita itu turun kembali dan pindah duduk di kursi depan, di sebelah Arsena.


"Bilang apa tadi? Sayang aku mendengar lho! Ayo katakan sekali lagi." Arsena mencondongkan tubuhnya ke arah Andini yang baru saja duduk di sebelahnya.


"Enggak ngomong apa apa! Iya kan Zara? Aku tadi nggak ngomong apa apa kan?"


"Jangan bohong." Arsena menatap Andini penuh rencana.


Iya Tuan. Nona, tadi bilang sesuatu, tapi sayangnya aku kurang jelas kalau nggak salah, "Nona sayang sama Tuan. Iya, seperti itu."


"Oke, sayang. Karena tak ada bukti yang memberatkan dirimu, aku memaafkanmu hari ini."


Arsena mulai menyalakan mobilnya, mobil yang dinaiki jarang sekali keluar, jadi dia membutuhkan waktu beberapa menit untuk menghangatkan mesin.


"Zara pejamkan mata."


" Siap tuan."


Cup! Arsena mengecup bibir Andini. Membuat Andini tergagap karena dengan serangan mendadak Arsena. "Ini hukuman berani berbohong."


"Ars!! "Andini memekik kaget ketika bibir Arsena terlepas. Pipi Andini merona bersemu merah, tangannya mencubit pinggang Arsena.


" Mesum dipelihara." Andini menggerutu.


"Itu bukan mesum. itu cinta, sayang." Arsena tersenyum nakal.


 

__ADS_1


Arsena segera melajukan mobil menuju RS dengan kecepatan rendah. Sesaat suasana menjadi hening. Andini sibuk ber do' a dalam hati, semoga test yang dilakukan secara mandiri itu sudah benar.


Walaupun memang sudah benar, melihat kebahagiaan Arsena terlalu besar. Andini khawatir itu mimpi yang terasa nyata.


"Zara!" Arsena mencoba membuka percakapan dengan Zara.


"Iya tuan?"


"Sudah punya kekasih."


"Belum tuan."


" Ars, apa'an sih tumben deh, Kepo dengan masalah pribadi orang saja " Andini memajukan bibir.


Sayang, ini demi kebaikan Zara juga. Aku kan kasian gara-gara kerja sama kita, entar jadi jomblo permanen."


"Menurutmu Davit tampan nggak sih, Zara?"


"Davit, siapa Tuan?"


"Temannya Miko, yang kerja sama dia, kamu kan tau cowok yang lumayan keren yang biasa antar jemput Miko ke kantor. Dia sepertinya baik, cocok buat kamu."


"Ars, berhenti jadi comblang. Siapa tahu Zara sudah punya pacar di kampungnya."


"Dia aja tadi bilang belum punya, kenapa jadi melotot ke saya. em. Jangan bilang kamu suka David ya." Arsena berkata dengan nada mengancam.


"Maksud dia apa sih. Cemburu melulu."


"


"Sayang kenapa? Mana yang sakit. Apa perutnya sakit." Arsena panik.


" Tidak disini yang sakit, kau menuduhku aku suka dengan David."


" Bukan itu maksudku, sayang. Aku bercanda."


Zara yang duduk di belakang tertawa cekikikan., menyaksikan majikannya bertengkar seperti anak kecil.


"Emang kamu sendiri dulu, suka dijodohin?"


" Suka lah, aku sekarang sangat bahagia."


Andini melengos.


 


Obrolan selesai, ketika mobil Arsena memasuki gerbang rumah sakit, Arsena segera memarkirkan mobilnya.


Arsena membukakan pintu untuk Andini dan masuk ke ruang praktek Namira. Sudah setengah jam lalu dokter yang menjadi kepercayaan keluarga Arsena tak berani menerima pasien lagi, semua dialihkan pada dokter lainnya yang memiliki jadwal sama. Karena sudah ada janji dengan sang pemilik RS.


"Tuan dan Nona, Dokter Namira sudah menunggu di dalam, Anda langsung saja masuk"


"Iya, terima kasih,"kata Arsena. Ketika orang berjalan beriringan masuk ke ruang praktek dokter Namira.


"Selamat siang dokter," kata Namira.

__ADS_1


"Siang juga dokter Namira." Mereka berdua berjabat tangan, terlihat akrab dan bersahabat.


"Dokter Andini sudah sehat rupanya? Bagaimana keadaannya sekarang? apa masih suka ada keluhan?"


"Alhamdulillah sehat dok, seperti yang dokter Namira lihat, aku baik-baik saja." Andini berseri seri.


"Syukurlah, Aku ikut senang mendengarnya nya."


"Ars, yang sabar ya? jika Andini belum bisa hamil." Namira mencoba menguatkan hati Arsena.


" Namira, kenapa kau yakin sekali? Aku sangat mengagumi mu sebagai dokter obgyn di rumah sakit ini, seharusnya kamu lebih berhati-hati dalam memvonis seorang pasien."


"Andini ku sekarang hamil, ada anakku di rahimnya, kau tau bagaimana perasaanku saat kau mengatakan dia tak bisa hamil."


"Maaf Ars, aku waktu itu terlalu buru buru mengambil keputusan, tapi sungguh aku tetap mendo'akan agar kau tetap memiliki anugrah berupa anak dari Istrimu." Namira memasang wajah bersalah.


"Andini maaf ya!"


"Tidak apa apa Namira, lain kali jangan seperti itu, kesalahan yang kita lakukan, akan berdampak sangat besar bagi orang lain."


"Berbaringlah Dokter Andini, aku tak sabar ingin memeriksa calon bayinya." Namira mempersilahkan Andini tidur di ranjang khusus pasien.


Memeriksa tensi darah, kelopak mata dan juga detak jantung. "Semua sangat bagus. Tekanan darah juga normal," ujar Namira.


Namira melanjutkan dengan membuka kaos Andini bagian perut. Memberikan cairan dingin seperti jelly dan mengoles secara rata di bagian perut.


Namira mengaktifkan Monitor yang akan menampilkan kondisi janin di perut Andini. Arsena dan Zara menatap intens ke layar hingga tanpa berkedip.


"Kita akan mulai pemeriksaan, Dokter Andini." Izin Namira.


"Iya silahkan." Andini memberi izin.


" Apa anda selalu mual?" Tanya Namira lagi saat tangannya sibuk dengan alat USG (ultrasonografi). Menekan nekan perut Andini sedikit lebih dalam hingga gambar tiga dimensi yang dihasilkan lebih jelas.


Andini menggeleng. "Tidak tentu, kadang iya, kadang tidak."


Arsena tak mengerti dengan apa yang terlihat di layar, ada dua bulatan kecil yang terlihat paling jelas daripada bagian yang lainnya.


"Tuan Ars, rupanya ada dua embrio yang sedang hidup dan berkembang di rahim istri anda. Ini sebuah kabar sangat menggembirakan. Bayi anda sudah bisa dipastikan akan kembar."


Arsena yang tadinya menyilangkan lengan di dadanya seketika terhenyak, kaget bukan kepalang. "Andini akan mengandung bayi kembar?"


"Nona akan punya bayi kembar ,Tuan."


"Andini, kita akan memiliki bayi kembar." Arsena mendekati Andini yang masih terlentang.


"Aku sangat bahagia Andini. Kau akan jadi ibu si kembar dan aku papahnya." Arsena mengelus rambut Andini. Matanya kembali mengembun, menyentuhkan bibirnya di kening Andini sesaat.


"Selamat Ars, kamu akan jadi papa beneran, dan jaga baik baik kedua calon bayimu, karena kandungan Andini sedikit lemah, tapi jangan terlalu khawatir aku akan memberi obat khusus penguat kandungan."


"Maksud kamu?" Apa calon bayiku dalam bahaya?"


"Iya, setelah sakit, kondisi rahim Andini belum terlalu kuat sepenuhnya. Namun jika Andini bisa mengurangi aktifitas yang membuatnya lelah, semoga calon bayi kembar akan baik-baik saja."


Arsena mengangguk mengerti. "Aku akan menjaga Andini, dia tak akan lelah. Dia akan baik-baik saja." Arsena berkata dengan optimis, menatap Andini yang mulai turun dari ranjang.

__ADS_1


__ADS_2