Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 214. Pengkhianatan Lili.


__ADS_3

"Auhh, Ken. Kau_." Lili meringis kesakitan. Tanpa menghiraukan rasa sakitnya segera bangkit dan kembali memeluk lengan ken dan berlutut di bawahnya.


"Ken kali ini aku ingin menepati janjiku, putrimu untukmu dan kita akan menjaganya bersama sama." Lili terpaksa kembali menjatuhkan harga dirinya di depan Ken.


"Omong kosong lagi?" ujar Ken. " Kau hanya butuh aku disaat keadaan sudah genting. Kau memanfaatkan aku Lili." ujar Ken masih dengan wajah kecewa. Walau hati kecilnya masih tetap menyimpan rasa sayang untuk ibu dari anaknya itu.


" Tidak Ken," Air mata Lili keluar. " Kau masih bisa sekali lagi melindungi ku, dan kita akan pergi dari sini." Bisik Lili saat Arsena terlihat menerima sebuah pesan dari Botak dan Gondrong.


Hati Ken sudah hancur berkali kali dikhianati, tapi tetap saja dia masih berharap Lili akan berubah, apa benar yang dikatakan orang, kalau cinta itu selalu memaklumi.


Ken menyentuh rahangnya yang sudah berdarah. Mengusapnya dengan kasar. Perih. Namun, luka itu bukan apa apa bagi Ken. Jangankan berdarah untuk kebahagiaan putrinya Ken mungkin akan rela mati.


"Maafkan aku Tuan."


Ken mengapit tubuh Lili dan membawanya berlari. Setelah melesatkan satu tembakan mengenai monitor yang masih menampilkan rekaman Lili yang sedang merancau karena mabok.


Arsena terkejut dengan keputusan yang diambil Ken. Sangat disayangkan pria sebaik Ken harus berada di pelukan wanita semacam Lili.


" Berhenti!!" Arsena pun segera berlari mengejar Ken. Namun dia sedikit terlambat karena harus mencari pistolnya terlebih dahulu yang ia simpan di laci.


"Berhenti Ken! Kau akan menyesali keputusanmi !!"


Arsena dengan kemampuan berlarinya, segera mengejar Ken yang juga hebat dalam berlari. Sayang sekali Ken lebih dulu berhasil keluar melalui pintu lift dan turun.


"Sial," umpat Arsena yang kehilangam jejak Ken. Terpaksa dia menunggu lift berikutnya dan turun kelantai paling bawah.


Sampai dilantai paling bawah. Arsena tak mendapati Ken dan Lili. Entah mereka turun di lantai paling dasar atau turun dilantai lain. Arsena dengan posisi siaga mengedarkan pandangannya ke seluruh basement dimana mobil berjajar rapi, tak ada tanda-tanda mobil ingin keluar.


Dua menit kemudian sebuah mobil te*rios keluar basement dengan buru buru. Arsena segera mengejarnya, sungguh kerja sama yang bagus, rupanya Lili yang mengemudikan mobilnya dan Ken yang membaca situasi sekitar.


"Botak, Gondrong. Kembali dengan segera, Ken si pengkhianat membawa kabur Lili." ujar Arsena yang menghubungi anak buahnya sambil mengemudi.


Notifikasi suara singkat Arsena langsung didengarkan oleh Gondrong yang kebetulan sudah dalam perjalanan pulang, dengan mengantongi bukti kalau Lili dan Vanes mereka adalah orang yang sama.


Lili sengaja mengubah identitasnya selain mengelabuhi Arsena, juga agar terbebas dari kejaran polisi yang sedang gencar mencarinya karena pengaduan dari Mama Mita.


"Siap Bos, misi selesai dan kita dalam perjalanan pulang." Jawab gondrong dari pesawat teleponnya.

__ADS_1


"Bagus, cepat kejar Ken! Kita sedang dalam perjalanan menuju tengah kota," Arsena menginfokan.


"Siap melaksanakan perintah, Kami sudah melakukannya menuju tengah kota, rupanya Ken sudah mematikan ponselnya beberapa menit lalu.


Sungguh pergerakan yang cepat, Ken selain tangguh dia juga cerdik. Dia sudah lama menjadi Singa Jantan yang siap untuk menakuti para kolega yang berani bermain main dengan Johan Atmaja.


Saat di mobil tadi Arsena sempat melihat bayi. jika ada bayi yang tak berdosa di dalamnya. Arsena harus mempertimbangkan dengan matang saat ingin menyerang.


"Bayi? kenapa aku bisa lupa kalau Lili memiliki bayi, dan bayi itu pasti anak mereka berdua." Sena berargumen sendiri. Ya tak mungkin anak orang lain. Sedangkan Ken yang menjadi suami palsunya adalah kakaknya sendiri.


'Ya Tuhan, kenapa aku sebodoh ini, kenapa aku tak bisa merasakan sama sekali pengkhianatan Ken.'


Arsena terus mengejar mobil Ken. Rupanya Lili mengarahkan mobilnya ke jalanan yang lebih ramai. Lili mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Menyalip mobil satu dan satunya lagi seperti kesetanan.


Arsena tak mau kalah, dia menambah kecepatan mobilnya hingga kembali tepat berada dibelakang mobil Lili.


Tiba tiba pintu kaca mobil Ken terbuka, Ken kembali melesatkan satu peluru tepat mengenai ban mobil Arsena.


"Sial," umpat Arsen yang merasakan mobil yang ia tumpangi melaju oleng, Arsena mencoba mempertahankan gerakan mobilnya. Namun, sayang sekali mobil mewah warna merah semakin melaju tak terkendali. Arsena memutuskan untuk menepikan mobilnya sebelum mengakibatkan tabrakan beruntun.


Ken sudah benar benar mengibarkan bendera perang. Siapapun yang berpihak pada musuh maka dia adalah musuh, mulai sekarang Ken si bodyguard tangguh sudah resmi mendaftarkan diri, menambah jumlah musuh yang harus segera ia musnahkan.


"Tuan, maafkan kami yang terlambat," ujar Botak dan Gondrong.


Arsena menatap mereka berdua, dan memaklumi. " Mereka sudah jauh."


" Ken berhasil membawa Lili kabur." Arsena kembali harus menerima kekalahan.


" Tenang Tuan. Kami pasti akan menangkap Ken. Sekuat apapun Ken dia berada di posisi yang salah. Tetap yakin kemenangan akan bersama kita."


"Sok bijaksana Lo. Pakai nenangin si Bos." Botak mengambil minum yang ada di dasboard lalu meneguknya. Kemudian menyodorkan minumnya pada Gondrong. Arsena tersenyum melihat dua orang yang masih setia bersamanya itu.


****


Hari makin panas, matahari kian meninggi. Untuk hari ini Arsena memberikan Ken waktu untuk menikmati udara bebas. Kalau saja dia tak memiliki ide menembak kedua ban depan milik mobil Arsena. Mungkin mereka tak dapat meloloskan diri.


Kita kemana Ken?"

__ADS_1


"Aku akan membawamu ke suatu tempat yang aman." ujar Ken. Sambil kembali menyembunyikan pistolnya. "Sepertinya Bos sudah tak mengikuti kita lagi. Sekarang biar aku yang pegang kemudi dan kamu yang gendong Rara."


Bayi menggemaskan itu akhirnya berpindah kembali dalam pelukan Lili, lili tersenyum manis sama Ken. "Ken terimakasih kau sudah membantuku."


"Sama sama, setelah ini kita ke penghulu, dan kita akan pergi keluar negeri. Menjalani hidup kita yang baru. bukankah kau sudah berjanji bersedia menikah denganku." Wajah Ken terlihat bahagia. Mungkin seumur hidup dia tak pernah sebahagia ini.


"Em, i iya, tapi tidak secepat ini. Kakakku masih belum sembuh, tunggu sampai dia kembali sehat seperti sedia kala."


"Menikah di rumah sakit juga tak masalah, pernikahan tetap berlangsung dan kakak kamu tetap bisa jadi wali kita," ujar Ken yang tak kehabisan akal.


"Em sebaiknya kita pikirkan nanti kita cari penginapan dulu. Bukankah sebentar lagi akan malam Rara juga butuh istirahat."


"Iya. Aku akan membawamu ke tempat yang aman. Tapi kamu harus ingat, Tuan Arsena memiliki tim eagle eyes yang sangat tangguh. Jika dia sudah mengerahkan mereka semua. Jangan harap kita akan selamat. Putuskan keinginanku dengan cepat. Kau menikah denganku, dan kita pergi keluar negeri, itu keputusan terbaik untuk saat ini. Dan dia pasti akan memaafkan kita." Ken kembali menoleh ke arah Lili dan tersenyum.


Lili terlihat tak puas dengan keinginan Ken. 'Menurut dirimu, itu cara terbaik, tapi tidak untukku. Kau tahu aku hanya akan mengambil keuntungan saja darimu selagi masih menguntungkan. Tapi aku tak pernah memiliki keinginan menikah dengan pria miskin sepertimu.'


Lili menampilkan segaris senyum sambil menatap Ken dalam. Ken dengan bodoh membalas senyum lili tanpa tahu apa yang dipikirkan.


"Kita lupakan keluarga kaya itu, dan kamu akan bahagia bersamaku. Dan anak anak kita." Ken menggenggam jemari Lili.


Lili membalas genggaman jemari Ken. Ken sangat bahagia. Ken merasa sudah memenangkan hati Lili.


Tak terasa mereka sudah sampai di sebuah penginapan terpencil. Ken dan Lili rencananya akan menginap. Dengan membayar uang lebih dan mengatakan buku nikah mereka telah hangus terbakar, pemilik penginapan setuju. Karena mereka berdua juga membawa bocah kecil bersamanya. apalagi malam sebentar lagi akan menjemput dan hari pun sedang mendung.


"Benarkah Arsena memiliki tim eagle eyes sekuat itu?" Lili penasaran ingin mengulik siapa tim hebat yang dimaksut Ken, saat mereka telah dalam keadaan santai.


"Kau nanti akan tahu, dan lebih baik kita tak pernah bertemu dengannya . Ketika dalam kondisi terdesak kedua pria itu pasti akan membantunya. Walau sesungguhnya Tuan Arsena tak pernah menginginkan," ujar Ken berusaha tenang, sambil menikmati secangkir kopi.


Aku percaya seorang Ken pasti mampu melawannya," ujar Lili sambil menidurkan Rara di sebuah ranjang. Sedangkan Ken menatap dua insan yang ia mimpikan akan menemani hari harinya.


Ken memutiskan tidur di sebuah sofa dan Lili di ranjang bersama Rara. Malam ini Ken sangat susah memejamkan matanya. Bayangan buruk menghantui dirinya karena pemikiran Lili rasanya terus bertolak belakang dengannya. Lili terlihat keberatan meninggalkan negeri ini. Sedangkan semua identitasnya sudah terbongkar karena ambisinya terlalu berhasrat untuk menemui Arsena walau dalam wujud sebagai Vanes. Buktinya sekarang Arsena bisa membongkarnya dengan mudah.


Ken sesekali menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskan dengan kasar. Kegelisahan Ken membuat Lili tak yakin kalau Ken masih bisa diandalkan. Ken terlihat masih menyayangi Arsena dan keluarganya. Dia pasti tak akan tega menyakiti Andini dan anak anaknya.


Diam diam Lili mencari cara lain. Dia harus menemukan orang yang benar-benar bisa membantunya tanpa melibatkan Ken. Lili akhirnya keluar kamar saat Ken sudah terlelap.


Lili menghubungi pria yang akan membantu menjalankan misinya untuk benar benar mencapai keberhasilan.

__ADS_1


*teman teman jangan lupa bagi Like, Komen dan Vote. terima kasih.


*Happy reading.


__ADS_2