
"Putraku telah kembali, hu ... hu ... hu ..."
Mita menangis tergugu. Miko yang sudah di vonis hidupnya tak akan lama, dia telah mendapat keajaiban, Dia kembali membuka matanya disaat orang terdekatnya mulai kehilangan asa.
Seluruh Anggota keluarga kembali berkumpul, Ruangan Miko mendadak di penuhi oleh keluarga besar serta para ahli medis.
Dara dan Ana juga ada di dalam ruangan itu, pagi ini ia kembali lagi, ia ingin mengirim sarapan untuk Andini. Ana sekarang sudah benar-benar sehat, ia kembali membuka warung makan dekat rumah sakit tempat Andini bekerja.
Arsena yang sedang disibukkan oleh lusinan tumpukan map di atas meja. Ia pun segera meninggalkan ruangan tanpa ada sepatah kata, yang ia tinggalkan untuk bawahannya.
Ia berlari tergopoh seakan di kejar oleh makluk tak kasat mata. Galang dan karyawan kantor tercengang melihat aksi Arsena yang tak biasa. Namun apa yang ingin ia tanyakan sebatas di dada saja. Beberapa karyawan wanita justru memandang takjub kegagahan wakil Dirut perusahaannya itu.
Vanya yang beberapa hari ini sedang kurang enak badan ia kini sudah kembali bekerja, Vanya adalah partner kerja Andini yang sangat baik. Mereka semua berjajar memutari Miko yang baru saja siuman.
"Girl, Dia siapa?"
Miko menatap wanita didepannya penuh tanya. Ia terlihat bingung.
"Miko jangan bercanda donk. Ini mama." Mita menganggap Miko bercanda. Karena mengerjai orang memang hobinya sejak kecil.
Andini segera mendekat. Ucapan Miko pada Mita kembali seperti sengatan aliran listrik yang menjalar di tubuhnya.
"Miko, kamu tidak sedang bercanda kan? Ayolah Miko, kamu jangan mengerjai Mama Mita seperti ini, dia sudah sangat khawatir dengan keadaan kamu." Jelas Andini dengan suara lemah lembut.
"Maaf Girl, aku memang tak ingat siapapun." Semakin berusaha mengingat, Miko semakin kesakitan di kepalanya. "Argh ... Girl. Kepalaku ."
"Miko kamu tenang, jangan terlalu dipaksakan, tolong tenang, ingat pelan-pelan saja. Kamu ingat siapa aku?"
"Kamu Andini. Kamu kekasihku," jawab Miko kesal, jelas-jelas ia sudah tau dan tak lupa siapa dirinya.
Arsena yang baru datang dan mendengar semuanya ia keberatan dengan ucapan Miko, tak terima dengan ingatan Miko yang diduga mengada ngada, bisa-bisa nya ia menganggap istrinya sebagai kekasih.
Namun Andini segera memberi isyarat kepada Arsena agar banyak bersabar kepada Miko. Jika Miko mengalami sedikit tekanan, Andini khawatir dia justru akan makin stress.
"Lalu yang di sebelah saya, siapa?" Andini kembali menunjuk ke arah Mama Mita.
Miko menggeleng, "Maaf Girl, aku belum bisa mengingat satu persatu. Aku akan berusaha mengingat mereka pelan-pelan."
Miko nampak memejamkan matanya, sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.
Andini segera membisikkan sesuatu di telinga Vanya, gadis itu segera berlari keluar ruangan untuk mengambil peralatan medis yang di butuhkan, dalam hitungan menit ia segera kembali bersama suster Zara.
Suster Zara membukakan obat dan membawa segelas air putih.
"Tuan Miko diminum obatnya."
"Makasi sus, tapi aku ingin minum obat dari tangan kekasihku saja" kata Miko memandang Andini dengan tatapan sayu.
__ADS_1
Zara memundurkan langkahnya, kini ia sejajar dengan Andini.
"Ndin," Arsena meraih lengan Andini. Menggelengkan kepala.
Johan yang melihat Arsena mirip anak kecil. Ia melangkahkan kakinya " Ars, papa mohon kamu bersabar sedikit saja. Ada waktunya untuk memberitahu kepada adikmu."
"Iya, Pa." Arsena mengangguk. Ia melonggarkan genggamannya. Membuat Andini menarik lengannya dan berjalan maju mendekati Miko.
Arsena khawatir jika Andini menuruti Miko. Lelaki itu akan sulit untuk menerima kenyataan, Arsena sudah tak sabar ingin menjelaskan, tapi lagi-lagi semua orang meminta untuk bersabar.
Arsena yang terlihat tak suka dengan situasi seperti ini, ia keluar dengan kekesalan yang menggunung. Memilih menunggu Andini di ruang kerjanya.
"Andini, bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa Miko tak ingat aku, mamanya?"
"Maaf Ma, Andini akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Mama jangan terlalu khawatir, Miko pasti akan segera mengingat semuanya kembali, seiring berjalannya waktu." ucap Andini dengan tenang.
"Baiklah Andini, Mama penurut saja, mama akan ber do'a dulu, berterima kasih pada Tuhan." Mita kemudian keluar dari kerumunan. Johan juga ikut di belakangnya.
"Silahkan, Ma." Andini mengangguk.
****
"Miko, kamu suka minum obat pakai air atau pakai pisang?" tanya Andini.
"Pakai apa aja, Girl. Yang penting dari tangan kamu."
"Tapi jika aku memanggil dengan nama itu, kamu dan aku terlihat makin dekat, Girl. Aku suka," Miko berusaha duduk bersandar dengan bantal yang sengaja di tata lebih tinggi.
Vanya membantu Andini melepaskan semua alat dan selang yang tersambung di patient monitor, semua sudah dibutuhkan lagi, karena masa kritis Miko sudah berlalu. Tinggal selang infus yang masih terus bekerja di tubuh Miko.
Miko membuka mulutnya. Andini memasukkan tiga pil kecil berwarna putih, pink dan kuning. Dengan susah payah Miko berusaha menelan pil bersama setelah Andini memberikan minum.
"Bagus sekali tuan Miko. Sekarang istirahatlah. Aku akan kembali lagi setelah memeriksa pasien lainnya.
Miko mengangguk, walau hatinya berat ditinggalkan oleh Andini.
Andini keluar diikuti oleh Vanya dan Zara dibelakangnya.
"Ndin aku lihat tadi suami kamu kayak nggak rela gitu," ujar Vanya.
" Iya, itu masalahnya, aku harus kasih pengertian dulu ke Arsena, kalau Miko sedang Amnesia
"Ndin, kasian yah, nasib pangeran tampan itu, dia harus terluka lagi, ketika tau nanti wanita yang dicintai sudah menikah."
"Coba aja kalau aku yang dicintai dia. Ndin kamu bantu aku dapetin dia ya?" ujar Vanya serius. Ketika dia sudah sampai di lorong rumah sakit yang sepi, menuju ruangan Andini.
__ADS_1
Andini menghentikan langkahnya, " jika kamu mencintainya tunjukkan perhatianmu, dong." Andini menepuk pundak Vanya.
"Zara, Vanya, kalian bisa periksa pasien yang lainnya dan datanya nanti antarkan ke ruangan ku. Aku menemui suamiku dan ibu dulu. Mereka sudah menunggu."
Andini dan Vanya berpisah Zara mengikuti di belakang Vanya memeriksa kondisi pasien lainnya pasca operasi.
Arsena, Dara dan Ibu sudah menunggu di ruang kerja Andini. Arsena terlihat gusar, ia tak bisa duduk dengan tenang
Sejak tadi berjalan mondar-mandir. Sedangkan ibu dan dara memilih duduk tanpa bertanya apapun. Takut nanti malah salah bicara.
Mereka duduk sangat tenang setenang rantang kecil berisi banyak makanan di depannya.
Andini masuk ke dalam ruangan, tatapannya langsung tertuju pada Arsena yang nampak berdiri di dekat jendela. Memasukkan kedua tangannya di saku celana.
Andini Berusaha menghindari tatapan Arsena yang menusuk, terasa hingga hatinya yang terdalam.
"Ibu, Dara, kalian pagi sekali sudah sampai disini. Jam berapa dari rumah?" Basa basi Andini pada ibu.
Andini ikut duduk di sebelah Dara di kursi yang agak panjang.
"Andini. Ibu ingin tau kenapa pria bernama Miko itu bisa ingat dengan kamu, sedangkan dia tak ingat siapapun kerabat terdekatnya, dan kenapa kamu biarkan dia menyebut namamu dengan sebutan seperti ke pacar. Ibu tidak mau ini akan jadi masalah di rumah tangga kalian nanti."
"Ibu, jangan khawatir,nggak akan terjadi, Arsena pasti tak akan keberatan." Andini menoleh kearah Arsena hingga pandangan mereka bertemu.
"Itu bisa-bisa kamu saja, Ndin. Aku lihat Arsena tadi keberatan."
"Ars, ayo kita makan siang, ibu sudah bawa banyak masakan untuk kita."
Andini mendekati Arsena yang sejak tadi berdiri di dekat jendela. Pikirannya pria itu menjadi kacau. Setelah tau Miko cuma ingat Andini saja. Cemburu kembali menggerogoti jantung hatinya.
"Ars, Amnesia Miko tidak akan berlangsung lama, seiring berjalan dengan kesembuhan fisiknya, dia akan ingat semuanya. Dia juga akan ingat kamu kakaknya, kakak yang paling tampan dan pemarah ini." Andini memeluk tubuh Arsena dari belakang. Lalu memutar tubuh suaminya menghadapnya.
"Aku mau kamu hanya sedikit bersabar, bukankah kamu berjanji akan membuat dia bahagia. Dia berada di posisi sekarang ini karena menyelamatkan kita."
Wajah Arsena tetap kesal, dan tak berbicara sedikitpun, seakan kekesalan ini hanya ingin ia tunjukkan untuk Andini. Namun Andini mulai menggelitiki dada bidangnya.
Arsena merasakan geli, hingga ia memaksakan senyumnya. "Istriku kau makin berani menggodaku sekarang."
Arsena mengelus rambut lurus Andini dan mengecupnya, tangannya mengerat di pinggangnya. Mereka berdua menikmati semilir udara di depan jendela kaca.
"Lepaskan Ars, kasihan adikku Dara, dia belum cukup umur untuk melihat kemesraan kita."
"Aku sudah sangat rindu," bisik Arsena di telinga Andini. Sambil mengerlingkan mata.
"Udah jangan genit, mari kita makan bersama. Kamu pasti belum makan siang." Andini menarik lengan suaminya berjalan menuju kursi dimana ada Ibu dan Dara menunggu.
*jangan lupa
like
__ADS_1
komen
vote