
Saat Ken keluar, Arsena segera duduk di kursi tunggu dan pura pura tidur, menenggelamkan topinya lebih dalam dan menutup Hem dengan jaket hitamnya.
Ken melewati Arsena tanpa sadar, setelah beberapa langkah berlalu baru ia menyadari pria pemilik tubuh ideal dan kokoh itu mirip tuannya.
Ken menghentikan langkahnya, "Aku tak asing dengan tubuh kokoh tadi, benarkah dia Tuan Arsena."
Ken segera memutar tubuhnya, kembali ke tempat yang ia lewati tadi. Rupanya pria tadi sudah pergi.
Ken segera berlari menuju parkiran, tak ada siapapun disana. Hanya ada satu taxi yang keluar dari pintu gerbang.
'Tuan Arsena, masih disini. Kenapa dia tidak menangkap diriku. Apa dia masih menyayangi aku seperti dulu menganggap aku seperti saudaranya, apa dia memaafkan kesalahan yang telah aku perbuat?' Batin Ken yang merasakan sedang dalam dilema.
"Tuan! Tunggu!"
Ken memanggil penumpang di dalam taxi. Namun, sayang sekali dia tak mendengarnya. Jarak mereka terlalu jauh, taxi sudah pergi dengan kecepatan tinggi.
'Tidak mungkin dia Tuan Arsena. Pria tadi pasti hanya mirip saja. Tuan Arsena tak mungkin memaafkan aku yang sudah melindungi musuh terbesarnya. Kesalahanku sudah melampui batas.' Ken termenung sesaat memikirkan pria tadi
Ken kembali dengan langkah kaki gontai menuju kasir, dia membayar biaya perawatan Lili untuk hari ini. Uang di ATM nya sudah menipis, sesungguhnya gaji Ken sangat banyak, demi untuk mengikuti gaya hidup Lili dan operasi wajah untuk dua orang, Ken harus mengeluarkan biaya yang tak sedikit.
****
Arsena tiba di hotel, Andini sudah menyambutnya dengan bibir lancip seperti paruh bebek.
Arsena tanpa basa basi segera memeluknya. "Kangennya banget ya? udah ngambek sampe segitunya."
"Siapa yang kangen? Davit sudah kembali sejak tadi, aku khawatir kamu kenapa napa," terang Andini. Melangkah mendekati Arsena. membantu melepaskan jacketnya.
Arsena terkekeh geli mendengar pengakuan Andini yang suka malu mengakui kalau dia lagi kangen. " Davit nggak cerita?"
" Cerita, dia kamu suruh pulang duluan dan kamu mengikuti seseorang."
" Sudahlah, aku sudah kembali dengan selamat." Cup Arsena mengecup kening Andini sambil melirik ke arah koridor.
Sedangkan di koridor ada Davit yang sedang berdua dengan Arini. Pria itu terlihat sedang meringis menahan sakitnya, karena Arini membersihkan luka lebamnya dengan kapas yang diberi alkohol.
"Pelan pelan, sayang!" ujar Davit.
"Udah pelan banget ini, kakak aja yang nggak bisa menahan sakit."
"Auhhh, perih. Kalau perih karena habis dicium kamu sih enak, ini perihnya pake sakit banget Lena tonjok." Keluh Davit saat Arini membersihkan sudut bibirnya.
"Kakak, apa'an sih." Wajah Arini bersemu merah. Semenjak dapat restu. Davit mulai berani merayu Arini dengan intens.
"Lebay, Lo." Teriak Arsena dari dalam yang tak sengaja mendengar obrolan mereka.
" Suka suka kita, Kakak nggak usah ngiri." ujar Arini ketus. Andini yang mendengar ikut tertawa, Davit hanya menahan senyumnya.
Arsena kembali memeluk Andini, Andini sedikit risi dengan Arsena yang berlebihan. "Dilihat Arini sama Davit. Dia belum menikah."
Arsena menurut dia melepas pelukannya. "Bentar lagi dia akan menikah."
"Iya tapi sekarang belum." bantah Andini.
"Anak anak mana?" Arsena mengalihkan topik.
"Anak anak sedang jalan jalan di taman, sama Mama dan Papa. Ars mereka sudah bisa tengkurap, mungkin bentar lagi akan merangkak. Terus bisa jalan. Pasti akan lucu ya."
" Iya, kalau udah bisa jalan, aku pengennya dia sudah punya Adik."
" Ih, emang ngelahirin itu nggak sakit? Kecepetan donk, kalau udah sekolah aja. Baru kita kasih adik."
"Nggak mau itu kelamaan, aku mau dia cepat punya adik, aku belum punya baby cewek yang cantik seperti kamu." Arsena mencubit hidung istrinya gemas.
Arsena melonggarkan pelukannya lalu meninggalkan Andini yang setia dengan kesibukannya.
"Sayang temenin aku ya kali ini saja."
__ADS_1
"Kemana lagi."
"Mandi, aku sudah lama nggak dimandiin."
"Emang bayi mau dimandi'in." Andini menaruh baju baju kedalam koper.
Arsena mengambil kimono dan menarik lengan Andini. " Aku mau jadi bayi."
Arsena mendudukkan istrinya dipangkuan. " Emang bayi usia berapa tahun tuan, udah se gedhe ini? Kalau bayinya se gedhe ini, pasti gendongnya susah" Andini mengalungkan lengannya di tengkuk Arsena.
"aku bayi yang nggak perlu digendong, malah bisa gendong." Arsena mengusap usap wajahnya ke dada Andini. "Ayolah, keburu Excel dan Cello nanti diantar mama kesini."
"Ars, nanti aja kalau sudah di rumah kita. Takut Arini nanti cari aku."
"Enggak, dia lagi pacaran sama Davit. Sayang kalau lelet aku paksa lho."
"Bentar, kamu masuk duluan aku akan menyusul."
"Awas kalau lama."
"Janji nggak akan lama." Andini turun dari pangkuan Arsena.
Arsena masuk kamar mandi dulu, mulai membenamkan tubuhnya ke dalam bathup sambil menyanyikan lagu pop kesukaannya.
Sedangkan Andini mencari pil penunda kehamilan yang beberapa hari ini mulai ia konsumsi. " Kemana ya, kemaren perasaan aku taruh di nakas sini." gumam Andini lirih.
Andini mulai mengacak acak isi nakas, tak ditemukan juga pil kecil penunda kehamilan itu. "Apa aku lupa naruhnya, apa di dompet ya?" Andini masih bicara sendiri.
Andini meraih dompet yang ada di atas nakas, membukanya dengan cepat. " Kemana ya?" Menggaruk tengkuknya yang mulai ikut terasa gatal.
"Sayang!" panggil Arsena dari dalam kamar mandi.
"Yaaaa!" sahut Andini.
" Lama banget, cepetan dikit, nanti Excel dan Cello keburu nangis."
'Bagaimana kalau Arsena meminta haknya, aku pasti akan benar benar hamil.'
"Sayang! Lama banget sih."
"Iya, berisik!"
"Cari apa sih!" Terdengar suara dengan nada kesal dari dalam kamar mandi.
Andini akhirnya menghentikan pencariannya, membuka pintu kamar mandi dengan ragu ragu. "Cepat gosokin punggungku. Kok lama banget sih."
" Maaf Ars, aku tadi cari_" Andini menggantung kata katanya.
" Pil penunda kehamilan?' Arsena tersenyum smirk.
" Kamu tau dari mana, aku minum pil begituan? Kamu pasti suka periksa barang barang ku ya pas aku tidur?" tuduh Andini.
Arsena tertawa. " Andini, Andini, kamu mau main main sama aku? Nggak akan bisa. Pil itu sudah ada di tanganku sejak lama. Aku sudah membuangnya dan mengganti dengan vitamin. Kamu sih nggak teliti." Arsena tersenyum penuh kemenangan.
" Ars, kamu jahat." Andini makin kesal.
"Terlambat sayang, aku sudah bilang sama kamu, aku ingin anak perempuan."
Arsena bangkit dari bathup dan memposisikan tubuhnya di bawah Air shower yang tak berhenti mengguyur tubuhnya.
Kita sudah punya dua anak laki laki, kalau sudah besar juga akan dapat istri perempuan nanti."
"Beda sayang." Arsena merem melek merasakan sapuan jemari lembut tangan Andini.
Andini menggosok sedikit keras karena kesal." Beda apanya? Pasti cuma akal akalan kamu, Ars. Pengen bikin peternakan anak, karena nggak mau kalah sama Galang. Iya kan? Karena Giska hamil lagi, karena Dara dan Zara hamil juga, makanya kamu ingin aku hamil."
"Iya sayang, aku kangen moment saat mengelus perutmu yang buncit, suka saat mulai bisa merasakan gerakan kecil di tubuhmu. Excel dan Cello sudah dikuasai Mama dan Papa, tidurpun sekarang ikut Mereka."
__ADS_1
" Maklum lah, itu kan cucu pertama mereka, wajar kalau sayangnya berlebihan." Andini masih setia meggosok punggung Arsena hingga kemerahan. Arsena suka sekali modusin Andini seperti sekarang ini.
"Mamanya Excel mandi sekalian ya?" Rayu Arsen.
"Udah entar saja. Aku mau beres beres lagi."
"Tapi anakondanya sudah bangkit."
" Karena kamunya mesum, coba nggak usah pake gosok punggung segala. Pasti anakondanya nggak bakalan bangkit." Andini mengerucutkan bibirnya.
Arsena yang diliputi oleh gairah, dengan cepat mendorong tubuh Andini ke dinding. Jika sudah seperti ini Arsena sudah tak akan melepaskan Istrinya lagi.
"Sayang ini hukuman buat kamu, aku sudah lama ingin memberikan hukuman ini. Baru kali ini aku bisa mewujudkannya."
"Kenapa harus menghukumku? Apa salahku" Andini menjawab dengan suara terbata menghadapi kegila'an Arsena yang mulai tak bisa di cegah lagi, melucuti semua dress yang dipakai Andini, dengan bringas mengecup leher pipi dan bibir.
"Kesalahan pertama kau sudah berani berduet dengan penyanyi asing itu, kedua kau sudah berani berbohong tentang pil penunda kehamilan.
"Ars, tapi aku ahhh." Andini tak melanjutkan kata katanya, serangan memabukkan sudah menghujani tubuh polosnya.
Mereka kembali melakukan ritual wajib di kamar mandi, dan di menit ke tiga puluh akhirnya Arsena meledakkan serangan torpedonya yang pertama khusus hari ini.
"Ini hukuman pertama, hukuman kedua masih belum selesai." Arsena menjatuhkan bobot tubuhnya menempel dada Andini.
"Jangan pergi dulu masih ada hukuman kedua." ucapnya dengan nafas ngos-ngosan.
" Dasar mesum," ujar Andini masih dengan nafas tersendat.
Arsena masih belum puas dengan satu kali pelepasan. Otak masih mesum melihat Andini yang belum mendapatkan puncak kenikmatanya. Arsena bisa tahu karena tubuh Andini masih menegang dan kencang.
Andini segera membersihkan tubuhnya dari sisa sisa cinta Arsena, setelah dirasa sudah bersih Andini pamit keluar. "Ars aku keluar dulu, takut mama keburu memanggil."
"Baiklah," Arsena segera memakaikan Andini kimono sedangkan dirinya sendiri memakai handuk sebatas lutut.
Arsena membopong tubuh Andini dan menurunkan di atas ranjang empuk. Andini mencurigai Arsena masih mau lagi.
"Ars, cukup. Aku lelah.
" Jangan menolak, ini hukuman keduamu, Sayang. Karena kau berani minum pil pencegah kehamilan itu."
"Apa hukumannya harus seperti ini? Aku mau hukuman yang lain saja."
"Tapi sayangnya nggak ada pilihan lain."Arsena kembali mengurai kimono Andini dan meloloskan dari tubuhnya.
Arsena tersenyum smirk berhasil membuat Andini kelelahan dan meninggalkan banyak tanda cinta di tubuhnya.
_____
"Arsen!"
"Mama!!"
Andini dan Arsena segera bersembunyi di balik selimut.
"Astaga kalian masih sore sudah main kuda kuda'an, pintu nggak dikunci, ceroboh. Bagaimana kalau yang masuk adik kamu Arseeeeen!"
"Apa iya, Mam?" Arsena mengintip Mama yang sedang menggendong Cello.
"Nggak jadi, mama mau tidurkan Cello di kamar mama saja. Mama jadi khawatir nanti kamu tendang lagi, pas begituan."
Mama akhirnya keluar lagi, tentunya dengan rasa malu yang amat besar. Bisa bisanya anak dan menantunya sangat ceroboh.
"Ini karena kamu, hubby. Main hukum hukuman segala."
" Ya aku pikir mama nggak akan kesini." Arsena bangun dari ranjang dan mengunci pintunya.
Mereka akhirnya menuntaskan permainan kuda kuda'an yang step kedua, dan dilanjutkan tidur pulas karena kelelahan. Paginya mereka baru bangun tentunya dengan tubuh yang sangat bugar dan siap kembali lagi ke Surabaya.
__ADS_1
Sebelum ke Surabaya, Arsena kembali mengunjungi rumah sakit tempat Lili di rawat. Sayangnya, kata dokter yang merawat, mereka sudah pergi satu jam yang lalu.