
"Aku akan menjemputmu Nona, katakan iya?" Teriak Davit sebelum ia memundurkan mobil nya kembali.
Arini menoleh sekilas, kembali tersenyum dan melambaikan tangannya. Sementara Davit membalas lambaian tangan kekasihnya.
Karena kurang fokus pada kondisi di depannya, hingga Arini menabrak tubuh Nathan dengan tiba-tiba, begitu menoleh tubuhnya berubah. Nathan segera menarik Arini agar tak terjengkang ke belakang.
"Kalau jalan, lihat depan," ujar Nathan sambil melepaskan Arini dari dekapannya.
" Maaf Nat. Aku nggak sengaja." Arini menoleh melihat Davit yang duduk di dalam mobil. Tadinya ingin berlari keluar tapi terlambat.
Davit berlari keluar menghampiri Arini yang masih berdiri mematung. "Nona nggak apa apa?" Tanya Davit khawatir.
"Nggak apa apa, Arini takut Davit cemburu dia segera memeluk lengan Davit dengan erat. Arini tau dari sorot mata kedua pria itu sedang tak baik baik-saja.
" Aku nggak sengaja Kak." Arini menatap David sebentar lalu menatap Nathan."Nathan, Maaf ya."
"Ya di maafin tapi lain kali lihat jalan ya, Untung tadi ada aku, Kalau yang pohon kan bisa benjol di kening. "Nathan setengah bercanda.
"Udah pada sarapan belum kalian?" Davit menawari.
" Belum, boleh banget kalau ada yang traktir."
"Okey kalian mau makan dimana."
"Restauran Sinaga, disana ada menu sup sarang walet" ujar Nathan.
'Sarang walet.' Davit tersenyum, otaknya berfikir keras. Tidak yakin dengan uang yang dibawa sekarang, mampu membeli makanan semahal itu.
"Gimana bro jadi ngga? Katanya mau traktir kita," desak Nathan.
" Jadilah masa enggak, kan dah bilang tadi." Davit berusaha tenang
"Hitung hitung buat ngerayain hubungan kalian," ujar Nathan lagi.
" Kak Davit ada uangnya nggak? bisa pakai ATM Arini."
" Nggak perlu, ada kok," Tolak Davit.
Arini Davit dan Nathan menuju Restaurant Sinaga. Mereka segera memilih nomor meja yang kosong. Kebetulan ada nomor meja 4 sedang free.
Nathan melirik ke arah Davit yang gelisah. Dia sengaja meminta datang ke restauran super mahal ini untuk mengerjai Davit.
"Tuan Nona silahkan pilih menunya." Seorang waitress datang menyapa dengan lemah lembut.
"Ok, aku mau sup sarang walet satu. Arini kamu juga suka banget dengan sup itu kan?" Nathan mengingatkan pada Arini tentangenu favoritnya.
"Iya, aku mau sup sarang waletnya dua." ujar Arini bahagia. Menelisik dari atas hingga bawah daftar menu yang ada.
__ADS_1
"Kok dua, Say?" Iya, kan sekalian dengan Kakak." Arini tersenyum sambil meremas tangan Davit
"Aku sudah sarapan tadi, kan Bi um yang mengirim."
"Sudahlah Davit, kamu pasti nggak keberatan Kan makan lagi bareng kita. Masa yang traktir nggak ikut makan"
" Iya Kak, masa cuma aku dan Nathan."
" Nggak apa apa sayang, aku tungguin disini."
" Ya udah kalau gitu, kita sepiring berdua ya, biar makin asyik." Arini tersenyum lebar untuk Davit. Davit membalasnya dengan senyum tipis.
'Kalau dua porsi, semoga cukup. Uang yang ada sudah aku buat pesan cincin berlian buat mas kawin. ' batin Davit kembali gelisah.
Uang milik Davit memang sudah menipis untuk kebutuhan konsumsi dan gedung nanti. Sedangkan untuk gaun pernikahan dan seserahan belum ada dana.
Kepikiran soal pernikahan yang diminta papa Johan untuk disegerakan, kepala Davit jadi mumet. Andaikan majikan bukan calon kakak iparnya. Pasti Davit tak akan senaif sekarang ini untuk meminta pinjaman.
Tak lama waitres datang dengan membawa sup sarang walet yang masih hangat dua mangkuk.
Nathan segera menerima dari tangan waitres begitu juga Arini
"Kak Davit ini enak banget, kakak benar nggak mau makan bareng kita."
"Nggak Arini, kakak masih kenyang, beneran."
" Makasi traktirannya ya bro." Nathan mulai menyendok sub sarang walet ke dalam mulutnya, bibirnya bergetar ke'enakan. Davit hanya bisa meneguk salivanya.
"Sayang, Kakak kenyang. Bener." Davit mengambil sendok berisi sup dari tangan Arini. kini David yang mengarahkan sendok itu ke bibir Arini. Arini tersenyum sambil malu-malu membuka bibirnya.
"Ayo buka bibirnya Aaaaaa ..." Davit refleks ikut membuka bibirnya saat Arini menerima suapan darinya.
" Satu aku, satu Kak Davit dong." Arini mulai menelan sup nikmat dari sarang burung yang terkenal mahal itu.
'Ah, kenapa aku yang jadi obat nyamuk sekarang.' Nathan kesal dia ingin menghabiskan lebih cepat dan pergi dari dia orang yang menyebalkan ini.
Tring!
Satu notif pesan masuk ke dalam ponsel Davit.
"Siapa Kak, kok mendadak senang begitu?" Arini curiga dengan Davit yang mendadak bahagia saat ada satu pesan masuk ke ponselnya.
" Nanti aku jelasin, aku telepon dulu ya. Selesaikan dulu aja makannya."
Davit beranjak menjauh dari Arini dan Nathan. Mengambil posisi yang nyaman untuk berbicara penting dengan orang di seberang sana.
Arini, mending pikirkan dulu yang matang sebelum pernikahan itu benar-benar terjadi. Kamu tau kan menikah itu kalau bisa sekali untuk seumur hidup.
__ADS_1
"Betul, menikah maunya hanya sekali seumur hidup, tapi emang ada yang salah dengan Kak Davit?" Arini dan Nathan menatap punggung Davit yang berada jauh dan membelakanginya saat berbicara.
Aku yakin dia tak tulus hanya ingin menikahimu, pasti ada motif lain dibalik itu semua. Kamu tahu kan, betapa dia terlihat bahagia saat seseorang tadi meneleponnya?
"Jika dia tulus, tak akan ada yang ditutupi lagi. Mending percaya pada aku pasti dia setuju nikah sama kamu karena ada motif dibaliknya.
"Nathan, kenapa kamu curiga'an gitu sih. Mungkin aja telepon itu memang rahasia. Dan nggak boleh tahu oleh siapapun termasuk kamu."
Sudahlah Arini, selidiki saja. Aku cowok, aku tahu bagaimana pria ketika menyembunyikan sesuatu."
Arini sudah tak berbicara lagi, dia diam seribu bahasa mencerna kata kata Nathan. Jarinya memainkan sendok dengan mangkuk yang berisi sup sarang walet yang tinggal separuhnya. Sesekali melirik ke arah Davit yang masih asyik berbicara dengan seseorang di seberang sana.
Karena terpengaruh dengan kata kata Nathan, Arini menghampiri Davit dengan wajah kesal. "Telepon dengan siapa."
"Aku boleh bicara nggak?" Tanya Arini
"Sayang, kamu rupanya? Sudah habis supnya?" Davit balik badan lalu memberi kode pada orang yang diseberang sana.
" Sudah, Kakak telepon dengan siapa?" Tanya Arini menyelidik.
" Em, ini sama temen." Davit menyudahi panggilannya lalu menyembunyikan ponselnya dibalik celana.
Arini makin kesal dengan Davit yang tak mau terbuka. Arini mencoba mengulangi pertanyaannya lagi.
"Siapa Kak? Apa dia spesial banget buat kakak sampai kakak terlihat senyum-senyum begitu."
Davit malah mencubit hidung Arini gemas. " Yang paling special itu cuma kamu dan Nenek."
"Apa itu tadi Nenek?"
"Udah, tanya melulu. Kita ke kampus udah jam delapan lho," ujar Davit penuh kesabaran layaknya seorang kakak.
Hati Arini mulai mencelos, dia tak suka Davit yang mulai tak jujur. Bukan jawaban teka teki yang ia inginkan.
Davit segera mengantar Arini ke kampus. Nathan duduk di belakang, Arini dan Davit duduk di depan. Arini lebih banyak diam sepanjang perjalanan.
Gadis memakai tas slempang itu lagi badmood, ia acuhkan pandangan Davit. Ia menatap Arini sesekali dengan senyumnya yang manis ketika mobil di depannya terlihat lengang.
Sampai di depan kampus, Davit menurunkan dua insan yang bersahabat itu, Davit sebenarnya tak suka Arini terlalu dekat dengan Nathan, tapi bagaimana lagi, mereka bersahabat lebih dulu sebelum kehadirannya. Davit juga ingin memberi kepercayaan pada Arini, kalau pujaan hatinya pasti bisa menjadi wanita yang menjaga kepercayaan yang ia berikan.
"Sayang, belajar yang rajin, biar pintar."
"Iya." Arini mencium tangan Davit. Lalu pergi begitu saja. Pertanyaannya yang tak mendapat jawaban masih bergelayut dihatinya hingga ia sampai di kampus.
*happy reading.
* alhamdulilah emak sudah pulang dari RS. semoga bisa up rajin lagi.
__ADS_1
"
.