
Andini pura pura terkejut dengan kehadiran Lili. "Maaf, anda tadi memanggil saya?"
"Iya aku memanggil kamu. Ngapain kamu disini? Ini kan masih jam kerja para pembantu?" Kata Lili sinis, masih seperti biasanya.
Andini tersenyum kepada Lili lalu menatap, Arsena dengan tatapan kebencian, rupanya pria yang ia nikahi benar-benar tak punya perasaan. telah mengelabuinya berulang kali, Andini kembali merasa telah ditipu.
"Nona, andakan kekasihnya, Tanyakan pada majikan saya kenapa dia membiarkan ART berkeliaran di jam kerja?" Jawab Andini sengit.
Walau hatinya sedih melihat kemesraan mereka, namun dia tetap berusaha tersenyum. Senyum yang terlalu dipaksa hingga hasilnya juga kurang baik untuk kesehatan, jantung Andini bergemuruh, sekali lagi ia rapuh karena cinta se pihaknya.
"Apa ada lagi Nona? Kalau sudah tak ada lagi yang dibicarakan, saya permisi." Andini beranjak pergi.
Andini tiba-tiba menghentikan langkahnya."Tuan Ars, untuk beberapa hari saya tidak bekerja lagi di rumah anda, aku ingin menjaga ibu. Aku mohon pengertian dari anda, Tuan Ars terhormat."
"Andini tunggu." Arsena mencoba mengejar Andini dan menahan lengannya.
Namun Andini memberanikan diri menepis lengan itu.
Lili merasakan sesuatu yang aneh telah terjadi pada kekasihnya, bagaimana bisa seorang majikan mengejar ART dan meraih tangannya, dan berani sekali ART itu menepisnya. Lili sejenak kaget dengan apa yang dilihat. Namun ia memilih diam saja. Lili tau Arsena akan sangat marah jika dicurigai berselingkuh atau memiliki perasaan pada wanita lain. Jika Lili menanyakan hal itu pasti dia akan tersinggung, lili takut kalau Arsena akan minta putus, sedangkan Arsena adalah pohon uang yang bisa mengabulkan semua mimpinya.
Andini berlalu pergi dengan botol minuman di pelukannya. Arsena memandangi kepergian Andini dengan perasaan bersalah.
Andini pasti bisa, tak ada kontrak apapun diantara kalian berdua, uang dari Pak Johan ,100 juta balikin saja kalau sudah bekerja nanti semua akan beres.
Andini tidak baik kau berkhianat kepada orang yang sudah menolongmu, walaupun suka maupun duka, sebaiknya kau harus selalu disisi suamimu.
Sisi hitam dan putih Andini berperang, Andini semakin bingung kemana ia akan menentukan pilihan hidupnya, sisi mana yang harus ia pilih.
****
"Yang, ayo kita pulang." Ajak Lili yang tak suka melihat Arsena terus saja memperhatikan Andini. Tatapannya terhadap gadis yang dianggap rendah begitu berbeda. Lili tak suka Arsena mulai memperhatikan gadis itu.
Arsena menurut, Namun tak saling bergandengan tangan seperti tadi. Ia berjalan menuju mobil dengan jarak yang lumayan jauh. Pria itu sadar telah membuat perasaan seorang wanita kecewa.
"Yuk ...." Lili mengajak Arsena. Mereka berdua berjalan menuju mobil.
Arsena membukakan pintu untuk lili dan segera menutup kembali. Sekilas ia menoleh ke arah Andini. Namun gadis itu sudah hilang dari pandangannya.
*****
"Andini, kok lama beli minumnya Nak?"
"Oh iya, tadi ketemu sama teman, buk."
"Temannya mana? Kok nggak sekalian dikenalin ibu?"
"Oh," Andini menggaruk keningnya yang tak gatal.
"Em, dia udah pulang, Bu. Pengen cepet Istirahat katanya, habis perjalanan jauh." Andini menyerahkan air mineral pada ibu.
Sang ibu segera menerima. "Iya ibu juga gitu, capek rasanya, sudah rindu rumah juga," eluh ibu
"Pak, kita pulang aja ya" pinta Andini pada Doni.
"Nggak jadi nunggu, Den Sena, Non?" Doni malah bertanya balik. Namun ia sudah merasakan kalau pasti sedang terjadi sesuatu.
"Enggak, Ibu sudah kecapekan," ucap Andini beralasan.
"Bapak langsung pulang ke rumah aja, Ibu biar Dara dan Andini saja yang antar. Nanti setelah Ibu sehat Andini akan balik lagi ke rumah." kata Andini menjelaskan.
Baiklah Non. Nanti akan saya sampaikan pada Den Sena.
Akhirnya mereka bertiga berpisah dengan Doni di bandara Djuanda. Andini menghentikan taxi dan Doni pergi entah kemana setelah memastikan keluarga Andini baik-baik saja.
Saat baru saja duduk di dalam taxi tadi, Andini sempat melihat suaminya dan Lili melewatinya, mereka satu mobil dan segera menuju ke arah apartement. Andini tau kalau Sena pasti akan mengutamakan Lili dari pada hal lainnya.
__ADS_1
"Kak, kemana sih kak Arsena, padahal Dara belum pernah sekalipun melihat wajahnya. Ibuk juga pengen tau gimana wajah menantunya, iya kan, Bu."
"Maaf ya, Dara, Ibu, belum bisa pertemukan dengan Ars. Lain waktu pasti akan bertemu."
"Andini, maafkan ibu ya ... " Ibu meremas tangan Andini. Bukan seorang ibu namanya kalau tak mengetahui apa yang dirasakan oleh anaknya.
"Tadi Arsena ada meeting mendadak dengan clien, jadi terpaksa pergi duluan, tapi sudah kasih kabar Andini kok, Bu."
Ibu mengelus rambut hitam lurus milik Andini, menepis prasangka buruk yang muncul dibenaknya , ibu mempercayai pada tiap kata-kata putrinya. "Syukurlah, dia pria yang baik, dan calon papa yang pekerja keras."
Andini tersenyum lalu menggigiti bibir bawahnya. Mulai memikirkan apa yang akan dilakukan oleh dua manusia saling mencintai itu di apartement.
Andaikan sedikit saja Arsena memberi ruang untuk Andini singgah dihatinya, gadis itu pasti sudah memberanikan diri menelepon. Bahkan nomor telepon pria itu saja, sekarang ia tak memiliki.
"Andini, banyak diam sekarang." Tanya Ibu yang sejak tadi mengamati gerak-gerik putrinya.
"Oh nggak kok Bu, Andini senang ibu sudah pulang. Bagaimana hari-hari ibu disana?" Andini mengalihkan topik pembicaraannya.
"Ibu disana memikirkan kamu, Andini. Ibu memikirkan bagaimana kamu melewati hari hari setelah menikah. Bahagiakah? Sedihkah? Ibu sering kali berfikir jika kamu tak bahagia ibu rela sakit aja. Nggak apa-apa ibu nggak sembuh, asal anak-anak ibu bahagia."
"Andini bahagia kok, Bu. Seperti yang ibu tau Andini baik-baik saja." Andini melingkarkan lengannya di pinggang ibu dan menyandarkan kepalanya.
"Syukurlah, ibu senang dengarnya." Mengelus rambut Andini yang selalu di kuncir mirip ekor kuda itu.
Akhirnya Mereka sudah sampai rumah, Andini membantu ibu turun dengan pelan, lalu menyiapkan kursi rodanya. Setelah ibu sudah duduk dengan benar di atas kursi roda. Andini segera membayar ongkos taksi. Sedangkan Andara mengambil barang barang yang ada di bagasi dan membawanya masuk.
Andini mendorong kursi roda ibu memasuki rumahnya, Air mata Ibu meleleh dari kedua netranya, tangis haru akhirnya lolos juga. Siapa sangka penyakit ibu yang kronis kini bisa di sembuhan, kalau bukan keajaiban dari Tuhan.
Nenek yang baru tahu kalau putri semata wayangnya pulang, ia amat terharu. Wanita tua itu juga ikut menitikkan air mata, tak hentinya bibir berucap syukur pada kebesaran sang maha Agung.
Nenek berulang kali memeluk ibu, setelah puas kini nenek juga memeluk Andini.
"Andini, Nenek juga kangen. Nenek sekarang sudah tak jualan gado gado lagi" kata Nenek sambil menyeka air mata dari kedua kelopak mata.
"Tenaga Nenek sudah tak kuat lagi seperti dulu, Ndin," eluh Nenek.
"Nenek mengangguk setuju. Ia kembali tersenyum.
Selesai berbincang dengan nenek, Andini mulai memasak di dapur. Sekedar masak sederhana saja, memetik sayur kacang panjang yang ada di kebun belakang serta menggoreng lauk ikan asin dan tempe.
Selesai semuanya Andini segera menaruh masakannya di meja makan, meja sederhana dilengkapi empat kursi kecil dari kayu jati itu menjadi tempat makan yang sederhana dan nyaman untuk keluarganya.
Selesai memasak semuanya, Andini menarik satu kursi dan duduk, kini malah melamun di tempat makan itu. Ia memikirkan kembali Arsena yang meninggalkannya di bandara. Andini kini berjanji pada diri sendiri, ia tak akan sekalipun percaya lagi dengan pria itu.
Salah besar jika ia melibatkan perasaannya lebih jauh dalam pernikahan ini. Semakin jauh ia menggapai cinta Asrena semakin ia terluka dengan sendirinya.
Tring ...! tring ...!
Handpone Andini berdering, membuyarkan lamunannya. Ternyata nomor asing yang muncul di layar handponenya.
"Andini cepat katakan dimana alamat rumahmu?"
"Suara Arsena," Andini langsung mengenalinya. "Ngapain dia kesini? Apa setelah mengantar Lili ke apartement tadi langsung mencariku kembali ke bandara?" Gumam Andini lirih.
"Andini cepat?"
"I- iya."
Andini memberitahukan alamatnya kepada Sena dan pria itu meminta untuk mengucapkan pelan pelan, karena ia sedang mencatatnya di sebuah kertas sobekan.
Selesai mendapatkan alamatnya, Arsena segera mengemudi mobilnya menuju rumah Andini.
Menggunakan bantuan aplikasi di handponenya Arsena tak perlu membutuhkan waktu sampai satu jam untuk sampai.
Kedatangan Arsena sudah ditunggu, sejak mendengar menantunya mau datang, Nenek, dan Ibu sudah tak mau masuk rumah.
__ADS_1
Ibu melihat Andini yang nampak berkeringat sehabis masak tadi terpaksa membuka suara.
"Ndin buruan mandi, dandan kenapa? Suami kamu sebentar lagi datang, yang feminim, jangan rambut dikuncir melulu, Suami itu akan menyayangi istrinya kalau dia bisa menyenangkan hatinya. Apalagi dia seorang pengusaha, orang kaya itu godaannya diluar sangat besar. Kamu harus pintar merawat diri"
Andini diam tak menjawab sepatah katapun, setelah ibu selesai bicara, Dia pergi lalu mengambil handuk dan mandi. Melakukan bukan berarti setuju, Andini cuma tidak mau membangkang perintah ibu saja.
Andini kini tidak menguncir rambutnya lagi, ia mulai mengurai rambut panjangnya mengenakan baju yang paling baru. Tak lupa memakai bedak tipis dan mengoleskan lipstik di bibir mungilnya.
"Nah gitu kan seger, suami kamu pasti makin cinta" goda Ibu. Setelah Andini keluar kamar.
Andini hanya tersenyum. Sungguh ia melakukan semuanya hanya untuk menyenangkan hati ibu yang sudah menyuruhnya.
Mobil Arsena datang, terlihat ia bingung mencari parkir yang pas di pelataran sempit rumah mertuanya, Akhirnya Arsena memutuskan memarkir di pelataran rumah tetangga yang lumayan luas.
Sejak mobil mewah itu memasuki kampung, sorot mata ibu tetangga tak berhenti memandanginya, apalagi yang turun seorang pangeran tampan.
Arsena terkejut kedatangannya disambut seorang wanita diatas kursi roda dengan kepala gundul tak ada sehelaipun rambut yang menempel.
Arsena sesaat ragu akan menjabat tangan mertuanya, namun setelah hatinya yakin sakitnya tak menular, Arsena akhirnya mencium tangan Ana.
"Masuklah Cu, Maklumi saja, keadaannya memang seperti ini." ujar Nenek setelah Arsena pindah mencium tangan nenek.
Andini terbengong, takjub, seakan yang datang itu bukanlah Arsena yang ia kenal, mungkin hanya sisi baiknya saja.
Arsena yang sebelumnya belum pernah bertamu ke rumah Andini ia sangat kaget. Melihat wanita pilihan papanya ternyata kehidupannya begitu memprihatinkan.
Sedangkan Andara sejak tadi sudah sangat senang, kakak iparnya datang dengan mobil mewah, gadis itu sudah membayangkan akan diajak jalan-jalan nanti malam.
Arsena duduk di kursi usang yang sudah banyak lubang di sana sini. Rasa tak nyamannya ia sembunyikan sebisa mungkin.
"Mau minum apa?" Tanya Andini.
"Adanya apa aja?" Tanya Sena balik.
"Air putih doang!" Jawab Andini.
"Ya itu aja...." Kata Arsena.
Kalau cuma air putih juga ngapain tanya.
Andini masuk sambil menahan tawa, rasanya puas bisa sedikit mengerjai suaminya.
Setelah sebentar di dalam, Dia segera keluar lagi dengan satu cangkir kopi serta segelas air putih dan ketela rebus.
Terlihat Arsena hanya mencecap kopi sedikit lalu kembali mengotak atik ponselnya.
"Ngapain kesini? Bukannya cewek kamu baru pulang dari luar negeri?"
"Tapi istriku sedang marah." Jawab Sena.
"Oh, Istri ya ... " Andini terlihat masih kesal.
"Iya, Istri pilihan papa." Arsena tersenyum tipis, bahkan saking tipisnya Andini tak melihat kalau ia sedang tersenyum.
"Ndin ... Kita pulang hari ini ya?"
"Maaf Ars, ibu baru saja pulang, aku masih ingin menemaninya. Kamu pulang sendiri saja."
"Ya sudahlah kalau begitu, aku ... hatcing " Kata Arsena terputus karena ia sedang bersin.
"Apa?" Andini penasaran.
"Aku boleh kan menginap disini, hatcing!"
Tidak, kalau menginap disini, bisa-bisa anda besok sudah masuk rumah sakit, lihat baru masuk saja sudah bersin. Anda tak cocok walau cuma sebentar di rumah jelekku ini..
__ADS_1
"Hatcing ... hatcing ...."